-
7 Buku Keren Untuk Dibeli Bulan Ini (Januari 2017)
Tuesday, January 10, 2017
Selamat tahun baru semuanya. Akhirnya saya kembali lagi dengan segmen "Buku Keren" ini setelah absen selama dua bulan. Kalau biasanya saya hanya memilih lima buku, kali ini saya akan memilih tujuh buku. Anggap saja tambahannya adalah pengganti dua bulan absen saya. Oke? *nyengir kuda.
Posted by Biondy at 9:01:00 AM | Labels: Adhitya Mulya , Becky Albertalli , Bentang Pustaka , Book Talk , Buku Keren Bulan Ini , Carl Sagan , GagasMedia , Gramedia Pustaka Utama , Kim Eun Jeong , Membaca , Mukhlis Nur , Penerbit Haru , Penerbit Spring , Winna Effendi | 16 comments |
-
Review Novel: Unforgiven: Hantu Rumah Hijau - Eve Shi
Friday, October 28, 2016
Unforgiven: Hantu Rumah Hijau by Eve Shi
My rating: 2 of 5 stars
Judul: Unforgiven: Hantu Rumah Hijau
Penulis: Eve Shi
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 262 halaman
Terbitan: Juni 2014
Keylin tak percaya ada hantu di rumah hijau yang katanya angker. Tak ada yang perlu ditakuti dari rumah tua dan kusam itu.
Namun, sejak rumah kosong itu kedatangan penghuni baru yang misterius, semua berubah.
Tiba-tiba, suara jeritan mengerikan dan suara lirih tangis tengah malam itu terasa sangat nyata di telinga Kaylin.
Bau anyir darah tercium dari rumah itu.
Sang penghuni baru seakan-akan membangkitkan hantu-hantu yang ada di sana.
Kaylin ingin menarik ucapannya, tetapi terlambat.
Sosok itu semakin mendekat, dengan kepala hampir putus.
Review
"Unforgiven: Hantu Rumah Hijau" bercerita tentang misteri rumah hijau yang letaknya tidak jauh dari rumah Kaylin dan Rico, dua sahabat yang duduk di bangku SMA. Sejak kepindahan seorang pria ke rumah itu, Kaylin dan Rico mulai mengalami berbagai kejadian aneh. Ada sesosok pria dan wanita yang mengganggu kehidupan mereka, membahayakan nyawa mereka dan orang-orang yang mereka cintai.
Ini novel kedua Eve Shi yang saya baca. Sebelumnya pernah baca "Aku Tahu Kamu Hantu" (review) dan sejujurnya saya lebih suka novel pertamanya itu.
Posted by Biondy at 11:12:00 AM | Labels: Eve Shi , GagasMedia , Membaca , Novel , Review , Review Buku | 1 comments |
-
Review Novel: Pertanyaan kepada Kenangan - Faisal Oddang
Sunday, October 16, 2016
Pertanyaan kepada Kenangan by Faisal Oddang
My rating: 2 of 5 stars
Judul: Pertanyaan Kepada Kenangan
Penulis: Faisal Oddang
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 200 halaman
Terbitan: Januari 2016
Dapatkan "Pertanyaan Kepada Kenangan" di BukaBuku
Di Makassar, dan barangkali di tempat kau sekarang membaca kisah ini; kenangan sering kali datang bukan pada waktu dan tempat yang tepat.
Rinailah Rindu, perempuan Jawa itu memandang Pantai Losari sekali lagi. Mengenang rencana pernikahannya yang karam tiga tahun silam.
Namun, bukan kehilangan itu yang ia sesali, melainkan mengapa dia kembali? Tanya itulah yang menuntut jawaban pada kisah yang seharusnya telah usai.
Kehilangan telah membuat Rinai mengerti bahwa manusia tidak pernah memiliki apa pun, bahkan perasaannya sendiri. Ia bersetuju dengan keadaan, bahwa Wanua, laki-laki Bugis itulah harapan baru baginya. Lamba, bangsawan Toraja yang pernah mematahkan hatinya, hanya perlu berakhir sebagai kenangan.
Sayangnya, terkadang hati dan ingatan tak selalu sejalan.
Rinai tak ingin terluka lagi, tetapi kali ini, apakah takdir akan berbaik hati pada cinta juga kebahagiaannya?
Review
"Pertanyaan Kepada Kenangan" bercerita tentang Rinailah Rindu, seorang wanita yang pernah berpacaran serius dengan Lamba Dondi, seorang pria Toraja yang memegang teguh adatnya. Hubungan mereka sayangnya tidak dapat melangkah lebih jauh sebelum Lamba melaksanakan upacara rambu solo untuk memperingati kematian ayahnya. Biaya rambu solo yang besar membuat Lamba membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan uang demi upacara itu.
Di sisi lain ada pula Wanua Maraja, sahabat Lamba dan Rinai yang menyimpan perasaan pada gadis itu. Tidak ingin kehilangan Rinai sekali lagi, Wanua memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya, tapi sanggupkah Rinai menerima Wanua, atau dia justru akan kembali pada Lamba yang kini telah mapan secara ekonomi dan sanggup melanjutkan hubungan mereka yang tertunda dulu?
Si Rinai ini... benar-benar tipe orang yang paling menjengkelkan untuk di-PDKT-in. Pokoknya sial banget kalau suka sama orang seperti ini. Bayangkan, si Wanua sudah bilang dari awal cerita kalau dia itu suka sama Rinai dan bahkan minta Rinai jadi kekasihnya (di halaman 9), tapi Rinai kemudian seolah amnesia dan dalam hati bertanya, "Wanua mencintaiku? Dia selalu bercerita ke Tenri atas perasaannya?" (hal. 125). Lah? Itu yang Wanua bilang di awal kamu anggap apa coba?
Posted by Biondy at 1:31:00 PM | Labels: Faisal Oddang , GagasMedia , Indonesiana , Membaca , Novel , Review , Review Buku | 3 comments |
-
Review Novel: Perfect Pain - Anggun Prameswari
Wednesday, September 21, 2016
Perfect Pain by Anggun Prameswari
My rating: 3 of 5 stars
Judul: Perfect Pain
Penulis: Anggun Prameswari
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 316 halaman
Terbitan: November 2015
Sayang, menurutmu apa itu cinta? Mungkin beragam jawab akan kau dapati. Bisa jadi itu tentang laki-laki yang melindungi. Atau malah tentang bekas luka dalam hati-hati yang berani mencintai.
Maukah kau menyimak, Sayang? Kuceritakan kepadamu perihal luka-luka yang mudah tersembuhkan. Namun, kau akan jumpai pula luka yang selamanya terpatri. Menjadi pengingat bahwa dalam mencintai, juga ada melukai.
Jika bahagia yang kau cari, kau perlu tahu. Sudahkah kau mencintai dirimu sendiri, sebelum melabuhkan hati? Memaafkan tak pernah mudah, Sayang. Karena sejatinya cinta tidak menyakiti.
Review
'Perfect Pain' bercerita tentang Bidari, seorang ibu rumah tangga yang terjebak dalam lingkaran kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Bram, sang suami, sering memukul dirinya kalau dia melakukan kesalahan. Tidak punya tempat untuk berpaling, serta keberadaan Karel, sang anak, yang ingin dia lindungi, membuat Bidari berusaha hidup dengan ketakutannya. Hingga suatu hari Bram juga menyakiti Karel dan membuat Bidari mengambil keputusan.
Ini novel kedua dari Anggun Prameswari yang saya baca. Sebelumnya sudah baca 'After Rain' (review) dan saya rasa keduanya punya unsur yang sama: menempatkan seorang wanita dalam posisi rumit karena masalah cinta. Bedanya, kalau tema yang 'After Rain' angkat adalah masalah orang ketiga, 'Perfect Pain' ini bercerita tentang KDRT.
"Karena menikah itu untuk bahagia. Dua orang yang saling cinta, pasti akhirnya akan menikah Dengan begitu, mereka akan bahagia." (hal. 43)
Posted by Biondy at 11:10:00 AM | Labels: Anggun Prameswari , GagasMedia , Membaca , Novel , Review , Review Buku | 1 comments |
-
Review Novel: Melupakanmu Sekali Lagi - Kireina Enno
Saturday, January 2, 2016
Melupakanmu Sekali Lagi by Kireina Enno
My rating: 2 of 5 stars
Judul: Melupakanmu Sekali Lagi
Penulis: Kireina Enno
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 244 halaman
Terbitan: Oktober 2015
Ini kisah tentang mengingat kenangan dengan hati yang patah.
Yang menyakitkan, tetapi juga kau rindukan.
