Rss Feed
    Showing posts with label Khatulistiwa Literary Award. Show all posts
    Showing posts with label Khatulistiwa Literary Award. Show all posts
  1. Pada 5 September 2016, lewat Facebook-nya, Richard Oh, salah satu pencipta penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, mengumumkan 10 besar calon pemenangnya dalam dua kategori.


  2. Kusala Sastra Khatulistiwa (yang dulu bernama Khatulistiwa Literary Award) adalah penghargaan di bidang sastra Indonesia yang digagas oeh Richard Oh dan Takeshi Ichiki.

    "Sejak awal pendirian, Kusala Sastra Khatulistiwa dirancang sebagai sebuah anugerah sastra dari komunitas sastra untuk para penulis. Oleh karena itu, berbagai format penyeleksian dan penentuan dikembangkan agar Kusala Sastra Khatulistiwa tetap bertahan sebagai sebuah anugerah yang mencerminkan kehendak kebanyakan orang dalam komunitas sastra." (dari situs http://www.kusalasastrakhatulistiwa.com/tentang/)

    Yup, sudah waktunya kita menyambut 5 besar KSK 2015. Ada dua kategori pada tahun ini. Kategori Prosa dan Kategori Puisi. Tahun ini, entah kenapa, sangat sulit mendapatkan informasi tentang nominasi penghargaan ini. Untungnya ada utas di Goodreads yang membahas ini.

    Lima Besar Kusala Sastra Khatulistiwa ke 15:

  3. Kusala Sastra Khatulistiwa 2014 (alias Khatulistiwa Literary Award 2014) telah usai. Ini dia kedua pemenang untuk tahun ini:

    Kategori Prosa

    Semua Untuk Hindia - Iksaka Banu


    Dari Goodreads:

    Tiga belas cerita pendek merentang dari masa prakedatangan Cornelis de Houtman hingga awal Indonesia merdeka. Masing-masing menggoda kita untuk berimajinasi tentang sejarah Indonesia dari sudut pandang yang khas: mantan tentara yang dibujuk membunuh suami kekasih gelapnya; perwira yang dipaksa menembak Von Imhoff; wartawan yang menyaksikan Perang Puputan; inspektur Indo yang berusaha menangkap hantu pencuri beras; administratur perkebunan tembakau Deli yang harus mengusir gundik menjelang kedatangan istri Eropanya; nyai yang begitu disayang sang suami tetapi berselingkuh.

    Iksaka Banu ‘'peniup ruh' ’ yang jitu dalam menghidupkan masa lalu. Di tangannya, kisah berlatar sejarah tersingkap apik, rinci, dan dramatik.——Kurnia Effendi, cerpenis dan sastrawan senior

    Cerita-cerita dalam kumpulan ini membawa kita kepada era kolonialisme yang jarang digali oleh penulis Indonesia modern. Dengan riset yang serius dan teliti, Iksaka Banu mengisahkan tentang cinta, keintiman, kemesraan sekaligus pengkhianatan dan kekejian di antara tokoh-tokoh pribumi dan Belanda.——Leila S. Chudori, Peraih Khatulistiwa Literary Award 2013 

    Kategori Puisi:

    Saiban - Oka Rusmini


    Selamat bagi kedua pemenang! Semoga karyanya juga dapat diterima oleh masyarakat luas. Semoga dalam waktu dekat saya bisa baca kedua buku ini :D

  4. Bandar: Keluarga, Darah, dan Dosa yang DiwariskanBandar: Keluarga, Darah, dan Dosa yang Diwariskan by Zaky Yamani
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Bandar: Keluarga, Darah, dan Dosa yang Diwariskan
    Penulis: Zaky Yamani
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 304 halaman
    Terbitan: Mei 2014

    Blurb

    Hidup adalah serangkaian persimpangan. Setiap keputusan yang kau ambil membawamu ke situasi berikutnya. Suka atau tidak, itulah yang kaudapatkan. Lalu kehidupan pun berlanjut, dan kau dibenturkan pada persimpangan baru.

    Dewi tak pernah menyangka hidupnya sebagai perempuan kerap ditentukan kehendak banyak laki-laki, entah bapaknya, orang yang merenggut kegadisannya, bahkan suami-suami yang dia nikahi. Ketika tiba saatnya dia yang memegang kendali, giliran anak-anaknya yang akhirnya terjerumus ke lubang hitam.

