Rss Feed
    Showing posts with label Membaca Sastra Indonesia Reading Challenge. Show all posts
    Showing posts with label Membaca Sastra Indonesia Reading Challenge. Show all posts
  1. Memang JodohMemang Jodoh by Marah Rusli
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: Memang Jodoh
    Penulis: Marah Rusli
    Penerbit: Qanita
    Halaman: 536 halaman
    Terbitan: Mei 2013

    Novel Terakhir dari Penulis Sitti Nurbaya, Marah Rusli.

    Hamli tak pernah mengira, keputusannya untuk menerima beasiswa pemerintah Belanda demi melanjutkan sekolah ditentang oleh orangtuanya. Orangtua yang justru dia harapkan akan mendukung sepenuh hati. Namun, adat Minang yang mengikat erat ternyata membelenggu cita-citanya.

    Hamli pun kemudian memutuskan untuk melanggar adat, merantau demi ilmu. Dan ketika dalam perantauan dia bertemu dengan mojang Priangan yang menawan hatinya, pilihan getir terpaksa harus diambil. Hamli rela "dibuang" oleh adat dan orangtua demi cintanya.

    Review

    Kesimpulan saya setelah membaca buku ini adalah: menikah itu rempong. Banget. Apalagi kalau hidup di Padang pada zamannya Hamli. Pada masa itu pernikahan bukanlah hak si anak, tapi adalah sebuah kewajiban dan hal ini diatur oleh para orang tua, bahkan tanpa persetujuan si anak.

    Hamli sendiri merasa gerah akan peraturan pernikahan ini. Pada saat dia telah merasa cocok dan bahkan telah menikah dengan Din Wati, si "mojang Priangan yang menawan hatinya", masih saja urusan menikah masih mengikutinya. Permasalahannya, di tempat asalnya, seorang lelaki Padang harus menikah dengan sesama orang Padang dan seorang lelaki Padang dianggap mulia apabila beristri banyak. Padahal Hamli sangat keras menolak poligami.

    Selain itu, seorang suami dianggap sebagai seorang "pendatang" yang tak punya hak apa-apa atas istri dan anak-anaknya, sehingga dia tidak punya tanggung jawab atas mereka. Apabila seorang suami meninggal, harta bendanya tidak diwariskan pada anak istrinya, tapi pada kemenakannya. Seluruh hal ini dirasa Hamli tidak masuk akal.

    Novel ini bukan hanya berkutat pada kisah cinta Hamli dan Din Wati serta terbuangnya Hamli dari keluarganya. Novel ini lebih dari itu. Novel ini memberi kita gambaran tentang adat-istiadat Padang pada zaman dulu, serta bagaimana Marah Rusli menentang adat yang dirasanya sudah tidak sesuai lagi.

    Saya rasa seluruh perasaan penulis akan masalah yang tertuang di novel ini dapat disimpulkan dengan kutipan yang berada pada halaman pertama buku ini.

    "Bagaimana aku dapat bekerja dengan baik untuk bangsa dan negara, kalau aku selalu dibisingkan dengan perkara kawin saja? Sedangkan hatiku rasanya penuh cita-cita untuk memperbaiki yang belum sempurna dan menambah yang masih kurang."


    Sebuah kutipan yang masih relevan hingga hari ini. Khususnya bagi orang-orang yang terus didesak dengan pertanyaan, "Kapan nikah?"

    Buku yang menarik dan saya rekomendasikan bagi yang suka membaca tentang budaya. Sebaiknya persiapkan diri dulu untuk membaca gaya bercerita lama di buku ini, serta gaya cerita yang Melayu banget dengan penggunaan kalimat panjang-panjang, pantun, seloka, dan peribahasa.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - Membaca Sastra Indonesia 2013
    - 2013 Read Big Reading Challenge
    - 2013 New Authors Reading Challenge
    - 2013 Serapium Reading Challenge
    - 2013 Indonesian Romance Reading Challenge


    View all my reviews

  2. CantingCanting by Arswendo Atmowiloto
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: Canting
    Penulis: Arswendo Atmowiloto
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 408 halaman
    Terbitan: 2007 (terbit pertama 1986)

    Canting, simbol budaya yang kalah, tersisih, dan melelahkan. Adalah Ni---sarjana farmasi, calon pengantin, putri Ngabean---yang mencoba menekuni, walau harus berhadapan dengan Pak Bei, bangsawan berhidung mancung yang perkasa; Bu Bei, bekas buruh batik yang menjadi ibunya; serta kakak-kakaknya yang sukses.

    Canting, yang menjadi cap batik Ngabean, tak bisa bertahan lagi. "Menyadari budaya yang sakit adalah tidak dengan menjerit, tidak dengan mengibarkan bendera." Ni menjadi tidak Jawa, menjadi aeng---aneh, untuk bisa bertahan. Ni yang lahir ketika Ki Ageng Suryamentaram meninggal dunia, adalah generasi kedua, setelah ayahnya, yang berani tidak Jawa.

    Review

    Sebuah novel yang sangat menguras tenaga dan konsentrasi. Bayangkan, 408 halaman dan hanya terdiri dari 2 bab. Yup, 2. Untuk orang seperti saya yang suka berhenti di awal bab, hal ini sangat menyulitkan. Saya suka bingung di mana sebaiknya meletakkan pembatas buku dan saat dibuka kembali, suka bingung juga terakhir bacanya sampai sebelah mana.

    Bab 1 buku ini mengisahkan tentang Pak Bei, Bu Bei, usaha batik Ngabean, dan juga kebudayaan Jawa. Bagian ini agak membosankan jujur saja. Pak Bei kadang kalau bicara suka panjang banget dan kadang agak berbelit-belit.

    Walau begitu, pemaparan kebudayaan Jawa dan tantangannya yang disampaikan lewat Pak Bei sangat menarik. Arswendo Atmowiloto juga tampaknya cukup sadar bahwa tidak semua orang Indonesia bisa berbahasa Jawa dan memasukkan penjelasan setiap kali ada pemakaian bahasa Jawa. Tidak seperti novel lain, yang juga kuat unsur Jawanya, yang saya baca belum lama ini.

    Bab 2 bercerita tentang anak-anak Pak Bei dan Bu Bei yang sudah dewasa. Mereka semua, kecuali Ni, sudah menikah, memiliki anak, dan mempunyai masalah masing-masing.

    Bagian ini lebih menarik, karena ada banyak kejutan yang muncul. Selain itu perjuangan Ni untuk membangkitkan kembali usaha batik keluarganya, pergulatan kehidupan pribadinya, serta keputusan akhir yang dia ambil, terasa pas buat saya.

    Secara keseluruhan, saya rasa ini novel yang menarik. Cocok untuk orang yang suka membaca tentang kebudayaan Jawa. Disarankan untuk memiliki kesabaran lebih dalam membacanya. Kalau lebih suka novel dengan alur dan tempo bahasa yang cepat, mungkin buku ini kurang pas untuk kamu.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - Membaca Sastra Indonesia 2013
    - 2013 Indonesian Romance Reading Challenge


    View all my reviews


  3. Maruti: Jerit Hati Seorang PenariMaruti: Jerit Hati Seorang Penari by Achmad Munif
    My rating: 1 of 5 stars

    Judul: Maruti: Jerit Hati Seorang Penari
    Penulis: Achmad Munif
    Penerbit: Narasi
    Halaman: 276 halaman
    Terbitan: Agustus 2005

    Maruti, seorang ibu dua anak, penari, tukang pijat, sekaligus ibu asuh bagi anak-anak di rumah singgah yang dia kelola. Hidupnya penuh dengan lika-liku. Mulai dari kemiskinan, perceraiannya dengan suami yang materialistis, sampai masalah-masalah yang dialami anak-anaknya.

