Rss Feed
  1. Anne of Green Gables (Anne of Green Gables, #1)Anne of Green Gables by L.M. Montgomery
    My rating: 2 of 5 stars

    Title: Anne of Green Gables
    Author: L.M. Montgomery
    Publisher: Girlebooks
    Num. of pages: 398 pages
    Published: January 2011

    Anne of Green Gables is the first of a series of books about redheaded orphan Anne Shirley from Prince Edward Island, Canada. Published in 1908, Lucy Maud Montgomery found her inspiration for the book in a story she wrote at a young age describing a couple that was mistakenly sent an orphan girl instead of a boy but decided to keep her. She also drew upon her own childhood experiences in on the Island. Recently considered a children's book, Anne of Green Gables was originally intended as a novel for all ages.

    Review

    I don't know. It was just not my cup of tea. I have read "Heidi" and "Rebecca of Sunnybrook Farm" which have a kinda similiar story, but so far I only like Heidi.

    The whole story was fine, I think. There were some funny parts and I quite like the characters. Anne is very high spirited and has a lot of fantasies.

    So, I dunno. Maybe I just don't suit with this kind of story.

    This book is for the following reading challenges:
    - 2013 New Authors Reading Challenge
    - 2013 Books in English Reading Challenge
    - 2013 What's in A Name Reading Challenge
    - 2013 Color Coded Reading Chalenge


    View all my reviews

  2. Friday's Recommendation #8

    Friday, October 11, 2013

    Selamat hari Jumat kedua. Selamat libur panjang bagi yang kantor/sekolahnya libur karena harjitnas. Hari Jumat minggu kedua adalah waktu bagi "Friday's Recommendation" yang diadakan oleh Mbak Ren. Untuk minggu ini, buku yang saya rekomendasikan adalah:

    The Age of Miracles
    by: Karen Thompson Walker
    genre: drama, family, YA, fantasy
    Review saya untuk buku ini bisa dilihat di sini

    Dari Goodreads:
    On an ordinary Saturday in a California suburb, Julia awakes to discover that something has happened to the rotation of the earth. The days and nights are growing longer and longer; gravity is affected; the birds, the tides, human behavior, and cosmic rhythms are thrown into disarray. In a world that seems filled with danger and loss, Julia also must face surprising developments in herself, and in her personal world-divisions widening between her parents, strange behavior by her friends, the pain an vulnerability of first love, a growing sense of isolation, and a surprising, rebellious new strength.
    Sebenarnya baca buku ini sudah dari bulan lalu sih. Saya suka sama ceritanya. Walau premis ceritanya terdengar sangat fiksi ilmiah, buku ini sebenarnya lebih berfokus pada masalah sosial yang terjadi sebagai efek perlambatan rotasi bumi. Skala sosialnya di sini tidak terlalu besar juga sih. Hanya di seputar keluarga Julia dan masyarakat di daerahnya. Ada juga dibahas soal efek internasional, tapi hanya sekedar disaksikan oleh Julia lewat TV.

    Buat saya, rasanya cukup menyenangkan untuk baca buku YA-fantasi yang tokoh utama wanitanya tidak jatuh cinta pada si "cowok berbahaya", mengalami cinta segitiga, atau dalam bentuk trilogi.

    Bukunya sudah terbit di Indonesia dengan kover berikut:


    Itu buku pilihan saya kali ini. Bagaimana denganmu?

    Untuk info soal Friday's Reommendation, kunjungi blog hostnya.


  3. Empat Tubuh Statera (Xar & Vichattan: Seri Ahli Waris Cahaya, #3)Empat Tubuh Statera by Bonmedo Tambunan
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: Xar & Vichattan: Empat Tubuh Statera (Xar & Vichatan, Seri Ahli Waris Cahaya #3)
    Penulis: Bonmedo Tambunan
    Penerbit: Adhika Pustaka
    Halaman: 428 halaman
    Terbitan: Maret 2012

    Kuil Kegelapan kembali bangkit.