    Parlan, cucu Dewi, berharap memiliki kehidupan selain kehidupan yang dikenal keluarganya turun-temurun selama ini: sebagai bandar ganja. Tapi dia pun akhirnya dihadapkan pada persimpangan celaka itu: menjadi ahli waris bisnis keluarganya kendati hati kelesah, atau meninggalkan kerajaan yang sudah melewati sejarah panjang air mata dan darah.

    Sinopsis

    "Bandar" bercerita tentang Dewi, seorang gadis remaja yang akan dikawinpaksakan oleh ayahnya sendiri. Walau masih muda, Dewi banyak berpikir dan berintrospeksi. Melihat pengalaman ibunya yang dilecehkan ayahnya sendiri, Dewi menolak untuk diaturkan jodohnya. Dia pun kemudian lari dari rumah, memulai sebuah perjalanan panjang, dan pada akhirnya menjadikan Dewi sebagai awal mula berdirinya sebuah kerajaan ganja.

    Parlan, cucu Dewi, berharap dapat lepas dari kerajaan ganja yang ayahnya miliki. Di tengah kebimbangan hatinya, sang ayah datang dan menceritakan seluruh rahasia keluarga Parlan. Rahasia yang berdiri di atas darah dan keringat Dewi, ayah Parlan, dan kedua saudaranya.

    Review

    Buku hadiah Resensi Pilihan yang diadakan Gramedia. Terima kasih untuk Gramedia yang sudah memilih review "Nada Tanpa Kata" - Mira W. sebagai resensi pilihannya.

    Pertama saya akan bilang, selamat untuk penulisnya. Konon sang penulis butuh 10 tahun untuk menyelesaikan novel ini. Sebuah perjuangan yang luar biasa.

    Buku ini sempat masuk 10 besar Khatulistiwa Literary Award 2014. Makanya saya punya ekspektasi yang cukup tinggi.

    Novel "Bandar" ini bercerita tentang drama kehidupan Dewi, seorang gadis remaja yang lari dari rumah karena enggan dipaksa menikah oleh ayahnya. Sejak pelariannya itu, dia harus terus hidup menanggung derita. Mulai dari dijadikan pelacur, menikah dengan seorang pria yang memintanya kembali melacur, menikah lagi dengan seorang pria yang, karena satu dan lain hal, membuat Dewi kembali hidup sebagai pelacur, anak-anaknya tumbuh sebagai berandalan, hingga akhirnya mulai berjualan ganja.

    Dewi... hidupmu sangat... merana.

    Walau hidupnya terkesan bagai tokoh utama sinetron, Dewi bukan tokoh tipe pasif seperti yang biasa ada di layar kaca. Dia berjuang untuk dirinya sendiri. Dia juga memiliki pemikiran-pemikiran yang menarik, seperti menjadikan pelacur sebagai pegawai negeri (hal. 162), atau menggunakan ganja untuk tujuan rekreasional (ganja dibandingkan dengan alkohol di sini) pada hal. 214.

    Cara penceritaan penulisnya enak untuk diikuti. Cara berceritanya membuat saya terus-menerus membalik halaman karena ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sayangnya ada beberapa bagian di novel ini yang terkesan menyeret dan tidak fokus. Contohnya: semua bagian yang tidak berkaitan dengan Dewi dan keluarganya.

    Saya juga agak menyesalkan keberadaan tokoh Parlan. Alasannya (berhubungan dengan akhir cerita. Spoiler alert.) Parlan diceritakan sebagai pemuda yang masih idealis, calon sarjana hukum, dan ingin lepas dari usaha ganja ayahnya. Dia diminta oleh ayahnya untuk melanjutkan usaha keluarga mereka. Ayahnya bahkan bercerita panjang lebar tentang bagaimana usaha itu dibentuk. 

    Penulis menjadikan Parlan tokoh yang bertolak belakang dengan usaha ganja keluarganya. Sayangnya hingga akhir cerita, penulis tidak membiarkan Parlan bersuara. Parlan tidak diberi kesempatan untuk merefleksikan cerita yang dia dengar. Dia juga tidak diberi ruang untuk menentukan sikap. Meneruskan kerajaan ganja yang neneknya bangun, atau mundur dan memilih jalannya sendiri, seperti yang Dewi lakukan.

    Ceritanya malah ditutup dengan surat dari ayah Parlan yang anti klimaks dan terasa kontradiktif dengan pernyataan sang ayah sebelumnya.

