Rss Feed
    Showing posts with label #15HariNgeblogFFDadakan. Show all posts
    Showing posts with label #15HariNgeblogFFDadakan. Show all posts
  1. Seorang Pengemis

    Tuesday, October 23, 2012

     Seorang pengemis duduk di atas hamparan tanah berumput di taman kota. Ada tanda “Dilarang duduk di atas rumput” tidak jauh darinya, tapi dia tidak peduli. Dia tetap bergeming pada tempatnya, walau dia sadar akan keberadaan tanda larangan itu. Lagipula, toh tidak akan ada orang yang peduli apakah dia duduk di atas rumput sat ini atau tidak.
                
    Matanya memandang lurus ke depan, mengamati orang-orang yang ada di taman itu. Dia melihat seorang ibu yang tengah berusaha mendiamkan anaknya yang rewel. Ah, kasihan ibu itu. Dia tampak kerepotan. Si pengemis itu lalu teringat pada ibunya sendiri. Sudah berapa lama dia tidak melihat ibunya? Mungkin sudah lebih dari 30 tahun yang lalu.
                
    Ibunya wanita yang begitu baik, berusaha keras membesarkannya dan kedua adiknya sejak ayahnya meninggal. Sayang wanita sebaik itu begitu cepat Tuhan panggil pulang. Ibunya meninggal ketika dia berada di awal usia 20-an. Mengingat ibunya, sang pengemis merasa rindu sekaligus sedih. Dia sedih memikirkan bagaimana ibunya pasti akan menangis kalau melihat dirinya saat ini.
                
    Dia memandang kaki kirinya yang kini hanya tersisa lutut ke atas. Dia lalu menoleh pada tangan kanannya yang kini hanya tersisa separuh dan mulai menangis. Air mata bahagia mengalir dari matanya.
                
    Dia bahagia karena apa yang begitu menyiksanya di dunia ini kini akan segera berakhir.
                
    “Kamu sudah siap? Mari kita pergi,” kata sebuah suara.
                
    Sang pengemis mengangguk. “Ya, Pak Malaikat. Mari kita pergi.”

  2. Satu Mata Hati

    Monday, October 22, 2012

    Aku berjalan lambat-lambat melewati bagian depan Museum Fatahillah. Sambil mengamati sosok bangunan yang telah berdiri selama ratusan tahun itu, pikiranku mundur ke puluhan tahun yang lalu. Mundur pada tahun ketika aku kehilangan sepasang mata hatiku.

    Puluhan tahun yang lalu, apakah bangunan ini pun masih tetap sama seperti dulu? Ataukah sudah banyak tersentuh oleh tangan-tangan perbaikan? Betapa aku juga ingin kembali menjadi diriku yang dulu, atau setidaknya disentuh oleh tangan-tangan yang mampu membuatku menjadi lebih baik.

    Kenapa aku bisa berdiri di tempatku saat ini? Dalam hidupku, di sebelah manakah aku salah berbelok? Kalau aku melihat ke belakang, aku akan melihat bahwa yang ada di balik punggungku adalah liku-liku labirin yang menyesatkan. Yang panjang dan membingungkan dan aku telah tersesat di dalamnya.

    Terdengar suara telepon genggamku berbunyi, menandakan adanya panggilan masuk.

    “Halo? Ada apa?” jawabku.

    Terdengar suara di sebelah sana yang menanyakan beberapa perkara yang tidak ingin kupikirkan saat ini. 

    “Dokumennya minta saja pada Jaksa Ramdan. Saya akan mengurus sisanya besok.”

    Sambungan kuputus dan aku menarik napas panjang. Pekerjaan. Betapa melelahkannya. Tiba-tiba telepon genggamku kembali berbunyi. Kali ini dengan nada yang berbeda, menandakan adanya pesan yang masuk. Aku menekan tombol ‘baca’ dan sebuah pesan tampil di layar.

    “Apelnya sudah saya kirim. Mohon koordinasi selanjutnya.”

    Aku tidak membalas pesan itu dan segera memasukkan kembali telepon genggamku ke dalam kantong. Aku sadar, bahwa mungkin sebenarnya kedua mata hatiku tidak pernah hilang. Mereka berada dalam diriku, hanya saja tidak pernah kugunakan.