    Tetapi, dengan sudah diimbuhinya Xar oleh cahaya, bangkitnya kuasa gelap tidaklah lagi dirasakan sebagai suatu ancaman yang serius oleh Xar dan Vichattan. Apalagi, setelah Kristal Utama pun berhasil diimbuhi cahaya.

    Ancaman yang sesungguhnya justru datang dalam bentuk cahaya yang bukan cahaya. Ancaman yang datang bersamaan dengan turunnya titik-titik putih dingin. Ancaman yang telah memutarbalikkan pikiran dan logika dunia.

    Akankah Gelap kembali meraja? Bagaimanakah nasib para ahli waris Cahaya? Dan apa yang sesungguhnya terjadi di Xar & Vichattan? Temukan jawabnya di buku terakhir dari seri Ahli Waris Cahaya: Empat Tubuh Statera.

    Review

    Wooho! Akhirnya sampai pada penghujung trilogi Xar & Vichattan. Selamat untuk Bonmedo Tambunan karena telah berhasil menyelesaikan triloginya ini dengan baik.

    Ok, jujur sejak akhir buku ke-2 saya sudah bertanya-tanya. Kira-kira bagaimana plot di buku ke-3? Secara Khalash dan pasukannya sudah terkirim ke void. Terus buku terakhir ini cerita soal apaan dong?

    Pertanyaan saya itu dijawab dengan cara yang mencengangkan. Di buku ini seluruh logika yang ada dibalik. Gelap bukanlah lawan sebenarnya. Ada suatu kuasa lebih tinggi lagi yang menyebabkan seluruh kekacauan. Bahkan kali ini keempat Pewaris Cahaya bekerja sama dengan pihak gelap untuk mengembalikan keadaan seperti semula.

    Jujur saya cukup suka dengan plot di buku ini. Memang terkesan tiba-tiba sih, secara petunjuk ke sana tidak terlalu nampak di 2 buku sebelumnya, tapi penulisnya mengeksekusi idenya sedemikian rupa sehingga terasa nyambung dengan plot sebelumnya.

    Dari segi karakter juga ada perkembangan yang sangat signifikan. Di sini akhirnya ada yang jadian dan ada pula yang patah hati (atau setidaknya begitu menurut saya), selain itu para tokoh jahat di buku-buku sebelumnya juga mulai memperlihatkan karakteristik yang lebih dalam.

    Di buku ini perhatian spesial saya berikan kepada Gerome. Di awal cerita saya menangkap ada tanda-tanda bahwa dia suka sama Dalrin. Contohnya, di bagian depan ketika Dalrin datang di Vichattan. Gerome merapikan dirinya bahkan dia sampai mandi (yang tampaknya mengejutkan banyak pihak) untuk menyambut kedatangan Dalrin. Bahkan dia kayaknya girang berlebih karena kedatangan temannya itu.

    Sampai sana saya langsung merasa, "Kok ini anak kayak mempersiapkan diri kayak mau kencan yah."

    Tapi saya masih melakukan justifikasi dengan, "Ah, paling karena ada temannya datang, makanya dia merapikan diri. Walau kayaknya girangnya agak berlebih deh untuk anak seusianya."

    Etapi, makin ke belakang dia makin "menjadi-jadi" ding. Khususnya pas dia sirik karena Dalrin terus-terusan memperhatikan Kara. Alih-alih merasa cemburu karena dia juga suka sama Kara, saya malah merasa si Gerome ini cemburu karena Dalrin lebih perhatian ke Kara ketimbang dia. Dari sana saya sudah merasa ada "bau-bau" yang lain di sini.

    Dan akhirnya saya sampai pada komentar di salah satu review di Goodreads, dan membuka "Kotak Pandora" yang mengubah semuanya =_=

    Aaah, sudahlah. *puk-pukin Gerome. Tenang, suatu hari pasti kau akan menemukan orang yang cocok untukmu. *ini kenapa jadi panjang begini bahas soal Gerome?