*
[Arai]
Bagiku, menemukan kembali seseorang dan cinta bukanlah hal yang mudah.
[Adda]
Aku hanya menginginkan seseorang yang menatapku
seraya berkata, “Demi kau, aku tak akan menyerah.”
[Karenina]
Ternyata, cinta saja tak cukup untuk menyatukan mimpi-mimpi yang berbeda.
**
Saat hatimu patah, pada akhirnya, jalan satu-satunya adalah menjadi tabah.
Mungkin saja, suatu hari kau akan menemukan seseorang kembali.
Namun, pada kisah kali ini, aku akan melupakanmu sekali lagi.
Review
"Melupakanmu Sekali Lagi" bercerita tentang Arai, seorang pemuda 25 tahun yang selama ini hanya dibesarkan oleh ibunya dan seorang pria teman ibunya. Penasaran akan sosok sang ayah, Arai memutuskan untuk pergi ke Surabaya dengan membawa beberapa petunjuk yang ibunya simpan selama ini.
Di kota pahlawan itu, Arai bertemu dengan Adda, seorang gadis yang tengah mencari tantenya untuk urusan warisan. Bersama dengan gadis itu, Arai berusaha menemukan jejak ayahnya.
Ini novel kedua dari Kireina Enno yang saya baca. Sebelumnya sudah baca "Selamanya Cinta" dan saya lebih suka novel itu daripada "Melupakanmu Sekali Lagi" ini.
Posted by Biondy at 9:14:00 AM | Labels: GagasMedia , Kireina Enno , Membaca , Novel , Review , Review Buku | 0 comments |
-
Review Novel: Jika Aku Milikmu - Bernard Batubara
Tuesday, December 29, 2015
Jika Aku Milikmu by Bernard Batubara
My rating: 1 of 5 stars
Judul: Jika Aku Milikmu
Penulis: Bernard Batubara
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 265 halaman
Terbitan: September 2015
Bisakah cinta tumbuh tanpa keragu-raguan?
*
[Sarif]
Bila suatu ketika cinta datang dan menghampirimu,
mampukah kau menerima ketidaksempurnaan yang dibawa oleh cinta?
[Nur]
Berapa lama yang dibutuhkan untuk mengubah keragu-raguan menjadi cinta?
Mungkin tidak selama waktu yang diperlukan untuk memupuk luka.
[Mei]
Di dalam setiap alunan melodi rindu, ada satu nada yang berbeda.
Seperti perasaan ganjil tentang cinta yang tidak semestinya—yang saat ini kurasa.
**
Jika suatu hari nanti, tiba waktunya kau untuk mencintai,
bisakah kau memberikan cinta kepada seseorang yang tidak sempurna?
Review
Nggak bisa suka sama buku ini. Saya sudah mencoba, oke.
Posted by Biondy at 4:13:00 PM | Labels: 2015 New Authors Reading Challenge , 2015 Young Adult Reading Challenge , Bernard Batubara , GagasMedia , Membaca , Novel , Review , Review Buku | 1 comments |
-
Review Novel: Memori - Windry Ramadhina
Thursday, December 24, 2015
Memori by Windry Ramadhina
My rating: 2 of 5 stars
Judul: Memori
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 312 halaman
Terbitan: Mei 2012
Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi.
Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.
Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia—cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman.
Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.
Review
Ternyata sampai akhir saya tidak bisa peduli pada tokoh-tokohnya.
"Memori" bercerita tentang Mahoni, seorang wanita yang bekerja sebagai arsitek di Virginia. Kematian ayahnya membuat Mahoni harus kembali pulang ke Indonesia. Awalnya dia hanya akan pergi selama beberapa hari, tapi suatu hal membuatnya harus tinggal lebih lama dari itu.
Saat sedang berusaha untuk menyesuaikan diri dengan ritme hidupnya yang baru, Mahoni bertemu kembali dengan Simon, teman masa kuliah yang memiliki tempat khusus di hatinya. Pria itu mengajak Mahoni untuk bergabung dengan studio arsiteknya, MOSS.
Pertemuan mereka kali ini membawa Mahoni untuk menghadapi masa lalunya sekali lagi, bukan hanya dengan Simon, tapi juga dengan adik tiri yang dia benci dan ibunya yang membuatnya jengah.
Ini buku ketiga karya Windry Rmadhina yang saya baca. Sebelumnya saya sudah baca Interlude (review) serta "Metropolis" (review), dan buat saya, kedua novel itu lebih bagus dari "Memori" ini.
Masalah terbesar saya dengan novel ini adalah: saya tidak peduli dengan karakter-karakternya. Apakah saya peduli pada Mahoni, sang architect snob yang susah kompromi, hanya mau mendesain demi idealismneya, sulit menyesuaikan diri dengan klien (tidak heran kalau bukan dia yang dipromosikan di kantor Virginia-nya), dan sepertinya punya bagasi emosi yang berat banget, tapi semacam tidak dieksplorasi dengan dalam? Tidak.
Apa saya peduli dengan Sigi, sang adik tiri yang dibenci Mahoni, baru saja kehilangan kedua orang tuanya, tidak bisa melakukan pekerjaan rumah seperti membuat teh dengan benar, sepertinya depresi pasca meninggalnya kedua orang tuanya, tapi tiba-tiba saja sudah melalui seluruh tahapan kesedihannya, serta tidak dieksplorasi dengan dalam? Tidak.
Apa saya peduli pada Mae, sang ibu ratu drama yang hobi mengasihani diri sendiri, digambarkan secara satu dimensi, dan tidak dieksplorasi dengan dalam? Tidak.
Ini masih ada Sofia dan Simon sebenarnya, tapi jawaban saya sama: tidak. Saya tidak peduli pada mereka.
Hal yang menarik dari "Memori" ini adalah seluruh pembahasannya tentang dunia arsitektur. Mulai dari berbagai jenis desain, pembahasan singkat tentang pekerjaan lapangan dunia arsitektur, sejarah arsitek, serta berbagai tokoh dan bangunan terkenal dalam dunia arsitek. Walau jujur, saya merasa terpecah mengenai hal ini.
Seluruh pembahasan yang ada sangat deskriptif dan memberi pengetahuan baru. Tapi di sisi lain, juga memakan ruang yang sebenarnya bisa dipakai untuk pengembangan karakter dan plot, atau menambahkan emosi ke dalam cerita. Juga kadang ada penjelasan yang sifatnya tidak penting-penting amat, seperti:
"Itu ganti permen mint. Merokok tidak baik untukmu."
"Ya, oke. Tapi, Ricola?" Simon mencibir.
"Makan Ricola tidak akan membuatmu jadi gay, Simon," balasku.
Biar kujelaskan secara singkat. Ricola punya pabrik di Brunstatt, Prancis. Bangunan itu didesain oleh Jacques Herzog dan, menurut rumor yang sesungguhnya tidak bisa dipertanggungjawabkan, arsitek terkenal dari Swiss itu adalah gay. (hal. 281)
Di antara tumpukan trivia di novel ini, masalah orientasi seksual seorang arsitek terkenal adalah hal paling tidak penting yang saya baca.
Untuk ceritanya, sesuai arti dua bintang di Goodreads. It was ok. Drama domestiknya tidak terlalu terasa emosinya. Perkembangan hubungan antara Mahoni dengan Sigi juga terasa datar. Setelah peristiwa di stasiun, tidak ada lagi yang menarik di antara mereka. Perkembangan antara Simon dan Mahoni juga terasa biasa saja buat saya, tapi saya cukup suka dengan adu mulut di antara mereka.
Secara keseluruhan, membaca "Memori" ini membuat saya berpikir bahwa Windry Ramadhina adalah arsitek yang kompeten, tapi sebagai novelis, hal ini baru dibuktikan lewat novelnya yang lain.
View all my reviewsPosted by Biondy at 2:45:00 PM | Labels: GagasMedia , Membaca , Novel , Review , Review Buku , Windry Ramadhina | 2 comments |
-
Review Novel: Moonlight Waltz - Fenny Wong
Wednesday, September 16, 2015
Moonlight Waltz by Fenny Wong
My rating: 3 of 5 stars
Judul: Moonlight Waltz
Penulis: Fenny Wong
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 246 halaman
Terbitan: Juli 2009
"Moonlight Waltz" bercerita tentang Arlin, seorang gadis SMA, yang bertemu dengan Aldo, teman sekelasnya yang sering dianggap kurang gaul, pada suatu konser musik klasik. Di acara itu, Arlin melihat Aldo memainkan piano dengan piawai, serta menemukan kenyataan bahwa Aldo sebenarnya seorang child prodigy di bidang musik.
