-
7 Buku Keren Untuk Dibeli Bulan Ini (Januari 2017)
Tuesday, January 10, 2017
Selamat tahun baru semuanya. Akhirnya saya kembali lagi dengan segmen "Buku Keren" ini setelah absen selama dua bulan. Kalau biasanya saya hanya memilih lima buku, kali ini saya akan memilih tujuh buku. Anggap saja tambahannya adalah pengganti dua bulan absen saya. Oke? *nyengir kuda.
Posted by Biondy at 9:01:00 AM | Labels: Adhitya Mulya , Becky Albertalli , Bentang Pustaka , Book Talk , Buku Keren Bulan Ini , Carl Sagan , GagasMedia , Gramedia Pustaka Utama , Kim Eun Jeong , Membaca , Mukhlis Nur , Penerbit Haru , Penerbit Spring , Winna Effendi | 16 comments |
-
Review Novel: The Strawberry Surprise - Desi Puspitasari
Saturday, July 16, 2016
The Strawberry Surprise by Desi Puspitasari
My rating: 2 of 5 stars
Judul: The Strawberry Surprise
Penulis: Desi Puspitasari
Penerbit: Bentang Pustaka
Halaman: 270 halaman
Terbitan: 2013
Tak ada yang tahu bagaimana cara kenangan bekerja.
Ia bebas keluar-masuk ingatan seenaknya sendiri.
Lalu tiba-tiba sosoknya datang penuh kejutan.
Menghampiri dan menawari cinta itu hadir kembali.
Bersamamu seperti menikmati sepotong strawberry.
Meledak-ledak, manis, masam, dan tak terduga.
Tapi keraguan selalu muncul, sekalipun lima tahun sudah terlewat.
Hingga kau bertanya, beranikah aku menikmati strawberry denganmu?
Merasakan hidup penuh kejutan, bersama-sama, selamanya.
Review
"The Strawberry Surprise" bercerita tentang Aggi, seorang kurator seni yang suatu hari mendapatkan paket buku dari seorang pengirim misterius. Buku tersebut membawanya bertemu kembali dengan Timur, seorang pria yang pernah dekat dengannya di masa lalu. Aggi-lah yang meminta untuk berpisah dengan pria itu dulu. Dia mengajukan syarat untuk bertemu kembali lima tahun kemudian. Lima tahun telah berlalu dan kini Timur kembali untuk wanita itu.
Timur itu... sabar, yah. Jujur kalau saya yang ada di posisinya, saya mungkin tidak mau repot-repot untuk mengejar Aggi ini. Kenapa? Soalnya gini: bayangkan kalau kamu baru bertemu seseorang, kamu suka dengan orang itu lalu berusaha PDKT, kelihatannya si dia juga memberi respon yang baik (sampai jadian malahan), tapi sebulan kemudian dia tiba-tiba minta untuk tidak bertemu dulu dan bahkan mengajukan syarat yang agak absurd: bertemunya lima tahun lagi saat kamu mendengar suara tawa si dia. Saya tidak tahu reaksimu seperti apa, tapi saya pasti merasa wtf banget.
Yah, untungnya si Timur sabar dan bukannya malah nikah dan punya anak .
Posted by Biondy at 8:31:00 AM | Labels: Bentang Pustaka , Desi Puspitasari , Membaca , Novel , Review , Review Buku | 0 comments |
-
Review Buku: Puisi-Puisi Cinta - W.S. Rendra
Saturday, January 23, 2016
Puisi-Puisi Cinta by W.S. Rendra
My rating: 3 of 5 stars
Judul: Puisi-Puisi Cinta
Penulis: W. S. Rendra
Penerbit: Bentang Pustaka
Halaman: 100 halaman
Terbitan: September 2015
Kumpulan puisi cinta yang Rendra tulis dalam tiga masa: Puber Pertama (1954-1958), Puber Kedua (1968-1977), dan Puber Ketiga (1992-2003). Terlihat sekali perkembangan gaya dan diksi Rendra dalam rentang waktu yang begitu besar. Bahasa dan gaya yang begitu sederhana dalam Puber Pertama berkembang menjadi lebih kompleks pada kedua masa lainnya.
Saya bagikan dua puisi pendek yang jadi kesukaan saya di buku ini:
Posted by Biondy at 12:41:00 PM | Labels: Bentang Pustaka , Membaca , Puisi , W. S. Rendra | 0 comments |
-
Review Kumcer: Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi - Eka Kurniawan
Wednesday, January 6, 2016
Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi by Eka Kurniawan
My rating: 3 of 5 stars
Judul: Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Bentang Pustaka
Halaman: 170 halaman
Terbitan: Maret 2015
"Kalian orang-orang tolol yang percaya kepada mimpi.”
