Rss Feed
    Showing posts with label Fantasy Reading Challenge. Show all posts
    Showing posts with label Fantasy Reading Challenge. Show all posts
  1. [Wrap Up] 2013 Fantasy Reading Chalenge

    Saturday, November 16, 2013

    Wih, gak terasa sudah mau akhir tahun. Bagaimana dengan seluruh tantangan baca yang kamu ikuti? Sudah selesai semuanya kah? Atau masih pada keteteran? Saya sendiri masih ada 1 yang sangat jauh dari target :))

    Anyway, kali ini saya mau membuat daftar buku yang sudah saya baca untuk 2013 Fantasy Reading Challenge. Ini dia buku-buku yang saya baca untuk RC ini:

    Tantangan utama:
    Tujuh buku yang saya pilih untuk tantangan utama adalah:
    1. Estarath Seri Quazar dan Ksatria #1: Penakluk dari Selatan - R. D. Villam
    2. Estarath Seri Quazar dan Ksatria #2: Bocah dan Penyihir - R. D. Villam
    3. Estarath Seri Quazar dan Ksatria #3: Panah Kematian - R. D. Villam
    4. Takdir Elir - Hans J. Gumulia
    5. Graceling -Kristin Cashore
    6. Christopher Chant, Bocah Bernyawa Sembilan - Diana Wynne Jones
    7. Ender's Game - Orson Scott Card

    Tantangan tambahan:
    Indo Fantasy = Vandaria: Sang Penantang Takdir - Ardani Persada
    Award Winner = Lord of the Rings: The Return of the King - J.R.R. Tolkien (BILBY Award - 2002 Older Readers Award winner. Sebenarnya di situ ditulis "Lord of the Rings", jadi saya pikir buku ini bisa dipakai :p CMIIW)
    Mythology = The Lost Hero (Heroes of Olympus, #1) - Rick Riordan
    Movies Adaptation = Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring - J. R. R. Tolkien
    High Fantasy = Lord of the Rings: The Two Towers - J. R. R. Tolkien

    Silahkan klik di tautan untuk melihat review buku-buku tersebut. Kalau kam juga ikutan RC ini, jangan lupa untuk membuat wrap up post-nya dan masukkan tautannya di blog penyelenggaranya.



  2. The Lost HeroThe Lost Hero by Rick Riordan
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: The Lost Hero (The Heroes of Olympus, #1)
    Penulis: Rick Riordan
    Penerbit: Mizan Fantasi
    Halaman: 586 halaman
    Terbitan: Januari 2012

    Tiga Demigod baru bergabung di perkemahan Blasteran.

    Jason yang tidak bisa mengingat jati dirinya, Piper yang penuh misteri, dan Leo dengan kemampuan mekaniknya yang luar biasa.

    Bersama-sama, ketiganya mengemban sebuah misi penyelamatan.

    Misi yang juga akan mengungkap sebuah rahasia besar mereka di masa lalu.

    Review

    Serial lanjutan dari kisah Percy Jackson. Sayangnya di sini Percy Jacksonnya malah gak ada. Sebagai gantinya, kita dikenalkan dengan tiga orang jagoan baru. Jason, Leo, dan Piper.

    Secara karakter, ketiga tokoh di novel ini cukup berimbang porsinya. Walau saya merasa Jason, yang notabene adalah "Percy" di cerita ini, agak ketutupan oleh Leo dan Piper. Khususnya Leo.

    Oh, Leo. Tokoh favorit sejuta umat rasanya. Lucu dan dapat diandalkan. Kemampuan mekanik dan kemampuan apinya banyak menolong teman-temannya (dan dirinya sendiri) dalam perjalanan kali ini.

    Untuk plotnya, saya suka dengan unsur Romawi yang dimasukkan di sini. Seru juga melihat bagaimana penulisnya mengeksplorasi perbedaan dewa-dewi Yunani dan Romawi, yang serupa tapi tak sama.

    Petualangan yang dialami Jason, Leo, Piper, dan Pelatih Gleeson seru untuk diikuti dan, selayaknya serial sebelumnya, lucu. Dan Leo adalah orang yang biasanya membuat saya ngakak.

    Seperti di bagian:

    “Leo (mengomentari Butch, putra Iris, dewi pelangi): Rainbows. Very macho.
    Annabeth: Butch is our best equestrian, he gets along great with the pegasi.
    Leo: Rainbows, ponies...
    Butch: I'm gonna toss you off this chariot.”

    Sebenarnya saya baca terjemahannya, tapi berhubung malas ngetik, jadi yah... Pakai kutipan dari Goodreads aja deh X3

    Lalu kenapa hanya 3 bintang?

    Karena saya merasa buku ini sangat menyeret-nyeret. Di bagian pertengahan, rasanya agak muter-muter. Akibatnya banyak bagian yang jadi terasa membosankan.

    Alasan kedua, karena saya merasa Jason ini sangat ketutupan dibandingkan Leo dan Piper. Kayaknya Leo malah lebih banyak berantemnya ketimbang Jason deh. Semisal waktu mereka melawan tiga cyclops di Detroit (kalau gak salah tempat). Yang bertarung di situ? Leo. Jason? Pingsan.

    Secara keseluruhan

    Masih cukup oke. Masih cukup membuat penasaran pengin baca lanjutannya. Apalagi di buku ke-2 ada Percy yang mengalami kondisi serupa dengan Jason.

    Semoga buku keduanya lebih menarik dan lebih seru dari buku ini.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Fantasy Reading Challenge


    View all my reviews


  3. The Return of the King (Kembalinya Sang Raja)The Return of the King by J.R.R. Tolkien
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: The Return of the King (Lord of the Rings, #3)
    Penulis: J.R.R. Tolkien
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 520 halaman
    Terbitan: Desember 2003

    Dalam pertempuran terakhir melawan pasukan raja kegelapan, korban-korban kembali berjatuhan. Gondor dikepung. Denethor kehilangan akal sehatnya. Bantuan dari Rohan terhambat oleh pertempuran di padang Pelennor. Theoden gugur dan Eomer mengambil alih kepemimpinan. Saat harapan hampir padam, datanglah rombongan kaum Dunedain yang dipimpin Aragorn, Gondor, Rohan, dan kaum Dunedain bersatu menggempur pasukan Mordor. Namun masih ada perjalanan menuju jantungnya Mordor, sebab cincin itu belum dimusnahkan. Cincin itu kini berada di tangan Gollum, yang sangat menginginkannya untuk dirinya sendiri.

    Review

    Woah, selesai juga petualangan saya bersama Frodo, Sam, Gandalf, dkk di Dunia Tengah. Secara keseluruhan, LOTR adalah satu perjalanan yang menyenangkan.

    Berbeda dengan 2 buku sebelumnya yang punya beberapa momen bikin ngantuk, buku ketiga ini jauh lebih menarik dan bikin saya pengin baca terus. Terbukti buku bantal satu ini bisa selesai dalam 1 hari.

    Saya suka dengan akhir ceritanya. Saya suka bagaimana setelah pertarungan selesai dan cincin dimusnahkan, cerita tidak langsung berakhir dengan semua orang bahagia. Cerita justru berlanjut dengan kisah keempat hobbit, Frodo, Sam, Merry, dan Pippin membersihkan Shire dari pengaruh Saruman. Adegan favorit di buku ini? Sama dengan adegan di filmnya (yang saya nonton terpotong-potong waktu diputar di TV), saya suka bagian Gollum jatuh sambil membawa cincin. Somehow saya merasa sedih padanya. Bagaimanapun menyebalkannya makhluk satu itu, tetap saja hidupnya menyedihkan sekali. Setidaknya dia mati sambil membawa "my precious".

    Masuk ke bagian Apendiks, saya cuma bisa menganga. Ajegile, lengkap amat. Dari sejarah dunia sampai silsilah keluarga, sampai ke sistem kalender dan bahasa, semuanya ada dibahas. Bahkan ke cara pengucapan bunyi-bunyi tertentu pun ada. Luar biasa.