    Aku dapat merasakan bahwa salah satunya telah lama tertutup, menyisakan sebelahnya yang masih terbuka. Dapat kurasakan pula bahwa perlahan ada kabut putih yang menutupi mata itu, menutup seluruh pandangannya. Di mana aku bisa melakukan operasi katarak mata hati?

  3. Mengemis Kamis

    Sunday, October 21, 2012


    Aku melihat cowok itu untuk pertama kalinya pada hari Kamis dua minggu yang lalu. Yang dapat kuingat hanyalah matanya yang berwarna baby blue, rambutnya yang keemasan, dan juga senyumnya yang menawan.
                
    “Aku mengantarkan majalah minggu ini,” katanya saat itu.
               
    Melihat wajahnya aku bahkan lupa kalau dia sedang bicara padaku.
               
    “Eh, Miss?”
               
    “Oh, ya. Maaf. Eh, majalah ya? Itu pasti punya Mom. Biar kuterima.”
               
    Dia menyerahkan majalah itu padaku dan menyentuh ujung lidah topinya dan berkata, “Terima kasih. Terus berlangganan majalah kami ya. Minggu depan akan ada edisi khusus tentang Paris Fashion Week.”
              
    Aku mengangguk tanpa mampu berkata apa-apa. Lidahku terasa begitu kelu.
                
    Sejak hari itulah aku selalu memimpikannya. Pikiranku selalu tidak tenang. Aku ingin bertemu lagi dengannya, tapi bagaimana caranya?
                
    Aku coba menelepon agen distributor majalah itu dan menanyakan siapa yang biasanya mengantarkan majalah di daerah ini.
                
    “Maaf, tapi kalau boleh tahu untuk urusan apa yah?” kata orang yang mengangkat telepon.
                
    “Ada barang milik orang itu yang terjatuh. Aku ingin mengembalikannya,” kataku berbohong.
                
    “Untuk majalah ‘Glam Up’? Yang mengantar di daerah itu namanya Paul Smith.”
                
    Oh, kumohon. Kenapa namanya kampungan sekali? Pasti akan susah menemukan Paul Smith yang tepat di Google.
                
    “Maaf, bolehkah aku tahu alamatnya? Aku ingin mengembalikan sapu tangannya yang terjatuh.”
                
    Cowok muda sekarang masih bawa sapu tangan gak sih?
                
    “Maaf, Miss. Kami tidak bisa memberi tahu data pribadi karyawan kami. Kalau memang ingin mengembalikannya, bisa dibawa ke kantor kami. Kami akan memberikannya langsung pada orangnya.”
                
    Wanita di ujung sambungan itu lalu memberikan alamat agen distributor itu. Aku berterima kasih, lalu menutup teleponnya. Ah, selain namanya, aku tidak bisa mendapatkan informasi lainnya. Dan benar saja dugaanku. Mengetikkan ‘Paul Smith’ di Google menghasilkan 307 juta hasil pencarian.
                
    Dengan semua kesulitan mendapatkan informasi, aku hanya bisa berharap Kamis segera datang. Aku berdoa dan berdoa agar hari-hari segera berlalu dan Kamis segera tiba.
                
    Hari-hari berlalu dengan lambat bagiku. Betapa bahagianya hatiku ketika Rabu tiba. Malamnya aku segera tidur dengan harapan Kamis tiba begitu aku bangun.
                
    Keesokan harinya aku bangun dan menunggu si cowok pengantar majalah datang. Aku menunggunya seharian, tapi dia sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya hari itu.
                
    “Mom, pengantar majalah ‘Glam Up’ tidak datang yah hari ini?” aku membuat suaraku senatural mungkin, berusaha untuk tidak memancing kecurigaan Mom.
                
    “Sudah kok. Kamu mau baca majalahnya? Ada di kamar tuh.”
               
    Bohong. Aku sudah menanti seharian.
               
    “Tapi, aku dari tadi duduk di depan dan tidak ada orang yang datang.”
                
    “Dia sudah datang kemarin kok,” kata Mom. Dia mulai memandangku dengan curiga. “Sini bentar deh.”
               
    Aku berjalan ke arah Mom dan duduk di sampingnya. Mom meraba bagian belakang leherku dan menyentuh suatu bagian di sana hingga terdengar bunyi ‘klik’ yang keras. Setelah itu segalanya menjadi hitam bagiku.
                
    * * *

    “Pagi, Sweety. Mau pie apel?” tanya Mom.
               
    “Mau. Ngomong-ngomong, ini hari apa Mom?”
                