Mimpi itu memberitahunya bahwa ia akan memperoleh seorang kekasih. Dalam mimpinya, si kekasih tinggal di kota kecil bernama Pangandaran. Setiap sore, lelaki yang akan menjadi kekasihnya sering berlari di sepanjang pantai ditemani seekor anjing kampung. Ia bisa melihat dadanya yang telanjang, gelap dan basah oleh keringat, berkilauan memantulkan cahaya matahari. Setiap kali ia terbangun dari mimpi itu, ia selalu tersenyum. Jelas ia sudah jatuh cinta kepada lelaki itu.
Review
"Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi" adalah sebuah kumpulan cerpen dari Eka Kurniawan. Di dalamnya terdapat 15 cerita dengan beragam tema. Mulai dari kisah sehari-hari, surealis, hingga fabel.
Beberapa cerita favorit saya:
Posted by Biondy at 11:50:00 AM | Labels: Bentang Pustaka , Eka Kurniawan , Membaca , Novel , Review , Review Buku | 2 comments |
-
Review Novel: Gloomy Gift - Rhein Fathia
Friday, March 20, 2015
Gloomy Gift by Rhein Fathia
My rating: 4 of 5 stars
Judul: Gloomy Gift
Penulis: Rhein Fathia
Penerbit: Bentang Pustaka
Halaman: 288 halaman
Terbitan: Maret 2015
Kupandangi kamu dengan wajah memelas. Berharap kamu mau menyingkap apa yang sedang kita alami sekarang. Kamu tetap pada pendirianmu, bungkam. Pura-pura tak ada hal besar yang baru saja terjadi.
Bagaimana mungkin semua baik-baik saja? Di hari pertunangan kita, segerombolan orang menyerbu rumah. Tembakkan diletuskan. Peluru. Jeritan orang-orang. Dan, kamu membawaku kabur masih dengan kebaya impian yang kini terasa menyiksa dipakai di saat yang tak sepantasnya.
Hari yang seharusnya bahagia, menjelma tegang dan penuh tanya. Kenapa kita harus lari? Belum cukupkah aku mengenalmu sejauh ini?
Aku tak siap menyambut kenyataan. Tak siap jika harus kehilangan. Tak kuat menahan rasa takut yang berkepanjangan.
Review
Akhirnya direview juga, yah. Kemarin keasyikan baca buku lain sih. Batal deh tulis reviewnya XD.
"Gloomy Gift" ini adalah salah satu novel yang sukses menarik perhatian saya hanya dari kovernya. Kapan hari pernah lihat penulisnya mengajukan poling antara 2 bakal kover yang ada. Waktu itu saya lebih suka kover yang sekarang ini.
Bakal koverYeah, saya juga kurang paham kover yang sebelah kiri itu apaan :').
Anyway, "Gloomy Gift" ini bercerita tentang Kara, seorang gadis yang akan segera bertunangan dengan pacarnya, Zeno. Selama ini Kara mengenal Zeno sebagai seorang arsitek, tapi saat ada sekelompok orang menyerbu rumahnya saat hari pertunangan mereka, barulah Kara tahu bahwa Zeno sebenarnya memiliki kehidupan lain. Sebuah kehidupan yang penuh bahaya.
Yeah, romance dan aksi. Formula yang kalau diolah dengan tepat, pasti akan jadi favorit banyak orang. Dan Rhein Fathia cukup berhasil mengolah cerita ini dengan baik.
Saya suka dengan alur Kara dan Zeno yang terpaksa melarikan diri dan harus berpindah-pindah untuk menghindari pengejar mereka. Melihat kebingungan Kara dan Zeno yang super protektif, membuat saya merasakan chemistry yang kuat di antara mereka. Aksinya juga cukup baik. Kurang banyak dan kurang intens untuk seleraku, tapi cukuplah.
Yang kurang saya suka dari novel ini ada di karakter utamanya. Yang mana ayo? Jawabannya yang Kara-nya. Duh, sumpah. Kara yang naif dan pasif di sepanjang cerita bawaannya bikin BT aja. Saya cukup paham sih kenapa karakternya seperti itu. Secara logika karakter juga masuk akal, tapi... entah ya. Saya tidak melihat ada satu momen yang membuat Kara terlihat "wah". Untukku, di antara entah berapa banyak karakter yang ada di buku ini, Kara yang paling tidak menarik.
Tapi, berhubung buku ini ditutup dengan gaya ini-mau-ada-sekuelnya-loh, semoga Kara bisa lebih berkembang di buku berikutnya. Minimal tidak senaif di sini.
Secara keseluruhan: buat yang suka genre romance dan aksi, serta tokoh utama cowok yang keren dan protektif, buku ini patut dibaca.