Sejak pertemuan mereka di konser itu, Arlin menjadi sahabat Aldo dan pelan-pelan mulai menaruh perasaan pada cowok itu. Tapi, Aldo ternyata sudah punya cewek lain yang dia suka. Namanya Liora, teman sekolah mereka sekaligus seorang gadis dengan talenta vokal yang mengagumkan.
Di satu sisi, Arlin ingin Aldo menjadi orang yang paling istimewa dalam hidupnya, tapi di sisi lain, dia tahu bahwa Aldo hanya akan bahagia bila bersama Liora.
Review
Ini buku ketiga penulisnya yang kubaca, tapi secara waktu penerbitan, buku ini adalah buku pertama karya penulisnya, alias novel debutnya Fenny Wong. Dan hal ini memang cukup terasa. Gaya penulisannya beda banget. Di sini sangat terasa gaya penulisan remaja ala teenli-nya, sementara di dua buku lainnya, penulisannya terasa lebih matang.
Saya suka dengan tema besar yang diangkat. Bukan cuma soal percintaan, tapi juga soal tujuan hidup. Di sini Arlin juga bertanya-tanya dan berusaha mencari tahu apa tujuan hidupnya? Apa yang sebenarnya ingin dia kejar?
Karakter-karakternya cukup menarik. Aldo adalah tokoh utama pria yang sifat negatifnya justru lebih terasa dibanding sifat positifnya. Melihat caranya menjalin hubungan dengan Arlin kadang saya pengin ngejitak dia.
Yang kurang saya suka dari novel ini adalah cara penyelesaian masalahnya. Masalah Aldo selesai dengan terlalu mudah. Saya bahkan bertanya-tanya, kalau memang hati orang yang menentang Aldo bisa berubah semudah itu, kenapa konfliknya malah bisa jadi panjang dan dramatis begitu, ya?
Saya juga kurang suka dengan perubahan yang dialami Arlin. Kesannya terlalu tiba-tiba dan menimbulkan pertanyaan, apakah bidang yang dia kejar memang semudah itu untuk terkejar? Secara dia mulainya telat banget. Kesannya malah menggampangkan bidang yang dia kejar.
Secara keseluruhan, saya cukup suka dengan ceritanya. Akhir ceritanya kurang memuaskan. Dua setengah bintang dengan pembulatan ke atas.
Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 Young Adult Reading Challenge
- 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
View all my reviewsPosted by Biondy at 1:36:00 PM | Labels: 2015 Lucky No. 15 , 2015 Young Adult Reading Challenge , Fenny Wong , GagasMedia , Membaca , Novel , Review , Review Buku | 0 comments |
-
Review Novel: Kita & Rindu yang Tak Terjawab - Dian Purnomo
Thursday, August 27, 2015
Kita & Rindu yang Tak Terjawab by Dian Purnomo
My rating: 2 of 5 stars
Judul: Kita & Rindu yang Tak Terjawab
Penulis: Dian Purnomo
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 279 halaman
Terbitan: Juni 2015
"Kita & Rindu yang Tak Terjawab" bercerita tentang Naiza, seorang gadis 20-an yang berdarah Batak dan sedang menghadapi suatu "masalah" yang cukup banyak diangkat menjadi tema novel belakangan ini: dipaksa untuk segera menikah.
Masalahnya bukan hanya di soal menikahnya. Orang tua Naiza juga ingin dia menikahi seorang pria Batak, sesuai adat yang berlaku. Padahal Naiza sudah punya seseorang yang dia suka, tetangga sekaligus sahabatnya sejak kecil. Hanya saja karena pria itu bukan seorang pria Batak, Naiza yakin dia tidak akan mendapat restu.
Naiza kemudian dipertemukan dengan Sidney, calon suami pilihan orang tuanya. Naiza pun semakin terjepit di antara dua pilihan: memenuhi keinginan orang tuanya, atau memilih pilihannya sendiri.
Review
Saya jujur mengakui kalau saya susah untuk simpatik dengan si Naiza. Ya, saya tahu kalau dia mewek-mewek karena tidak mau menikahi Sidney. Tahu juga kalau dia cinta mati sama Tantra, sampai sama sekali tidak mau membuka hati untuk orang lain.
Lalu kemudian dia nggak ngapa-ngapain, nggak berusaha sama sekali untuk dirinya sendiri. Ini yang bikin saya susah simpatik ke dia. Naizanya pasif aja, tidak mencoba untuk mengomunikasikan hal ini ke orang tuanya. Bahkan saat ada papan besar yang menunjuk ke Sidney yang bertuliskan, "Aku punya rahasia besar, loh. Rahasia yang mungkin membuatmu tidak perlu menikahiku, atau minimal mengulur waktu.", si Naiza nggak ngapa-ngapain. Nggak berusaha untuk mencari tahu lebih lanjut. Ya ampun.
Sebenarnya buku ini punya materi yang bagus. Bukan cuma bicara soal adat pernikahan Batak, tapi ada kemungkinan untuk mempertanyakan tentang suatu adat itu sendiri. Apakah memang masih relevan dengan saat ini? Apa manfaatnya?
Menikah itu bukan tentang ingin atau tidak ingin, niat atau nggak niat. Di dalam keluarga Batak, kita ini rata-rata menikah karena kewajiban meneruskan keturunan, meneruskan marga, menjaga adat. Padahal, sama sekali tidak kulihat ada urgensinya di mataku untuk meneruskan sebuah marga. Kenapa harus diteruskan? Apa untungnya buat umat manusia kalau Sinaga bertahan sampai seribu lapis anak pinak berikutnya? -Sidney (hal. 88-89)
Setahuku, adat dan budaya adalah kebiasaan yang indah yang tidak diciptakan untuk menyengsarakan pelakunya. Kalau adat membuat hatiku jadi patah, rasanya aku memilih untuk tidak menjunjungnya sama sekali. Call me tak tahu adat, tapi aku bisa menjunjung adatku dengan cara yang berbeda. -Naiza (hal. 197)
Sayangnya, baik Sidney maupun Naiza berhenti di pertanyaan-pertanyaan itu. Mereka tidak berusaha untuk lebih aktif. Mereka tetap saja membiarkan diri terkungkung oleh adat itu.
"Trust me, ini juga nggak gampang buat aku, Naiza. Tapi, kita bukan orang-orang yang dibesarkan sendiri. Kita berdua dibesarkan oleh adat. Kita diharapkan untuk mengikutinya. Jadi, mari mempermudah diri kita dengan mengikutinya." (hal. 192)
Dan Naiza, kalau bukan tantenya yang tidak sengaja tahu tentang rahasia Sidney, mungkin dia sudah akan menikah dengan cowok itu.[kalau bukan tantenya yang tidak sengaja tahu tentang rahasia Sidney, mungkin dia sudah akan menikah dengan cowok itu. (hide spoiler)]
Secara keseluruhan, "Kita & Rindu yang Tak Terjawab" ini punya materi yang menarik tentang kebudayaan. Sayangnya, tokoh-tokohnya terlalu pasif untukku. Naiza, Sidney, dan Tantra masih menjadi kapal yang membiarkan dirinya terombang-ambing oleh adat dan budaya, tanpa berusaha menurunkan jangkarnya dan memberi perlawanan.
Buku ini saya rekomendasikan untuk orang-orang yang ingin tahu lebih banyak soal budaya pernikahan Batak, serta yang mungkin pernah mengalami kondisi yang sama dengan Naiza.
p. s: kalau seri Indonesiana ini ada lagi, jangan tema "nggak bisa nikah karena adat" lagi, dong. Atau minimal dengan pembahasan sudut pandang yang beda. Sudah ada 2 dari 3 buku, nih. Dengan eksplorasi dan penyelesaian yang mirip pula.
Buku ini untuk tantangan baca:
-2015 New Authors Reading Challenge
- 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
View all my reviewsPosted by Biondy at 12:51:00 PM | Labels: 2015 Lucky No. 15 , 2015 New Authors Reading Challenge , Dian Purnomo , GagasMedia , Indonesiana , Membaca , Novel , Review , Review Buku | 2 comments |
-
Review Novel: Perempuan-Perempuan Tersayang - Okke Sepatumerah
Friday, August 21, 2015
Perempuan-Perempuan Tersayang by Okke Sepatumerah
My rating: 3 of 5 stars
Judul: Perempuan-Perempuan Tersayang
Penulis: Okke Sepatumerah
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 276 halaman
Terbitan: Mei 2015
Pernahkah kau mendengar kisah dari Kota SoE, kota kelahiranku?
