Rss Feed
    Showing posts with label Read Big Reading Challenge. Show all posts
    Showing posts with label Read Big Reading Challenge. Show all posts
  1. The ShiningThe Shining by Stephen King
    My rating: 5 of 5 stars

    Title: The Shining
    Author: Stephen King
    Publisher: Anchor Books
    Num. of Pages: 659 pages
    Published: June 2012 (first published 1977)

    Jack Torrance’s new job at the Overlook Hotel is the perfect chance for a fresh start. As the off-season caretaker at the atmospheric old hotel, he’ll have plenty of time to spend reconnecting with his family and working on his writing. But as the harsh winter weather sets in, the idyllic location feels ever more remote . . . and more sinister. And the only one to notice the strange and terrible forces gathering around the Overlook is Danny Torrance, a uniquely gifted five-year-old

    Review

    Finally I got my hands on this book. After watching the movie, I was so eager to read this book. And guess what? I successfully read a 600+ pages English book in 3 days. Now, that's a personal record.

    I could't help but compared the book and the movie. Both have its own strengths and weaknesses. The movie is more fast paced, thriller centric, with more "action" in the story. While the book is more slow, full of build up and anticipation, and of course more background story.

    There are several differences between the movie and the book. From small thing like Wendy's hair color to bigger one like the twins in the corridor (which is one of the movie's staple, but nowhere to be found at the book). I do would love to see the twins in the novel, but whatever.

    Yeah. These two girls with their "Come play with us" line.


    My favorite difference is Dick Hallorann. Well, I watched the movie first and expected him to die in the novel, but it turned out that he did not and he even became, kind of, a hero for Danny and Wendy. 

    Overall, I give 4 stars for the story and another one for the spoiler above and for how page turning this book was.

    This book is for the following reading challenge:
    - 2013 Read Big Reading Challenge

    View all my reviews

  2. The Scorch Trials (Maze Runner, #2)The Scorch Trials by James Dashner
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: The Scorch Trials
    Penulis: James Dashner
    Penerbit: Mizan Fantasi
    Halaman: 511 halaman
    Terbitan: Januari 2012

    Selama ini Thomas keliru. Ada dua Maze. Namun, berkebalikan dengan Maze yang dihuninya, Maze lain didiami oleh sekelompok anak perempuan, yang dikenal sebagai Grup B. Bahkan, Teresa yang disangkanya hilang, ternyata justru bergabung di sana. Kini Grup B menantinya dengan tugas khusus: membunuh Thomas! Namun, bukan kematian yang membuatnya jerih, melainkan pengkhianatan Teresa, gadis yang diam-diam dicintainya.

    Sementara itu, jumlah para Glader berangsur berkurang. Keadaan di luar Maze lebih mengerikan dari yang mereka duga. Bola baja yang muncul tiba-tiba dari kegelapan, badai gurun pasir yang merajam habis hingga ke tulang, hingga gerombolan Crank haus darah, semakin menciutkan hati mereka. Namun, mereka terus melangkah maju, demi menemukan jawaban dari misteri selama ini, demi menemukan jalan pulang menuju rumah dan keluarga.

    Review

    Buku kedua dalam seri The Maze Runner. Setelah Thomas dkk diselamatkan di buku pertama, kini mereka sampai di sebuah tempat yang mereka kira aman. Padahal mereka belum bisa bernapas lega. Percobaan masih terus berlangsung dan kini mereka memasuki tahap kedua.

    Latar di cerita ini berpindah dari dalam labirin ke padang gurun. Lawannya juga berubah. Dari sekumpulan Griever jadi segerombolan zombie, alam yang liar, dan para Crank.

    Ceritanya, IMO, lebih menarik dari buku pertama. Aksinya lebih seru dan kecepatan ceritanya juga lebih baik. Untuk tokoh-tokohnya... yah, saya masih belum punya tokoh yang betul-betul saya suka. Minho dan Newt sebenarnya cukup bagus, tapi porsi mereka tidak banyak di sini.

    Yang agak bikin jengkel di sini adalah jumlah pingsannya si Thomas. Ini anak doyan banget sih pingsan. Ada salah satu reviewer di GR yang menghitung jumlah pingsannya Thomas dan ternyata mencapai 29 kali di sepanjang buku O_o

    Saya juga rada bingung dengan plotnya Teresa. Tujuannya apa sih? Apa gunanya dia bawa si Thomas ini ke kamar gas? Memang ada penjelasannya kalau dia dipaksa oleh orang-orang yang menjalankan penelitian, tapi saya kurang puas dengan penjelasan itu. Semoga ada jawabannya di buku selanjutnya.

    Pertanyaan terbesar yang masih jadi tanda tanya sampai akhir buku ini adalah: apa tujuan utama seluruh penelitian ini? Dan apa maksudnya pola-pola yang sering disinggung di sepanjang buku?

    The last book better answer all these questions.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2014 Young Adult Reading Challenge
    - 2013 Read Big Reading Challenge


    View all my reviews

  3. Memang JodohMemang Jodoh by Marah Rusli
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: Memang Jodoh
    Penulis: Marah Rusli
    Penerbit: Qanita
    Halaman: 536 halaman
    Terbitan: Mei 2013

    Novel Terakhir dari Penulis Sitti Nurbaya, Marah Rusli.

    Hamli tak pernah mengira, keputusannya untuk menerima beasiswa pemerintah Belanda demi melanjutkan sekolah ditentang oleh orangtuanya. Orangtua yang justru dia harapkan akan mendukung sepenuh hati. Namun, adat Minang yang mengikat erat ternyata membelenggu cita-citanya.

    Hamli pun kemudian memutuskan untuk melanggar adat, merantau demi ilmu. Dan ketika dalam perantauan dia bertemu dengan mojang Priangan yang menawan hatinya, pilihan getir terpaksa harus diambil. Hamli rela "dibuang" oleh adat dan orangtua demi cintanya.

    Review

    Kesimpulan saya setelah membaca buku ini adalah: menikah itu rempong. Banget. Apalagi kalau hidup di Padang pada zamannya Hamli. Pada masa itu pernikahan bukanlah hak si anak, tapi adalah sebuah kewajiban dan hal ini diatur oleh para orang tua, bahkan tanpa persetujuan si anak.

    Hamli sendiri merasa gerah akan peraturan pernikahan ini. Pada saat dia telah merasa cocok dan bahkan telah menikah dengan Din Wati, si "mojang Priangan yang menawan hatinya", masih saja urusan menikah masih mengikutinya. Permasalahannya, di tempat asalnya, seorang lelaki Padang harus menikah dengan sesama orang Padang dan seorang lelaki Padang dianggap mulia apabila beristri banyak. Padahal Hamli sangat keras menolak poligami.