"Satu serbuan, tiga tembakan, dikuntit, dan tenggelam, apa sekarang aku boleh tahu bagaimana situasi yang sedang kita hadapi?"
"Situasi apa pun, aku hanya ingin kamu menurut dan tidak lepas dari pengawasanku."
"Kenapa?"
"There's no safer place in world than right here with me, Kara." (hal. 152)
Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 New Authors Reading Challenge
- 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
- 2015 100 Days of Asian Read Reading Challenge
View all my reviewsPosted by Biondy at 11:59:00 PM | Labels: 2015 Asian Reads Challenge , 2015 Lucky No. 15 , 2015 New Authors Reading Challenge , Bentang Pustaka , Membaca , Novel , Review , Review Buku , Rhein Fathia | 0 comments |
-
Review Novel: Rencana Besar - Tsugaeda
Monday, October 13, 2014
Rencana Besar by Tsugaeda
My rating: 5 of 5 stars
Judul: Rencana Besar
Penulis: Tsugaeda
Penerbit: Bentang Pustaka
Halaman: 384 halaman
Terbitan: Agustus 2013
Rifad Akbar. Pemimpin Serikat Pekerja yang sangat militan dalam memperjuangkan kesejahteraan rekan-rekannya.
Amanda Suseno. Pegawai berprestasi yang mendapat kepercayaan berlebih dari pihak manajemen.
Reza Ramaditya. Pegawai cerdas yang tiba-tiba mengalami demotivasi kerja tanpa alasan jelas.
Lenyapnya uang 17 miliar rupiah dari pembukuan Universal Bank of Indonesia menyeret tiga nama itu ke dalam daftar tersangka. Seorang penghancur, seorang pembangun, dan seorang pemikir dengan motifnya masing-masing. Penyelidikan serius dilakukan dari balik selubung demi melindungi reputasi UBI.
Akan tetapi, bagaimana jika kasus tersebut hanyalah awal dari sebuah skenario besar? Keping domino pertama yang sengaja dijatuhkan seseorang untuk menciptakan serangkaian kejadian. Tak terelakkan, keping demi keping berjatuhan, mengusik sebuah sistem yang mapan, tetapi usang dan penuh kebobrokan....
Review
Suka pakai banget sama novel ini. Duh, bingung gimana cara review tanpa membocorkan cerita ke orang lain....
Akhir tahun lalu saya sempat baca satu novel thriller/detektif karya penulis Indonesia, tapi saya tidak suka dengan novel itu. Selain cara penulisannya yang kurang pas, misterinya juga kurang menggigit. Setelah browsing sana-sini, akhirnya saya menemukan buku bergenre sama yang terlihat meyakinykan. Ya, buku ini maksudnya.
Yang paling saya suka adalah hubungan antar kejadiannya. Kejadian A bisa terhubung dengan kejadian B, lalu berakibat pada kejadian C dengan runtut dan logis. Selain itu, karakter-karakternya juga menarik. Setiap karakter punya ciri khas yang kuat sehingga saya tidak sulit membedakannya ^^.
Untuk ceritanya sendiri, sebenarnya lumayan ketebak. Soal siapa yang melenyapkan uang 17 miliar, serta ada apa di balik UBI berhasil saya tebak. Tapi saya tidak berhasil menebak seluruh plot tentunya :D.
Saya suka dengan cara penulis menggabungkan seluruh plot di buku, juga cara mengakhiri ceritanya. Suka dengan adegan puncak yang melibatkan Amanda, Rifad, dan Makarim.[Amanda, Rifad, dan Makarim. (hide spoiler)]
Lima bintang untuk novel ini. Novel yang sukses bikin penasaran sampai saya begadang bacanya ^^. Semoga penulis akan menghasilkan karya lainnya yang tidak kalah seru dari ini. Mungkin dengan Makarim lagi sebagai tokoh utamanya?
Buku ini untuk tantangan baca:
- 2014 New Authors Reading Challenge
View all my reviewsPosted by Biondy at 11:55:00 PM | Labels: Bentang Pustaka , New Authors Reading Challenge 2014 , Review , Review Buku , Tsugaeda | 0 comments |
-
Tanya-Jawab Bersama Stephie Anindita (+Giveaway Novel "Hujan dan Cerita Kita")
Saturday, September 20, 2014
Hi, semuanya. Setelah sekian lama blog ini kering GA, akhirnya blog ini bisa bagi-bagi buku lagi.
Kali ini kita juga kedatangan seorang tamu, yakni Stephie Anindita. Kak Stephie adalah penulis novel "Hujan dan Cerita Kita" yang menjadi juara 3 lomba menulis novel "Wanita dalam Cerita" yang diadakan oleh penerbit Bentang Pustaka.