Ya, tadinya aku pun berpikir sama denganmu, tak ada yang menarik dari kota yang berjarak lebih dari seratus kilometer dari Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur itu.
Maka, aku meninggalkannya.
Dan, di ruas Ibu Kota, aku menemukan cinta.
Menegakkan mimpiku hampir sempurna.
Namun, hidup tak selalu memihak pada mimpi yang sempurna, bukan?
Mau tak mau, aku harus kembali ke SoE.
Aku pulang, meninggalkan cinta dan harapan akan masa depan.
Pernahkah kau mendengar kisah dari Kota SoE, kota kelahiranku?
Tadinya, aku pun berpikir sama denganmu, tak ada yang istimewa darinya.
Namun, ternyata aku lupa akan indahnya barisan bugenvil yang mekar serentak di tepi-tepi jalannya.
Aku lupa sempat kutitipkan cinta malu-malu di sana.
Lalu, maukah kau menelusuri bersamaku kelok jalannya yang berbatu-batu?
Menikmati siur dingin udaranya sambil kita perbincangkan lagi cinta yang sering kau lupa.
Mungkin kau sama denganku, cinta yang sebenarnya justru kau temukan saat kau pikir kau sedang kehilangan.
Jadi, dengarlah kisah dari Tana Timor ini.
Review
"Perempuan-Perempuan Tersayang" bercerita tentang Fransina, gadis Timor yang terpaksa pulang ke SoE, Timor Tengah Selatan, NTT, karena sebuah masalah keluarga. Terpaksa meninggalkan pacarnya serta berbagai kesempatan kerja di Jakarta, Fransina pulang dengan hati uring-uringan, serta menyalahkan adiknya yang dia anggap sebagai penyebab masalah.
Di SoE inilah, di kampung halamannya, Fransina mengevaluasi kembali dirinya, serta mempertanyakan apa yang selama ini dia anggap penting. Di SoE jugalah dia bertemu seorang pria yang mampu membuat hatinya berdebar-debar, yang mampu membuatnya meragukan perasaannya pada pacarnya di Jakarta yang kini mulai berubah.
Ini buku kedua dari seri Indonesiana yang kubaca. Sebelumnya sudah baca Di Bawah Langit yang Sama (review di sini).
Kalau boleh jujur, antara "Di Bawah Langit yang Sama" dengan "Perempuan-Perempuan Tersayang" ini butuh untuk saling transfer kelebihan masing-masing. Dari segi cerita/plot, saya lebih suka novel ini. Tapi, dari segi cara bercerita, saya lebih suka "Di Bawah Langit yang Sama".
Cara narasinya terlalu mengandalkan 'tell', khususnya di bagian awal. Ada banyak bagian yang saya rasa akan lebih baik kalau ditunjukkan pada pembaca. Hal-hal seperti keadaan mental Fransina, kehidupan sehari-hari yang membosankan, hingga keadaan kota SoE yang katanya tidak ada harapan bekerja untuk Fransina (yang sesuai keahliannya di bidang entah periklanan, bahasa, atau ilmu komunikasi. Tidak disebutkan dengan spesifik), pasti bisa lebih menarik kalau ditunjukkan dengan lebih detail.
Untuk ceritanya, saya cukup suka. Penyelesaiannya juga bagus, walau saya masih bingung dengan Fransina dengan Fritz yang tiba-tiba jadi gantung gitu. Kalau bisa, sih, ada lebih banyak adegan yang menunjukkan perkembangan dalam keluarganya Fransina.
Btw, melihat Fransina di novel ini, saya jadi kepikiran salah satu puisinya Rendra. Saya kutipkan di sini:
Sajak Seonggok Jagung
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan.
Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar ………..
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium kuwe jagung
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja
Tetapi ini :
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.
Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.
Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.
Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang
belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”
Saya merasa Fransina seperti layang-layang ibukota yang pulang ke daerahnya dengan kikuk, lalu berkata, “Di sini aku merasa asing dan sepi!”.
Secara keseluruhan, tiga bintang. Buku ini saya rekomendasikan untuk penyuka konflik keluarga, serta yang penasaran dengan kehidupan di SoE.
Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 New Authors Reading Challenge
- 2015 Lucky No 15 Reading Challenge
View all my reviewsPosted by Biondy at 11:26:00 AM | Labels: 2015 Lucky No. 15 , 2015 New Authors Reading Challenge , GagasMedia , Indonesiana , Membaca , Novel , Okke Sepatumerah , Review , Review Buku | 1 comments |
-
Review Novel: Sweet Karma - Ayudewi
Friday, July 24, 2015
Sweet Karma by Ayudewi
My rating: 2 of 5 stars
Judul: Sweet Karma
Penulis: Ayudewi
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 300 halaman
Terbitan: Mei 2015
Dikhianati membuatmu tak lagi memercayai.
Dilukai membuatmu tak lagi berani menyayangi.
Dilupakan membuatmu hanya berani menyembunyikan rindu di hati.
Dicintai, akankah membuatmu kembali berani mencintai?
Apakah hidup selalu seperti itu?
Kau tak akan pernah lepas dari masa lalu.
Langkahmu selalu dibayang-bayangi, sesuatu yang terkadang tak kau pahami:
K-A-R-M-A
Ketika hidup mempertemukanku denganmu, benarkah ini merupakan garis nasib?
Aku mulai menyemai harap.
Namun, mengapa semakin kukejar, bahagia terasa semakin menjauh?
Mungkinkah karena maaf belum juga terucap dengan utuh
Review
Hmm... gimana, ya? "Sweet Karma" ini contoh novel yang punya materi bagus, tapi terburu-buru dalam mengembangkan ceritanya.
"Sweet Karma" bercerita tentang Audrey, seorang wanita yang bekerja sebagai chef. Untuk menghindari keluarganya yang terus-terusan mendesaknya segera menikah, Audrey menerima pekerjaan sebagai sous-chef di sebuah gastropub di London. Di sana dia bertemu dengan Hugo Pierre, sang executive chef yang pemarah, "hobi" memecat sous-chef di tempat itu, serta terkesan seksis karena tidak menginginkan seorang wanita bekerja di dapurnya.
Audrey, yang merasa jengah dengan sikap Hugo, mengonfrontasi pria itu. Hal ini membuat Hugo semakin tidak suka pada Audrey. Tapi, pada sebuah musim panas di London, rasa benci itu perlahan-lahan berubah.
Kalau dibandingkan empat novel "Seven Sins" yang kubaca sebelum ini, "Sweet Karma" ini yang paling kerasa romansnya. Rasanya kayak lagi baca novel dari lini penerbit tetangga.
"Sweet Karma" mengambil "wrath"/amarah sebagai temanya. Saya merasa kalau warna hijau kovernya kurang pas untuk tema amarah. Warna hijau lebih terkesan tenang/damai soalnya.
Untuk ceritanya, saya suka dengan dunia dapur profesional yang sangat terasa. Saya juga lebih kenal dengan jabatan-jabatan di dapur restoran, serta suasananya seperti apa. Ternyata memang sepanas yang pernah kulihat di acara "Hell's Kitchen". Latar tempatnya juga digambarkan dengan sangat baik. London dan sedikit Raja Ampat-nya sangat terasa. Rasa marahnya juga sudah cukup terasa, walau masih terkesan suam-suam kuku.
Yang kurang saya suka adalah kesan insta-romance antara Audrey dan Hugo. Ya, sih, dalam cerita memang sudah berlalu 1-2 bulan sejak mereka pertama bertemu, tapi tidak ada peristiwa yang membuat saya percaya dengan rasa sukanya mereka. Kesannya tiba-tiba aja sudah ada romance yang dipaksakan ke pembaca. Perkembangan hubungannya mereka cukup manis, walau agak membuat ngantuk untuk saya pribadi.
Secara keseluruhan, "Sweet Karma" ini novel romans yang manis dengan tema klasik benci jadi cinta. Latar tempatnya digambarkan dengan baik. Suasana dapur dan dunia memasaknya juga sangat terasa. Sayangnya, tema "sin" yang dibawakan tidak sedominan buku-buku sebelumnya.
Buku ini saya rekomendasikan untuk pecinta novel romance, serta yang ingin lebih tahu tentang dunia dapur profesional.
Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 New Authors Reading Challenge
- 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
View all my reviewsPosted by Biondy at 9:09:00 PM | Labels: 2015 Lucky No. 15 , 2015 New Authors Reading Challenge , Ayudewi , GagasMedia , Membaca , Novel , Review , Review Buku | 4 comments |
-
Review Novel: I Need You; I Just Can't Show You - Yoana Dianika
Tuesday, June 23, 2015
I Need You; I Just Can't Show You by Yoana Dianika
My rating: 4 of 5 stars
Judul: I Need You; I Just Can't Show You
Penulis: Yoana Dianika
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 328 halaman
Terbitan: Mei 2015
Ini kisah tentang harapan, yang seumpama layang-layang.