    Selain itu, seorang suami dianggap sebagai seorang "pendatang" yang tak punya hak apa-apa atas istri dan anak-anaknya, sehingga dia tidak punya tanggung jawab atas mereka. Apabila seorang suami meninggal, harta bendanya tidak diwariskan pada anak istrinya, tapi pada kemenakannya. Seluruh hal ini dirasa Hamli tidak masuk akal.

    Novel ini bukan hanya berkutat pada kisah cinta Hamli dan Din Wati serta terbuangnya Hamli dari keluarganya. Novel ini lebih dari itu. Novel ini memberi kita gambaran tentang adat-istiadat Padang pada zaman dulu, serta bagaimana Marah Rusli menentang adat yang dirasanya sudah tidak sesuai lagi.

    Saya rasa seluruh perasaan penulis akan masalah yang tertuang di novel ini dapat disimpulkan dengan kutipan yang berada pada halaman pertama buku ini.

    "Bagaimana aku dapat bekerja dengan baik untuk bangsa dan negara, kalau aku selalu dibisingkan dengan perkara kawin saja? Sedangkan hatiku rasanya penuh cita-cita untuk memperbaiki yang belum sempurna dan menambah yang masih kurang."


    Sebuah kutipan yang masih relevan hingga hari ini. Khususnya bagi orang-orang yang terus didesak dengan pertanyaan, "Kapan nikah?"

    Buku yang menarik dan saya rekomendasikan bagi yang suka membaca tentang budaya. Sebaiknya persiapkan diri dulu untuk membaca gaya bercerita lama di buku ini, serta gaya cerita yang Melayu banget dengan penggunaan kalimat panjang-panjang, pantun, seloka, dan peribahasa.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - Membaca Sastra Indonesia 2013
    - 2013 Read Big Reading Challenge
    - 2013 New Authors Reading Challenge
    - 2013 Serapium Reading Challenge
    - 2013 Indonesian Romance Reading Challenge


    View all my reviews

  4. The Maze RunnerThe Maze Runner by James Dashner
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: The Maze Runner (The Maze Runner, #1)
    Penulis: James Dashner
    Penerbit: Mizan Fantasi
    Halaman: 532 halaman
    Terbitan: November 2011

    Thomas terbangun tanpa ingatan apapun. Yang lebih buruk, dia terbangun di Glade, kota yang dikelilingi labirin tanpa pintu keluar dan dihuni para Griever, sekumpulan monster yang siap menghabisi siapa saja.

    Orang-orang yang keluar ke labirin harus kembali sebelum pintu-pintu Glade menutup, atau mereka harus tinggal di luar, di dalam labirin, bersama para Griever yang akan membunuh mereka.

    Namun suatu hari pintu-pintu pelindung Glade tidak menutup dan para Griever datang menghabisi para penghuni Glade satu per satu, setiap harinya.

    Pilihan mereka hanya ada 2. Keluar ke labirin, menghadapi para monster, dan mencari jalan keluar, atau tetap di Glade, menanti ajal mereka.

    Review

    Sudah sejak lama pengin baca serial ini. Sudah lama juga punya bukunya, tapi akhirnya baru di bulan November ini saya membacanya. Soalnya buku ini jadi baca bareng di grup Indonesians Who Love English Books (walau saya baca versi terjemahannya) dan juga karena dadu saya di reading game menunjuk ke buku ini.

    Saya suka dengan atmosfir yang diciptakan oleh penulisnya. Suasana murung dan mencekat dari sebuah kota yang dikelilingi labirin dan monster berhasil digambarkan dengan baik.

    Selain itu ceritanya juga berhasil dieksekusi oleh penulis dengan baik. Saya penasaran untuk terus lanjut baca. Soalnya pengin tahu ada apa sebenarnya di balik Glade dan maze-nya. Juga siapa sebenarnya Thomas dan Teresa, anak yang terakhir tiba di Glade dan satu-satunya anak perempuan di sana.

    Yang saya kurang suka? Karakternya. Serius. Thomas pas awal-awal malah bikin saya jengkel. Apalagi dengan semua perkelahian dan tensinya dengan anak-anak yang lain. Just chill for a moment. Untungnya ke belakang dia lebih mendingan.

    Secara keseluruhan, buku ini nilainya 3,4 bintang buat saya. Iya, antara 3 atau 4, tapi lebih ke arah 3 bintang. Ceritanya menarik dan akhir ceritanya bikin penasaran untuk baca buku selanjutnya. Sayangnya untuk tokohnya, tidak ada karakter yang saya betul-betul suka. Tidak satu pun.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Read Big Reading Challenge
    - 2013 New Authors Reading Challenge

    View all my reviews

  5. The Yearling: Jody dan Anak RusaThe Yearling: Jody dan Anak Rusa by Marjorie Kinnan Rawlings
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: Jody dan Anak Rusa (The Yearling)
    Penulis: Marjorie Kinnan Rawlings
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 504 halaman
    Terbitan: Maret 2011

    Jody Baxter dan keluarganya hidup di tanah pertanian mereka yang terpencil di Florida pada akhir tahun 1800-an. Sebagai anak tunggal, Jody sangat ingin mempunyai teman bermain. Ketika menemukan seekor anak rusa yatim-piatu di dalam hutan, Jody sangat ingin memeliharanya. Ayahnya setuju, meskipun anak rusa itu mesti diberi jatah makanan dan susu yang sangat berharga bagi mereka.

    Kasih sayang Jody kepada Flag, si anak rusa sangat besar, dan ketika Flag semakin dewasa, mereka menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Namun kemudian keluarga Baxter megalami masalah berat ketika ayah Jody terluka parah dan Jody mesti menggantikannya bekerja di ladang. Pada saat-saat itulah Jody mesti menghadapi kenyataan dan mengambil keputusan yang sangat berat dalam hidupnya.

    Review

    Akhirnya saya baca juga buku ini. Sudah ada di tumpukan buku yang saya beli selama beberapa bulan, tapi belum ada niat untuk membacanya selama ini. Setelah sampai di halaman terakhir, saya menyesal kenapa gak baca buku ini lebih cepat.