    Ya, secara keseluruhan nilai serial LOTR ini, bagi saya, adalah: (3+3+5)/3= 11/3 = 3,67. Dibulatkan ke atas jadi 4 bintang.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Read Big Reading Challenge
    - 2013 Fantasy Reading Challenge
    - 2013 Finishing the Series Reading Challenge


    View all my reviews


  4. The Two Towers (Dua Menara)The Two Towers by J.R.R. Tolkien
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: The Two Towers (Lord of the Ring, #2)
    Penulis: J.R.R. Tolkien
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 420 halaman
    Terbitan: 2002

    Akibat serangan Orc-orc, rombongan pembawa cincin tercerai-berai. Aragorn, Legolas, dan Gimli, meneruskan perjalanan ke negeri orang-orang Rohan. Bersama Raja Theoden dan pasukannya mereka menuju Isengard untuk menghadapi Saruman.

    Pippin dan Merry tersesat ke hutan Fangorn dan bertemu dengan Treebeard, penjaga pohon tertua yang masih hidup sejak awal terciptanya dunia tengah.

    Sementara itu, Frodo dan Sam melanjutkan berjalan ke Mordor untuk memusnahkan cincin Sauron. Tapi ada sosok misterius yang senantiasa mengikuti mereka dengan diam-diam, mengintai dengan sabar untuk mendapatkan cincin itu.

    Review

    Selesai juga baca buku ke-2 ini. Buku yang sangat menguras tenaga pembacanya. Untung saya bacanya full-time karena lagi libur, jadi bisa selesai lebih cepat X3

    Menurutku buku ke-2 ini lebih seru daripada buku pertama, tapi tetep terasa keseret-seret di beberapa bagian. Khususnya di bagian Frodo dan Sam ketemu pasukan dari Gondor. Jujur saya ngantuk baca bagian itu.

    Masih tetep banyak puisi dan lagu di sini dan masih tetap saya lewati hampir semuanya. Saya tahu puisi dan lagu memang salah satu cara menyimpan catatan sejarah, tapi menurutku di sini malah memperlambat ceritanya.

    Oh, well. Ceritanya tetep bagus dan bikin penasaran kelanjutannya. Akhir ceritanya gantung banget nih >.<

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Fantasy Reading Challenge
    - 2013 Finishing the Series Reading Challenge


    View all my reviews


  5. The Fellowship of the Ring (The Lord of the Rings, #1) The Fellowship of the Ring (The Lord of the Rings, #1) by J.R.R. Tolkien
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: The Fellowship of the Ring (Lord of the Ring, #1)
    Penulis: J. R. R. Tolkien
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 501 halaman
    Terbit: 2002

    Di sebuah desa yang tenang di Shire, seorang hobbit muda bernama Frodo Baggins mendapat warisan cincin bertuah yang menyimpan kekuatan dahsyat. Agar cincin utama itu tidak jatuh ke tangan Sauron yang jahat, Frodo mesti mengadakan perjalanan panjang dan penuh bahaya ke gunung api di Mordor, untuk memusnahkan cincin tersebut. Bersama kedelapan sahabatnya, ia berangkat. Dipimpin oleh Gandalf sang penyihir, kesembilan pembawa cincin itu memulai perjalanan. Tapi Sauron dan para anak buahnya tidak tinggal diam.

    Review
    Akhirnya saya baca juga novel pertama dari trilogi Lord of the Ring ini. Salah satu buku fantasi paling dikenal, tapi yang belum saya baca. Padahal ngakunya pecinta novel fantasi.

    Buku pertama ini ternyata merupakan gabungan dari dua "buku". Saya kurang tahu apa dulunya, saat pertama terbit, memang diterbitkan sebagai dua buku atau bagaimana. Buku pertama di sini menceritakan kehidupan Frodo di Shire. Saat dia pertama kali memperoleh cincin itu dari Bilbo, hingga pada awal perjalanannya ditemani 3 orang temannya: Sam, Merry, dan Pippin. Di bagian ini juga ada semacam "rekap" dari novel "The Hobit".

    Jujur buat saya bagian pertama ini terasa membosankan. Saya ngantuk banget pas baca. Apalagi di bagian rekap "The Hobbit"-nya. Walau saya belum baca novelnya, tapi ringkasannya bikin ngantuk. Keseluruhan perjalanan awalnya Frodo juga kurang begitu menarik.

    Untungnya masuk di bagian dua ceritanya jadi lebih menarik. Terbukti saya hanya butuh 1,5 hari untuk menyelesaikan bagian kedua, padahal saya butuh 4 hari lebih untuk menyelesaikan bagian pertama (walau yah, ada unsur sibuknya juga sih).

    Sampai akhir, ceritanya menarik. Saya suka dengan Gandalf. Dia bukan tipikal penyihir tua yang bijak. Terbukti dari sikapnya yang kadang bisa sarkastis (seperti waktu dia bilang akan memakai kepala Pippin untuk membuka gerbang).

    Saya yakin buku kedua akan lebih menarik dari buku pertama ini. Pasti konfliknya akan lebih tajam di sana sih. Apa di sana sudah akan ada Gollum yah? (iya, saya belum nonton filmnya juga).

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Read Big Reading Challenge
    - 2013 New Authors Reading Challenge
    - 2013 Fantasy Reading Challenge
    - 2013 Finsihing the Series Reading Challenge


    View all my reviews


  6. Ender's Game (Ender's Saga, #1)Ender's Game by Orson Scott Card
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: Ender's Game
    Penulis: Orson Scott Card
    Penerbit: Starscape
    Halaman: 324 halaman
    Terbitan: Februari 2002

    Bumi dalam ancaman! Serangan dari makhluk luar angkasa sudah hampir menumbangkan bumi dua kali dan jelas dua kali tidak cukup. Selalu ada kemungkinan bahwa para Bugger akan kembali menyerang. Untuk itulah diperlukan seorang jenderal tangguh yang dapat memimpin pasukan bumi mempertahankan diri. Selama bertahun-tahun, bumi putus asa mencari satu orang itu, tapi hasilnya sia-sia. Hingga datanglah Ender Wiggin.

    Sebagai seorang Third, anak ketiga, Ender berada di bawah ketakutan akan Peter, kakaknya yang garang, serta cinta Valentine, kakak perempuannya yang dia sayangi.

    Sayangnya semua yang Ender miliki diambil darinya ketika dia dikirim ke Battle School. Di sana dia menjalani hidup yang keras. Bukan saja dia harus menjalani simulasi demi simulasi, dia juga mengalami tekanan dari orang-orang yang berharap padanya dan yang iri padanya. Menghadapi semua tantangan yang ada, mampukah Ender menjadi jenderal yang dibutuhkan bumi?

    Review
    Akhirnya selesai baca buku ini. Butuh 2 minggu lebih bo. Tapi yah, ada break seminggu sih, gara-gara baca Every Dead Thing buat reading challenge.

    Saya cukup suka dengan ceritanya. Plotnya sendiri standar menurutku. Bumi dalam bahaya serangan makhluk luar angkasa dan dibutuhkan pahlawan yang dapat menyelamatkan bumi. Hanya saja penggambaran simulasi pertarungan di Battle School sangat menarik dan membuat saya menantikan setiap pertarungan Ender.

    Dari segi karakter, saya merasa tokoh-tokohnya kurang karakterisasi. Tokoh-tokoh sampingan semacam Alai, Petra, Bean, dkk kurang begitu digali. Tapi ya, salah seorang teman di Goodreads, yang hobi sama sci-fi, pernah bilang kalau salah satu ciri novel sci-fi adalah kurangnya karakterisasi dan lebih fokus pada ide yang ada pada sci-fi-nya itu sendiri. Kurasa hal itu memang benar di sini.