    Taufik, anak laki-laki Maruti. Mahasiswa miskin yang pintar dan gila kerja. Dia merasa tidak layak ketika Grace, si mahasiswi cantik dan kaya, menyatakan cinta padanya. Tanpa dia sadari, ada sesuatu yang jauh lebih rumit antara dirinya dan Grace.

    Fatim, anak gadis Maruti. Murid SMA yang rupawan dan cerdas. Ketika Zul yang tampan jatuh hati padanya, ada orang-orang yang dengki dan ingin mencelakakannya.

    Sumi, salah satu anak asuh Maruti. Kembang yang sedang mekar dan menarik banyak kumbang ke arahnya. Tapi ketika salah satu kumbang itu adalah orang yang dulu pernah mau mencelakakan Maruti, apakah tindakan yang akan Maruti ambil?

    Review

    Membaca riwayat penulisnya, saya berdecak kagum. Di sana tertera beragam karya yang pernah dia terbitkan. Karya-karyanya bahkan ada yang dibeli oleh Depdiknas untuk disebarkan gratis di sekolah-sekolah. Berarti bisa dibilang, penulisnya sudah tidak perlu diragukan lagi kemampuannya.

    Dan Goodreads, ya, saya memang sedang membicarakan penulisnya. Tapi dalam skala yang positif, jadi jangan hapus review ini.

    Oke?

    OKE?

    Lanjut.

    Novel ini sebenarnya dibuka dengan cukup baik. Saya cukup suka dengan Maruti. Tokoh perempuan yang tegar dan menjalani hidup bukan hanya berfokus pada dirinya sendiri. Bahkan dalam kemiskinannya, dia masih mampu mengelola rumah singgah bagi anak-anak terlantar.

    Cerita di bagian awalnya juga berjalan dengan baik. Sayangnya hal ini tidak bertahan hingga akhir.

    Saya mulai mengerutkan kening sejak masuk ke bagian Taufik. Drama ala remaja ditambah dengan dialog yang agak aneh langsung membuat saya kurang suka.

    Hanya saja twist di tengah ceritanya berhasil menaikkan kembali semangat membaca saya... yang langsung kembali dijatuhkan dengan bagian Fatim.

    Dari 4 plot yang saya tulis di bagian pertama review ini, menurut saya, bagiannya Fatim yang paling terasa gak penting. Plotnya terasa teenlit, bukan, sinetroniyah banget.

    Cewek SMA miskin tapi cakep dan pintar, disukai oleh seorang cowok cakep di sekolahnya. Ada geng cewek kaya yang pemimpinnya suka sama si cowok. Si cewek kaya dengki bin iri sama si cewek miskin tapi cakep dan pintar. Akhirnya si cewek kaya menghalalkan segala cara untuk merebut si cowok, bahkan dengan menggunakan kekerasan.

    Gak penting. Pakai banget.

    Bagian ini terasa buang-buang halaman. Padahal harusnya bisa dipakai untuk mempertajam 3 konflik lainnya (khususnya bagian Maruti dan Sumi) yang lebih menarik.

    Bagian plot Sumi lebih menarik ketimbang Fatim. Soalnya bagian ini menyinggung soal perdagangan perempuan dan ada hubungan yang kuat antara Sumi, Maruti, dan lelaki yang mengincar Sumi. Sayangnya karena bagian halamannya keambil sama Fatim, akhir ceritanya jadi terasa keburu-buru.

    Ya, buku ini sebenarnya antara 1 dan 2 bintang. Hanya saja banyaknya typo dan karena ada bagian yang cetakannya hilang di salah satu halaman, saya memutuskan untuk memberi hanya 1 bintang.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - Membaca Sastra Indonesia 2013
    - 2013 New Authors Reading Challenge
    - 2013 What's in A Name Reading Challenge
    - 2013 Indonesian Romance Reading Challenge


    View all my reviews

  4. My Life as WriterMy Life as Writer by Haqi Achmad
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: My Life as Writer
    Penulis: Haqi Achmad, Ribka Anastasia
    Penerbit: PlotPoint
    Halaman: 200 halaman
    Terbitan: Maret 2013

    Penulis mencatat apa yang dialaminya sebagai sejarah kehidupan. Dan dengan itu ia tidak hanya mengubah hidup sendiri, tapi juga hidup orang lain.

    Dalam buku ini, lima penulis mumpuni akan membagi cerita mengenai perjalanan karier mereka. Lima latar belakang berbeda, lima energi kreatif berbeda. Haqi Achmad dan Ribka Anastasia Setiawan menyajikannya untuk kamu. Ya. Hanya untuk kamu.

    Review

    "My Life as Writer" adalah buku yang membahas 5 orang penulis. Alanda Kariza, Clara Ng, Dewi "Dee" Lestari, Farida Susanty, dan Valiant Budi. Dari 5 nama tersebut, hanya 4 yang pernah saya dengar namanya dan kebetulan baru 3 yang sudah saya baca bukunya.

    Berbeda dengan buku non-fiksi lain yang hitam-putih dan terkesan "kering", buku ini diramu dengan penuh warna. Penuh warna karena isinya memang full-colour. Penuh warna karena kelima penulis yang ada di sini memang memiliki gaya yang berbeda dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang serupa.

    Ada yang rutin menulis setiap hari, ada juga yang hanya menulis ketika sedang mengerjakan proyek saja. Ada yang suka mendengar lagu saat menulis, ada yang yang tidak suka karena terlalu peka pada suara. Ada yang menulisnya harus berpindah-pindah tempat agar tulisannya lancar, ada juga yang menulis di tempat yang sama selama bertahun-tahun. Pokoknnya macam-macam dan sangat memperlihatkan kepribadian si penulis.

    Bukunya asyik buat saya. Isinya menarik untuk dibaca dan formatnya, yang dibuat mirip majalah semacam 'Intisari' atau 'Reader's Digest', enak untuk dibaca.

    Sayang masih ada beberapa typo di buku ini yang agak mengganggu kenyamanan membaca. Walau begitu, secara keseluruhan, bukunya bagus dan menarik.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Membaca Sastra Indonesia
    - 2013 Nerdy Non-Fiction Reading Challenge

    View all my reviews

  5. Kapitalisme Soviet? Sebuah Catatan PerjalananKapitalisme Soviet? Sebuah Catatan Perjalanan by Tjipta Lesmana
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: Kapitalisme Soviet? Sebuah Catatan Perjalanan
    Penulis: Tjipta Lesmana
    Penerbit: Erwin-Rika Press
    Halaman: 277 halaman
    Terbitan: November 1987

    Catatan perjalanan Tjipta Lesmana dari majalah "Swasembada", Yop Pandie dari harian "Suara Karya", dan Isma Sawitri dari majalah "Tempo" selama 15 hari di Uni Soviet.

    Saya memutuskan untuk meringkas apa yang terjadi pada tiap-tiap hari perjalanan tersebut.

    Hari 1: Ketiga wartawan dari Indonesia sampai di Rusia dan disambut oleh Zakharov, perwakilan Rusia yang menemani mereka selama perjalanan. Sejak awal penulis sudah punya impresi yang buruk tentang Zakharov karena ybs punya masalah bau mulut.

    Sejak awal penulis sudah mengeluhkan pelayanan di Rusia yang kurang baik. Salah satu buktinya adalah hotel tempat mereka tinggal yang memiliki perabotan yang berbeda antar kamar. Ada kamar yang mendapat minuman tapi tidak ada alat mandi, ada juga yang tidak dapat minum.