    “Sabtu. Kenapa sayang?”
               
    “Gak apa-apa kok.”
                
    Aneh, rasanya di dalam diriku ada suatu perasaan gelisah. Dalam kepalaku aku merasa terus memohon agar Kamis segera tiba. Suatu perasaan putus asa, seolah-olah aku mengemis datangnya Kamis. Entah kenapa.

  4. Cindy Cenora (Flash Fiction)

    Saturday, October 20, 2012


    Kata orang bijak (orang bijak yang mana gak tahu deh), kita harus bersyukur akan hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan. Hal-hal yang tuhan berikan pada kita, seperti: orang tua, suku, ras, dan wajah kita. Oke, yang terakhir saat ini mungkin sudah tidak begitu relevan, karena itu faktor yang “sudah dapat dikontrol” oleh manusia (operasi plastik anyone?).
                
    Tapi, sungguh. Kadang aku tidak dapat bersyukur pada wajah yang Tuhan berikan padaku. Bukan karena wajahku jelek atau bagaimana. Wajahku sebenarnya lumayan kok. Minimal enak dilihatlah. Hanya saja wajahku ini memang sering menimbulkan kesalahpahaman.
               
    “Ya ampun, Cindy Cenora? Mbak Cindy Cenora kan?”
                
    Aku menoleh ke sumber suara itu. Oh, mulai lagi.
               
    “Bukan, Mbak. Saya bukan Cindy Cenora.”
               
    “Ah, masa sih. Bo’ong ah. Wajahnya mirip banget sama Cindy Cenora waktu kecil. Pipinya gembul-gembul gitu. Ngegemesin deh.”
                
    Gak sekalian bilang kalau aku ini Tina Toon?
                
    “Bukan Mbak. Suer. Saya bukan Cindy Cenora. Nih, KTP saya. Namanya Ratih Wijaya kan.”
               
    “Ah, masa sih? Jangan-jangan Cindy Cenora itu nama panggung yah? Nama aslinya Ratih Wijaya?”
               
    Dieng.
                
    “Duh, bukan Mbak. Ah, permisi dulu ya, Mbak. Lagi sibuk nih.”
               
    Cepat-cepat kuambil kembali KTP-ku dan segera ngacir dari tempat itu. Masih sempat kudengar perempuan tadi berseru padaku, “Sibuk syuting ya, Mbak? Sukses ya! Aku tunggu lagu barunya.”
               
    Emang Cindy Cenora masih eksis ya sekarang?
                
    Nah, kamu sudah tahu kan, kenapa aku suka kesal dengan wajahku sendiri. Kejadian seperti itu bukan hanya terjadi sekali-dua kali. Heran, kenapa juga orang-orang itu bisa menganggapku Cindy Cenora? Terakhir dia terkenal kan sewaktu dia masih jadi penyanyi cilik, bagaimana mereka bisa tahu wajahnya seperti apa kalau besar?
                
    Aku pernah menceritakan hal ini pada ayahku dan ayah hanya terbahak-bahak.
               
    “Tapi kalau dilihat-lihat kamu memang mirip dia versi dewasa loh,” kata ayah waktu itu.
                
    “Ayah, jangan ikut-ikutan deh.”
                
    “Tapi bener loh. Mungkin kalian di surga sebenarnya saudara kembar.”
               
    Hah, teori macam apa itu? Memang hanya ayahku yang bisa kepikiran teori-teori aneh macam begitu.
               
    Siang itu aku pergi ke salah satu toko buku favoritku untuk mencari sebuah novel keluaran terbaru. Saat aku sedang asyik menyusuri deretan rak sambil melihat-lihat buku-buku lain, aku menyadari bahwa ada seorang laki-laki yang terus menatapku.
                
    Aku pindah ke deretan lain. Diam-diam kulirikkan mataku ke arahnya dan kudapati dia juga sedang mencuri pandang kepadaku. Laki-laki itu mungkin sedikit lebih tua dariku. Badannya tinggi dan tegap dengan garis wajah yang kuat dan mata yang besar. Alis matanya tebal, hidungnya mancung. Oke, secara fisik, dia cocok menjadi ayah anak-anakku.
               
    Kulihat laki-laki itu berjalan mendekatiku. Dapat kurasakan jantungku berdetak tidak karuan. Dia tersenyum padaku dan berkata, “Mbak Cindy Cenora ya?”
               
    Arghhh!!
               