    Akhir ceritanya cukup menarik, walau saya yakin ada juga yang bakal kurang puas dengan "twist" di akhir. Ceritanya secara keseluruhan bagus, walau ada bagian yang terasa lambat.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 New Authors Reading Challenge
    - 2013 Books in English Reading Challenge
    - 2013 What's in A Name Reading Challenge
    - 2013 Fantasy Reading Challenge


    View all my reviews


  7. Panah Kematian (Estarath: Seri Quazar dan Ksatria, #3)Panah Kematian by R.D. Villam
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Panah Kematian (Estarath: Seri Quazar dan Ksatria #3)
    Penulis: R. D. Villam
    Penerbit: Kastil Fantasi
    Halaman: 295 halaman
    Terbit: November 2012

    Bangsa Elniri telah berkuasa di hampir seluruh dunia Estarath, dan Anthravai mengangkat dirinya sebagai Quazar, Sang Pemimpin Agung.

    Para ksatria Gunung Hohn tidak tinggal diam. Mereka menyusun rencana untuk membunuhnya. Berhasilkah mereka? Pengorbanan apa yang harus dibuat Fabien untuk mewujudkan keinginan para ksatria?

    Sang Penyihir justru punya rencana lain. Pertarungan memasuki babak baru ketika kaum penyihir akhirnya menunjukkan wajah, dan sesama saudara harus saling membunuh. Keturunan dewa juga bersiap kembali ke utara, dengan membawa dendam baru.

    Review

    Mengandung spoiler! Berhubung ini buku pamungkas serial ini, lebih baik jangan baca review ini kalau gak mau terkena spoiler.

    Yey, akhirnya saya selesai juga baca serial Estarath: Seri Quazar dan Ksatria. Lumayan cepat juga. Saya selesai baca buku 1 pada 27 Februari. Selesai buku 3 pada 23 Maret. Tidak sampai sebulan.

    Buku ke-3 dan terakhir dari serial ini menurutku penutup yang baik untuk seri Estarath yang ini. Saya masih suka pada Fabien. Dia masih menunjukkan kualitas sebagai tokoh utama yang likeable. Saya juga suka melihat perjalanannya dari seorang pemuda desa biasa hingga menjadi ksatria dan seorang pemain penting dalam sejarah dunia Estarath.

    Hanya saya merasa cara Fabien membunuh Anthravai terlalu mudah. Panah kematian yang dia peroleh dan cara dia membunuh Anthravai, semuanya terasa terlalu dipermudah. Sebenarnya saya berharap bakal ada pertarungan yang lebih epik atau bagaimana. Rasanya seluruh rangkaian peristiwanya terlalu sederhana.

    Lanjut ke tokoh berikutnya. Saya juga masih suka dengan Vyndassi. Masih tetap cerdas dan penuh perhitungan. Cuma si Vyndassi ini umurnya berapa sih? Rentang waktu peristiwa dari buku 1 (10 PE) sampai dia jadi quazar yang baru (5 NE) kan 15 tahun. Kalau di awal buku 1 dia 16, di akhir buku 3 dia 31. Terus ceritanya dia melihat masa depan dengan mengrobankan setengah usianya sebanyak 2 kali. Kalau dia bisa hidup sampai 32, berarti usia seharusnya adalah 32x2x2=128 tahun. Apakah orang-orang Elniri memang berumur panjang yah? Hmm...

    Thorsti di sini jadi lebih tergali. Beda dengan di buku 1 atau 2, saya bisa merasakan kalau tokohnya lebih dalam dan bukan hanya sekedar "penggembira" cerita. Sayang perannya hanya sebatas di sini saja. Setidaknya dia sudah lebih tereksplor.

    Kali ini ada beberapa typo yang sempat tertangkap mata saya. Antara lain:
    - kata 'meratus' di hal. 35
    - kata 'langkap' di hal. 190 (harusnya 'langkah')
    - kata 'untuk' yang terketik 2 kali di hal. 231
    - kata 'dengan' yang terketik 2 kali di hal. 232

    Selain itu juga ada tambahan tidak adanya gambar di awal bab pada hal. 176.

    Secara keseluruhan saya cukup suka dengan ceritanya. Saya juga suka akhir alur cerita untuk si quazar, bawahannya, dan para ksatria. Cuma saya merasa akhir ceritanya itu sangat memaksa orang untuk membeli seri selanjutnya. Soalnya masih tersimpan rahasia pada si wanita yang datang di Utara dan anak yang dia kandung. Tapi, saya tetap menunggu kelanjutan serialnya kok :D

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Fantasy Reading Challenge

    View all my reviews


  8. The Lives of Christopher Chant (Chrestomanci, #4)The Lives of Christopher Chant by Diana Wynne Jones
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: Christopher Chant, Bocah Bernyawa Sembilan
    Penulis: Diane Wynne Jones
    Penerbit: PT Gramedia Pustaka
    Halaman: 345 halaman
    Terbitan: 2009

    Selamat Datang di Dunia-Dunia Chrestomanci, dunia yang tak memberikan pilihan kepada para enchanter bernyawa sembilan.

    Memiliki sembilan nyawa dan menjadi Chrestomanci berikutnya jelas tidak termasuk dalam rencana masa depan Christopher Chant. Cita-citanya adalah men-jadi pemain cricket profesional, dan kegemarannya adalah menjelajahi dunia-dunia mimpi rahasianya.

    Tapi ternyata takdir memang sulit dielakkan, dan memiliki sekian banyak nyawa ternyata cukup mere-potkan, terutama ketika ia dengan begitu mudahnya kehilangan nyawa demi nyawa.

    Saat penyelundup antardunia yang dijuluki si Siluman melumpuhkan Chrestomanci yang sekarang, Christopher tak punya pilihan lain. Ia harus mengambil alih kepemimpinan demi keselamatan semuanya!

    Review
    Ini perkenalan pertama saya dengan serial Chrestomanci. Hasil pilihan acak di festival buku sebenarnya. Di luar dugaan, saya nemu buku ke-4 yang ternyata merupakan prekuel dari buku-buku pendahulunya.

    Di sini kita berkenalan dengan Christopher Chant, seorang bocah dengan sembilan nyawa. Cita-citanya sebagai seorang pemain cricket terpaksa kandas karena dia secara otomatis menjadi Chrestomanci, seorang penihir yang mengatur agar sihir tidak disalahgunakan, yang kelak akan menggantikan posisi Chrestomanci saat ini.

    Bagian awal bukunya agak membosankan menurutku. Kebanayakan menceritakan soal perjalanan Christopher di Dunia Mana Saja (semacam dunia paralel) dan bagaimana dia menjalankan "eksperimen" pamannya. Di bagian awal juga menceritakan bagaimana Christopher masuk ke sebuah sekoah sihir dan bagaimana dia akhirnya belajar pada sang Chrestomanci saat ini.

    Gaya penceritaan yang cenderung mengambil posisi "tell" agak membuat saya bosan dan ceritanya sendiri tidak begitu seru di awal. Untung tempo ceritanya membaik setelah Christopher belajar pada sang Chrestomanci. Ceritanya juga jadi lebih menarik.

    Twist di akhir cukup menarik. Saya suka dengan perkembangan karakter Christopher dan bagaimana dia akhirnya mampu bertindak layaknya seorang Chrestomanci di akhir. Kehadiran tokoh Sang Dewi juga membuat crita jadi menarik.

    Di bagian akhir dibilang kalau buku ini disebut sebagai "inspirasi" bagi serial Harry Potter. Saya bisa melihat kenapa. Jujur saya dapat perasaan yang sama dengan HarPot saat saya membaca buku ini. Sistem pembagian jiwa di sini dan sistem menyimpan jiwa pada benda sangat mungkin menjadi inspirasi bagi Horcrux. Lalu ada juga adegan orang-orang muncul dari dalam api dengan asap hijau yang mengingatkan pada bubuk Floo.