Kover "Hujan dan Cerita Kita".Baca ulasannya di sini.
Ini dia tanya-jawab yang berlangsung di antara kami:
Q: Halo Kak Stephie. Boleh ceritakan sedikit soal diri Kak Stephie?
A: Halo Biondy, hehehe ... boleh. Aku kelahiran Jakarta 20 April 1987. Bagiku, membaca dan menulis adalah bagian yang nggak bisa dipisahkan dari diriku. Ibuku yang pertama kali mengajari aku membaca dan berkat Ibuku aku bisa menemukan dunia-dunia baru. Ibuku yang memotivasi aku untuk menulis fiksi dengan cara berhenti membelikanku buku-buku komik, jadi aku bisa membaca buku-buku tanpa gambar untuk melatih imajinasiku, aku juga termotivasi untuk melatih menuangkan apa yang ada dalam pikiranku melalui tulisan.
Aku tergabung di tim menulis 'Peri Penulis' bersama Maria Ch Michaela, Yohana Yang, Juliana Wina Rhome & Devina Kwan, bersama mereka aku sudah menerbitkan banyak sekali buku antologi cerpen secara indie. Penulis yang paling banyak menginspirasi tulisanku adalah Jacqueline Wilson. Aku sempat menjalani program magang di Instalasi Kedokteran Forensik RS. Bhayangkara Tk.I Raden Said Sukanto. Sekarang aku berdomisili di Makassar untuk mengikuti program pendidikan dokter spesialis Forensik di Universitas Hasanuddin. Impianku adalah menjadi seorang dokter spesialis Forensik dan penulis yang bisa membuat para pembaca merasa tidak sendirian lagi setiap membaca tulisanku.
Ini dia penampakan penulisnya :D.
Q: Bagaimana pengalaman selama menulis "Hujan dan Cerita Kita"? Apa suka-duka selama proses menulisnya?
A: Awalnya naskah ini adalah naskah latihanku dalam event 'National Novel Writing Month'. Aku berusaha melatih diri untuk menulis setiap hari untuk membuat sebuah novel. Ketika itu aku masih menjalani program magang di Instalasi Forensik RS. Bhayangkara Tk.I Raden Said Sukanto dan juga praktik di klinik.
Namun naskah ini sempat keteteran. Kesibukanku di instalasi forensik dan praktik di klinik membuatku jarang punya waktu untuk menulis. Saat aku mendengar informasi tentang adanya lomba menulis novel 'Chic Lit' bertema 'Wanita Dalam Cerita' yang diselenggarakan Bentang Pustaka, aku langsung bersemangat lagi melanjutkan tulisanku :). Aku juga jadi rajin membaca buku-buku novel romance dan menonton film-film drama di televisi sebagai referensi, karena ini pertama kalinya aku menulis naskah dengan target dewasa muda bertema romance. Padahal tadinya aku tidak begitu tertarik dengan cerita-cerita drama romance. Aku berusaha keluar dari zona nyamanku tapi tidak meninggalkan apa tujuan utama aku menulis.
Dalam mengejar deadline, aku berusaha menulis di sela-sela kesibukan di instalasi forensik dan jam praktik ketika sedang tidak ada pasien. Aku belajar untuk menempatkan state of mind aku di dalam cerita, di mana pun aku berada.
Aku tidak merasa terbebani karena bagiku menulis adalah salah satu bentuk refreshing. Memang kadang kesal juga kalau mendengar orang yang berkata penulis itu terlalu pengkhayal dan kuper, tapi pada akhirnya pasti terbukti kalau anggapan mereka salah. Penulis justru melatih cara berpikirnya dengan rajin membaca, semakin banyak buku yang ia baca semakin bisa juga ia melihat sesuatu dari berbagai sisi. Penulis juga harus terus belajar agar dia bisa terus produktif dalam menulis, entah dengan membaca, menonton film, mendengarkan musik atau mengobrol random dengan teman, bahkan pelajaran di kuliah atau sekolah yang sering dianggap ‘membosankan’ pun kadang bisa menambah referensi dan malah menjadi inspirasi menulis, lho :)
Q: Setelah dinyatakan keluar sebagai juara ke-3 lomba menulis Bentang Pustaka, bagaimana proses penyuntingan yang dijalani? Adakah kejadian unik selama proses tersebut?
A: Proses penyuntingan yang aku jalani bersama editorku, Mbak Noni Rosliyani, itu nggak kalah seru dengan proses penulisan naskah ini, hehehe.... Mungkin aku terbiasa menulis dengan tema teenlit, jadi gaya bahasaku pada awalnya terlalu remaja. Oleh Mbak Noni aku disarankan untuk membaca lebih banyak lagi buku chic lit.