    Buku ini bercerita soal kehidupan keluarga Baxter di Florida pada akhir tahun 1800-an. Keluarga Baxter sendiri hanya terdiri dari 3 orang. Penny (sang ayah), Ory (sang ibu), dan Jody (anak laki-laki tunggal). Sebelum kelahiran Jody, Ma Baxter (alias Ory) sudah pernah hamil beberapa kali. Hanya saja anak yang dia kandung selalu meninggal saat lahir atau setelah beberapa bulan. Jody satu-satunya anak yang lahir cukup kuat untuk tumbuh hingga cukup besar.

    Sejak awal membaca, saya langsung jatuh cinta pada hubungan keluarga Baxter, khususnya antara Penny dan Jody. Saya suka bagaimana Penny membesarkan Jody dengan disiplin, tapi juga penuh cinta. Selain itu melihat bagaimana Penny mengajari Jody bertani dan berburu, sebagai cara keluarga Baxter bertahan hidup, juga sangat menarik untuk diikuti.

    Buat yang suka adegan alam liar, di buku ini ada banyak banget adegan semacam itu. Dari adegan burung bangau menari, anak-anak beruang bermain di atas pohon, perburuan beruang dan rubah, hingga adegan beruang berkelahi ada di sini. MKR berhasil menggambarkan adegan-adegan itu dengan baik dan indah.

    Selain itu si anak rusa yang Jody rawat, yang diberi nama Flag, juga lucu. Tingkah lakunya, khususnya saat dia masih kecil, sangat menggemaskan. Walau begitu, penulis memberikan suatu penggambaran yang saya rasa cukup realistis soal Flag. Bukan hanya lucu dan imut, tapi juga nakal dan tidak terkendali selayaknya hewan liar.

    Bagian akhir buku ini sangat menyentuh. Apalagi mengingat hubungan yang kuat antar karakternya, saya bisa mengerti perasaan Jody saat dia terpaksa membunuh Flag, karena Flag terus-terusan merusak tanaman pangan mereka. Melihat bagaimana Jody bertumbuh setelah peristiwa itu membuat saya merasa bahwa ini adalah salah satu novel coming-of-age terbaik yang pernah saya baca.

    Mengenai terjemahannya sendiri, saya salut sama penerjemahnya. Terjemahannya mengalir dan enak dibaca. Selain itu buku ini juga minim typo. Saya nemu 2. Kata 'Ora' (harusnya Ory) di hal. 161 dan kata 'timu'(harusnya timur) di hal. 349. Tepok tangan buat proof reader(s)-nya.

    Selain terjemahannya, saya juga suka sama kover novel ini. Sederhana tapi sangat cantik buat saya. Khususnya gambar Flag dengan matanya yang agak "nakal" itu.

    Buat yang suka novel tentang alam, rusa, dan bagaimana seorang anak bertumbuh, saya merekomendasikan novel "Jody dan Anak Rusa" ini.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Read Big Reading Challenge
    - 2013 New Authors Reading Challenge
    - 2013 What's in A Name Reading Challenge
    - 2013 What An Animal Reading Challenge


    View all my reviews

  6. Jejak LangkahJejak Langkah by Pramoedya Ananta Toer
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: Jejak Langkah
    Penulis: Pramoedya Ananta Toer
    Penerbit: Lentera Dipantera
    Halaman: 724 halaman
    Terbitan: 2007 (pertama terbit 1985)

    "Jejak Langkah" adalah buku ketiga dari kuartet Buru yang Pramoedya ciptakan selama pengasingannya di Pulau Buru.

    Novel ketiga ini menceritakan bagaimana Minke yang telah melakukan observasi dan yang telah tumbuh perasaan nasionalismenya (di buku 1 dan 2), perlahan mulai mengatur perlawanan terhadap cengkraman Belanda.

    Pernah dengar pepatah 'di belakang pria yang hebat terdapat seorang wanita yang hebat'? Dalam kasus Minke, ada banyak wanita hebat. Salah satu hal yang paling menonjol dari kuartet Buru adalah peranan wanita pada kesadaran Minke akan nasionalisme. Ada 5 wanita yang memicu kesadaran Minke dalam membentuk organisasi yang memulai kebangkitan penduduk pribumi.

    Yang pertama adalah Nyai Ontosoroh yang mulai menyadarkan Minke bahwa penduduk pribumi pun sebenarnya memiliki kemampuan yang sama dengan pihak Belanda. Hal ini terbukti dari kemampuan Nyai mengurus perusahaan suaminya, seorang pengusaha Belanda yang kurang mampu mengurus perusahaannya, sehingga berkembang dengan baik. Nyai Ontosoroh jugalah yang pertama membangkitkan semangat Minke untuk terus menulis.

    Yang kedua adalah Annelies, istri pertama Minke, anak dari Nyai Ontosoroh. Perceraian paksanya yang berakhir dengan kematian Annelies membuka mata Minke akan ketidakadilan yang dialami penduduk pribumi. Minke yang meruapakan anak bupati yang selalu merasakan fasilitas yang baik, akhirnya mulai sadar akan kondisi Hindia Belanda yang sebenarnya.

    Yang ketiga adalah Ang San Mei. Ang San Mei adalah tunangan dari sahabat Minke, Khouw Ah Soe. Khouw Ah Soe yang telah meninggal menitipkan surat pada Minke untuk disampaikan pada gadis itu. Sejak pertemuan pertamanya dengan Ang, Minke sudah jatuh hati padanya. Bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena kecerdasan gadis itu.

    Lewat Ang inilah untuk pertama kalinya Minke mulai awas tentang 'organisasi'. Ang yang tergabung dalam sebuah organisasi pemuda Tionghoa memberi Minke sebuah titik awal untuk memulai organisasi pribumi. Hal ini tumbuh semakin kuat setelah dia menghadiri kuliah umum seorang dokter Jawa yang menyadarkan Minke betapa tertinggalnya penduduk pribumi dari penduduk Tionghoa dan Arab di Hindia. Kedua bangsa itu telah memulai organisasinya sendiri untuk meningkatkan kualitas hidup golongannya, sementara penduduk pribumi belum ada yang berani untuk mencetuskannya.

    Yang keempat adalah ibu Minke sendiri. Seorang wanita Jawa tulen yang bahkan berani melawan suaminya, yang merupakan hal yang sangat berani mengingat kondisi patriarkal pada zaman itu, untuk bertemu dengan anaknya. Rasa cintanya pada sang anak membuatnya mampu memberi restu pada Minke untuk mempersunting Ang San Mei, sekaligus menguatkan hati Minke untuk menjadi 'dalang yang benar'.