Jika kau tarik terlalu kuat, ia akan putus.
Jika kau biarkan terlalu longgar, ia akan lepas.
[Amalia]
Aku menyukaimu, apakah isyaratnya tak pernah terbaca?
Kau tak perlu menjadi pembaca pikiran untuk itu.
Terlalu nyata segala rasa yang ada untukmu.
Kau memintaku tak beranjak pergi, tetapi mengapa kau tak ikut duduk di sini?
Aku telah tahu segala hal tentangmu—kecuali tentang perasaanmu.
[Ivan]
Bersamamu, tak pernah kurasakan sepi.
Tanpamu, ada sesuatu yang hilang.
Namun, saat kau isyaratkan cinta, mengapa tak kutemukan sesuatu yang menyala?
[Sev]
Benarkah harapan juga bisa kedaluwarsa?
Habis masanya ketika waktu memberimu jarak; kepada cinta yang tak pernah kau ungkap.
Harapan,
sesuatu yang membuatmu mampu bertahan dalam keadaan tersulit sekalipun.
Beri ia isyarat—agar ia tak lagi tersesat.
Review
Buku ke-2 dari seri "Love Cycle" Gagas Media. Setelah tema cinta pertama diangkat di I Love You; I Just Can't Tell You (review di sini), kali ini tema PDKT-lah yang diangkat.
Ceritanya tentang Amalia, seorang gadis SMA yang tinggal di Ponorogo. Suatu hari, sekolahnya kedatangan murid pindahan. Murid itu bernama Ivan, seorang cowok keturunan Ukraina yang juga teman masa kecil Amalia. Sekaligus cowok yang Amalia suka selama ini.
Pertemuan kembali itu membangkitkan rasa lama dalam diri Amalia, tapi Ivan justru tertarik pada Izz, sahabat Amalia. Lalu kenapa Ivan justru memberikan perhatian lebih pada Amalia? Apakah gadis itu mempunyai kesempatan dengan Ivan?
Aduh, si Ivan ini. Bener-bener raja PHP. Mungkin sebenarnya ini kondisi klasik orang yang lagi PDKT kali, ya. Ketika dekat dengan seorang cowok/cewek, terus si dia memberikan perhatian lebih, tapi dia kok justru dekat dengan orang lain? Si dia itu sebenarnya suka nggak sih? Nah, kurang lebih itulah kondisi si Amal.
Ceritanya bagus kalau untukku. Saya suka dengan latar kota Ponorogo yang diambil. Suka juga dengan selipan budaya reognya. Tapi, saya juga merasa kalau ceritanya terbagi dua. Bagian pertama bercerita tentang kehidupan sekolah Amal, Ivan, dan teman-teman mereka. Bagian kedua bercerita tentang Amal yang mengikuti audisi sebagai gitaris dan backing vocal untuk band favoritnya, The Dusk.
Kedua bagian itu sayangnya kurang menyatu dengan baik. Rasanya seperti membaca dua novel berbeda yang ada dalam satu buku. Cerita audisinya Amal sebenarnya cukup menarik, tapi saya lebih kepengin melihat eksplorasi hubungan antara Amal dengan Ivan, serta Izz, sahabat Amal yang terlihat baik, tapi... what a bitch. Dia lebih bitchy dari Erika, teman sekolah mereka, malah menurutku.
Secara keseluruhan, cerita I Need You; I Just Can't Show You ini bagus. Saya yakin banyak yang bisa terhubung dengan ceritanya. Baca novel ini, saya jadi ingat kondisi yang pernah dialami beberapa teman saya dulu. Pasti yang pernah di-PHP-in bisa paham perasaannya Amal deh. Sayangnya, masih ada bagian-bagian yang rasanya menggantung. Saya kok merasa kalau penulisnya ada rencana untuk menulis sekuel tentang para anggota The Dusk, ya?
Tiga setengah bintang, pembulatan ke atas.
Terkadang, cinta memang tidak mudah untuk diraih. Tapi, untuk cinta yang tidak mudah diraih itulah manusia rela berkorban. (hal. 147)
Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 Young Adult Reading Challenge
- 2015 New Authors Reading Challenge
- 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
View all my reviewsPosted by Biondy at 9:31:00 PM | Labels: 2015 Lucky No. 15 , 2015 New Authors Reading Challenge , 2015 Young Adult Reading Challenge , GagasMedia , Membaca , Novel , Review , Review Buku , Yoana Dianika | 0 comments |
-
Review Novel: I Love You; I Just Can't Tell You - Alvi Syahrin
Friday, June 19, 2015
I Love You; I Just Can't Tell You by Alvi Syahrin
My rating: 5 of 5 stars
Judul: I Love You; I Just Can't Tell You
Penulis: Alvi Syahrin
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 323 halaman
Terbitan: Mei 2015
Ini kisah cinta pertama.
Cinta yang polos dan meragu,
menjebakmu dalam momen katakan-tidak-katakan-tidak,
membuatmu bertanya, “Apakah rasa ini akan sepadan dengan hasilnya?”
[Daisy]
Aku telah jatuh cinta. Untuk kali pertama.
Cinta yang membuat harapku terbang ke angkasa.
Namun...
Akankah dia menyadari hadirku kala aku sendiri ingin bersembunyi, dari tubuh remaja tujuh belas tahun yang tak tumbuh sebagaimana remaja lainnya?
[Alan]
Tidak semua laki-laki sama, yakinku.
Tetapi... Mengapa...
Semakin aku mencoba, semakin jalan terasa berselisih?
[Ve]
Aku sudah tahu betapa cinta hanya bisa menyisakan luka.
Luka dan rahasia.
Rahasia yang bahkan kepada sang penulis kusampaikan,
“Tolong jangan beri tahu Alan dan Daisy. Juga pembacamu.”
Ini kisah cinta pertama...
yang membuat hati kecilmu selalu bertanya,
“Apakah cerita ini bisa membawa bahagia?”
Review
Ini buku kedua penulisnya yang kubaca. Kalau mau dibandingkan dengan Swiss: Little Snow in Zürich (review di sini), buku ini sudah jauh lebih bagus teknis penulisannya. Kalau di Swiss penulisannya terasa kurang fokus, di sini sudah lebih rapi dan terarah, serta lebih greget.
Ini buku yang sangat berkesan buat saya. Saya mendapatkan buku ini (plus seluruh buku dari serial "Love Cycle" dan sebuah ransel) lewat acara "Love Cycle Online Festival" yang diadakan oleh Gagas Media. Di sana saya masuk ke Tim Cinta Pertama yang dikepalasukui oleh Alvi, dan kebetulan tim kami menang. Tapi, bukan kemenangan itu sendiri yang penting buat saya. Yang terpenting adalah, lewat acara itu saya bertemu dengan teman-teman baru, bisa kopdar, chatting-chatting gila, dan juga mengalami drama medsos pertama saya. Bertahun-tahun saya pakai medsos, mulai dari zaman Friendster, baru sekarang saya kena dramanya.
Ceritanya tentang Daisy, seorang gadis SMA dengan masalah kelainan hormon yang membuatnya telat puber, yang jatuh cinta pada Alan, seorang anak kuliah semester akhir yang sedang mengerjakan skripsinya. Alan sendiri sebenarnya memiliki gadis yang dia suka. Nama gadis itu Ve. Tapi, tidak peduli sekeras apa Alan berusaha, Ve tetap menolaknya.
Stop staring at him.
Stop hoping too much.
Fight for your first love harder. (hal. 1)
Cerita cinta pertama Daisy ini benar-benar manis. Saya bisa paham perasaan sedih serta keraguan Daisy akan tubuhnya sendiri, tapi keinginan Daisy untuk memperjuangkan cinta pertamanya membuat dia menghadapi perasaan itu. Kisahnya sendiri sangat manis secara keseluruhan. Ilustrasi-ilustrasi di dalamnya juga mendukung perasaan manis itu. Salut buat ilustratornya. Saya juga suka banget dengan akhir ceritanya.
Secara keseluruhan, ini buku tentang cinta pertama yang manis, tapi juga penuh perjuangan. Berdarah-darah banget deh perjuangannya (secara figuratif dan literal). Empat setengah bintang, pembulatan ke atas, untuk novel ini. Good job untuk penulisnya. Jadi penasaran pengin baca novel-novel selanjutnya dari seri "Love Cycle" ini.