Proses penyuntingan naskah ini juga menjalani beberapa tahap:
- menghilangkan beberapa adegan yang terlalu sinetron atau kurang penting ada di cerita,
- menambahkan beberapa adegan agar cerita bisa tetap ada di jalurnya
- membenarkan beberapa referensi agar tidak membuat pembaca bingung.
Kejadian paling seru ketika proses menyunting adalah saat aku bela-belain membawa laptop-ku saat aku harus dinas malam di Rumah Sakit POLRI. Saking semangatnya, setelah selesai tugas aku bukannya istirahat tapi malah melanjutkan mengedit naskah, walhasil keesokan harinya aku sakit dan harus bed rest seharian. Hahahaha.
Q: Dari mana datangnya ide "Hujan dan Cerita Kita"? Apakah karakter-karakternya ada yang based on true story?
A: Ide 'Hujan dan Cerita Kita' berawal dari pertanyaanku tentang seberapa jauh kita mau bertahan dalam sebuah hubungan. Cerita dua orang teman semasa kecil yang bertemu lagi di saat dewasa, ketika keduanya mulai dekat sepertinya sudah biasa dan di drama-drama dengan mudahnya happy ending bisa dicapai.
Tapi di cerita ini aku ingin menggambarkan tentang hal-hal yang seringkali tidak kita antisipasi, yaitu seberapa jauh masing-masing karakter sudah berubah seiring waktu. Apalagi kalau keduanya berasal dari dua latar belakang yang sangat berbeda dan punya konflik batin masing-masing. Seringkali itu yang luput dari perhatian orang karena hati mereka terlalu berbunga-bunga saat jatuh cinta. Aku pernah mendengar perumpamaan, kurang-lebih seperti hidung kita yang seharusnya terlihat tapi otak kita memilih untuk tidak mempedulikannya.
Ketika sedikit demi sedikit mereka mulai bisa melihat keadaan sebenarnya, kapan mereka harus mempertahankan dan kapan harus melepaskan?
Karakter-karakter di 'Hujan dan Cerita Kita' tentu tidak lepas dari kehidupanku sehari-hari. Inspirasinya datang dari banyak sumber, entah dari buku yang kubaca, orang yang kutemui, ceritaku, cerita orang-orang di sekitarku dan lain-lain.
Q: Bagaimana tanggapan keluarga dan teman-teman Kak Stephie tentang karya pertama Kak Stephie ini?
A: Puji Tuhan, keluarga dan teman-temanku semuanya ikut berbahagia ketika novel 'Hujan dan Cerita Kita' akhirnya terbit. Mereka tahu kalau menulis adalah passion-ku. Terutama keluargaku dan adik angkatku yang tahu berapa kali aku menangis karena naskahku berkali-kali ditolak penerbit.
Di hari ketika aku mendapat pengumuman naskah novelku mendapat juara ketiga, Ayahku membawakanku sebuah amplop cokelat yang berisi naskah novelku yang pernah ditolak penerbit lengkap dengan surat penolakannya. Ayahku ternyata sengaja menyimpannya, agar nanti kalau aku berhasil menerbitkan novelku aku tidak akan sedih lagi melihatnya. Aku terharu banget.
Setelah ‘Hujan dan Cerita Kita’ mulai ada di toko buku, aku mendapat bayak sekali ucapan selamat dan review dari keluarga dan teman-temanku. Aku juga mendapat review dari pembaca lainnya, jadi sekalian menambah pertemanan juga hehehe.... Puji Tuhan review dari mereka positif dan memotivasiku untuk terus berkarya lagi. Thank you so much, teman-teman!
Q: Dalam satu kalimat, bagaimana Kak Stephie akan mendeskripsikan "Hujan dan Cerita Kita"?
A: Cinta yang tidak seindah cerita dongeng bukan berarti cinta yang tidak bisa mendatangkan kebahagiaan.
Q: Apakah saat ini sedang mengerjakan proyek tulisan yang lain? Bisa memberi sedikit sneak peek tentang karya barunya?
A: Saat ini aku sedang mengerjakan proyek novel teenlit. Di novelku yang berikut ini aku mengangkat isu bullying.
Bullying seperti halnya bentuk kekerasan lain selalu membuat ‘yang kalah jadi abu yang menang jadi arang’. Baik yang tertindas maupun yang menindas, keduanya sama-sama rugi. Selain itu aku ingin menunjukkan kalau setiap orang pasti punya dua sisi dalam diri mereka. Apa yang kelihatan di luar bisa jadi sangat berbeda dengan keadaan sebenarnya. Tidak ada yang benar-benar hitam atau putih.