    Secara keseluruhan, "Bandar" adalah novel drama kehidupan yang baik. Cara berceritanya mengalir, walau alirannya sempat terhambat di beberapa tempat. Kalau saja penutup novel ini lebih nendang, saya pasti bakal kasih bintang lebih.

    Saya menutup review ini dengan kutipan mengenai hewan yang paling mewarnai bahasa kita:
    Aku tak paham bagaimana "anjing" bisa digunakan untuk berbagai suasana hati. Saat senang mereka berteriak "Anjing!" Saat susah mereka memaki "Anjing!" Di antara obrolan mereka menyelipkan "Anjing!"

    Hebat betul peran hewan itu dalam mewarnai tata bahasa kami. (hal. 11)

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2014 New Authors Reading Challenge

    View all my reviews

  5. Setelah pada September yang lalu daftar 10 besar Khatulistiwa Literary Award dirilis, pada Oktober ini daftar itu dikerucutkan menjadi 5 judul saja per kategorinya. Ini dia 5 buku pada daftar akhir Khatulistiwa Literary Award:

    Kategori Prosa:

    1. Kepada Apakah - Afrizal Malna
    2. Hanya Kamu Yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu - Norman Pasaribu
    3. Surga Sungsang - Triyanto Tiwikromo
    4. Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas - Eka Kurniawan
    5. Semua Untuk Hindia - Iksaka Banu
    Kategori puisi:

    1. Saiban - Oka Rusmini
    2. Tanda-Tanda Yang Bimbang  Ook Nugroho
    3. Rusa Berbulu Merah - Ahda Imran
    4. Piknik Yang Menyenangkan - Hasta Indriyana
    5. Tetralogi Kerucut - A. Muttaqin
    Itu dia kelima buku untuk kategori prosa serta kategori puisi. Jujur saya belum baca satu pun buku di atas, tapi untuk kategori prosa, kayaknya kali ini antara "Hanya Kamu Yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu" dan "Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas". 

    Malam Anugerah Khatulistiwa Literary Award (Kusala Sastra Khatulistiwa) 2014 akan diselenggarakan pada tanggal 20 November 2014 di atrium Plasa Senayan jam 7 malam.

    Sumber info: situs KLA

  6. Ya, pengumuman resminya sudah keluar. Ini dia 10 besar untuk Khatulistiwa Literary Award yang ke-17.

    Kategori prosa:

    1. Kepada Apakah - Afrizal Malna
    2. Semua untuk Hindia - Iksaka Banu
    3. Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas - Eka Kurniawan
    4. Maya - Ayu Utami
    5. Surga Sungsang - Triyanto Tiwikromo
    6. Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu - Norman Pasaribu
    7. Aksara Amananunna - Rio Johan
    8. Bandar - Zaky Yamani
    9. Perempuan di Rumah Panggung - Isbedy Setiawan ZS
    10. Malaikat Lereng Tidar - Remy Sylado
    Untuk tahun ini, saya belum baca satu pun buku di atas :)). Masih mending tahun lalu. Kalau di nominasi tahun lalu, ada "Pasung Jiwa" yang sudah saya baca.

    Dari daftar di atas, ada 3 buku yang membuat saya tertarik: "Kepada Apakah" (karena premis yang terlihat menarik), Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu (karena ulasan banyak teman di GR yang positif), dan "Malaikat Lereng Tidar" (karena tertarik untuk baca novelnya Remy Sylado sejak baca "Ca Bau Kan").

    Kategori puisi

    1. Tanda-tanda yang Bimbang - Ook Nugroho
    2. Bagian dari Kegembiraan - Acep Zamzam Noor
    3. Piknik yang Menyenangkan - Hasta Indirayana
    4. Tetralogi Kerucut - A. Muttaqin
    5. Saiban - Oka Rusmini
    6. Rusa Berbulu Merah - Ahda Imran
    7. Dongeng dari Utara - Made Adnyana Ole
    8. Pelesir Mimpi - Adimas Immanuel
    9. Tangan yang Lain - Tia Setiadi
    10. Ekaristi - Mario F. Lawi
    Seperti biasa, untuk kategori puisi belum satu pun yang saya baca. 

    Itu dia nominasi untuk KLA tahun ini. Buku mana yang sudah kamu baca? Buku mana yang membuatmu tertarik untuk membacanya?

    Sumber nominasi: situs KLA