    Hari pertama mereka bertemu dengan Khacathurov, Wakil Kepala kantor berita Novosti dan memperoleh "kuliah" tentang kemajuan Uni Soviet. Juga ada pertanyaan tentang mengapa volume transaksi Indonesia - Uni Soviet begitu rendah, yang oleh penulis dijawab bahwa hal ini mungkin terjadi karena pemerintah antipati pada negara yang bersifat sosialis (seperti Uni Soviet dan Cina) sebagai dampak dari peristiwa G-30S/PKI.

    Ada analisa menarik dari penulis tentang kemungkinan propaganda dengan menyelipkan nama Tuhan. Khacathurov menggunakan frasa "God knows" saat menyebut bahwa Soviet tidak terlibat dalam pemberontakan G30S/PKI. Padahal Soviet terkenal akan keateisannya. Penggunaan frasa "God knows" pun jadi janggal.

    Hari 1 berakhir dengan pertemuan dengan Ghaffar, Sekretaris I KBRI Moskow dan melihat pertunjukan balet.

    Hari 2: Hari ke-2 diawali dengan terjadinya "teror". Isma, wartawati dari majalah Tempo, mendapat telepon dari seorang pria asing yang mengaku bernama Andrei dan memintanya untuk bertemu. Telepon di kamarnya kemudian diputus secara tiba-tiba entah oleh siapa. Saat memberitahukan hal itu pada Ghaffar, Ghaffar bereaksi, "Itu biasa di sini. Tidak usah dirisaukan."

    Pada hari ke-2, ketiga wartawan berkunjung ke GKS, Komite Negara urusan Hubungan Ekonomi Luar Negeri. Mereka bertemu dengan Boris Koltsov, salah satu wakil kepala biro di GKS. Pembicaraan di sini berkisar pada rendahnya volume perdagangan Uni Soviet - Indonesia, kemajuan koperasi di Rusia, hingga kemungkinan alih teknologi yang akan dilakukan Uni Soviet jika Indonesia mau bekerja sama dalam hal ekonomi.

    Pada akhir hari ini, ketiga wartawan, beserta Dubes RI dan Ghaffar, "menyetujui" bahwa mereka akan sedikit "melawan" dikte yang dilakukan Zhakarov dengan meminta pembatalan kunjungan ke badan pemerintahan lainnya pada hari ketiga dan diganti dengan acara jalan-jalan, serta perjalanan ke Kiev dengan menggunakan pesawat. Bukan menggunakan kereta seperti rencana semula.

    Hari 3: Hari ini menjadi acara jalan-jalan bagi ketiga wartawan. Pada awal hari, penulis terkejut mendengar musik barat diputar di televisi pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh barat sudah mulai masuk ke Uni Soviet. Kemungkinan karena berjalannya program "Glasnost" (yang berarti "keterbukaan") yang dilakukan oleh pemerintah.

    Pagi harinya, ketiga wartawan bertemu dengan Evgeny P. Bavrin, orang kedua di Kementerian Perdagangan Luar Negeri. Pembicaraan dengan Bavrin masih berputar di soal kemungkinan kerja sama Soviet - Indonesia dan pertanyaan soal rendahnya transaksi yang terjadi di antara kedua negara.

    Siangnya, bersama Ghaffar, mereka makan di satu-satunya restoran yang dikelola pihak swasta di Moskow. Namanya "Kropotskinkaya 36". Termasuk restoran mewah dan mahal.

    Setelah makan siang, mereka pergi ke Kremlin, pusat pemerintahan Soviet yang terkenal akan keindahannya. Di sini penulis menceritakan tentang sejarah Kremlin, tentang Lapangan Merah, sera Museleum Lenin, museum tempat bapak revolusi Rusia yang posisinya hampir sama seperti tuhan bagi orang-orang Rusia. Di sini juga digambarkan tentang pertukaran tentara jaga di pintu gerbang musoleum. Dua orang tentara berdiri tegap tanpa boleh bergerak sedikit pun dan pergantiannya terjadi tiap 24 jam sekali.

    Setelah puas jalan-jalan, ketiga wartawan berbelanja oleh-oleh. Penulis menuturkan soal kurang ramahnya penjaga toko di Rusia (yang mungkin disebabkan banyaknya counter yang harus dilayani oleh satu penjaga sekaligus), juga tentang kurang baiknya barang buatan Rusia, seperti tisunya yang terlalu keras atau kameranya yang terlalu berat karena terbuat dari besi baja. Satu-satunya barang yang penulis puji hanyalah limosin buatan Rusia karena "kekar body-nya, disamping penuh wibawa." (hal. 55). Di sini juga saya akhirnya tahu bahwa 1 rubel=Rp 2.500 pada saat itu.

    Hari ke-3 berakhir dengan perjalanan pesawat dari Moskow ke Kiev.

    Hari 4: Hari 4 para wartawan berkunjung ke "Kiyevlyanka", sebuah pabrik garmen yang merupakan salah satu contoh kesuksesan Perestroika. Sebelum Peretroiska dilaksanakan, perusahaan-perusahaan Uni Soviet dimanja oleh pemerintahnya. Kerugian yang dialami perusahaan akan ditutupi oleh negara. Hal ini membuat perusahaan menjadi malas untuk berinovasi dan jalan di tempat.

    Sesudah Perestroika dijalankan, perusahaan diwajibkan untuk menutup sendiri kerugiannya. Hal ini membuat para pengusaha harus bekerja keras agar tidak merugi. Hal ini mendorong hasil penjualan berbagai perusahaan. Salah satunya adalah Kiyevlyanka yang telah melakukan ekspor ke luar negeri, serta mampu menambah gaji pegawai sebesar 100 rubel lebih per bulannya.

    Setelah dari pabrik garmen, para wartawan berkunjung ke sebuah surat kabar bernama "The Evening Kiev. Di sini diperlihatkan bagaimana Glasnost telah mengubah wajah surat kabar Uni Soviet.

    Kalau sebelumnya surat kabar hanyalah corong pemerintah dalam melakukan propaganda, maka kini surat kabar sudah dapat berisi opini hingga kritik. Tidak melulu pidato atau peraturan pemerintah. Hal ini mengakibatkan naiknya oplah surat kabar dan juga gengsi wartwan di Soviet. Sebagai contoh, oplah The Evening Kiev sebelum Glasnost hanya 50.000 eksemplar. Setelah Glasnost berjalan, penjualannya mencapai 250.000 eksemplar lebih.

    Hari 4 berakhir dengan menyaksikan pertunjukan tarian rakyat.

    Hari 5: Pada hari ke-5 mereka pergi ke kantor APN dan berbincang dengan Vladimir Kolinko, wartawan yang meliput peristiwa Chernobyl 2 hari setelah ledakan terjadi. Selain bicara soal liputannya di Chernobyl, Kolinko juga menyayangkan propaganda Barat, khususnya Amerika, yang menjelek-jelekan Uni Soviet lewat media massanya. Padahal, menurut Kolinko, media Soviet tidak pernah menjelek-jelekan Amerika. Misalnya peristiwa ledakan pesawat ulang-alik Challenger tidak digunakan media Soviet untuk menjatuhkan nama Amerika. Mereka hanya menulis fakta yang terjadi.