    Keluhan untuk buku ini: terlalu banyak kata yang dicetak miring. Menurutku sih gak perlu sebanyak itu diberi italic. Apalagi tidak semua kata yang dimiringkan itu penting. Berasa gak sih efeknya baca huruf miring sebanyak itu pada paragraf ini? Buat saya berefek. Bikin capek dan ada penekanan yang tidak perlu.

    Buku yang menarik dan bagus menurutku. Jadi pengin baca "Charmed Life", buku pertama serial ini deh.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 New Authors Reading Challenge
    - 2013 What;s in A Name Reading Challenge
    - 2013 Fantasy Reading Challenge


    View all my reviews


  9. Bocah dan Penyihir (Estarath: Seri Quazar dan Ksatria, #2)Bocah dan Penyihir by R.D. Villam
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: Bocah dan Penyihir
    Penulis: R. D. Vilam
    Penerbit: Kastil Fantasi
    Halaman: 290 halaman
    Terbit: 15 Oktober 2012

    Dalam rerimbunan hutan lebat di Lembah Heiszl, seorang penyihir mendapat mimpi buruk yang akan menentukan arah sejarah umat manusia hingga beratus-ratus tahun ke depan. Tak jauh di utara, seorang bocah petani memutuskan untuk menjadi prajurit, bergabung bersama pasukan Kerajaan Terran menghadapi serangan Bangsa Elniri.

    Namun orang-orang Elniri datang menghancurkan semuanya. Sekarang para penyihir harus memilih. Dengan rahasia dan kekuatan yang mereka miliki, akankah mereka berjuang bersama rakyat, atau justru sebaliknya, menciptakan bencana baru.

    Review
    Jauh lebih menarik minat ketimbang buku pertama, Penakluk Dari Selatan (review saya untuk buku itu bisa dibaca di sini). Kalau di buku pertama hanya ada rangkuman sejarah bangsa Elniri dan sang penakluk dari selatan, di buku kedua ini ada lebih banyak interaksi karakter dan aksi yang lebih ketat pada karakternya.

    Di buku pertama kita sudah berkenalan dengan Anthravai, sang pemimpin Elniri yang mulai melakukan ekspansi ke utara. Kita juga berkenalan dengan dua orang panglimanya, Thorsti dan Vyndassi. Kali ini kita menyebrang ke sisi yang berlawanan dengan mereka. Tokoh utama di buku ini adalah Fabien seorang pemuda yang merupakan penduduk asli daerah utara. Hidupnya yang tenang di desa berubah setelah dia memutuskan untuk jadi prajurit setelah kematian pamannya. Di saat yang sama, Anthravai telah memulai ekspansinya dan hal ini menyebabkan Fabien ikut terseret dalam perang yang terjadi.

    Secara keseluruhan saya suka pada karakter-karakter yang ada dan juga hubungan antar karakternya. Fabien memiliki sikap dan karakteristik yang cocok untuk jadi karakter utama yang mudah untuk disukai dan dia berhasil menghidupi perannya itu. Saya suka bagaimana perubahannya dari seorang pemuda desa biasa menjadi seorang prajurit dan akhirnya menjadi "kepala desa" untuk sebuah desa kecil yang berisikan para pengungsi di bagian akhir cerita.

    Sayangnya, mengingat judul novel ini adalah 'Bocah dan Penyihir', adegan yang melibatkan si penyihir terlalu sedikit. Selain itu awalnya kupikir tokoh utamanya, yang si bocah, adalah, well, seorang bocah. Tapi ternyata tokoh utamanya itu seorang remaja. Tambah lagi kupikir akan ada interaksi antara si bocah dan penyihir, tapi ternyata tidak ada. Yah, kecele deh.

    Secara cerita, ada lebih banyak aksi yang lebih bisa terhubung dengan perasaan. Berbeda dengan buku 1 yang penuh pembantaian dan segmen-segmen sejarah mulainya penaklukan dari selatan, buku 2 ini melibatkan persahabatan, hubungan dengan orang tua (atau yang dianggap orang tua dalam kasus ini), kematian orang dekat, rasa takut akan perang, perjuangan, dan masih banyak emosi lainnya sehingga membuat saya bisa lebih masuk ke dalamnya.

    Secara teknis penulisan? Well, kali ini tidak sebersih buku 1 karena saya nemu beberapa typo. Kata yang tidak baku juga masih ada. Beberapa typo, semisal:
    1. kata coklat, harusnya cokelat
    2. "Kuda yang berwarna hitam bernama Leko, dan yang putih berwarna Vito." (hal. 92). Harusnya 'bernama Vito'.
    3. kata 'aku' yang terketik 2 kali di hal. 202 (bagian dialog Raja Edouin).
    4. kata 'sedankan' di hal. 225

    Selain itu juga ada sedikit inkonsistensi kecil pada Bibi Jeannie. Sebelumnya Fabien mengeluh pada pamannya karena dia merasa bibinya selalu menganggapnya (dan mungkin juga memperlakukannya) seperti anak-anak. Pamannya juga menanggapi dengan bilang bahwa mungkin dia akan selalu dianggap anak-anak oleh bibinya itu. Setelah itu, waktu Fabien minta agar dia boleh turut serta pamannya ke Windalens, pamannya menanggapi dengan, "Akan kupikirkan. Kita juga harus mendenganr pendapat bibimu. Tetapi kurasa ia takkan keberatan; kau sudah cukup dewasa."

    IMHO, kalau memang bibinya selalu menganggap Fabien anak-anak, kurasa bibinya mungkin akan melarang atau berusaha mencegah Fabien pergi, jadi kurasa lebih masuk akal kalau pamannya bilang kalau mungkin bibinya akan melarang, tapi mereka bisa membujuknya. Apalagi baliknya si Fabien ini harus pulang sendiri.

    Lalu soal peta. Itu nama desa-desa di petanya kecil banget =_="
    Nama gunung, ibukota, hutan, dan lembah sih masih bisa dibaca, tapi nama desa-desanya gak kebaca sama sekali. Mungkin bisa diupload aja gitu biar bisa diunduh?

    Terus, satu lagi. Ada paragraf yang tidak tercetak baik di buku yang saya punya ._.
    Ada paragraf yang agak menghilang gitu. Untung masih bisa kebaca.

    Empat bintang untuk novel ini. Petualangannya semakin seru dan bikin penasaran cerita macam apa yang akan disajikan di buku ketiga.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Fantasy Reading Challenge
    - 2013 TBR Pile Reading Challenge


    View all my reviews

  10. Penakluk Dari Selatan (Estarath: Seri Quazar dan Ksatria, #1)Penakluk Dari Selatan by R.D. Villam
    My rating: 2 of 5 stars

    Judul: Penakluk Dari Selatan
    Penulis: R. D. Villam
    Penerbit: Kastil Fantasi
    Halaman: 200 halaman
    Terbitan: 2012

    Dari padang rumput luas jauh di selatan muncullah Bangsa Elniri. Tiga prajurit muda tumbuh menjadi pemimpin: Anthravai yang sulit ditebak dan tak terkalahkan, Vyndassi yang penuh pertimbangan, dan Thorsti yang kejam tak kenal ampun. Dipenuhi bara ambisi serta keyakinan pada para dewa, Anthravai menyeberangi lautan untuk menaklukkan dunia.

    Jalan untuk menjadi Quazar, Pemimpin Agung yang berkuasa di seluruh benua telah terbuka. Namun seorang lelaki tua menjanjikan sesuatu yang berbeda pada orang lain melalui cairan emas pohon erentir. Menyertai Anthravai, ada pula wanita misterius yang memiliki tujuan tersembunyi. Pertarungan panjang di Dunia Estarath baru saja dimulai.