    "Tapi ada kekuatan besar penelan kebajikan tapi enggan terbagi." (Minke)
    "Guru-guru nenek-moyangmu juga sudah tahu itu, Nak. Mereka menamainya buto. [...] Dan mereka tidak pernah menang melawan para satria nenek-moyangmu."
    "Sekarang ini mereka terus-menerus menang."
    "Itu di tangan yang salah."
    "Bunda, sahaya akan jadi dalang yang tidak salah itu." (hal. 85)

    Yang kelima adalah Prinses van Kasiruta, istri ketiga Minke. Prinses membantu Minke menjalankan 'Medan', koran pribumi pertama yang Minke dirikan. Berbeda dengan kedua istri pertamanya, Prinses adalah sosok wanita yang lebih keras secara fisik. Dia bahkan berani membalas dendam pada orang-orang yang telah mengeroyok Minke, karena tidak suka pada pemberitaan di 'Medan', dengan cara menembak orang tersebut.

    Usaha pertama Minke dalam mendirikan organisasi tidak berjalan mulus. Organisasi perdananya, 'Syarikat Priyayi', terpaksa mati suri karena kasus penyalahgunaan uang oleh pengurusnya.

    Minke tidak berlama-lama dalam kekecewaannya. Dia segera bangkit lagi dan mendirikan koran 'Medan Priyayi' yang menjadi koran pribumi pertama. Dengan bantuan Nyai Ontosoroh, yang kini telah menikah dengan Marais dan pindah ke Perancis, Minke memperoleh bantuan tenaga hukum untuk korannya.

    Kedatangan Hendrik Frischboten, tenaga hukum yang dikirimkan oleh Nyai Ontosoroh, dan istrinya Mir, yang merupakan sahabat lama Minke, memulai babak baru dalam hidup Minke.

    Dengan bantuan Hendrik, 'Medan' menjadi tempat penyuluhan masalah hukum oleh penduduk pribumi dan berhasil menjadi salah satu koran dengan oplah terbesar.

    Selain mengurus 'Medan', Minke juga mengurus berdirinya suatu organisasi baru yang menggantikan 'Syarikat Priyayi'. Kali ini Minke mendirikan 'Syarikat Dagang Islamiah'. Belajar dari kesalahannya dulu, Minke tidak mau organisasinya terdiri hanya dari para priyayi yang bersikap pasif. Selain itu Minke yang sadar akan pentingnya perdagangan bagi ekonomi suatu bangsa, memutuskan untuk membentuk sebuah syarikat dagang.

    Idenya ini sendiri sebenarnya ditentang oleh Douwager, seorang jurnalis Belanda yang menggiatkan kesadaran akan arti nasionalisme. Douwager mengkritik penggunaan kata 'Islamiah' karena menurutnya hal itu merujuk pada eksklusivitas agama tertentu. Walau begitu, Minke tetap pada pendiriannya karena dia punya pertimbangan lain.

    "Tapi nasionalisme tak bisa berlandaskan agama. Agama itu universal, buat setiap orang. Nasionalisme untuk bangsa sendiri, garis terhadap bangsa-bangsa lain." (Douwager)

    "Landasan itu tidak bisa jadi dengan sendirinya. Semua yang serbacita digalangkan landasannya dulu. Apa salahnya jika begitu banyak orang yang setuju? Kan itu juga pendidikan ke arah demokrasi? [...]" (Minke)

    "Tetapi bukankah Tuan masih tetap sependapat denganku, bahwa pikiranku tidak keliru?"

    "Tetap, Tuan, hanya waktunya belum tepat." (hal. 539-540)

    Dalam perjalanannya Minke mengalami banyak tantangan. Oplah 'Medan' yang mulai turun karena kemunculan koran 'Sin Po', kehadiran orang-orang yang membenci dan bahkan melukainya, perpecahan dalam tubuh SDI, bahkan hingga rasa ragunya karena dia tidak kunjung punya anak.

    Satu hal yang menarik di buku ini adalah pergulatan Minke di luar koran dan organisasinya. Pergulatannya akan hubungan gelapnya, kalau tidak mau dibilang perzinahannya, dengan Mir Frischboten.

    Mir yang juga merupakan sahabat lama Minke ternyata tidak bahagia dengan pernikahannya. Suaminya, Hendrik, memiliki masalah seksual yang membuat mereka tidak bisa dikaruniai anak. Hal ini membuat Mir 'memaksa' Minke untuk menjalin hubungan dengannya.

    Hal ini menarik, karena menunjukkan suatu kelemahan Minke yang membuatnya tampak manusiawi. Tentunya Minke salah dalam hal ini, apalagi mengingat dia sudah menikah dengan Prinses saat itu, tapi tetap memberikan sentuhan tersendiri pada cerita.

    Lalu bagimana Minke akan mengatasi semua tantangan yang dia hadapi? Bagaimana dengan hubungan gelapnya bersama Mir? Semua jawabannya bisa diperoleh dalam novel Jejak Langkah ini.

    Jadi, secara keseluruhan...

    Saya benar-benar suka novel ini. Jumlah halamannya memang jauh lebih tebal daripada Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, tapi saya sangat menikmatinya. Membaca buku setebal ini sama sekali tidak membuat saya capek. Justru saya ingin terus membacanya dan ketika harus berhenti untuk istirahat atau kegiatan lain, saya merasa harus berpisah dengan seorang kerabat yang begitu dekat dan tidak sabar menantikan perjumpaan berikutnya. Terdengar lebay? Percayalah, memang tepat seperti itulah yang saya rasakan.

    Sayangnya masih ada typo bersebaran di buku ini. Semisal kata 'tuna-tuan' di hal. 39, typo 'perkawa' di hal. 374, dan typo 'kelom-pok' di hal. 395. Masih ada beberapa lagi sih, hanya saja tidak saya catat.

    Siapa sebenarnya Minke?

    Minke adalah tokoh yang berdasarkan seseorang pada dunia nyata. Minke yang dalam tulisannya dikenal dengan inisial TAS merujuk pada Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional (dikukuhkan oleh pemerintah pada 1973) dan seorang Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres RI no 85/TK/2006.

    Kesamaan antara tokoh Minke dan Tirto Adhi Soerjo bisa dilihat dari koran dan organisasi yang mereka dirikan. Sama seperti Minke, TAS juga mendirikan koran bernama Medan Prijaji pada 1907 dan organisasi Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia pada tahun 1909.