    Hari 6: Hari 6 dibuka dengan adanya sedikit konflik dengan Zakharov. Zakharov memberitahu bahwa mereka akan terbang ke Dushambe pada pukul 14.00, padahal sebelumnya dikatakan bahwa mereka akan menggunakan penerbangan pagi. Zakharov beralasan bahwa penerbangan itu sudah diatur oleh pihak Moskow. Padahal sebelumnya dia berkata pada Isma bahwa penerbangan siang sengaja diambil untuk memberi Isma kesempatan berbelanja lagi. Hal ini membuat penulis mempertanyakan kejujuran Zakharov.

    Sisa hari dilanjutkan dengan sight seeing. Ditemani seorang pemandu wanita, ketiga wartawan pergi melihat museum Great Patriotic War, museum yang didirikan untuk memperingati kegigihan perlawanan Rusia terhadap serangan Nazi pada PD II.

    Dari museum, mereka lanjut ke gereja St. Sofia Cathedral. Di sini selain mengagumi keindahan gereja tersebut, penulis juga mempertanyakan tentang kebebasan beragama di Soviet. Walau secara Undang-Undang tampak bahwa setiap individu berhak untuk beragama atau tidak beragama dan diperlakukan sama secara hukum, pada kenyataannya tatanan di Soviet cenderung mendukung rakyatnya untuk tidak beragama. Hal ini diperlihatkan dari fakta bahwa orang beragama tidak bisa menjadi anggota partai dan secara otomatis tidak bisa menduduki posisi tinggi dalam pemerintahan.

    Hari 6 berakhir dengan menyusuri Sungai Dnieper dan melihat pertunjukan tari tradisional.

    Hari 7: Percayakah Anda bila dikatakan bahwa buruh dan petani pun dapat dengan mudah membeli tiket pesawat di Rusia? Pada kenyataannya harga tiket pesawat di Rusia memang murah sekali. Harga PP Singapura-Moskow misalnya. Dengan Aeroflot, maskapai nasional Rusia, harganya hanya sekitar USD 600. Padahal dengan Singapore Airlines, harganya mencapai USD 2000! Bagaimana bisa?

    Jawabannya adalah: subsidi. Subsidi di Rusia, pada masa itu, mencapai 73 miliar rubel (Rp 182,5 trilyun), atau 6 kali APBN Indonesia tahun 1987-1988. Itu pun baru sebagian dari jumlah APBN Rusia. Bisa dibayangkan bagaimana besar keinginan pemerintah Rusia untuk memberi ilusi kemakmuran ekonomi pada rakyatnya.

    Selain kontemplasi penulis tentang subsidi di Rusia, dia juga sempat pergi ke St. Cyril Church, Babiy Yar yang terkenal sebagai tempat perpisahan para warga yang akan dieksekusi oleh tentara Jerman pada PD II, dan juga October Revolution Square.

    Hari 7 ditutup dengan pendaratan di Dushanbe, Tajikstan.

    Hari 8: Pada hari ke-8, penulis kembali mengeksplorasi tentang kebebasan beragama di Soviet dengan berkunjung ke Mesjid Movlana Yakubi Charhi, salah satu mesjid terbesar di Tajikstan (yang sayangnya tidak bisa saya temukan di Google. Entah kenapa).

    Tajikstan memang berbeda dengan Rusia. Termasuk dalam lingkup yang sering disebut sebagai Asia Tengah, Tajikstan memang mempunyai sejarah Islam yang kuat. Hal ini terbukti dari banyaknya budaya Islam dan catatan sejarah tentang Islam di bagian Soviet yang ini.

    Lalu bagaimana soal agama di tempat ini? Menurut Ali Beknazar, imam di mesjid yang penulis kunjungi, pemerintah "mendukung" perkembangan agama di sana. Buktinya pemerintah memberi material untuk pembangunan mesjid di tempat itu, walau pemeliharaannya kemudian harus diurus sendiri. Saat ditanya apakah ada tekanan dari pemerintah, sang imam menjawab bahwa tidak ada tekanan.

    Hanya saja penulis mempunyai kecurigaannya sendiri. Uni Soviet terkenal akan kegarangannya pada umat beragama. Bahkan belum lama, pada waktu itu, pemerintah baru saja melakukan penekanan besar-besaran pada umat Kristen di desa Gruchevo, Ukraina. Selain itu, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, umat beragama juga dilarang menjadi anggota partai. Penulis bahkan menduga jangan-jangan semua jawaban itu telah dipersiapkan sebelumnya. Apalagi ada banyak pihak asing yang sering berkunjung ke tempat itu. Bisa jadi seluruhnya hanya skenario pencitraan pemerintah Soviet.

    Hari 9: Di hari ke-9 para wartawan mengunjungi Bendungan Nurek yang merupakan bendungan tertinggi di dunia (pada 2013 berhasil dilewati oleh Bendungan Jinping-I di Cina). Bendungan itu terkenal karena teknik pembangunannya yang tidak menggunakan beton dan juga karena listrik yang dihasilkannya merupakan terbesar ke-2 di seluruh Uni Soviet.

    Setelah dari Nurek, rombongan pergi ke kolkhos, yang merupakan bahasa Rusia untuk "pertanian kolektif". Di tempat itu mereka mengunjungi keluarga petani yang memimpin brigade pertanian di tempat itu. Di setiap kolkhos sendiri terdiri dari beberapa brigade (semacam tim).

    Di kolkhos itu penulis mempertanyakan (dalam hati) kenapa WC di tempat itu begitu kotor, padahal pemilik tempat itu mengaku berpenghasilan 13 ribu rubel/tahun. Masa iya tidak mampu untuk membangun WC yang lebih baik?

    Hari 9 berakhir dengan menyaksikan tari-tarian serta nyanyian.

    Hari 10: Hari 10 dibuka dengan penerbangan "empat sekawan" dari Dushanbe ke Moskow. Di pesawat, penulis bertemu dengan seorang profesor asal Tajikstan dan berbincang dengannya.

    Menurut pengakuan sang profesor, gaji seorang pengajar dan peneliti di Soviet lebih rendah daripada buruh. Seorang buruh dapat mengantongi 350 rubel/bulan, sedangkan seorang dosen hanya memperoleh 150 rubel/bulan dan seorang peneliti senior hanya digaji 200 rubel. Hal ini memang sejalan dengan pandangan negara sosialis yang menilai tinggi posisi buruh. Bagi kaum sosialis, buruh adalah tulang punggung negara.

    Hanya saja lewat perestroika, keadaan mulai membaik bagi para cendekiawan. Selain kini memperoleh kebebasan untuk melakukan penelitian (sebelumnya mereka hanya boleh meneliti hal yang diperintahkan), pendapatan mereka juga mulai ditingkatkan pemerintah.

    Di Moskow, mereka melakukan pertemuan dengan Nikolai I. Efimov, Wakil Pemimpin Redaksi "Izvestia", koran resmi pemerintah Uni Soviet. Di sini kembali mereka berbicara tentang pers Soviet yang sudah memperoleh kebebasannya, serta bagaimana pers di Soviet lepas dari pengaruh "press tycoon" (penyensoran berita tertentu karena ada pengaruh orang luar) seperti di Amerika. Walau begitu, tetap saja ada batasan yang tidak boleh dilanggar dalam menulis berita, seperti tidak boleh menulis berita yang mempropagandakan peperangan atau bersifat porno.

    Hari 11: Hari 11 dimulai dengan kesulitan penulis dalam menukar uang. Di Soviet, peraturan pengawasan peredaran mata uang asingnya memang ketat sekali. Saat orang asing tiba di sana, mereka diharuskan mengisi "custom declaration" yang berisi berapa total uang yang dibawa dan dalam mata uang apa. Nantinya saat akan keluar dari Soviet, lembar yang sama harus diisi dengan jumlah uang yang tersisa dan rubel yang ada akan ditukar lagi ke valuta asing. Uang yang keluar harus dibuktikan dengan struk belanja.