Mudah-mudahan novelku ini bisa terbit tahun ini, mohon doanya yah. Selain itu aku juga sedang mengerjakan proyek cerpen ‘Noel D’Amour 3’ bersama para Peri Penulis untuk menyambut Natal 2014 nanti. Mohon doanya ya!
Terima kasih untuk Kak Stephie yang sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Kayaknya kisah di balik pembuatan "Hujan dan Cerita Kita" seru banget. Ayahnya Kak Stephie so sweet banget. Sangat perhatian pada anaknya ^^.Giveaway timeUntuk GA kali ini, buatlah sebuah cerita bertemakan hujan. Syarat-syaratnya antara lain:- Panjang cerita maksimum 1.200 kata. Tidak ada jumlah kata minimum.
- Buat cerita di blog/catatan FB/Wattpad/akun lainnya. Mau buat dalam bentuk tweet/status FB saja? Boleh banget. Terserah kamu.
- Letakkan tautan ke tulisan kamu di kolom komentar.
- Sebarkan tentang tanya-jawab dan GA ini di media sosialmu. Letakkan tautannya di kolom komentar bersama tautan tulisan kamu.
- Deadline lomba 13 Oktober 2014 pukul 23.59.
Akan dipilih 1 orang pemenang. Pemenang akan memperoleh novel "Hujan dan Cerita Kita". Pemenangnya akan dipilih oleh Kak Stephie sendiri :D.Selamat berkarya teman-teman :).Posted by Biondy at 12:26:00 PM | Labels: Bentang Pustaka , giveaway , Guest Post , Stephie Anindita | 15 comments |
-
Review Novel: Hujan dan Cerita Kita - Stephie Anindita
Sunday, September 7, 2014
Hujan dan Cerita Kita by Stephie Anindita
My rating: 4 of 5 stars
Judul: Hujan dan Cerita Kita
Penulis: Stephie Anindita
Penerbit: Bentang Pustaka
Halaman: 288 halaman
Terbitan: Juli 2014
“Echa, hujan!” Aku memanggil nama itu, menoleh, melihatnya, dan seketika tubuhku membeku.
Hujan yang menderas tapi hatiku kian panas. Aku berdiri kaku, mengepalkan tangan, mencoba untuk menghilangkan gemetar tubuh yang aku yakin tidak ada hubungannya dengan udara dingin.
Ya Tuhan ..., buat apa aku diundang ke sini? Untuk menyaksikan mereka bersama dan membiarkan hatiku terhempas bersama hujan?
Bagus.... Ternyata begini rasanya menjadi pacar tak dianggap. Lantas apa gunanya segala pengorbananku padanya selama ini, kalau dia meninggalkanku di bawah hujan?
Review
Faktor utama saya membeli buku ini sebenarnya karena nama penulisnya. Sebelumnya saya sudah pernah sebuku dengan penulisnya di Lapangan Tanah Merah dan Noel d' Amour 2: Post Card Edition. Waktu baca fiksi kilatnya penulis di Lapangan Tanah Merah, saya sudah suka gaya menulisnya. Di ulasannya saya bahkan bilang kalau saya adalah target pembacanya kalau ybs menulis dengan tema dokter/rumah sakit.
Dan harapan saya terkabul. Novel ini memang berlatarkan dokter dan rumah sakit.
Di sini tokoh utamanya adalah Vania, seorang calon dokter yang sedang menjalani program pendidikan stase. Suatu hari dia bertemu dengan Reza, teman masa kecilnya. Reza yang dulunya gemuk dan cupu kini telah berubah. Dia menjadi seorang aktor ganteng dengan nama panggung Leonardo Andromeda (yang sejujurnya terasa tacky buat saya).
Setelah Echa, panggilan Vania untuk Reza, putus dari pacarnya, Pandora, Vania mulai berpacaran dengan cowok tersebut. Echa meminta Vania untuk merahasiakan hubungan mereka karena tidak ingin privasi Vania terganggu oleh para fansnya. Vania setuju dengan permintaan itu.
Hanya saja lama-kelamaan Vania mulai merasa tersisihkan. Echa tidak pernah mengakuinya sebagai pacar di depan orang lain. Cowok itu bahkan lebih terlihat mesra di depan umum dengan Helen, sahabatnya sejak dia tinggal di Singapura.
Ceritanya mengalir dengan baik. Saya suka dengan kisah Vania dan segala kesibukannya sebagai dokter. Mulai dari harus jaga malam, mengkover teman kelompok stasenya yang sedang hamil, hingga interaksinya dengan para pekerja medis lainnya. Penuh suka, duka, dan juga gosip tentunya :)).
Kisah percintaannya Vania sendiri cukup mengenaskan. Saya suka bagaimana penulisnya dengan sukses menggambarkan Echa sebagai cowok menyebalkan. Sedikit sentuhan di akhir mengukuhkan hal tersebut.