Cinta yang sesungguhnya tidak perlu menggebu-gebu. Cinta yang sesungguhnya itu menenangkan. (hal. 121)
Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 Young Adult Reading Challenge
- 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
View all my reviewsPosted by Biondy at 12:24:00 PM | Labels: 2015 Lucky No. 15 , 2015 Young Adult Reading Challenge , Alvi Syahrin , GagasMedia , Membaca , Novel , Review , Review Buku | 1 comments |
-
Review + Giveaway: Bitter Winner - Mita Miranti
Sunday, June 14, 2015
Bitter Winner by Mita Miranti
My rating: 3 of 5 stars
Judul: Bitter Winner
Penulis: Mita Miranti
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 250 halaman
Terbitan: Mei 2015
Berhubung blurb buku ini kurang menjelaskan isi ceritanya, jadi saya buat ringkasan cerita dulu.
Bitter Winner bercerita tentang Audrina, seorang gadis yang berasal dari rumah tangga yang berantakan. Ayahnya menceraikan ibunya dan pergi membawa Audrina, memisahkan gadis itu dari ibu dan adik kandungnya. Audrina yang sudah remaja terpaksa tinggal di sebuah rumah yang dingin, dengan ayah yang sibuk dan ibu tiri yang kejam.
Saat menjadi juri lomba scrap book di tempat kerja sambilannya, Audrina menemukan seorang peserta yang memasukkan foto dirinya, ibu, dan adiknya saat mereka masih sekeluarga. Dengan harapan bahwa si pengirim itu adalah adiknya, Audrina memutuskan untuk pergi ke Makassar untuk bertemu dengan adik dan ibunya.
Review
Ini novel pertama penulisnya yang kubaca. Sebelumnya sih pernah baca noveletnya di Parahyangan 147 (review di sini).
Pertama, saya harus bilang kalau seri Seven Sins ini lama amat ya keluarnya. Soalnya pengumuman pemenangnya kan sudah dari akhir 2013, tapi sampai sekarang baru lima novel yang terbit. Panjang sekali proses pengerjaannya.
Saya suka dengan ceritanya. Penulisnya membangun cerita dengan pace yang pas. Alurnya membangun untuk klimaks di akhir. Saya juga suka dengan latar di Makassar. Selesai baca novel ini, besoknya saya langsung pergi makan coto Makassar dan es pisang ijo :)).
Yang saya kurang suka adalah kebohongan-kebohongan Audrina yang tidak memiliki akibat apa-apa. Awalnya kupikir semua kebohongan Audrina akan memiliki imbas padanya, tapi ternyata tidak berbalik dan membuatnya kena getah sama sekali.
Awalnya saya sempat bingung, buku ini mengangkat Sin yang mana sih? 'Wrath' atau 'Lust'? Tapi, setelah dicek di situsnya Gagas, ternyata Bitter Winner ini mengangkat tema 'Lust'. Iya, nafsu yang diangkat di sini bukan yang bersifat seksual, tapi hasrat berlebih untuk mendapatkan sesuatu.
Secara keseluruhan, saya suka dengan novel ini. Ceritanya solid dan enak untuk diikuti. Sayangnya si tokoh utama seperti kurang terkena imbas dari kesalahan yang dia buat.
Giveaway time!
Akan ada satu orang pemenang yang akan mendapatkan novel Bitter Winner ini. Sebenarnya ini GA yang tidak direncanakan sih. Kebetulan aja punya dua eksemplar novel Bitter Winner karena dikirimin satu sama penulisnya, padahal sudah beli dan sedang baca novel ini :)). Karena itulah, saya akan memberikan satu novel yang berlebih itu pada satu orang yang beruntung.
Simak aturan mengikuti GA-nya dulu, ya.
- Peserta berdomisili di wilayah Indonesia.
- Buku hadiah yang diberikan tidak ditandatangani oleh penulis.
- Silakan mengisi kolom Rafflecopter di bawah ini.
- Giveaway berlangsung dari 14 Juni 2015 - 24 Juni 2015.
- Keputusan pemenang tidak dapat diganggu gugat.
- Bila dalam 48 jam tidak ada respon dari pemenang, maka akan dipilih seorang pemenang baru.
a Rafflecopter giveaway
Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 Young Adult Reading Challenge
- 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
View all my reviewsPosted by Biondy at 11:04:00 AM | Labels: 2015 Lucky No. 15 , 2015 Young Adult Reading Challenge , GagasMedia , giveaway , Membaca , Mita Miranti , Novel , Review , Review Buku | 20 comments |
-
Review Novel: Sabtu Bersama Bapak - Adhitya Mulya
Monday, June 8, 2015
Sabtu Bersama Bapak by Adhitya Mulya
My rating: 3 of 5 stars
Judul: Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 278 halaman
Terbitan: Juni 2014
"Sabtu Bersama Bapak" bercerita tentang dua orang saudara, Satya dan Cakra. Satya yang ganteng telah menikah dan memiliki 3 orang anak, sementara Cakra, yang berwajah biasa-biasa saja (nggak jelek, kok. Cuma, yah, biasa aja.), masih berjuang untuk memperoleh pasangan hidup.
Walau ayah mereka berdua telah lama meninggal, tapi beliau meninggalkan video-video yang berisi pelajaran hidup pada kedua anaknya. Apakah video-video itu memang dapat membantu Satya dan Cakra untuk hidup dengan lebih baik?
Review
Ini novel kedua penulis yang kubaca. Sebelumnya pernah baca "Gege Mengejar Cinta", dan saya rasa gaya penulisan di sini lebih enak daripada yang di GMC. Untuk humornya, dua-duanya masih sama-sama sukses bikin ngakak.
Untuk ceritanya, saya lebih suka sama plotnya Cakra. Perjuangannya lebih terasa. Gila-gilaan sama anak-anak di kantornya juga terasa. Work hard, play hard lah, ya.
Kalau untuk Satya... eh, jujur drama domestiknya saya kurang dapat. Masalah awal antara Satya dan istrinya juga kayak kurang greget gitu. Semacam tidak ada tensi dalam pengolahannya. Penyelesaiannya juga tidak terlalu memperlihatkan pergulatannya si Satya.
Saya cukup suka dengan video-video yang ditinggalkan si Bapak. Pesan moralnya dapat banget. Walau, saya bisa paham kalau ada yang bilang terlalu preachy. Soalnya saya juga mendapat kesan itu sih pas baca bagian video-videonya ini, dan juga sedikit di bagian belakang pas Cakra cerita ke si anu tentang cerita dari ayahnya.
Btw, ini banyak yang bilang novelnya sedih, tapi kenapa saya bacanya ketawa-ketawa dari depan sampai belakang ya?
Secara keseluruhan,Panduan Menjadi Bapak yang Baik dan Benar"Sabtu Bersama Bapak" ini novel yang lucu dengan pesan moral yang kuat dan jelas. Jelas banget malah. Saya rekomendasikan untuk dibaca para lelaki yang berniat menjadi bapak (maupun yang tidak), dan para wanita yang tengah mencari calon bapak bagi anak-anaknya.
Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
- 2015 100 Days of Asian Reads Reading Challenge
View all my reviewsPosted by Biondy at 8:49:00 PM | Labels: 2015 Asian Reads Challenge , 2015 Lucky No. 15 , Adhitya Mulya , GagasMedia , Membaca , Novel , Review , Review Buku | 2 comments |
-
Review Novel: Di Bawah Langit yang Sama - Helga Rif
Sunday, June 7, 2015
Di Bawah Langit yang Sama by Helga Rif
My rating: 4 of 5 stars
Judul: Di Bawah Langit yang Sama
Penulis: Helga Rif
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 276 halaman
Terbitan: Mei 2015
"Di Bawah Langit yang Sama" bercerita tentang Indira, seorang gadis Bali yang bekerja di Singapura. Di sana, dia memiliki pekerjaan yang bagus, karir yang menjanjikan, serta seorang pria tampan yang adalah atasan dan pacarnya.
Karena niang-neneknya- meninggal, Indira harus pulang. Di Bali, bukan saja dia direpotkan oleh persiapan upacara ngaben neneknya, dia juga harus menghadapi tekanan keluarganya yang memintanya untuk menikahi seorang pria Bali demi meneruskan nama keluarganya.
Di tengah tekanan yang begitu keras, mampukah Indira tetap berpegang teguh pada cinta sejatinya? Ataukah dia akan tunduk pada adat yang mengikatnya?