    Masalah timbul bagi penulis karena dia dan kedua rekannya tidak mengisi form itu. Saat sampai mereka dibawa ke ruang VIP dan semua prosedur imigrasi diurus oleh Zakharov. Orang Rusia sangat ketat dalam menjalankan peraturan. Kalau aturan bilang A, maka harus A. Tidak peduli apa alasannya, harus tetap A. Sayang di sini tidak dijelaskan bagaimana hasil akhir usaha tukar uang si penulis.

    Hari 11 adalah hari "bebas". Sekali lagi mereka bertiga mengunjungi Lapangan Merah. Kali ini tanpa Zakharov. Mereka memang jadi lebih bebas, tapi bahasa kini yang jadi kendali.

    Selain ke Lapangan Merah, mereka juga pergi berbelanja ke GUM, pusat perbelanjaan di samping Kremlin. Malamnya penulis dan Isma menyaksikan pertunjukan balet.

    Hari 12: Lagi-lagi terjadi pertikaian dengan Zakharov. Kali ini yang bertikai bukanlah si penulis, tapi Isma. Bukan hanya sekali, tapi langsung dua kali Isma "berkelahi" dengan Zakharov pada hari itu.

    Yang pertama soal tiket. Tiket penerbangan Isma ke Jepang, yang diurus oleh Zakharov, belum kunjung fix. Padahal dia akan melanjutkan perjalanan ke Jepang setelah urusan di Soviet selesai.

    Yang kedua, gara-gara pertanyaan Zakharov soal G30S/PKI.

    "Berapa banyak orang komunis yang dibunuh waktu itu, tanya Zakharov dengan nada sinis." (hal. 181)

    Kontan hal ini membuat Isma marah dan bertanya balik, berapa banyak juga rakyat Indonesia yang dibunuh secara keji oleh orang komunis sebelum terjadi G30S/PKI? Pembicaraan berkembang ke arah, lagi-lagi, kenapa Indonesia menjadikan G30S alasan untuk "menghambat" hubungan ekonomi dengan Soviet.

    Menurut penulis, prinsip politik luar negeri Soviet adalah mensosialiskan dunia. Hal ini berdasarkan tafsir dari buku keluaran Soviet sendiri. Hal inilah yang membuat pemerintah berhati-hati dalam menjalin hubungan dengan Soviet.

    Setelah perjalanan pesawat selama 1 jam, rombongan akhirnya tiba di Leningrad. Di sini mereka berkunjung ke Museum Hermitage, museum yang dibangun atas perintah Tzarina Catherine Agung. Hermitage terkenal karena sejumlah tiang utamanya dibangun dari batu malakit. Selain itu, ada sekitar 3 juta karya seni dari berbagai negara di sini. Ada setidaknya 15.000 lukisan, termasuk karya pelukis besar seperti: Da Vinci, Raphael, Rembrandt, Renoir, dan Picasso.

    Hari 13: Hari ini menjadi hari city tour bagi ketiga wartawan. Mereka mengunjungi Katedral St. Isaac yang merupakan salah satu dari empat katedral terbesar di dunia, lalu ke St. Isaac Square, tempat patung Peter Agung diletakkan.

    Malam harinya, seluruh kekesalan ketiga wartawan tumpah juga atas Zakharov. Kali ini gara-gara Zakharov memesankan tur domestik, yang penjelasan turnya dalam bahasa Rusia, bagi mereka mengelilingi sebuah kanal kecil. Ada 2 masalah. Satu, tentu saja mereka tidak mengerti sepatah kata pun yang keluar dari mulut pemandu. Zakharov memang "berbaik hati" mau menerjemahkan, tapi penulis menolak karena itu justru akan mengganggu penumpang yang lain. Dua, tadinya mereka meminta tur mengelilingi Sungai Neva, sungai yang terkenal di Leningrad, tapi entah kenapa Zakharov malah memberi mereka tur seperti itu.

    Hari 14: Hari ini menjadi hari perpisahan dengan Isma. Wartawati Tempo itu meninggalkan Uni Soviet sehari lebih awal karena akan terbang ke Jepang. Hanya tiket tanggal 24 Agustus yang berhasil Zakharov peroleh untuk Isma.

    Sebelum keberangkatan Isma, mereka masih sempat melakukan kunjungan ke balaikota dan bertemu dengan Valeri Radhenko, Wakil Kepala Komisi Perencanaan Kota. Penulis agak kecewa karena mereka hanya bertemu dengan orang yang posisinya agak "bawah". Dalam istilah penulis, "Buat apa ngomong dengan pejabat perencanaan kota?" (hal. 226).

    Di balaikota mereka bicara soal reshuffle besar-besaran dalam tubuh Dewan Kota Leningrad, perpajakan bagi badan usaha pribadi, serta subsidi pemerintah bagi wiraswastawan.

    Setelah melepas Isma pada pukul 14.00, Yopi dan penulis mengunjungi Peterdrovets, istana musim panas yang dibangun oleh Peter Agung. Istana ini terkenal akan keaslian tamannya dan keberadaan sekitar 2.000 air mancur di istana itu.

    Setelah berkunjung ke Peterdrovets, mereka kembali ke hotel dan bersiap untuk menghabiskan malam terakhir mereka di Soviet.

    Hari 15: Sebelum berangkat kembali ke Indonesia, Yopi dan penulis melakukan wawancara dengan Igor Rogachev, salah satu Wakil Menteri Luar Negeri Uni Soviet.

    Hal-hal yang dibicarakan antara lain: bagaimana peranan Soviet dalam masalah Kamboja (dalam masalah rezim Pol Pot dan Khmer Merah waktu itu), bagaimana peranan Mochtar Kusumaatmadja, Menteri Luar Negeri Indonesia waktu itu, dalam masalah Kamboja itu, serta usaha reformasi hubungan luar negeri Soviet-Cina.

    Setelah wawancara dengan Rogachev selesai, kedua wartawan berkunjung ke Glaskosmos, semacam NASA-nya Soviet. Di sini ada disinggung sedikit soal kerja sama antariksa Soviet-Indonesia (yang pada waktu itu memang mulai ramai dibicarakan), serta kemungkinan pembiayaan peluncuran satelit Palapa 2R dengan bantuan Soviet.

    Malamnya, pada pukul 20.40, kedua wartawan naik ke pesawat dan terbang meninggalkan Soviet sepuluh menit kemudian.

    Selamat tinggal Moskow!

    Engkau memberi kesan melankolik tapi sekaligus kesan mengerikan.

    Melankolik, sehingga engkau memikat jutaan pelancong[...]. Tapi bagi saya, engkau juga mengerikan di samping sangat tidak ramah. Taman-taman hijau dengan bunga merah memang meneduhkan, tapi engkau membisu setiap kali kami ingin menanyakan sesuatu tentangmu. (hal. 261)


    Secara keseluruhan

    Saya suka dengan buku ini. Selain membahas soal turisme, budaya, serta kehidupan di Soviet, penulis juga menulis soal politik dalam dan luar negeri Soviet.

    Saya juga suka gerutuan dan perkelahiannya dengan Zakharov yang, buat saya, lucu. Saya bahkan membayangkan perjalanan ini semacam reality show dan ada adegan shooting penulis, Isma, atau Yopi mengeluarkan unek-unek di sebuah ruangan.

    Sayang ada banyak sekali typo di buku ini. Selain itu penggunaan di+kata tempat di buku ini juga banyak yang disambung.