    Review

    Buku kedua dari dunia Estarath yang saya baca. Setelah di buku sebelumnya pengarang menceritakan tentang sebuah suku di Utara, kali ini kta pindah ke suku-suku di Selatan.

    Kali ini kita berkenalan dengan Anthravai, seorang kepala suku dari Selatan yang berhasil menyatukan suku-suku di Selatan dan memulai ekspansinya ke Utara. Dalam proses penaklukan negeri-negeri di Utara, Anthravai menggunakan kekuatan dan kekerasan tanpa ampun. Prajurit dan para raja dibunuhnya dengan kejam untuk menaklukkan negeri incarannya.

    Anthravai memiliki beberapa orang kandari, semacam panglima, dua di antaranya adalah Vyndassi dan Thorsti. Thorsti memiliki karakter yang sama dngan Anthravai. Sama-sama beringas dan penyuka kekuatan dalam menaklukkan lawan. Berbeda dengan kedua temannya, Vyndassi adalah seorang yang penuh pertimbangan dan sebisa mungkin tidak menumpahkan darah karena dia memegang prinsip apabila dia membunuh seseorang, mungkin saja anak orang itu kelak akan datang dan membalaskan dendam ayahnya.

    Buku pertama ini relatif datar buat saya. Mungkin karena buku ini adalah pembuka sebuah trilogi dan sebuah cerita epic, jadi ceritanya lebih berupa rangkuman peristiwa dan pengenalan tokoh. Anthravai menyatukan suku-suku di Selatan, Anthravai menyiapkan serangan ke Utara, Anthravai mulai mengekspansi daerah kekuasaannya, Thorsti dan Vyndassi yang masing-masing kebagian memimpin 1 serangan dan memperlihatkan bagaimana perbedaan pola pikir memengaruhi cara penaklukan masing-masing.

    Penulisan dalam cerita masih terasa mirip dengan Di Tepi Sungai Ordelahr. Klinis, tapi minim emosi. Typonya saya tidak ingat, tapi yang saya ingat masih ada penulisan tidak baku seperti "ijin" yang harusnya "izin". Bravo untuk penulis dan tim untuk penulisan yang bersih.

    Untuk karakter, saya cukup suka dengan penokohan karakter-karakternya. Khususnya Anthravai dan Vyndassi. Anthravai yang penuh percaya diri nyaris pongah dengan twist di akhir dan Vyndassi yang menjadi tokoh utama yang berhasil menghidupi ekspektasi sifatnya yang pendamai. Sayang untuk Thorsti saya merasa penokohannya agak dangkal. Mungkin dia akan lebih digali di buku selanjutnya?

    Sedikit tambahan untuk Vyndassi, dia beberapa kali bilang kalau dia tidak terlalu percaya pada dewa. Hanya saja di hal. 94 dia bilang kalau dia percaya bahwa Anthravai adalah pilihan dewa. Hm... Menurutku kurang konsisten dan malah bikin karakternya terasa aneh. Mungkin lebih baik kalau dia dibuat tetap waspada dan memiliki rasa curiga pada ambisi Anthravai.

    Endingnya? Cliffhanger yang agak mendadak. Khususnya untuk ending Anthravai. Hmm... Mari kita lihat bagaimana kelanjutan kisah mereka.

    Dua bintang untuk buku ini. Not bad, tapi terlalu datar untuk saya. Semoga buku-buku selanjutnya lebih menarik.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Fantasy Reading Challenge
    - 2013 TBR Pile Reading Challenge


    View all my reviews

  11. Graceling (Graceling Realm, #1)Graceling by Kristin Cashore
    My rating: 1 of 5 stars

    Buku yang dibaca buat baca bareng Indonesians Who Love English Books. Berhubung buku fantasi jadi saya ikutan baca bereng kali ini. Well, let the party, full of spoiler tags, begin.

    Kita mulai dari nama. Katsa? Ok. Randa? Ok. Oll? O...ke. Po?


    (Sumber: Facebook Meme Comic Indonesia)

    Lalu ada lagi Bitterblue yang pengin bikin saya goyang gergaji saking gemesnya.

    Jadi ceritanya si Katsa ini adalah seorang Graceling, seseorang yang memiliki bakat khusus yang disebut Grace. Gracenya si Katsa adalah kemampuan bertarung/membunuh. Hal ini membuatnya bekerja pada Raja Randa sebagai pembunuh gelap.

    Suatu hari Katsa bertemu dengan Po, seorang pangeran dengan satu mata bewarna emas dan satunya perak. Hal yang menandakan Po sebagai seseorang dengan Grace. Po mengakui bahwa dia juga memiliki Grace bertarung, sama seperti Katsa.

    Di luar dugaan, Po mampu mengimbangi Katsa dalam pertarungan. Hal ini membuat mereka dekat sebagai sparing partner.

    Sampai sini kita berhenti sejenak untuk bicara soal konsep Grace. Jujur buat saya Grace ini nama lain untuk bakat. Ada orang dengan bakat fisik seperti Katsa, yang membuatnya tangkas dan mahir bela diri. Ada juga Grace yang membuat orang jago dengan angka atau bahkan yang rada "tidak berguna" (menurut buku ini), seperti bicara terbalik atau memanjat pohon.

    Tapi kemudian ada juga orang-orang dengan Grace tidak biasa, seperti Po yang punya kemampuan mendeteksi orang, benda, dan perasaan atau Raja Leck, si tokoh antagonis, yang punya kemampuan mempengaruhi pikiran orang lain.

    Akibatnya konsep Grace ini membingungkan buat saya. Apakah Grace sekedar bakat yang terasah, ataukah kemampuan magis yang mampu membuat orang, oh entahlah, menjadi manusia radar, atau menyemburkan api, atau mengubah sampah jadi pohon, misalnya? (Jujur saya agak teringat sama "The Law of Ueki" pas baca buku ini.)

    Tambah lagi perubahan Gracenya Katsa yang semula bertarung/membunuh jadi survival dan Po yang ternyata seorang manusia radar. Well, there you go. You have your invincible leading female protagonist. Itu semacam Grace yang menjamin Katsa bisa keluar dari kondisi bagaimanapun karena, well, she is a survivor, yang bisa survive dari apa saja.

    Secara Grace, Po sangat mengingatkan saya pada Toph Bei Fong, si pengendali tanah dari Avatar: The Legend of Aang. Apa lagi setelah di bagian akhir ketahuan kalau si Po ini buta setelah dia kena serangan sewaktu gagal membunuh Raja Leck. Beh, jadi versi prianya si cewek di spoiler saya itu deh. Apalagi deskripsinya Po di bagian akhir tentang kekuatannya. Terlalu mirip.

    Grace yang paling menarik buat saya sih Gracenya si Raja Leck. Grace yang menarik untuk tokoh villain, walau gak original-original amat karena mengingatkan saya pada Lady of the Green Kirtle, tokoh villain di novel The Silver Chair karya C. S. Lewis. Sayang kekuatannya ini kurang dieksplorasi. Lebih jauh soal Leck akan dibahas di belakang.

    Kembali ke plot. Si Katsa ini kemudian mendapat misi dari Randa untuk pergi dan menyiksa salah seorang bangsawan di kerajaan Randa karena si bangsawan tidak mau memberikan anak gadisnya untuk Randa jodohkan. Hal ini membuat Katsa marah dan kemudian memberontak. Dia lalu pergi dengan Po ke Sunder untuk tujuan yang tidak jelas.

    Kita berhenti sekali lagi untuk membahas hubungan Randa-Katsa. Saya agak bingung kenapa si Katsa tidak lebih cepat memberontak. Padahal dia sudah lama tidak suka pada tugas-tugas yang dibebankan padanya oleh Randa. Apalagi si Katsa ini kan kuat banget plus si Randa ini tidak punya Grace yang bisa menahan Katsa. Pasukan atau tangan kanan yang bisa menahan Katsa? None. Tawanan? Nope. Rasa bersalah Katsa karena dia pernah membunuh sepupunya sendiri? Kayaknya si Katsa gak merasa sebersalah itu. Jadi saya tidak melihat hal yang bisa menahan Katsa untuk memberontak lebih awal selain karena sekarang ada Po dan pengarang mau mengirim mereka berdua dalam sebuah petualangan.