Review
"Di Bawah Langit yang Sama" adalah buku pertama dari serial "Indonesiana" Gagas Media, serial yang mengangkat kebudayaan-kebudayaan lokal. Katanya sih ini semacam lanjutan dari STPC. Mungkin semacam spiritual brother/sister-nya. Dan, jujur saya puas dengan kebudayaan Bali yang diangkat di sini.
Unsur budayanya terasa sekali. Upacara ngaben yang ditunjukkan termasuk detail. Saya jadi tahu kalau persiapannya itu rempong banget. Kalau keluarga Indira yang berkasta Kesatria saja sudah repot seperti itu, bagaimana yang kastanya Brahmana, ya? Sama repotnya? Ataukah lebih repot lagi? Atau justru lebih sederhana?
Persoalan adatnya juga terasa. Indira terasa sekali berada pada posisi terjepit sebagai seorang wanita muda yang ingin bebas, dengan posisinya sebagai orang yang diminta untuk meneruskan nama keluarga, yang berarti dia harus menikahi seorang pria yang akan masuk ke dalam keluarganya. Apalagi adiknya tidak bisa diharapkan dalam hal ini, karena adiknya akan menikah dengan pria yang berasal dari kasta lebih tinggi. Indira juga ragu bahwa Max, pacarnya di Singapura yang punya status sosial dan ekonomi yang bagus, akan mau mengikuti adat keluarganya.
Aku hanyalah seorang wanita yang harus memegang peran sebagai seorang penerus keturunan keluargaku. Aku mencintaimu, tetapi aku juga mencintai keluargaku. (hal. 200)
Tapi, kalau boleh jujur, ketimbang konflik adat budaya, sebenarnya seluruh konflik di buku ini rasanya timbul karena kurangnya komunikasi. Serius. Coba dari awal Indira mau membicarakan masalah ini dengan Max. Seluruh persoalan di buku ini tidak akan ada. [kurangnya komunikasi. Serius. Coba dari awal Indira mau membicarakan masalah ini dengan Max. Seluruh persoalan di buku ini tidak akan ada. (hide spoiler)]
Untuk teknis penulisannya, ini buku kedua penulisnya yang kubaca, dan saya rasa kemampuan penulisnya sudah semakin baik. Gaya menulisnya lebih lancar dan enak diikuti kalau dibandingkan dengan novel penulis yang sebelumnya kubaca. Typo masih ada di beberapa tempat.
Secara keseluruhan, saya suka dengan buku ini. Unsur budayanya yang kental memberi saya pengetahuan baru soal adat umat Hindu di Bali. Rasanya saya bakal mengikuti seri "Indonesiana" ini deh. Semoga buku-buku lainnya juga memberi gambaran budaya yang detail seperti ini.
Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
- 2015 100 Days of Asian Reads Reading Challenge
View all my reviewsPosted by Biondy at 11:36:00 PM | Labels: 2015 Asian Reads Challenge , 2015 Lucky No. 15 , GagasMedia , Helga Rif , Indonesiana , Membaca , Review , Review Buku | 3 comments |
-
Cinta Pertama - Bagian Empat
Monday, May 25, 2015
Lanjutan cerita dari Octaviani Nurhasanah di blog http://octavianinurhasanah.net/
Arsenius Kuntowijoyo. Itu aku. Arsenius berarti ‘jantan’. Ayah yang memberikan nama itu, dengan doa agar aku akan tumbuh menjadi laki-laki penerus nama dan usaha beras cap Kuntowijoyo. Tapi, kurasa, hanya satu dari dua harapan itu yang akan terpenuhi.
Bicara soal nama sebagai doa, ada satu orang lagi yang tampaknya jauh dari harapan orangtuanya. Namanya Putri, temanku sejak kecil. Aku ingat pernah bicara dengan ibunya. Tante waktu itu bilang, dia memberi nama Putri dengan harapan agar anaknya tumbuh menjadi seorang gadis yang elegan.
“Put, itu baju kamu ada robeknya di bagian belakang. Besar pula. Ganti sana. Masa keluar pakai baju kayak gitu.”
Berperilaku baik.
“Putri! Jangan lari kamu! Kamu lompat pagar lagi hari ini karena telat, kan? Putri! Tunggu!”
Serta anggun.
“Put, kalau makan itu, nggak perlu disuapin ke baju. Itu kemeja sampai penuh noda kecap.”
Belakangan ini ada perubahan yang terjadi pada dirinya. Dia berusaha tampil lebih rapi. Dia juga lebih kalem. Awalnya kukira dia kesambet, ternyata alasannya lebih klasik. Cowok.
“Sen, ini bajunya sudah oke, kan?” tanya Putri.
Aku mengamatinya sekali lagi. Sebuah atasan tanpa lengan warna biru tua, serta rok garis-garis putih-biru tua yang panjangnya sedikit melewati lutut.
“Bagus. Percaya, deh,” jawabku.
Ini hari besar baginya. Setelah cukup lama berusaha mendekati Banu, Putri akhirnya memutuskan untuk maju duluan dan menyatakan perasaannya. Dia meminta bantuanku untuk menyiapkan penampilan terbaik untuknya.
Saat sudah selesai, Putri meninggalkan rumahku dan pergi ke tempatnya janjian dengan Banu. Aku melirik ponselku. Sore ini juga hari besarku.
Jam 15.00, kukeluarkan sepedaku dan kukayuh ke ‘Kafe Rakyat’, tempat nongkrong yang baru dibuka dan langsung jadi favorit di desa yang semakin terasa seperti kota kecil ini. Di sana Karin menunggu jawabanku.
Dia memintaku menjadi pacarnya seminggu yang lalu.
Karin sudah ada ketika aku sampai. Dia tersenyum saat melihatku duduk. Aku bisa merasakan kegugupannya. Perutku sendiri mulai terasa bergejolak.
“Mau pesan apa?”
Aku menggeleng. Lebih baik aku melakukan ini secepat mungkin. “Karin, aku tidak bisa jadi pacarmu.”
Karin tertegun. Senyum di wajahnya lenyap. “Kenapa?”
“Kamu tahu alasannya,” kataku. “Aku berniat pergi dari sini setelah lulus.”
Aku sudah memikirkan ini matang-matang. Aku bercita-cita menjadi seorang desainer pakaian. Mungkin orang-orang akan berpikir kalau aku gay atau semacamnya karena impianku ini, tapi tidak begitu. Toh, tidak semua desainer cowok itu gay. Ralph Lauren atau Roberto Cavalli misalnya. Mereka menikahi wanita. Aku suka pada wanita. Aku suka membuat pakaian yang dapat membuat mereka tampak lebih indah.
Pakaian Putri hari ini adalah kreasiku. Mungkin hanya Putri, Karin, dan Ibu yang tahu tentang keahlianku ini. Aku yakin Ayah tidak akan setuju dengan pilihanku. Gaya berpikirnya... masih sedikit kuno. Baginya membuat pakaian adalah ‘pekerjaan perempuan’, atau orang yang kepepet biaya hidup.
“Jahat. Padahal kamu bilang akan berjuang untuk mendapatkanku.”
“Karin—”
Karin berdiri, lalu berlari meninggalkanku seorang diri. Karin, aku menyukaimu, tapi aku tidak yakin tentang ‘kita’ untuk saat ini. Jalan yang kuambil akan sulit untuk dilalui. Aku tidak mau kamu menunggu tanpa harapan yang pasti.
Ponselku bergetar. Aku tersentak dan menariknya keluar dari saku. Pesan dari Putri. Aku membukanya dan tertegun saat membaca SMS-nya.
Cerita dari perwakilan #TimCintaPertama di online festival #LoveCycle Gagas media.
Simak kelanjutan ceritanya di http://rajabalmukarrom.blogspot.com/ oleh Rajab AlmukarromPosted by Biondy at 8:18:00 PM | Labels: Cerita Pendek , GagasMedia , Love Cycle | 0 comments |
-
Review Buku: 100 Tahun Musik Indonesia - Denny Sakrie
Wednesday, May 20, 2015
100 Tahun Musik Indonesia by Denny Sakrie
My rating: 5 of 5 stars
Judul: 100 Tahun Musik Indonesia
Penulis: Denny Sakrie
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 168 halaman
Terbitan: Maret 2015
Bayangkan jika musik tak lagi mengisi hari-hari manusia? Mungkin, akan banyak kejenuhan di sudut tempat, atau bahkan berkurangnya alternatif untuk melipur kesedihan. Tak dipungkiri, musik adalah bagian yang tak terpisahkan bagi jiwa.