    Kalau saja jumlah typo-nya lebih sedikit, saya akan memberi bintang 5 untuk buku ini.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - Membaca Sastra Indonesia 2013
    - Serapium Reading Challenge 2013
    - Nerdy Non-Fiction Reading Challenge 2013

    View all my reviews

  6. Titik Nol: Makna Sebuah PerjalananTitik Nol: Makna Sebuah Perjalanan by Agustinus Wibowo
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan
    Penulis: Agustinus Wibowo
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 568 halaman
    Terbitan: Februari 2013

    Jauh. Mengapa setiap orang terobsesi oleh kata itu? Marco Polo melintasi perjalanan panjang dari Venesia hingga negeri Mongol. Para pengelana lautan mengarungi samudra luas. Para pendaki menyabung nyawa menaklukkan puncak.

    Juga terpukau pesona kata "jauh", si musafir menceburkan diri dalam sebuah perjalanan akbar keliling dunia. Menyelundup ke tanah terlarang di Himalaya, mendiami Kashmir yang misterius, hingga menjadi saksi kemelut perang dan pembantaian. Dimulai dari sebuah mimpi, ini adalah perjuangan untuk mencari sebuah makna.

    Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang, bersujud di samping ranjang ibunya. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini terabaikan.

    Review

    Pertama-tama, saya berterima kasih kepada Mbak Nabila, mantan koordinator Goodreads Surabaya salah ding, bukan mantan koordinator ternyata, tapi yang pasti merupakan orang yang sudah mau bersusah payah saya titipi beli buku ini buat saya. Maafkeun daku yang tidak bisa datang pas acara talkshow Agustinus Wibowo di Surabaya pada April yang lalu.

    Membaca buku ini membuat saya terinspirasi untuk tidak menjadi backpacker. Serius. Membaca perjalanan Ming, nama Mandarin penulis, mengarungi Tibet, Nepal, India, Pakistan, dan Afghanistan, membuat saya bersyukur bahwa hari ini saya masih berada di atas kasur yang lumayan empuk, dalam terpaan angin dari kipas, serta bisa memperoleh makan dan minum dengan mudah.

    Sounds like I am dwelling too deep in my comfort zone? Yes, I am.

    Buku ini bukan panduan bagaimana mengelilingi Asia Barat dengan budget sekian juta saja. Juga bukan buku yang memandu tempat-tempat mana saja yang harus kita datangi kalau berkunjung ke Nepal atau India. Buku ini adalah catatan perjalanan si penulis dan refleksinya akan arti perjalanan itu dalam kehidupannya sendiri. Semuanya diceritakan secara jujur dan gamblang.

    Awal buku ini sudah langsung berhasil menangkap perhatian saya. Bahasa yang dipakai Agustinus Wibowo di sini bagus, sampai saya merasa sedang membaca novel alih-alih sebuah buku non-fiksi.

    Salah satu poin menarik buku ini adalah kilas balik kehidupan Hwie, alias Widyawati, ibu sang pengarang, yang ceritanya berjalan berbarengan dengan penuturan perjalanan "si musafir". Agustinus Wibowo memang menjadikan perjalanannya di Titik Nol ini sebagai refleksi akan kehidupan sang ibu. Bahkan saking menariknya, pada beberapa titik saya merasa lebih tertarik pada kisah kilas balik tersebut ketimbang Safarnama penulis. Apakah hal ini juga yang membuat saya sedikit bosan pada sepertiga bagian akhir buku ini? Karena lebih penasaran pada cerita hidup Hwie ketimbang soal Pakistan dan Afghanistan? Entahlah.

    Secara keseluruhan, ini buku yang sangat menarik. Ada banyak hal yang dapat menjadi perenungan dari buku ini. Baik tentang hidup, perjalanan, sampai hal yang bersifat "teknis", seperti budaya, turisme, dan agama.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Membaca Sastra Indonesia Reading Challenge
    - 2013 Nerdy Non-Fiction Reading Challenge

    View all my reviews

  7. Jejak LangkahJejak Langkah by Pramoedya Ananta Toer
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: Jejak Langkah
    Penulis: Pramoedya Ananta Toer
    Penerbit: Lentera Dipantera
    Halaman: 724 halaman
    Terbitan: 2007 (pertama terbit 1985)

    "Jejak Langkah" adalah buku ketiga dari kuartet Buru yang Pramoedya ciptakan selama pengasingannya di Pulau Buru.

    Novel ketiga ini menceritakan bagaimana Minke yang telah melakukan observasi dan yang telah tumbuh perasaan nasionalismenya (di buku 1 dan 2), perlahan mulai mengatur perlawanan terhadap cengkraman Belanda.

    Pernah dengar pepatah 'di belakang pria yang hebat terdapat seorang wanita yang hebat'? Dalam kasus Minke, ada banyak wanita hebat. Salah satu hal yang paling menonjol dari kuartet Buru adalah peranan wanita pada kesadaran Minke akan nasionalisme. Ada 5 wanita yang memicu kesadaran Minke dalam membentuk organisasi yang memulai kebangkitan penduduk pribumi.

    Yang pertama adalah Nyai Ontosoroh yang mulai menyadarkan Minke bahwa penduduk pribumi pun sebenarnya memiliki kemampuan yang sama dengan pihak Belanda. Hal ini terbukti dari kemampuan Nyai mengurus perusahaan suaminya, seorang pengusaha Belanda yang kurang mampu mengurus perusahaannya, sehingga berkembang dengan baik. Nyai Ontosoroh jugalah yang pertama membangkitkan semangat Minke untuk terus menulis.

    Yang kedua adalah Annelies, istri pertama Minke, anak dari Nyai Ontosoroh. Perceraian paksanya yang berakhir dengan kematian Annelies membuka mata Minke akan ketidakadilan yang dialami penduduk pribumi. Minke yang meruapakan anak bupati yang selalu merasakan fasilitas yang baik, akhirnya mulai sadar akan kondisi Hindia Belanda yang sebenarnya.

    Yang ketiga adalah Ang San Mei. Ang San Mei adalah tunangan dari sahabat Minke, Khouw Ah Soe. Khouw Ah Soe yang telah meninggal menitipkan surat pada Minke untuk disampaikan pada gadis itu. Sejak pertemuan pertamanya dengan Ang, Minke sudah jatuh hati padanya. Bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena kecerdasan gadis itu.

    Lewat Ang inilah untuk pertama kalinya Minke mulai awas tentang 'organisasi'. Ang yang tergabung dalam sebuah organisasi pemuda Tionghoa memberi Minke sebuah titik awal untuk memulai organisasi pribumi. Hal ini tumbuh semakin kuat setelah dia menghadiri kuliah umum seorang dokter Jawa yang menyadarkan Minke betapa tertinggalnya penduduk pribumi dari penduduk Tionghoa dan Arab di Hindia. Kedua bangsa itu telah memulai organisasinya sendiri untuk meningkatkan kualitas hidup golongannya, sementara penduduk pribumi belum ada yang berani untuk mencetuskannya.

    Yang keempat adalah ibu Minke sendiri. Seorang wanita Jawa tulen yang bahkan berani melawan suaminya, yang merupakan hal yang sangat berani mengingat kondisi patriarkal pada zaman itu, untuk bertemu dengan anaknya. Rasa cintanya pada sang anak membuatnya mampu memberi restu pada Minke untuk mempersunting Ang San Mei, sekaligus menguatkan hati Minke untuk menjadi 'dalang yang benar'.