    Halaman depan Medan Prijaji, 2 April 1910

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Membaca Sastra Indonesia
    - 2013 Read Big Reading Challenge
    - 2013 Serapium Reading Challenge
    - 2013 Indonesian Romance Reading Challenge
    - 2013 Finishing the Series Reading Challenge


    View all my reviews


  7. The Return of the King (Kembalinya Sang Raja)The Return of the King by J.R.R. Tolkien
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: The Return of the King (Lord of the Rings, #3)
    Penulis: J.R.R. Tolkien
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 520 halaman
    Terbitan: Desember 2003

    Dalam pertempuran terakhir melawan pasukan raja kegelapan, korban-korban kembali berjatuhan. Gondor dikepung. Denethor kehilangan akal sehatnya. Bantuan dari Rohan terhambat oleh pertempuran di padang Pelennor. Theoden gugur dan Eomer mengambil alih kepemimpinan. Saat harapan hampir padam, datanglah rombongan kaum Dunedain yang dipimpin Aragorn, Gondor, Rohan, dan kaum Dunedain bersatu menggempur pasukan Mordor. Namun masih ada perjalanan menuju jantungnya Mordor, sebab cincin itu belum dimusnahkan. Cincin itu kini berada di tangan Gollum, yang sangat menginginkannya untuk dirinya sendiri.

    Review

    Woah, selesai juga petualangan saya bersama Frodo, Sam, Gandalf, dkk di Dunia Tengah. Secara keseluruhan, LOTR adalah satu perjalanan yang menyenangkan.

    Berbeda dengan 2 buku sebelumnya yang punya beberapa momen bikin ngantuk, buku ketiga ini jauh lebih menarik dan bikin saya pengin baca terus. Terbukti buku bantal satu ini bisa selesai dalam 1 hari.

    Saya suka dengan akhir ceritanya. Saya suka bagaimana setelah pertarungan selesai dan cincin dimusnahkan, cerita tidak langsung berakhir dengan semua orang bahagia. Cerita justru berlanjut dengan kisah keempat hobbit, Frodo, Sam, Merry, dan Pippin membersihkan Shire dari pengaruh Saruman. Adegan favorit di buku ini? Sama dengan adegan di filmnya (yang saya nonton terpotong-potong waktu diputar di TV), saya suka bagian Gollum jatuh sambil membawa cincin. Somehow saya merasa sedih padanya. Bagaimanapun menyebalkannya makhluk satu itu, tetap saja hidupnya menyedihkan sekali. Setidaknya dia mati sambil membawa "my precious".

    Masuk ke bagian Apendiks, saya cuma bisa menganga. Ajegile, lengkap amat. Dari sejarah dunia sampai silsilah keluarga, sampai ke sistem kalender dan bahasa, semuanya ada dibahas. Bahkan ke cara pengucapan bunyi-bunyi tertentu pun ada. Luar biasa.

    Ya, secara keseluruhan nilai serial LOTR ini, bagi saya, adalah: (3+3+5)/3= 11/3 = 3,67. Dibulatkan ke atas jadi 4 bintang.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Read Big Reading Challenge
    - 2013 Fantasy Reading Challenge
    - 2013 Finishing the Series Reading Challenge


    View all my reviews


  8. The Fellowship of the Ring (The Lord of the Rings, #1) The Fellowship of the Ring (The Lord of the Rings, #1) by J.R.R. Tolkien
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: The Fellowship of the Ring (Lord of the Ring, #1)
    Penulis: J. R. R. Tolkien
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 501 halaman
    Terbit: 2002

    Di sebuah desa yang tenang di Shire, seorang hobbit muda bernama Frodo Baggins mendapat warisan cincin bertuah yang menyimpan kekuatan dahsyat. Agar cincin utama itu tidak jatuh ke tangan Sauron yang jahat, Frodo mesti mengadakan perjalanan panjang dan penuh bahaya ke gunung api di Mordor, untuk memusnahkan cincin tersebut. Bersama kedelapan sahabatnya, ia berangkat. Dipimpin oleh Gandalf sang penyihir, kesembilan pembawa cincin itu memulai perjalanan. Tapi Sauron dan para anak buahnya tidak tinggal diam.

    Review
    Akhirnya saya baca juga novel pertama dari trilogi Lord of the Ring ini. Salah satu buku fantasi paling dikenal, tapi yang belum saya baca. Padahal ngakunya pecinta novel fantasi.

    Buku pertama ini ternyata merupakan gabungan dari dua "buku". Saya kurang tahu apa dulunya, saat pertama terbit, memang diterbitkan sebagai dua buku atau bagaimana. Buku pertama di sini menceritakan kehidupan Frodo di Shire. Saat dia pertama kali memperoleh cincin itu dari Bilbo, hingga pada awal perjalanannya ditemani 3 orang temannya: Sam, Merry, dan Pippin. Di bagian ini juga ada semacam "rekap" dari novel "The Hobit".

    Jujur buat saya bagian pertama ini terasa membosankan. Saya ngantuk banget pas baca. Apalagi di bagian rekap "The Hobbit"-nya. Walau saya belum baca novelnya, tapi ringkasannya bikin ngantuk. Keseluruhan perjalanan awalnya Frodo juga kurang begitu menarik.

    Untungnya masuk di bagian dua ceritanya jadi lebih menarik. Terbukti saya hanya butuh 1,5 hari untuk menyelesaikan bagian kedua, padahal saya butuh 4 hari lebih untuk menyelesaikan bagian pertama (walau yah, ada unsur sibuknya juga sih).

    Sampai akhir, ceritanya menarik. Saya suka dengan Gandalf. Dia bukan tipikal penyihir tua yang bijak. Terbukti dari sikapnya yang kadang bisa sarkastis (seperti waktu dia bilang akan memakai kepala Pippin untuk membuka gerbang).

    Saya yakin buku kedua akan lebih menarik dari buku pertama ini. Pasti konfliknya akan lebih tajam di sana sih. Apa di sana sudah akan ada Gollum yah? (iya, saya belum nonton filmnya juga).

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Read Big Reading Challenge
    - 2013 New Authors Reading Challenge
    - 2013 Fantasy Reading Challenge
    - 2013 Finsihing the Series Reading Challenge


    View all my reviews


  9. Orang-Orang Mati - Every Dead Thing (Charlie Parker, #1)Orang-Orang Mati - Every Dead Thing by John Connolly
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Orang-Orang Mati (Every Dead Thing)
    Penulis: John Connolly
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 544 halaman
    Terbitan: Oktober 2011

    Mantan detektif NYPD, Charlie Parker senantiasa dihantui rasa bersalah atas peristiwa pembantaian istri dan anak perempuannya yang belum terpecahkan. Jiwanya yang tersiksa dipenuhi penyesalan dan hasrat membalas dendam. Tetapi ketika mantan-rekannya meminta bantuan untuk melacak seorang gadis yang hilang, Parker pun dibawa ke jantungnya suatu kejahatan terorganisir; kepada seorang perempuan yang tinggal di tepi rawa-rawa Louisiana dan bisa mendengar suara orang-orang mati; serta kepada seorang pembunuh berantai yang hanya dikenal dengan julukan si Pengembara.