    “Bukan! Aku bukan Cindy Cenora!”
               
    Cepat-cepat aku lari dari toko itu. Kuputuskan untuk membeli novel yang kuidamkan itu lain hari saja. Kesaaaaaaalllll!!
                 

  5. Senandung Maret

    Friday, October 19, 2012


    Aku mengencangkan ikatan celemek di punggungku. Kurapikan rambutku di cermin dan kuamati apakah penampilanku sudah oke saat itu. Setelah yakin semuanya tampak rapi, aku segera turun ke lantai bawah.
                
    Begitu lampu kunyalakan, deretan meja dan kursi yang sengaja diletakkan terbalik di atas meja segera menyambutku. Aku menarik napas panjang. Mari kita mulai, batinku.
                
    Kutuangkan biji kopi ke dalam mesin pembuat kopi, lalu setelah kutuangkan air ke dalamnya dan menyalakan mesin itu, aku lalu menurunkan kursi-kursi dari atas meja.
               
    Setelah beberapa saat bau kopi mulai menyeruak ke udara. Aku menghirup keharuman itu dalam-dalam. Betapa aku menyukai apa yang kuhirup itu. Bagiku aroma kopi adalah aroma kebebasan.
                
    Dua tahun yang lalu, aku tidak pernah bisa membayangkan diriku berada di tempat seperti ini. Tempat yang kumiliki sendiri dengan aroma kopi yang tidak membuatku takut karena menandakan datangnya hari baru. Datangnya satu hari lagi mimpi buruk.
                
    Tanpa sadar tanganku menyentuh lengan kiriku. Ketika kuselusupkan tanganku ke dalam lengan bajuku dan dapat kurasakan bekas jahitan di sana. Sebuah kenang-kenangan dari masa lalu. Sebuah harga untuk kebebasan.
               
    Aku masih ingat bagaimana Albert pulang malam itu dalam keadaan mabuk. Dari tubuh pria yang enggan kusebut suamiku itu, aku dapat mencium bau parfum perempuan. Itu bukan yang pertama kalinya aku mencium wangi itu. Biasanya aku menahan diri untuk tidak menanyakanya karena aku takut akan apa yang dapat dia perbuat, tapi hari itu aku sudah tidak tahan lagi. Semuanya keluar begitu saja dari dalam hatiku.
                
    “Lalu memangnya kenapa kalau aku ada main dengan wanita lain!?” seru Albert berang. “Aku yang mencari uang untuk menghidupimu, kalau sekali-sekali aku bersenang-senang di luar sana, kamu mau apa hah?”
                
    “Tapi aku istrimu, Mas. Apa kamu sudah tidak menghargai aku lagi? Sudah tidak menghargai rumah tangga ini lagi?”
               
    Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Aku jatuh bersimpuh di atas lantai saking kerasnya tamparan itu. Satu tendangan mendarat di perutku, membuatku jatuh terlentang. Pria keparat itu lalu menginjak dadaku kuat-kuat hingga aku memekik kesakitan.
                
    “Heh, ingat, aku menikahimu bukan karena aku mau. Kalau dulu ayah tidak mengancam akan menghapus bagian warisanku, aku tidak akan menikahimu.”
               
    Air mata mengalir di pipiku. Dadaku dipenuhi amarah dan seluruh duniaku terasa begitu gelap. Aku sudah tidak tahan lagi. Hal berikutnya yang kusadari, pria itu telah tergeletak di lantai dengan kepala berdarah dan pecahan vas bunga di tanganku.
               
    Napasku tersengal-sengal. Oh, Tuhan. Apa yang kulakukan? Kuperiksa tubuh itu, tapi aku tidak merasakan detak jantungnya.
                
    Aku tidak bersalah. Pria ini, dia mendapatkan apa yang pantas baginya. Cepat-cepat aku pergi ke dapur dan mengambil sebilah pisau. Kugenggamkan pisau itu di tangan Albert dan kutorehkan pisau itu kuat-kuat ke tangan kiriku. Aku menjerit.
               
    Pemeriksaan polisi akhirnya menyatakan bahwa aku membunuh pria itu dalam usahaku membela diri. Dari uang peninggalan pria itu jugalah, aku akhirnya dapat membuka café ini. Tempat yang menjadi surgaku saat ini.
                
    Aku membuka pintu café dan kurasakan angin hangat berhembus di pipiku. Salju sudah mulai mencair dan kehidupan kembali bangkit dari dalam bumi. Aku bisa mendengar Maret bersenandung di telingaku. 