Novel ini termasuk bersih kalau saya bilang. Typonya nyaris tidak ada. Saya cuma ingat ada sekali typo di catatan kaki di halaman 259. Kerja yang bagus dari penulis dan tim penerbitnya.
Yang saya kurang suka mungkin pemilihan judulnya. Judulnya menggambarkan salah satu peristiwa kunci di novel ini, tapi tidak menggambarkan isi novel secara keseluruhan. Selain itu, emosi di beberapa tempat di novel ini terasa datar. Tidak ada "ledakan besar" yang terjadi di sini.
Secara keseluruhan, saya suka dengan novel ini. Plot dan karakter berhasil disusun dengan baik. Hasil akhir novel juga bersih dari typo (kecuali sekali yang saya sebutkan). Tiga setengah bintang, pembulatan ke atas untuk novel ini.
View all my reviewsPosted by Biondy at 4:46:00 PM | Labels: Bentang Pustaka , Membaca , Review , Review Buku , Stephie Anindita | 0 comments |
-
Review Novel: Our Happy Time - Gong Ji-young
Sunday, February 2, 2014
Our Happy Time by Gong Ji-young
My rating: 4 of 5 stars
Judul: Our Hapy Time
Penulis: Gong Ji-young
Penerbit: Bentang Pustaka
Halaman: 376 halaman
Terbitan: May 2012
Bagi Yu Jeong, hidupnya sungguh memuakkan. Namun, entah kenapa malaikat maut masih saja enggan merenggut nyawanya. Tiga kali percobaan bunuh dirinya selalu gagal.
Bagi Jeong Yun-Su, hidup tak pernah menyayanginya. Ayahnya bunuh diri dan ibunya pergi begitu saja meninggalkan dirinya dan adiknya yang masih kecil. Cemoohan dan kejamnya hidup, membuatnya mendekam di penjara dan menghadapi ancaman hukuman mati.
Kini, mereka berdua dipertemukan, tepat di pengujung hidup. Dua orang terluka, mampukah mereka saling menyembuhkan?
Review
Ok, jujur saja saya tertarik baca buku ini setelah selesai baca scanlation manga-nya. Judul manga-nya itu "Watashitachi no Shiawase na Jikan", yang kalau diterjemahkan jadi judul novel ini.
Novelnya beda jauh banget bo' dengan manga-nya. Di manga saya merasa tokoh Yun-su ini lebih menarik simpati. Kisah hidupnya terasa lebih melankolis di sana. Walau, yah, sama-sama sedih sih, baik di novel maupun di manga.
Selain itu, kalau di manga saya merasa ceritanya lebih romantis. Um, bukan berarti ada kisah romantis antara Yun-su dan Yu Jeong di sana, tapi kisahnya terasa lebih manis. Kalau di novelnya, kisahnya terasa lebih realistis dan "keras".
Bagian yang paling menggelisahkan buat saya adalah bagian ini:
Setelah wajahnya ditutupi kain putih, leher mereka dikalungi tali tambang. Setelah terdengar aba-aba lompat! Lima orang petugas menarik pengungkit. Di antara lima buah pengungkit tersebut, sebenarnya hanya satu yang pasti dijadikan alat eksekusi. Aku pernah membacanya dalam sebuah artikel. Terpidana mati yang akan dieksekusi diminta berlutut di lantai, lalu digantung dengan tali tambang. Setelah digantung selama lima belas hingga dua puluh menit, terkadang masih ada orang yang kakinya bergerak-gerak. Mereka diturunkan, lalu dokter akan memeriksa denyut jantungnya dengan stetoskop, jika masih ada denyut jantungnya mereka akan kembali digantung selama dua puluh menit. [...]. Dengan demikian, hukuman akan diulangi dari awal lagi. Itulah yang mereka sebut dengan eksekusi.
Duh, bikin bergidik.
Baca novel ini jadi menimbulkan banyak pemikiran, khususnya soal hukuman mati. Setelah sedikit googling, saya menemukan halaman di wikipedia Indonesia soal hukuman mati. Termasuk di dalamnya adalah daftar orang-orang yang telah dieksekusi.
Memang saya merasa kasihan kalau memikirkan orang-orang yang menjalani hukuman mati, lalu saya melihat halaman itu dan melihat nama-nama seperti Amrozi, Imam Samudera, atau orang-orang yang dihukum karena kasus narkotika, lalu saya berpikir lagi, "Apakah orang-orang seperti ini memang masih pantas memperoleh kesempatan kedua? Dengan tidak dihukum mati?"