    Dalam perjalan, Katsa dan Po menyaksikan Leck membunuh istrinya sendiri. Leck kemudian menggunakan Gracenya untuk memengaruhi pikiran setiap orang bahwa itu kecelakaan. Po yang tidak terpengaruh karena Gracenya, segera mengajak Katsa lari kerena mencium bahaya. Dalam pelariannya, mereka bertemu Bitterblue, putri Leck yang lari bersama ibunya.

    Setelah itu, Po berpisah dari Katsa dan Bitterblue, lalu pergi dalam rangka membunuh Leck. Sayang serangannya gagal dan dia malah terluka sehingga dia harus tinggal sementara Katsa dan Bitterblue melanjutkan pelarian.

    Ya iyalah gagal. Taktik serangannya hanya mengendap dan menunggu timing yang tepat untuk memanah. Tambah lagi dia bukan pemanah yang sebaik Katsa. Pas baca waktu dia terluka dan dia bilang kalau Katsa yang harusnya menyerang, saya gak merasa kasihan. Yang ada di pikiran saya hanya...



    Katsa dan Bitterblue kemudian naik kapal yang dipimpin seorang wanita dengan Graceling membaca cuaca. Pasti dia Nami dari One Piece. Mereka berlayar sampai tiba di istana milik Po.

    Di sana, eng ing eng, Leck sudah menunggu dan telah mempengaruhi pikiran keluarga Po. Keluarga Po menyambut Leck dengan baik dan di sini ada sedikit pembicaraan leyeh-leyeh. Leck berusaha memengaruhi Katsa dengan Gracenya, tapi Katsa kemudian sadar sewaktu Leck nyaris membongkar rahasia Po. Katsa lalu melemparkan pedang ke arah Leck dan membuat Leck mati bersimbah darah.

    Satu kata: dafuq!?

    Si Leck ini tokoh yang bener-bener potensial kalau mau digali lebih lanjut, tapi perannya cuma segitu?? Tambah lagi saya kurang suka karakteristiknya Leck yang digambarkan sebagai seorang kurang waras yang hobinya "hanya" menyiksa binatang dan orang bahkan sampai meninggal. Padahal pas awal-awal dia digambarkan sebagai orang yang cukup ambisius sampai bisa datang dan mengambil alih posisi raja yang sedang berkuasa saat itu. Untuk orang dengan kemampuan seperti Leck, hanya berhenti di satu kerajaan dan tidak berusaha mengekspansi kekuasannya membuatnya terlihat malas dan rada dangkal. Tambah lagi kematiannya, yang harusnya menjadi puncak cerita, berlalu begitu saja. Er...

    Bagian selanjutnya tentang pengangkatan Bitterblue sebagai ratu dan bagian romans Katsa dan Po berlalu begitu saja bagi saya. Tidak ada yang menarik.

    Secara keseluruhan buku ini tidak terlalu menarik untuk saya. Ceritanya rada diseret-seret dan desain karakternya tidak terlalu bagus. Katsa, sebagai karakter utama, adalah karakter yang paling tidak menarik. Tipe wanita kuat seperti Katniss di The Hunger Games? Jauh. Saya suka tipe wanita kuat. Lihat aja posting top five book girlfriend saya. Penuh wanita-wanita kuat kan?

    Tapi si Katsa ini tidak benar-benar kuat untuk saya. Karakternya agak menjengkelkan. Tambah lagi dia terlalu Mary Sue untuk saya. Didn't like her at all.

    Bagaimana dengan Po sebagai tokoh pria utama? Dia juga sama membosankannya untuk saya. Saya hampir selalu membandingkan dia dengan si "kembaran wanitanya" dan dia kalah jauh dibanding kembarannya itu secara karakter.

    Satu bintang untuk buku ini. Tidak suka pada karakter dan ceritanya membosankan.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 New Authors Reading Challenge
    - 2013 Books in English Reading Challenge
    - 2013 Fantasy Reading Challenge

    View all my reviews

  12. The Horse And His Boy: Kuda Dan Anak Manusia (The Chronicles of Narnia, #3)The Horse And His Boy: Kuda Dan Anak Manusia by C.S. Lewis
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: Kuda dan Anak Manusia (The Horse and His Boy)
    Pengarang: C. S. Lewis
    Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 312 halaman
    Terbitan: September 2005

    NARNIA... tanah di mana para kuda bisa berbicara... pengkhianatan mengintai... dan takdir menanti.

    Dalam perjalanan penuh tantangan, empat pelarian bertemu dan bergabung. Meski awalnya mereka hanya berusaha membebaskan diri dari kehidupan yang kejam dan menekan, tak lama kemudian mereka mendapati diri mereka berada di tengah-tengah pertempuran dahsyat. Pertempuran yang akan memutuskan bukan hanya nasib mereka, tapi juga nasib Narnia.

    Review
    Jujur bulan ini saya merasa burn out dalam membaca. Rasanya malaaaas banget buat membaca. Yah, bukan hal baru sih sebenarnya. Hal ini memang kadang terjadi dan rasanya menyebalkan. Soalnya baca apa-apa jadi lama banget. Contohnya adalah buku ini yang baru bisa kuselesaikan dalam waktu seminggu. Padahal buku sebelumnya, yang relatif lebih membosankan, selesai hanya dalam 3-4 hari. Plus, rasanya jadi ogah-ogahan bikin review :|

    Buku yang ini lebih bagus daripada The Silver Chair. Tokohnya lebih likeable dan petualangannya juga lebih seru. Saya suka dengan perkembangan karakternya. Juga suka karena ada cameo dari keluarga Pevensie.

    Saya juga suka dengan endingnya. Hukuman yang Aslan jatuhkan cukup menarik.

    Overall, buku yang bagus. Tidak sabar untuk membaca buku terakhir dari serial Narnia yang belum kubaca :D

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Fantasy Reading Challenge
    - 2013 What An Animal Reading Challenge
    - 2013 TBR Pile Reading Challenge
    - 2013 Finishing the Series Reading Challenge

    View all my reviews

  13. Vandaria Saga: Takdir Elir  (Trilogi Elir, #1)Vandaria Saga: Takdir Elir by Hans J. Gumulia
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Takdir Elir (Trilogi Elir, #1)
    Pengarang: Hans J. Gumulia
    Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 238 halaman
    Terbitan: 2012

    Takdir membawa lima orang untuk bertemu. Rozmerga, Liarra, Sigmar, Althor, dan Xaliber. Lima orang dengan latar belakang berbeda, tapi memiliki satu takdir yang sama. Membawa kedamaian di Benua Elir. Satu per satu misteri di benua itu terungkap dan menggiring mereka semakin dalam ke jalan takdir mereka. Sanggupkah kelima pahlawan ini menjalani takdir mereka?

    Review
    Buku Vandaria kedua yang saya baca. Setelah sebelumnya sempat mencicipi Sang Penantang Takdir, kali ini saya merasakan buku pertama dari Trilogi Elir, Takdir Elir.

    Sesuai judulnya, isi cerita kali ini memang bertumpu pada takdir. Takdir menunjuk Rozmerga sebagai pembawa pesan ke tanah Elir. Takdir memilih Liarra sebagai sang pembawa busur. Takdir mempertemukan Sigmar dengan Liarra dan akhirnya membuatnya menjadi si pemegang belati. Takdir yang sama juga akhirnya menyatukan kelima karakter di atas untuk membasmi roh jahat yang bermukim di Elir.