  6. Selembar Kain Batik

    Thursday, October 18, 2012


    Aku mendororong pegangan kayuhku ke depan. Perlahan perahu yang kunaiki semakin bergerak ke tengah danau. Langit sore tampak membara di atas kepalaku. Warnanya yang keemasan terpantul di air danau, membuatku seolah-olah mendayung di atas lautan emas.
               
    Dulu, sewaktu aku masih 8 atau 9 tahun, aku pernah datang ke tempat ini bersama ibu. Pemandangan sore itu sama persis dengan hari ini. Bagi diriku yang tinggal di kampung batik dan sehari-hari hanya melihat kusamnya tanah dan debu serta menghirup bau lilin batik,  pemandangan hari itu adalah sebuah keindahan tiada tara yang membuat hatiku berdebar-debar. Aku merasa seperti berada di sebuah dunia yang begitu berbeda.
                
    “Ibu, surgakah ini?” tanyaku padanya.
               
    “Bukan, Nak. Ini bukan surga.”
                
    “Tapi tempat ini begitu indah. Tidak ada yang seperti ini di kampung kita.”
                
    “Memang benar, tapi masih banyak tempat lain yang seindah ini di berbagai tempat di bumi ini.”
                
    Desaku adalah sebuah desa tempat para pengrajin dan pedagang batik berkumpul. Batik-batik yang dibuat di sana seratus persen buatan tangan. Ibuku sendiri adalah salah seorang wanita pekerja yang tugasnya membuat pola batik dan menegaskan pola-pola yang dia gambar. Dia juga bertugas untuk menutup bagian kain yang tidak akan diwarnai sebelum menyerahkan pada bagian pencelupan.
               
    Aku selalu berpikir untuk menjadi seperti orang-orang di kampungku, tetapi ibu selalu melarang.
                
    “Tidak, Nak. Ibu akan mengelarkanmu dari sini.”
               
    “Tapi kenapa? Aku suka di sini.”
                
    “Tidakkah kamu ingin melihat tempat seperti danau itu lagi?”
                
    Aku mengangguk.
                
    “Kalau kamu terus berada di sini, kamu tidak akan dapat menemukan tempat seperti itu.”
               
    Aku terdiam.
                
    Ibu bekerja siang-malam membanting tulang, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Ketika aku lulus dari SMA, ibu mengirimku ke sebuah universitas di kota. Aku mengambil jurusan Ekonomi. Di saat yang sama, aku juga mengenal dunia fotografi dari salah seorang temanku di kampus.
               
    Aku langsung jatuh cinta pada fotografi ketika pertama kali berkenalan dengannya. Lewat fotografi, keindahan-keindahan yang ada di alam dapat kuabadikan. Butuh waktu 2 tahun berkerja dan menabung sebelum akhirnya aku bisa membeli kamera bekas milik salah seorang kenalanku. Aku kemudian memperdalam ilmuku di bidang itu dan setelah bertahun-tahun berkerja keras, aku akhirnya dapat menyebut diriku seorang fotografer profesional dan juga seorang sarjana.
                
    Aku kemudian berkelana ke berbagai tempat untuk mendapatkan gambar-gambar terindah, tapi tidak satu pun yang dapat menandingi kemegahan danau sore itu. Aku teringat akan sore itu dan juga pada ibuku. Ya, ibuku. Sudah berapa lama aku tidak bertemu dengannya?
                
    Aku kemudian pulang kembali ke kampungku dan kudapati tempat itu masih sama seperti dahulu. Masih tetap tanah yang sama, debu yang sama. Hanya saja kini aku sadar betapa reotnya rumah-rumah di desa itu dan betapa lelahnya orang-orang di sana. Tidak bisa kutangkap kehidupan pada mata mereka.
                
    “Karena itulah, aku menyuruhmu pergi dari sini,” kata ibuku saat aku menceritakan pengamatanku padanya.
                
    Ah, ibuku. Betapa aku sayang padanya. Dialah berkat dalam hidupku. Aku mengambil selembar kain batik yang merupakan kain favoritnya. Aku membuka ikatan pada kain itu dan mengambil sebuah guci kecil dari dalamnya.
                
    Aku membuka tutup guci itu dan perlahan kutaburkan abu dari dalamnya. Air mata turun dari kedua mataku.