Jujur sampai saat ini saya masih kesulitan menentukan pihak dalam masalah hukuman mati ini.
Tambahan: sedikit kritik untuk alih bahasanya. Kayaknya soal nama harus lebih diperhatikan deh. Soalnya ada terjemahan nama Victor Wigo dan Lembrant. Ini siapa? Apakah maksudnya Victor Hugo dan Rembrandt? Terus ada juga kitab Zabur. Berhubung latar belakang agama yang dipakai adalah Katolik, kenapa tidak diterjemahkan jadi kitab Mazmur? Terus ada juga kitab Ezekiel yang dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata Yehezkiel.
Buku ini untuk tantangan baca:
- 2014 New Authors Reading Chalenge
View all my reviewsPosted by Biondy at 11:32:00 PM | Labels: Bentang Pustaka , Buku , Membaca , New Authors Reading Challenge 2014 , Review , Review Buku | 2 comments |
-
Review Novel: Hibiscus - Agnes Arina
Sunday, December 29, 2013
Hibiscus: samaran, misteri, dan balas dendam by Agnes Arina
My rating: 1 of 5 stars
Judul: Hibiscus
Penulis: Agnes Arina
Penerbit: Bentang Pustaka
Halaman: 252 halaman
Terbitan: September 2013
Bali gempar. Pierre Villeneuve, wisatawan asal Perancis, ditemukan tewas terbunuh di sebuah kamar hotel mewah. Tangannya menggenggam bunga sepatu dan tak ada yang bisa memecahkan arti dari bunga itu.
Bagaskara, seorang detektif yang menyamar menjadi pemandu wisata, adalah pemandu yang mengantar Pierre dan keluarganya keliling Bali pada hari naas itu. Bagas gusar. Rasa keadilannya terpancing.
Review
Novel yang mengecewakan untuk saya. Belakangan saya banyak melihat novel thriller yang ditulis oleh penulis Indonesia, makanya saya pengin coba baca dan pilihan saya jatuh pada buku ini. Prolognya terdengar menarik dan juga karena saya pengin baca novel detektif lokal di luar karya S. Mara Gd dan V. Lestari.
Cuma sampai akhir, saya tidak menemukan sesuatu yang saya suka dari buku ini. Karakternya tidak menarik. Bagas, yang harusnya jadi tokoh utama, malah terasa seperti sampingan. Dia tidak terlalu mendapat sorotan karena POV-nya terlalu sibuk berpindah ke karakter lain. Selain itu, dia juga tidak punya 'sesuatu' yang khusus, selain rasa takutnya pada kucing, yang membuatnya memorable. Jujur saya tidak bisa melihat dia sebagai tokoh detektif dari sebuah serial.
Tokoh-tokoh tersangka dan saksinya juga terasa datar buat saya. Winih, side-kick-nya si Bagas, mungkin yang agak mendingan. Dia banyak menyamar keliling-keliling membuntuti tersangka, jadi ada lebih banyak aksi di dia.
Untuk karakternya, saya rasa terlalu banyak. Apalagi semakin ke belakang mereka semakin mirip. Kadang bikin bingung ini siapa yang mana.
Untuk ceritanya sendiri, yah, saya tidak melihat hibiscus sebagai sesuatu yang benar-benar penting di sini. Memang ada peranannya, tapi bukan sesuatu yang benar-benar utama. Kesimpulan akhir kasusnya kurang menggigit. Tidak ada bab kesimpulan khas novel detektif di sini, jadi pembaca harus menghubungkan sendiri semua benang merah yang ada.
Untuk gaya narasi, saya kurang sreg sama banyaknya pengandaian di sini. Seperti:
Banyak pengunjung makan enak, minum bir, merokok, bercakap-cakap, dan tertawa-tawa seperti merayakan kemenangan perang (hal. 22)
Malam itu angin bertiup kencang. Tanaman puring dan kamboja terus meronta seperti balita rewel pada malam hari. Bunganya berjatuhan bagai air mata. (hal. 46)
Butiran pasir mengerumuni sepatu mereka bagai gula halus pada donat. (hal. 202)
dan favorit saya:
Wajah cantik Anne pucat. Dadanya sesak seperti seorang Yahudi diburu Nazi. (hal. 33)
Kesimpulannya, saya tidak suka novel ini. Mungkin saya akan mencoba novel thriller Indonesia lain yang lebih banyak mendapat respon positifnya dulu untuk mengembalikan semangat saya membaca buku sejenis.
Buku ini untuk tantangan baca:
- 2013 New Authors Reading Challenge
View all my reviews
Posted by Biondy at 9:04:00 PM | Labels: Bentang Pustaka , Membaca , New Authors Reading Challenge , Novel , Review , Review Buku | 0 comments |