    Berhubung saya baru baca dua buku Vandaria, mau gak mau, sadar gak sadar, saya jadi membanding-bandingkan kedua buku tersebut. Kita mulai dari kover. Secara kover, saya lebih suka dengan kover Takdir Elir. Saya suka dengan penggunaan warnanya juga pose karakternya. Ada banyak hal menarik yang bisa dilihat dari kovernya.

    Dari segi bahasa, bahasa di Takdir Elir lebih enak diikuti ketimbang di SPT. Cuma berhubung pengarangnya SPT bilang bahwa dirinya memang bereksperimen dengan gaya bahasanya di buku itu, jadi saya gak bisa bilang kalau Takdir Elir "menang". Soalnya, buat saya, memang gak bisa dibandingkan. Kecuali kalau gaya bahasa Hans J. Gumulia di sini juga merupakan eksperimen ybs.

    Dari segi cerita, hmm... Pace di sini lebih cepat dan juga lebih tipis. I mean seriously. Rasanya SPT jauh lebih tebal dan lebih padat hurufnya ketimbang ini. Tapi, yah, kalau di SPT ceritanya emang soal basmi naga yang makan waktu bertahun-tahun, span waktu di sini lebih cepat dan rasanya buku ini memang lebih menjadi sebuah pembuka trilogi. Sementara untuk SPT, dia rasanya masih bisa berdiri sendiri (walau tetep masih ada aja misteri yang membuatnya harus dilanjutkan di buku berikutnya).

    Masuk ke dalam ceritanya. Saya merasa kalau si Rozmerga ini terlalu gak punya emosi atau bagaimana? Dia disuruh pergi ke Elir untuk mendamaikan konflik dua kerajaan dan pertama kali terima misi dia cuma bereaksi, "Hah? Aku disuruh mendamaikan konflik dua kerajaan?", habis itu dia ho oh aja, mau ngejalanin misi itu. Err... Ini ngedamaiin dua kerajaan yang sudah lama berkonflik loh, Bu. Mungkin dia memang seorang true believer kali yah. Pendeta Agung ngomong apa, dia ngikut aja.

    Setelah berkenalan sedikit dengan Rozmerga, fokus cerita mulai pindah pada Liarra dan Sigmar. Nah, buat saya di sini ada ketidaksinkronan antara blurb, kover, dan porsi karakter dalam novel. Di blurb, fokus ceritanya ada pada Rozmerga. Di kover, yang pose kece di bagian depan itu si Sigmar sama Liarra dan memang mereka yang dapat porsi lebih besar di dalam Takdir Elir ini. Berasa aneh dan gak fokus aja. Rozmerga yang harusnya tokoh utama, malah jadi sampingan di sini. Kerjanya cuma bawa pasukan, lari dari perampok, terus bawa surat. Gitu doang. Secara keseluruhan, saya gak bisa relate dengan dia. Sama sekali.

    Lanjut ke Raja Althor dan Raja Xaliber. Ini dua orang bener-bener raja dari dua kerajaan yang sudah lama berkonflik bukan sih? Mereka pertama kali bertemu bukannya saling tekan atau saling mengeluarkan aura-aura tidak suka atau bagaimana. Pertama kali bertemu malah:

    "Raja Xaliber. Kau masih saja sulit mengekspresikan perasaanmu, sepertinya?" [...]

    "Sementara kau, Raja Althor, masih saja terlalu mudah mengekspresikan perasaanmu," balas Xaliber datar, namun kemudian menyunggingkan senyum simpul.

    Althor juga ikut tersenyum. [...]


    Nggg.... saya curiga ini dua raja pura-puranya aja mau perang, padahal tiap malam mereka melakukan "pertemuan-pertemuan rahasia". Jadi perangnya ini semacam modus, gitu. *perang kok jadi modus.

    Secara keseluruhan, masih banyak misteri yang memaksa pembaca (yang penasaran) untuk membeli buku kedua trilogi ini. Cuma, secara cerita sejauh ini sih masih biasa aja. Karakter? Ngg... favorit saya sejauh ini sih Liarra, sisanya biasa aja. Walau Sigmar juga cukup menarik sih (runner-up lah).

    Buku kedua? Bolehlah masuk list to-buy (atau ada yang mau ngasih gratis juga boleh *ngarep). Semoga ada lebih banyak aksi yang berarti di buku kedua dan diam2 menunggu lebih banyak "aksi" di antara Xaliber dan Althor. Bisa request Rozmerga dan Liarra juga?.

    Nilai 2.5 bintang untuk novel ini. Dibulatkan ke atas. *lalu buru2 ngacir sebelum ditimpuk karena mengharapkan adegan yang bukan-bukan di buku selanjutnya.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    2013 New Authors Reading Challenge
    - 2013 Fantasy Reading Challenge
    - 2013 TBR Pile Reading Challenge

    View all my reviews

  14. The Silver Chair: Kursi Perak (Chronicles of Narnia, #6)The Silver Chair: Kursi Perak by C.S. Lewis
    My rating: 3 of 5 stars

    Title: The Silver Chair (Indonesian title: Kursi Perak)
    Author: C. S. Lewis
    Publisher: Gramedia Pustaka Utama
    Pages: 320 pages
    Published: October, 2005

    From Goodreads:

    Jill and Eustace must rescue the Prince from the evil Witch.

    NARNIA...where owls are wise, where some of the giants like to snack on humans, where a prince is put under an evil spell...and where the adventure begins.

    Eustace and Jill escape from the bullies at school through a strange door in the wall, which, for once, is unlocked. It leads to the open moor...or does it? Once again Aslan has a task for the children, and Narnia needs them. Through dangers untold and caverns deep and dark, they pursue the quest that brings them face and face with the evil Watch. She must be defeated if Prince Rillian is to be saved.

    Review
    Finally I make my progress towards finishing the Narnia series. I found this book less interesting than the other Narnia books I've read. The storyline is fine and I like the characters too, but I wish there is more tense in the story.

    I think that there are many symbols in the novel, the Lady of the Green Kirtle, the silver chair itself, there are many things to be thought while reading this book.

    Btw, my favorite part of the book is when Eustace, Jill, Puddleglum, and Prince Rilian face the Lady's magic. It was interesting to see how things turn upside-down for them.

    This book is for the following reading chalenges:
    - 2013 Fantasy Reading Challenge
    - 2013 TBR Pile Reading Chalenge
    - 2013 Finishing the Series Reading Challenge
    - 2013 Color Coded Reading Challenge
    - 2013 Monthly Key Word Challenge

    View all my reviews

  15. Sang Penantang Takdir (Vandaria Saga)Sang Penantang Takdir by Ardani Persada Subagio
    My rating: 2 of 5 stars

    From Goodreads:
    Takdir menggiring Deus untuk bertemu dengan Ratu Seraph. Namun, cinta yang tumbuh antara seorang pengawal dan Ratunya itu adalah cinta terlarang. Demi membuktikan kesungguhan cintanya dan kepantasan dirinya untuk bersanding dengan sang Ratu, Deus menyanggupi tantangan untuk membantai sembilan naga legenda. Para naga terakhir, penguasa Vandaria.

    Berbekal cinta dan senjata pusaka, Deus siap menantang takdirnya sendiri.
    Dia adalah...
    Sang Penantang Takdir.

    Review
    Inilah perkenalan pertama saya dengan Vandaria. Sebelumnya saya pernah dapat kartunya dari majalah Zigma, salah satu "bayaran" saya waktu jadi instruktur igo di acara Festival Jepang di Unair, jadi setidaknya tahulah kalau Vandaria itu ada. Tapi inilah, untuk pertama kalinya, saya menyelam masuk ke dalam dunia Vandaria.

    Lalu apakah saya melihat keindahan dunia Vandaria lewat novel ini? Ya, bisa kubilang Vandaria adalah dunia fantasi yang menarik. Konsepnya cukup jelas dan digarap dengan serius. Dua jempol untuk itu. Sayangnya buku ini tidak semenarik Vandarianya itu sendiri.