    Review

    Saya menutup novel ini dengan satu kesimpulan. Novel fiksi kriminal itu berat. Bukan hanya karena ketebalannya, tapi juga dari sisi jumlah karakter, alur, dan kriminalitas yang disajikan.

    Charlie Parker, tokoh utama novel ini, adalah seorang mantan detektif NYPD yang istri dan anaknya dibunuh dengan cara yang kejam. Seorang wanita tua dengan kemampuan cenayang memberitahu Parker bahwa yang membunuh istri dan anaknya adalah si Pengembara, seorang pembunuh berantai yang membuat replika seni dari orang-orang yang dibunuhnya.

    Secara karakter sebenarnya Charlie tipikal tokoh polisi di serial TV barat. Duda, punya masa lalu yang gelap, dan sarkastis. Hanya saja kisah pembantaian istri dan anaknya diolah dengan baik, sehingga mampu menimbulkan efek emosional pada Charlie yang membuat pembaca mampu bersimpati padanya.

    Tokoh yang tidak biasa justru datang dari teman-teman Charlie, seperti Angel dan Louis. Angel adalah seorang pencuri, sementara Louis seorang pembunuh. Yang menarik adalah fakta bahwa mereka pasangan gay. Jarang-jarang kan kita bertemu dengan pasangan yang tidak biasa seperti ini.

    John Connoly tampaknya melakukan riset yang mendalam dengan baik. Mengingat bahwa penulis bukanlah orang dari dunia kepolisian, John Connoly mampu menampilkan sistem penyelidikan dan struktur dalam kepolisian dengan baik. Selain itu pengetahuan tentang senjata dan sistem organisasi kejahatan dan intrik-intrik yang ditampilkan juga menarik.

    Keluhan saya datang dari beberapa bagian yang terkesan tiba-tiba. Misalnya di bagian awal novel, Charlie sedang mencari seorang wanita atas permintaan seorang klien. Dia awalnya kesulitan dan mengikuti berbagai jenis petunjuk, lalu tiba-tiba di awal bab yang baru, dia tiba-tiba sudah sampai di sebuah rumah yang memainkan peranan penting dalam pencarian gadis itu.

    Secara keseluruhan ini adalah sebuah novel yang menarik. Saya suka dengan beberapa twist yang ada. Hanya saja mungkin novel ini terlalu sulit untuk orang yang kurang terbiasa dengan cerita kriminal macam begini. Ada banyak sekali nama dan sulit untuk mengingatnya satu per satu. Selain itu ceritanya juga bukan hanya soal pengejaran si Pengembara, tapi memiliki beberapa plot yang saling berhubungan dan mungkin terasa panjang serta membingungkan. Selain itu beberapa adegan juga mungkin terasa grafis dan agak memualkan. Apaagi ada banyak darah dan organ dalam, serta beberapa kematian yang mampu membuat mual di sini.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Read Big Reading Challenge
    - 2013 New Authors Reading Challenge
    - 2013 Serapium Reading Challenge

    View all my reviews

  10. Para Pengendali Naga: Nyanyian Perang di Tanah NagaPara Pengendali Naga: Nyanyian Perang di Tanah Naga by Dhia Citrahayi
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Para Pengendali Naga: Nyanyian Perang di Tanah Naga
    Penulis: Dhia Citrahayi
    Penerbit: leutikaprio
    Halaman: 638 halaman
    Terbitan: April 2013

    Suatu hari tiba-tiba saja seorang Dhia Citrahayi ngepost di forum Kastil Fantasi.

    "Eh, gue ada buku ini 2 biji di rumah loh. Yang mau pm gue yah."

    Bahasanya enggak gitu sih, tapi intinya begitulah. Melihat kesempatan untuk memperoleh buku gratisan buku yang memang masuk daftar "to-read" saya, saya pun mengirim pesan ke ybs. Setelah beberapa pertukaran pesan, akhirnya dikirimlah buku ini ke saya.

    Butuh waktu sekitar satu bulan sebelum saya memutuskan untuk mulai membaca buku ini. Dua alasan: satu, bukunya tebel banget. Dua, saya masih tobat sama buku fantasi indie yang keluar hampir bersamaan dengan buku ini. Iya, yang nomor 2 itu harusnya gak ada relevansinya, cuma saya jadi merasa buku ini dan buku itu semacam kembar, jadi yah...

    Para Pengendali Naga (PPN, kok jadi pajak yah kalau disingkat?) mengambil kisah di sebuah kerajaan bernama Avriedhas. Di kerajaan ini terdapat orang-orang yang disebut Pengendali Naga. Sesuai dengan namanya, orang-orang ini memiliki kemampuan untuk memanggil naga sebagai partner mereka.

    Ada 6 daerah yang dibagi sesuai mata angin dalam kerajaan ini. Timur, Barat, Tenggara, Utara, Barat Daya, dan Selatan Masing-masing daerah itu dipimpin oleh seorang Tetua Naga. Selain berfungsi sebagai pemimpin daerahnya, para Tetua Naga ini juga menjadi semacam simbol perjanjian antara sang naga dengan raja.

    Konflik cerita ada pada Azel, raja Avriedhas saat ini. Ingin melepaskan diri dari perjanjian dengan sang naga, Azel menekan para Tetua Naga dan merebut satu per satu kalung naga mereka.

    Sedikit komentar soal perjanjian ini. Jujur sampai buku ini selesai saya agak kurang ngeh isi perjanjiannya sebenarnya apa. Intinya sih, si naga dulu memberikan tanahnya pada manusia untuk diusahakan. Lalu para manusia juga (tidak semua tampaknya) dapat mengikat perjanjian dengan naga lainnya. Masing-masing dengan satu naga yang menjadi semacam "jiwa" mereka. Kenapa saya bilang jiwa? Soalnya sistemnya begini: kalau naganya mati, orangnya mati. Kalau orangnya mati, naganya hanya kembali jadi kristal, menunggu hingga dia dipanggil orang selanjutnya. Selain itu si naga ini juga terhubung secara emosi dengan manusianya.