    "Tapi ada kekuatan besar penelan kebajikan tapi enggan terbagi." (Minke)
    "Guru-guru nenek-moyangmu juga sudah tahu itu, Nak. Mereka menamainya buto. [...] Dan mereka tidak pernah menang melawan para satria nenek-moyangmu."
    "Sekarang ini mereka terus-menerus menang."
    "Itu di tangan yang salah."
    "Bunda, sahaya akan jadi dalang yang tidak salah itu." (hal. 85)

    Yang kelima adalah Prinses van Kasiruta, istri ketiga Minke. Prinses membantu Minke menjalankan 'Medan', koran pribumi pertama yang Minke dirikan. Berbeda dengan kedua istri pertamanya, Prinses adalah sosok wanita yang lebih keras secara fisik. Dia bahkan berani membalas dendam pada orang-orang yang telah mengeroyok Minke, karena tidak suka pada pemberitaan di 'Medan', dengan cara menembak orang tersebut.

    Usaha pertama Minke dalam mendirikan organisasi tidak berjalan mulus. Organisasi perdananya, 'Syarikat Priyayi', terpaksa mati suri karena kasus penyalahgunaan uang oleh pengurusnya.

    Minke tidak berlama-lama dalam kekecewaannya. Dia segera bangkit lagi dan mendirikan koran 'Medan Priyayi' yang menjadi koran pribumi pertama. Dengan bantuan Nyai Ontosoroh, yang kini telah menikah dengan Marais dan pindah ke Perancis, Minke memperoleh bantuan tenaga hukum untuk korannya.

    Kedatangan Hendrik Frischboten, tenaga hukum yang dikirimkan oleh Nyai Ontosoroh, dan istrinya Mir, yang merupakan sahabat lama Minke, memulai babak baru dalam hidup Minke.

    Dengan bantuan Hendrik, 'Medan' menjadi tempat penyuluhan masalah hukum oleh penduduk pribumi dan berhasil menjadi salah satu koran dengan oplah terbesar.

    Selain mengurus 'Medan', Minke juga mengurus berdirinya suatu organisasi baru yang menggantikan 'Syarikat Priyayi'. Kali ini Minke mendirikan 'Syarikat Dagang Islamiah'. Belajar dari kesalahannya dulu, Minke tidak mau organisasinya terdiri hanya dari para priyayi yang bersikap pasif. Selain itu Minke yang sadar akan pentingnya perdagangan bagi ekonomi suatu bangsa, memutuskan untuk membentuk sebuah syarikat dagang.

    Idenya ini sendiri sebenarnya ditentang oleh Douwager, seorang jurnalis Belanda yang menggiatkan kesadaran akan arti nasionalisme. Douwager mengkritik penggunaan kata 'Islamiah' karena menurutnya hal itu merujuk pada eksklusivitas agama tertentu. Walau begitu, Minke tetap pada pendiriannya karena dia punya pertimbangan lain.

    "Tapi nasionalisme tak bisa berlandaskan agama. Agama itu universal, buat setiap orang. Nasionalisme untuk bangsa sendiri, garis terhadap bangsa-bangsa lain." (Douwager)

    "Landasan itu tidak bisa jadi dengan sendirinya. Semua yang serbacita digalangkan landasannya dulu. Apa salahnya jika begitu banyak orang yang setuju? Kan itu juga pendidikan ke arah demokrasi? [...]" (Minke)

    "Tetapi bukankah Tuan masih tetap sependapat denganku, bahwa pikiranku tidak keliru?"

    "Tetap, Tuan, hanya waktunya belum tepat." (hal. 539-540)

    Dalam perjalanannya Minke mengalami banyak tantangan. Oplah 'Medan' yang mulai turun karena kemunculan koran 'Sin Po', kehadiran orang-orang yang membenci dan bahkan melukainya, perpecahan dalam tubuh SDI, bahkan hingga rasa ragunya karena dia tidak kunjung punya anak.

    Satu hal yang menarik di buku ini adalah pergulatan Minke di luar koran dan organisasinya. Pergulatannya akan hubungan gelapnya, kalau tidak mau dibilang perzinahannya, dengan Mir Frischboten.

    Mir yang juga merupakan sahabat lama Minke ternyata tidak bahagia dengan pernikahannya. Suaminya, Hendrik, memiliki masalah seksual yang membuat mereka tidak bisa dikaruniai anak. Hal ini membuat Mir 'memaksa' Minke untuk menjalin hubungan dengannya.

    Hal ini menarik, karena menunjukkan suatu kelemahan Minke yang membuatnya tampak manusiawi. Tentunya Minke salah dalam hal ini, apalagi mengingat dia sudah menikah dengan Prinses saat itu, tapi tetap memberikan sentuhan tersendiri pada cerita.

    Lalu bagimana Minke akan mengatasi semua tantangan yang dia hadapi? Bagaimana dengan hubungan gelapnya bersama Mir? Semua jawabannya bisa diperoleh dalam novel Jejak Langkah ini.

    Jadi, secara keseluruhan...

    Saya benar-benar suka novel ini. Jumlah halamannya memang jauh lebih tebal daripada Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, tapi saya sangat menikmatinya. Membaca buku setebal ini sama sekali tidak membuat saya capek. Justru saya ingin terus membacanya dan ketika harus berhenti untuk istirahat atau kegiatan lain, saya merasa harus berpisah dengan seorang kerabat yang begitu dekat dan tidak sabar menantikan perjumpaan berikutnya. Terdengar lebay? Percayalah, memang tepat seperti itulah yang saya rasakan.

    Sayangnya masih ada typo bersebaran di buku ini. Semisal kata 'tuna-tuan' di hal. 39, typo 'perkawa' di hal. 374, dan typo 'kelom-pok' di hal. 395. Masih ada beberapa lagi sih, hanya saja tidak saya catat.

    Siapa sebenarnya Minke?

    Minke adalah tokoh yang berdasarkan seseorang pada dunia nyata. Minke yang dalam tulisannya dikenal dengan inisial TAS merujuk pada Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional (dikukuhkan oleh pemerintah pada 1973) dan seorang Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres RI no 85/TK/2006.

    Kesamaan antara tokoh Minke dan Tirto Adhi Soerjo bisa dilihat dari koran dan organisasi yang mereka dirikan. Sama seperti Minke, TAS juga mendirikan koran bernama Medan Prijaji pada 1907 dan organisasi Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia pada tahun 1909.


    Halaman depan Medan Prijaji, 2 April 1910

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Membaca Sastra Indonesia
    - 2013 Read Big Reading Challenge
    - 2013 Serapium Reading Challenge
    - 2013 Indonesian Romance Reading Challenge
    - 2013 Finishing the Series Reading Challenge


    View all my reviews


  8. Canting Cantiq (Kos-kosan Soda, #1)Canting Cantiq by Dyan Nuranindya
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Canting Cantiq (Kos-Kosan Soda, #1)
    Penulis: Dyan Nuranindya
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 208 halaman
    Terbitan: Juli 2009

    Melanie Adiwijoyo adalah putri tunggal pengusaha besar, Aryo Adiwijoyo. Dia terkenal akan selera fashion-nya yang bagus dan otaknya yang encer. Dia juga punya seorang pacar yang sangat dia sayangi. Pokoknya hidupnya sempurna deh.

    Sayang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Hidup Melanie terjun bebas saat usaha ayahnya bangkrut. Dia harus pindah ke Jogja dan tinggal di sebuah kost-kostan aneh milik eyangnya, Eyang Santoso. Tambah lagi pacarnya meninggalkan dia dan jadian dengan temannya sendiri.