    Jujur saya merasa kurang cocok dengan bahasa yang dipakai pengarang. Saya kurang sreg dengan banyaknya Majas Perbandingan yang pengarang pakai. Majasnya bisa ditemukan di mana-mana, seperti daun yang berserakan di tanah pada musim gugur. You see? Jadinya suatu hal yang bisa disampaikan dengan jumlah kata lebih sedikit, malah jadi panjang dan bertele-tele. Okelah kalau sesekali dipakai, tapi kalau terus-terusan malah mengganggu pace membaca.

    Hal kedua yang bikin kurang sreg adalah justifikasi untuk suatu adegan. Beberapa kali ada adegan yang kesannya dipaksakan, sehingga suatu adegan lain bisa terpicu. Contohnya sewaktu Deus mengawal Ratu Seraph mengunjungi dua Raja Surgawi pada awal cerita. Saya jujur kurang ngeh tujuannya mereka ke sana untuk apa. Kenapa Ratu Seraph gak ngundang keempat Raja itu ke istananya saja sih? Selain itu pembicaraan sang ratu dan kedua raja yang dia kunjungi juga tidak diperlihatkan, sehingga saya merasa penulis sebenarnya membuat adegan kunjungan itu untuk menunjukkan hal yang lain.

    Satu lagi adegan serupa ada ketika Deus menyentuh bayangan di danau pada halaman 279. Kenapa Flavius gak memperingatkan dari awal sih kalau bayangan itu gak boleh disentuh? Curiga pingsannya si Deus itu menjadi justifikasi untuk adegan Azulmagia mendengar nyanyian kunang-kunang. Kalau toh memang si Deus itu mau dibuat pingsan supaya adegan lagu kunang-kunang itu bisa jalan, kenapa tidak membuat Flavius dengan sengaja membuat Deus menyentuh bayangan itu? Misalkan dengan menyentuh bayangan itu Deus jadi bisa mempelajari sesuatu atau bisa lebih mengendalikan kekuatan para naga. Secara Flavius itu kayaknya penyihir sakti mandraguna. Bisa aja dia melakukan hal-hal aneh demi kebaikan tokoh utama, kan?

    Hal ketiga yang bikin saya kurang sreg sama novel ini adalah pertarungan yang diskip. Itu kenapa pertarungan dengan tiga naga awal dilewatin?

    Deus: Atas nama Yang Mulia Ratu Seraph, aku akan membunuhmu di sini, naga legenda. Azul, Borr, saatnya kita beraksi.


    Bab berakhir, lalu bab baru dibuka dengan...

    Perjalanan Deus berjalan jauh lebih lancar daripada yang bisa diduga oleh Penasihat Tinggi Exar. Di saat dia menganggap Deus akan langsung tewas ketika melawan naga pertama, Deus justru bertahan melewati tiga ekor naga.


    Apaaa??? Tiga naga sudah kalah??? Why? Dipotong karena a) pengarang malas b) pengarang bingung pertarungannya mau dibagaimanakan c) keputusan bersama demi mengurangi jumlah halaman biar harga bukunya tidak terlalu mahal dan bikin keder calon pembeli d) semua jawaban salah

    Kalau gak salah bukan hanya tiga naga. Sewaktu melawan Viktish juga pertarungannya diskip. Hmm... Kenapa gak ditulis di sequel aja? Jadi si Deus ini pelan-pelan mempelajari kenyataan seiring dengan jumlah naga yang dia kalahkan. Jadi pertarungan dengan para naga gak perlu diskip. Toh, Sang Penantang Takdir ini kayaknya emang direncakan sebagai sebuah seri logi.

    Keempat, saya merasa gambaran Ratu Seraph yang diberikan kurang cocok untuk imej seorang ratu. Melihat cewek berambut panjang dengan armor (seperti di kover), saya malah teringat pada Erza dari Fairy Tail dan Chris Lightfellow dari Suikoden III. Tipe cewek kesatria dan bukan seorang ratu yang digambarkan anggun.

    Kelima, ini hal minor sih, saya merasa perasaan si Deus ketika menerima namanya pada awal cerita (hal. 23) agak aneh. IMHO, saya pribadi sih kalau baru selamat dari pembantaian sedesa dan menerima nama baru, tubuh saya tidak akan "bergetar oleh rasa bangga". Toh nama di sini hanya sekedar nama. Gak seperti di A Wizard of Earthsea.

    Ah, dari tadi ngomongin kekurangan mulu. Yang bagus dari novel ini? Jelas ilustrasinya. Saya rasa ilustrasi-ilustrasi yang ada digarap dengan apik. Saya juga suka dengan pergeseran fokus yang Deus alami. Dari yang semula hanya ingin menyelesaikan tugas dari Ratu Seraph, menjadi seorang Penantang Takdir.

    Dua bintang untuk novel ini. Thanks buat Kastil Fantasi yang udah ngirimin buku ini buat saya. Walau bukunya "cedera" ketika dikirim :'(

    Buku ini untuk reading challenge:
    - 2013 Fantasy Reading Chalenge
    - 2013 TBR Pile Reading Challenge

    View all my reviews


  16. 2013 Fantasy Reading Chalenge

    Tuesday, December 25, 2012

    Bah, jangan tanya. Saya ikutan 1 reading challenge (lagi). Emang yakin bisa baca semuanya? Yakin. Pasti bisa. Percayalah :p
    Info soal challenge ini bisa dilihat di blog hostnya.



    Jadi, sesuai namanya, reading challenge kali ini dikhususkan untuk buku-buku bertema fantasi. Minimal baca 12 buku dan juga ada tantangan tambahannya, Jadi, ini dia list buku saya:

    P.S.: kalau ada link pada judul, berarti buku sudah dibaca dan link akan membawa pada review buku tersebut.

    Tantangan tambahan:
    Indo Fantasy = Vandaria: Sang Penantang Takdir - Ardani Persada
    Award Winner = Lord of the Rings: The Return of the King (BILBY Award - 2002 Older Readers Award winner. Sebenarnya di situ ditulis "Lord of the Rings", jadi saya pikir buku ini bisa dipakai :p CMIIW)
    Mythology = The Lost Hero (Heroes of Olympus, #1) - Rick Riordan
    Movies Adaptation = Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring - J. R. R. Tolkien
    High Fantasy = Lord of the Rings: The Two Towers - J. R. R. Tolkien

    Tantangan utama:
    Tujuh buku yang saya pilih untuk tantangan utama adalah:
    1. Estarath Seri Quazar dan Ksatria #1: Penakluk dari Selatan - R. D. Villam
    2. Estarath Seri Quazar dan Ksatria #2: Bocah dan Penyihir - R. D. Villam
    3. Estarath Seri Quazar dan Ksatria #3: Panah Kematian - R. D. Villam
    4. Takdir Elir - Hans J. Gumulia
    5. Graceling -Kristin Cashore
    6. Christopher Chant, Bocah Bernyawa Sembilan - Diana Wynne Jones
    7. Ender's Game - Orson Scott Card

    Huft, ini kenapa jadi buku berseri semua sih? Ah, sudahlah. Tidak apa-apa. Bisa upgrade challenge yang untuk berseri itu nih :D

    Edit (28 Februari 2013): Ada perubahan di daftar buku. Hal ini, setahu saya, boleh-boleh saja. Saya menarik keluar tiga buku C. S. Lewis dan menggantinya dengan buku lain. Untuk saat ini baru diganti dengan "Graceling".

    Edit (27 Maret 2013): Menambahkan novel "Christopher Chant, Bocah Bernyawa Sembilan" ke daftar buku Tantangan Utama.

    Edit (24 Juni 2013): Menambahkan Ender's Game ke daftar buku Tantangan Utama