    Harus ada pengorbanan anak gadis perawan tiap malam purnama? Nope.
    Harus kasih sajen pada si naga tiap setahun sekali? Nope.
    Harus melakukan penyembahan pada si naga? Nope.

    Enggak ada hal aneh yang harus manusia lakukan. Cuma si raja ini kemudian "memberontak" dari si naga dengan alasan "tidak ingin mengikuti perjanjian yang dibuat bahkan sebelum dia lahir".

    Ketidakjelasan motif dan arah cerita di awal sebenarnya bikin saya sempat berhenti dan pindah ke buku Ai-nya Winna Efendi.

    Tokoh utama di PPN ini adalah Siyan, seorang gadis remaja yang pindah ke Avriedhas dan tinggal di rumah Ian, "pamannya" yang juga seorang jenderal kerajaan. Di awal cerita kebanyakan dia hanya pergi ke akademi, flash back ke pembantaian keluarganya, berinteraksi dengan Flyker, naganya. Dan ini sempat bikin saya bingung. Ini ceritanya mau dibawa ke mana? Baru agak di pertengahan saat dibilang bahwa Siyan ini adalah Tetua Naga provinsi Timur, baru saya ngeh jalur ceritanya.

    Jadi si Siyan ini adalah salah satu anak yang selamat saat penyerangan kerajaan ke provinsinya dulu. Dia kemudian dipilih oleh kalung naga tetua sebelumnya sebagai tetua yang baru. Karena dendam dan lelah karena ditekan terus-terusan oleh pihak kerajaan, dia pun, dengan bantuan pamannya yang dulunya bersahabat dengan Ian, pindah ke ibukota dan mempersiapkan jalan untuk pemberontakan.

    Level pemberontakan di sini bukan skala besar yang gimana sih. Lebih ke arah sistem gerilya. Serangan kecil-kecilan di dalam kota dengan bantuan teman-temannya dari provinsi Timur. Hingga akhirnya terjadi puncak cerita pada pesta perpisahan putri raja yang akan berangkat ke kerajaan tetangga untuk menjadi istri calon raja di sana.  

    Jadi...

    Karakter? Ada terlalu banyak nama. Saya bisa mengerti sih soalnya ini melibatkan satu kerajaan dan konflik dalam skala besar, sehingga masuk akal kalau memang ada banyak nama. Hanya saja kadang nama yang belum tentu bakal muncul lagi pun ditulis dan ini agak mengganggu.

    Saya cukup suka dengan Siyan. Minimal dia bukan tipe cewek utama dalam serial fantasi belakangan ini yang galau, "Duh gue sama si cowok kece A atau sama si B yang body-nya oke punya yah?", padahal saat itu dunia sedang terancam bahaya. Dia memang fokus ke apa yang harus dia lakukan dan menyelesaikannya. Ada romansnya? Ada, tapi kadarnya masih dikit banget. Cuma mungkin karakter-karakter pria yang potensial sebagai tokoh utama di buku selanjutnya, semacam Xiehst atau Alant belum terlalu menonjol di sini.

    Plot? Saya masih agak bingung dengan perjanjian naga sebenarnya. Soalnya hal ini menjadi motif si raja yang memicu perang saudara dalam kerajaannya sendiri. Jelas tujuannya, bagi saya, bukan karena dia "haus kekuasaan" (rasanya ada bagian yang memaksudkan hal ini secara subtil, tapi mungkin saja saya salah tangkap). Kalau memang haus kekuasaan harusnya dia mengekspansi ke daerah lain dong. Ya kan? Ataukah sebenarnya sudah disebutkan tapi saya kemudian kelewat ya? Butuh konfirmasi pengarang tampaknya.

    Penulisan? Sudah bagus. Gaya penceritaannya sudah baik. Typo? Bersih buat saya. Dalam artian saya gak ingat di bagian mana ada typo. Mungkin ada, tapi yang jelas jumlahnya tidak banyak. Yes, I'm looking at you, "twin brother". Selain itu pembagian babnya juga manusiawi untuk buku sepanjang ini.

    Saran buat penulis, lebih baik efek suaranya dihilangkan saja. Perlukah untuk menuliskan efek suara sesering itu?
    Suara pintu terbuka: "CKLEK... KRIEET..."
    Suara kuda: "BLAK... BLAK..."
    Suara pedang beradu: "TRANG"
    Suara angin bertiup: "WHUUSH..."
    Sesuatu direnggut: "GYUT..."
    dan masih banyak lagi.

    Satu-dua kali mungkin tidak apa-apa, tapi kalau jumlahnya sudah seperti di sini, sangat mengganggu.

    Selain itu saya kadang merasa settingnya agak tercampur-campur. Seperti nama misalnya. Di provinsi Timur ada orang dengan nama Siyan (kesannya nama Cina), lalu ada yang namanya Belle (barat) dan Chissa (insting pertama saya Jepang). Juga ada nama Dharma dan Dhie (Indonesia, yang terakhir mirip nama pengarang :D).

    Nama campur-campur? Okelah. Lagian nama-nama dari provinsi lain juga tidak ditunjukkan (kecuali Barat Daya). Jadi mungkin saja nama-nama itu sebenarnya wajar di provinsi lain. Yang paling keren sih ada tempe di provinsi Timur dan pada satu adegan Siyan sungkem ("mencium punggung tangan", tapi tidak masuk akal kalau mencium punggung tangan seperti seorang pria mencium punggung tangan seorang wanita kan) pada bibinya (hal. 455). O...ke. Dua hal ini yang paling bikin kening saya berkerut. Rasanya gak nyambung aja sama seluruh setting yang ada. Apalagi untuk budaya sungkem ini hanya muncul di satu adegan itu saja. Perasaan sebelum-sebelumnya gak ada deh. Buktinya waktu Siyan pertama kali bertemu Ian dia cuma membungkukkan badan tuh. Gak ada acara sungkem.

    Ending? Gantung banget. Saya sudah dapat firasat di halaman 500-an sih. Soalnya sisa 100 halaman lebih sedikit dan konfliknya belum terselesaikan. Pada akhirnya masih ada beberapa bagian yang belum jelas. Khususnya yang menyangkut soal Raja Azel. Jelas buku ini direncanakan untuk memiliki sekuel. Untungnya plot utama di buku ini sudah selesai sehingga, secara plot, tidak berakhir menggantung.