    Mampukah Melanie bertahan hidup di kost Soda124? Lalu bagaimana pertemuannya dengan Aryati Sastra, seorang desainer kebaya terkenal, mampu mengubah hidupnya?

    Review

    Novelnya Dyan Nuranindya pertama yang saya baca. Saya baru sadar kalau Dyan adalah pengarang novel "Dealova" yang terkenal itu.

    Saya cukup suka dengan ceritanya. Saya suka bagaimana Dyan mampu menggambarkan keajaiban anak-anak penghuni kost Soda124 dengan baik. Mereka aneh bukan sekedar karena ingin dibuat aneh oleh pengarangnya, tapi aneh karena memang memiliki latar belakangnya tersendiri. Misalkan Aiko yang cakep tapi terus-terusan pakai minyak telon. Dia bukan didesain begitu hanya supaya terlihat beda, tapi karena memang dia bertubuh lemah dan gampang sakit.

    Ceritanya sendiri cukup ringan dan penyelesaian permasalahannya menurut saya agak dipermudah. Maksud saya, si Melanie ini kan sebelumnya belum pernah menjahit atau pun mendesain. Apa iya dia bisa belajar desain dan menjahit dalam waktu yang begitu singkat? Bahkan sampai diberi kesempatan untuk melakukan fashion show-nya sendiri?

    Walau begitu, keseluruhan ceritanya cukup enak diikuti. Saya suka suasana di kost-kostannya dan juga pada kisah cinta antara Mel dan Bima, walau di bagian akhir ketika kebenaran tentang Bima terkuak, saya sedikit merasa, "Capek deh. Kenapa dia gak dibuat pengusaha muda biasa aja sih?"

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Membaca Sastra Indonesia
    - 2013 New Authors Reading Challenge
    - 2013 Indonesian Romance Reading Challenge

    View all my reviews

  9. Yup, di pertengahan tahun saya memutuskan untuk ikut 1 tantangan baca lagi. Iya, tantangan baca saya banyak banget yah. Maklum, tahun pertama ikutan ginian. Jadi kalap X3

    Tantangan baca yang saya ikuti kali ini diselenggarakan oleh mademelani.wordpress.com. Tujuannya adalah agar para peserta tantangan ini membaca karya sastra Indonesia. Baik klasik, maupun modern. Beberapa peraturan tantangan ini antara lain:

    1. Kamu bisa memilih mau membaca sastra Indonesia klasik, atau kontemporer, atau keduanya (klasik dan kontemporer). 
    2. Tentukan sendiri target jumlah buku yang mau kamu baca untuk kategori yang kamu pilih, atau untuk masing-masing kategori (kalau kamu pilih keduanya). Berapa pun jumlah buku, tak masalah. Yang penting adalah pengalaman membaca dan mengapreasi (baca: mengkritisi), serta berpendapat atas hal yang kamu baca. :) 
    3. Periode membaca adalah dari Januari 1 sampai Desember 31, 2013. 
    4. Genre buku yang dibaca boleh apa saja, fiksi maupun non-fiksi (disarankan yang bersifat humaniora), asal merupakan karya penulis Indonesia. Buku yang kamu baca boleh digabungkan ke reading challenge (yang lain) yang kamu ikuti. 
    5. Tuangkan pendapat kamu atas buku yang kamu baca dalam posting di blog kamu (tidak harus punya blog khusus buku). ‘Review’ tidak melulu harus panjang dan formal, kamu bebas mengungkapkan pendapat kamu dalam bentuk posting yang kamu sukai. 
    6. Pasang button “Membaca Sastra Indonesia 2013 – Klasik & Kontemporer” di side bar blog kamu, supaya kita juga langsung tahu mengenai keikutsertaan blog kamu di inisiatif ini.
    Catatan:

    *Klasik: Ungkapan “sastra Indonesia klasik” jarang terdengar, menurut saya karena kemunculan Indonesia pun baru ada pada jaman yang dianggap ‘modern’ dalam kerangka literatur dunia. Karya-karya sastra klasik (Nusantara) sebelum abad 20 sebenarnya cukup banyak, namun sering masih dalam bahasa daerah, seperti Serat Centhini yang ditulis dalam bahasa jawa kuno, atau karya lainnya, yang membuatnya sulit dibaca oleh generasi sekarang. Untuk itu kategori “klasik” dalam Membaca Sastra Indonesia 2013 ini saya perluas hingga ke area “modern classics”, yaitu karya-karya yang ditulis di permulaan abad 20 hingga tahun 70-an (tentu untuk karya yang secara kualitas memang layak disebut “klasik”). Buku-buku seperti Puisi Lama hingga karya-karya Pramoedya, contohnya, bisa masuk di sini.

    *Kontemporer: semua karya yang bersifat kontemporer, memiliki unsur kebaruan/ masa kini, ditulis di masa 80-an hingga sekarang. Termasuk di sini adalah sastra populer (chicklit, metropop, dan sejenisnya).

    Saya pribadi bakal ikut dua-duanya. Untuk divisi kontemporer sih relatif mudah, jadi berani pasang target tinggi. Yang susah di bagian klasik. Saya bingung nyari bukunya sih >.<

    Oh, sudahlah. Saya pasang target 3 buku untuk klasik dan 20 buku untuk kontemporer. Untuk yang kontemporer, kalau mau masukin yang sudah saya baca sejauh ini, rasanya sih sudah cukup, tapi kurasa saya masukin beberapa yang kuanggap menarik aja deh :D

    Kalau ada tautan pada judul, itu berarti saya sudah membaca dan menulis ulasan buku tersebut.

    Klasik:
    1. Jalan Tak Ada Ujung - Mochtar Lubis (1952) - humaniora
    2. Karmila - Marga T. (1973) - roman
    3. menyusul


    Kontemporer:
    1. Pasung Jiwa - Okky Madasari (2013) - humaniora
    2. Canting Cantiq - Dyan Nuranindya (2009) - teenlit/roman
    3. Jejak Langkah - Pramoedya Ananta Toer (1985) - humaniora
    4. Hujan Bulan Juni - Sapardi Djoko Damono (1994) - puisi
    5. Pintu Harmonika - Clara Ng & Icha Rahmanti (2013) - humaniora
    6. Mata Ruang - Epri Tsaqib (2011) - puisi
    7. Abad yang Berlari - Afrizal Malna (1984) - puisi
    8. Redfang - Fachrul R.U.N. (2012) - fantasi
    9. Stanza dan Blues - W.S. Rendra (2010) - puisi
    10. Relung-Relung Gelap Hati Sisi - Mira W. (1983) - humaniora/roman
    11. Love, Hate & Hocus Pocus - Karla M. Nashar (2008) - metropop/roman
    12. Kau Memanggilku Malaikat - Arswendo Atmowiloto (2008) - humaniora
    13. Rahasia Selma - Linda Christanty (2010) - kumpulan cerpen/humaniora
    14. Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan - Agustinus Wibowo (2013) - non fiksi/humaniora
    15. Kapitalisme Soviet? Sebuah Catatan Perjalanan - Tjipta Lesmana (1987)- non fiksi/humaniora/politik
    16. My Life as Writer - Haqi Achmad, Ribka Anastasia (2013) - non fiksi
    17. Maruti: Jerit Hati Seorang Penari - Achmad Munif (2005) - humaniora/roman
    18. Rumah Kaca - Pramoedya Ananta Toer (1988)
    19. Memang Jodoh - Marah Rusli (2013) - budaya/roman
    20. Canting - Arswendo Atmowiloto (1986) - budaya/roman

    Ingin tahu lebih banyak soal tantangan baca ini? Cek blog hostnya