Banyak peristiwa musik di Indonesia yang terjadi dalam kurun waktu 100 tahun. Mulai dari pencarian jati diri saat masih dalam belenggu kolonialisme, problematika yang tak kunjung usai tentang wacana musik nasional, juga masalah pelanggaran hak cipta dan pembajakan. Meski begitu, musik Indonesia terus berkembang dan semakin menunjukkan eksistensinya hingga sekarang.
Buku ini merangkum sejarah panjang musik Indonesia. Perjalanan musik jazz, keroncong, dangdut, soundtrack film, rock and roll, folk, indie, hingga musik panggung. Bahkan, buku ini pun menampilkan para musisi besar yang mewarnai jantung musik Indonesia seperti Gesang, Bing Slamet, Idris Sardi, Benyamin Sueb, Rhoma Irama, Achmad Albar, Jack Lesmana, Tony Koeswoyo, Iwan Fals, Chrisye, hingga Slank. Ada pula pembahasan tentang label-label rekaman di Indonesia, hingga lomba cipta musik dan menyanyi yang turut merangsang tumbuhnya seniman musik di Indonesia.
Musik adalah jiwa.
Mempelajari akar perkembangannya, akan membuat kita lebih menghargai dan memahami maknanya.
Review
Salah satu buku non fiksi yang ringan dan mudah dibaca, tapi informatif dan memberi banyak wawasan baru. Saya jadi tahu kalau ternyata W. R. Supratman pernah punya band yang bermarkas di Makassar, terus baru tahu kalau Achmad Albar pernah jadi vokalis dua band di luar negeri, dan baru tahu juga kalau Remy Sylado itu musisi folk.
Bukunya dibagi per dasawarsa. Mulai dari musik sebelum 1950, 1960-1969, dan seterusnya hingga 2000-2005. Ya... jujur yang terakhir itu pembagiannya memang terasa sedikit tanggung, tapi tidak mengganggu isi yang dibahas.
Ada perkembangan beberapa jenis musik yang dibahas di sini. Mulai dari jaz, rock, pop, dangdut, hingga musik Melayu dan yang "Melayu". Ada juga tokoh yang terkenal di genre itu yang dibahas, seperti: Jack Lesmana, Achmad Albar, Chrisye, hingga Rhoma Irama. Sayangnya tidak ada satu pun musisi wanita yang dibahas di sini. Seriously? Tidak satu pun?
Secara keseluruhan, saya suka dengan buku ini. Isinya informatif dan saya jadi menemukan beberapa lagu lama yang membangkitkan kenangan di sini *halah.
Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 New Authors Reading Challenge
- 2015 100 Days of Asian Reads Reading Challenge
View all my reviewsPosted by Biondy at 2:30:00 PM | Labels: 2015 Asian Reads Challenge , 2015 New Authors Reading Challenge , Denny Sakrie , GagasMedia , Membaca , Review , Review Buku | 0 comments |
-
Review Novel: Éclair: Pagi Terakhir di Rusia - Prisca Primasari
Friday, December 26, 2014
Éclair: Pagi Terakhir di Rusia by Prisca Primasari
My rating: 1 of 5 stars
Judul: Éclair: Pagi Terakhir di Rusia
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 236 halaman
Terbitan: Maret 2011
Ekaterina, Sergei, Stepanych, Kay, dan Lhiver; 5 orang sahabat yang hidupnya berubah karena sebuah peristiwa. Hubungan yang telah lama renggang berusaha disambungkan kembali saat Ekaterina dan Sergei memutuskan untuk menikah.
Dibutuhkan perjalanan ke Amerika, Indonesia, dan kembali ke Rusia untuk mengumpulkan setiap pecahan yang ada. Namun sanggupkah Ekaterina dan Sergei menggabungkan setiap pecahan yang ada?
Review
Eh, jujur saya tidak menyangka akan memberikan 1 bintang saat mulai membaca novel ini. Eclair adalah novel kedua karya penulis yang saya baca. Sebelumnya saya sudah baca Priceless Moment (review di sini) dan saya memberi 4 bintang untuk buku itu, makanya saya tidak punya prasangka apa-apa waktu membaca lembaran pertama buku ini.
Pembuka ceritanya jujur lumayan menarik. Awalnya saya mengira novel ini akan mengusung kisah misteri ala detektif. Ya, mungkin bukan novel detektif seperti Agatha Christie, mungkin ala Linda Howard gitulah. Ternyata saya salah. Misteri pembunuhan yang Kay "lakukan" ternyata selesai dengan cepat.
Ceritanya kemudian bergulir dalam drama panjang yang bikin saya bosan. Rahasia kejadian "dua tahun lalu" yang menghancurkan persahabatan Ekaterina, Sergei, Stepanych, Kay, dan Lhiver juga terlalu cepat dibeberkan. Setelah alasannya diketahui, ceritanya kembali muter-muter sampai saya sempat merasa, "Ini novel mau dibawa kemana sih sebenarnya? Perasaan sudah bisa diselesaikan dari tadi."
Bagian akhirnya sempat membuat saya kembali perhatian pada novel ini. Ada bagian masa lalu Ekaterina yang memperjelas keseluruhan permasalahan di novel ini. Sayangnya, saya sudah terlanjut gak mood untuk baca buku ini, jadi ketika semuanya selesai, saya hanya bisa merasa, "Akhirnya."
Bagian postif dari buku ini? Jelas pengetahuan soal Rusia serta berbagai selipan sastra di dalamnya. Juga untuk nama universitas almamater saya yang sempat menjadi latar tempat di sini :p.
View all my reviewsPosted by Biondy at 10:33:00 PM | Labels: GagasMedia , Membaca , Novel , Prisca Primasari , Review , Review Buku | 2 comments |
-
Review Novel: Aku Tahu Kamu Hantu - Eve Shi
Saturday, November 22, 2014
Aku Tahu Kamu Hantu by Eve Shi
My rating: 4 of 5 stars
Judul: Aku Tahu Kamu Hantu
Penulis: Eve Shi
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 268 halaman
Terbitan: Juli 2013
Sinopsis
Ulang tahun ke -17 harusnya menjadi momen khusus bagi tiap remaja. Itulah yang Liv harapkan. Sayang, harapannya itu begitu jauh dari kenyataan. Bukannya mendapat pesta atau kado khusus dari kedua orang tuanya, dia jstru memperoleh kemampuan untuk melihat hantu. Yang mengejutkan, dia kemudian tahu bahwa ibunya juga memiliki kekuatan yang sama. Begitu pula dengan nenek, ibu dari ibunya.
Kekuatan ini membuat Liv mampu melihat sosok wanita di toilet sekolahnya, hantu anak tetangganya yang meninggal dalam kecelakaan, serta Frans, salah seorang murid di sekolahnya.
Kemunculan Frans menjungkirbalikkan hidup Liv. Sosok itu seolah meminta bantuan Liv, tapi Liv tidak yakin dia harus melakukan apa. Ada misteri apa di balik hilangnya Frans secara mendadak?
Review
Saya butuh perjuangan lebih untuk memperoleh novel ini. Harus ke toko buku yang letaknya 1,5 jam dari tempat tinggal, bo. :))
Saya suka dengan ceritanya. Gaya bercerita penulisnya mengalir dan enak dibaca. Walau beberapa kali bertemu dengan kata yang jarang terdengar, tapi okelah. Plot lain, semisal kondisi keluarga Liv yang kurang harmonis, serta soal bullying di sekolah juga menambah warna dalam cerita ini.
Ada beberapa misteri yang menurut saya bisa dimanfaatkan lebih jauh. Semisal, hantu cewek yang ada di WC sekolah, serta hantu perempuan yang ada di mobil suami baru ibunya Liv. Kemunculan mereka kesannya tanggung. Seperti ada suatu sub-plot yang mau menggunakan mereka, tapi akhirnya urung penulisnya pakai.
Adegan akhir Liv yang di pohon juga terkesan aneh buat saya. Pohonnya segede apa sih? Sampai bisa ada adegan aksi macam begitu di atas pohon.[yang di pohon juga terkesan aneh buat saya. Pohonnya segede apa sih? Sampai bisa ada adegan aksi macam begitu di atas pohon. (hide spoiler)]
Secara keseluruhan, saya suka dengan buku ini. Ilustrasi setiap perpindahan harinya juga mantap. Salah satu faktor yang bikin deg-degan pas baca.
Buku ini untuk tantangan baca:
- 2014 Young Adult Reading Challenge
- 2014 New Authors Reading Challenge
View all my reviewsPosted by Biondy at 9:39:00 PM | Labels: Eve Shi , GagasMedia , Membaca , New Authors Reading Challenge 2014 , Novel , Review , Review Buku , Young Adult Reading Challenge 2014 | 0 comments |