    Kesimpulan? Seperti arti 3 bintang di Goodreads, I like it. Buat saya cara penuturan pengarang sudah baik di sini. Karakternya juga likeable. Saya suka Siyan dan saya menunggu Alant akan menjadi seperti apa di sekuel buku ini. Saya juga cukup suka dengan adegan pertarungan di sini (walau adegan padang rumput jadi padang es lalu "padang air" rasanya agak... oh well). Secara keseluruhan buku ini bagus kok.

    Buat yang mau mesan bukunya bisa cek di sini (ongkirnya gratis kalau saya lihat halaman ini). Atau tanya ke pengarangnya langsung tentu saja.

    Terima kasih untuk Dhia yang sudah memberikan buku ini secara gratis untuk saya. Kalau diperbolehkan sih bukunya mau saya jadikan giveaway, tapi tunggu izin pengarang dulu deh (buku pemberian sih).

    Buku ini untuk tantangan baca:
    2013 Read Big Reading Challenge
    - 2013 New Authors Reading Challenge

    View all my reviews

  11. The Casual Vacancy (Perebutan Kursi Kosong)The Casual Vacancy by J.K. Rowling
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: The Casual Vacancy
    Penulis: J. K. Rowling
    Penerbit: Qanita
    Halaman: 593 halaman
    Terbitan: November 2012

    Ketika Barry Fairbrother meninggal di usianya yang baru awal empat puluhan, penduduk kota Pagford sangat terkejut.

    Dari luar, Pagford terlihat seperti kota kecil yang damai khas Inggris, dengan Alun-alun, jalanan berbatu, dan biara kuno. Tetapi, di balik wajah nan indah itu, tersembunyi perang yang berkecamuk.

    Si kaya melawan si miskin, remaja melawan orangtua, istri melawan suami, guru melawan murid... Pagford tak seindah yang dilihat dari luar.

    Dan kursi kosong yang ditinggalkan Barry di jajaran Dewan Kota menjadi pemicu perang terdahsyat yang pernah terjadi di kota kecil itu. Siapakah yang akan menang dalam pemilihan anggota dewan yang dikotori oleh nafsu, penipuan, dan pengungkapan rahasia-rahasia tak terduga ini?

    Review

    Akhirnya saya menyelesaikan buku ini. Lebih tepatnya sih: akhirnya saya baca juga. Sudah punya bukunya dari tahun lalu (saya sampai pre-order), tapi baru ada niat untuk menyentuhnya sekarang. Dan saya sangat menyesal. Kenapa tidak dari dulu saya membacanya?

    Hal paling utama yang membuat saya ingin membaca buku ini sih karena penulisna adalah J.K. Rowling. Saya penggemar berat serial HarPot dan saat tahu bahwa Rowling menulis sebuah buku untuk "dewasa", saya langsung tertarik.

    Setelah membaca buku ini, saya merasakan satu hal yang sama dengan HP, yaitu kemampuan buku ini untuk membuat saya ingin cepat-cepat membacanya hingga akhir. Membuat saya bangun hingga larut malam untuk mengetahui apa lagi yang akan terjadi. Rowling sekali lagi menunjukkan keahliannya dalam membangun karakter di sini. Saya suka dan tidak suka dengan karakter-karakter yang ada dan semuanya dalam artian yang baik. Maksudnya, saya tidak suka suatu karakter karena sifat dan pandangannya, yang memang dibuat begitu oleh Rowling, dan bukan karena hal-hal teknis pembuatan karakternya itu sendiri.

    Untuk konfliknya sendiri, saya sebenarnya tidak terlalu peduli soal perebutan kursi kosongnya. Saya lebih tertarik untuk melihat drama yang terjadi pada tiap-tiap keluarga, baik yang terlibat langsung dalam perebutan jabatan itu, maupun yang tidak. Konfliknya menarik dan bikin penasaran.

    Saya juga suka dengan terjemahan Tim Qanita. Mengalir dan enak dibaca. Typo juga minim. Yang bisa kuingat hanya ada sekali lupa spasi. Itu doang.

    Kesimpulan akhir: ini sebuah buku yang menarik, yang menunjukkan drama dalam beberapa rumah tangga. Drama yang bercabang-cabang dan terkadang saling berkaitan satu sama lain. Kalau kamu mencari sebuah kisah layaknya HarPot, lebih baik jangan baca buku ini. Rowling memang tidak "menulis" Harry Potter di sini. Kalau yang kamu cari adalah sebuah drama kehidupan dan sebuah buku yang "besar" (dengan banyak karakter dan konflik), buku ini untukmu.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Read Big Reading Challenge


    View all my reviews

  12. Saya nekat lagi gabung di reading challenge XD



    Kali ini hostnya adalah ngidambuku.blogspot. Sesuai judulnya, tujuan tantangan baca ini adalah membaca dan mengulas buku-buku yang tebalnya di atas 500 halaman. Sesuatu kan?

    Rada telat sih gabungnya, soalnya baru tahu kalau ada reading challenge ini. Lumayan, jadi motivator untuk membaca beberapa buku tebal yang saya punya :D

    Info lebih lengkap dan pendaftaran bisa cek di blog hostnya.

    Daftar buku saya di bawah ini. Kalau ada tautannya, berarti buku sudah selesai dibaca dan tautannya akan membawa kamu ke review bukunya. Kali ini saya langsung ambil yang kelas berat, alias membaca >8 buku *nekat


    1. Air untuk Gajah - Sara Gruen (512 halaman)
    2. The Casual Vacancy (Perebutan Kursi Kosong) - J. K. Rowling (593 halaman)
    3. Para Pengendali Naga - Dhia Citrahayi (638 halaman)
    4. Every Dead Thing - John Connolly (544 halaman)
    5. The Fellowship of the Ring (Lord of the Rings, #1) - J. R. R. Tolkien (501 halaman)
    6. The Return of the King (Lord of the Rings, #3) - J.R.R. Tolkien (520 halaman)
    7. Jejak Langkah - Pramoeya Ananta Toer (724 halaman)
    8. Jody dan Anak Rusa (The Yearling) - Marjorie Kinnan Rawlings (504 halaman)
    9. The Maze Runner - James Dashner (532 halaman)
    10. Memang Jodoh - Marah Rusli (536 halaman)
    11. The Scorch Trials - James Dashner (511 halaman)
    12. The Shining - Stephen King (659 halaman)
    13. Cloud Atlas - David Mitchell (514 halaman) 
    Masih ada lagi sih (tentunya), tapi sementara ini aja dulu kali yah.