    Secara keseluruhan saya suka buku ini. Pertarungannya tetap bagus (walau saya gak demen sama bentuk tentakel bos terakhirnya), karakternya lebih tergali, dan petualangannya tetap seru.

    Minusnya, masih ada beberapa salah ketik. Salah satu yang saya catat adalah penyebutan Dalrin sebagai Es-Xar di halaman 49. Selain itu menurutku ceritanya terlalu pendek. Khususnya di bagian mereka mengumpulkan dan mempelajari keempat Tubuh Statera. Rasanya bagian situ dipercepat banget.

    Nilai akhir seri X&V ini adalah:
    (2+4+4)/3
    = 10/3
    = 3,3
    = 3 bintang

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Indonesian Romance Reading Challenge


    View all my reviews


  4. Wishful Wednesday #36

    Wednesday, October 9, 2013

    Hai, hai. Bertemu lagi di Wishful Wednesday. Tiga minggu sudah saya "bolos" posting meme ini. Banyak kesibukan soalnya *sok.

    Buku yang saya inginkan untuk minggu ini adalah:




















    The Shores and the Piano, Dansa di Bawah Purnama, Februari untuk Kania
    oleh: Peri Penulis dan Sahabat
    Buku bisa diperoleh di:
    The Shores and the Piano
    Dansa di Bawah Purnama
    Februari untuk Kania

    Ini buku hasil lomba novelet yang diadakan oleh grup Peri Penulis. Iya, itu kumpulan novelet, bukan kumpulan cerpen. Dan, yup, ada saya sebagai kontributor di salah satu buku itu. *ketahuan deh kalau promo colongan.

    Tema lombanya waktu itu sih membuat novelet dengan tema utama cinta. Cinta di sini tidak harus bersifat eros, atau cinta seorang pria kepada wanita atau yang semacam itu. Cintanya bersifat universal. Nah, novelet saya, "Masa Kanak-Kanak Telah Berlalu" tergabung di buku "Dansa di Bawah Purnama" yang merupakan kumpulan novelet bergenre fantasi. 

    Btw, kalau ada yang pengin punya bukunya, bisa pesan lewat saya (harganya cuma 40 ribu kok), atau mengadu nasib lewat giveaway di bawah ini. Giveawaynya khusus untuk buku ke-2 saja. Silahkan klik tombol di bawah untuk ikutan (harus bergabung di Goodreads dulu tapi).

    P.s: untuk giveawaynya Mbak Astrid, saya mau yang "The Shores and the Piano" sama "Februari untuk Kania" deh. Yang "Dansa di Bawah Purnama" saya udah mesen soalnya :p

          Enter to win




    Itu buku pilihan saya kali ini. Apa buku pilihanmu?

    Untuk info soal WW, kunjungi blog hostnya


  5. Xar & Vichattan: Prahara (Xar & Vichatan Seri Ahli Waris Cahaya, Buku Dua)Xar & Vichattan: Prahara by Bonmedo Tambunan
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: Xar & Vichattan: Prahara  (Xar & Vichatan, Seri Ahli Waris Cahaya #2)
    Penulis: Bonmedo Tambunan
    Penerbit: Adhika Pustaka
    Halaman: 425 halaman
    Terbitan: Agustus 2010

    Pasukan Kuil Kegelapan terus bergerak maju. Xar,Vichattan, dan Kuil Cahaya kebingungan menghadapi pasukan Kegelapan yang kian bertambah kuat. Munculnya peri kegelapan yang
    meluluhlantahkan para peri pendukung cahaya dan terpecah belahnya keempat ahli waris cahaya semakin memperburuk keadaan. Belum lagi dengan semakin melemahnya kekuatan elemental dan juga kekuatan Xar karena ulah Khalash serta panglima-panglimanya.

    Keadaan begitu buruk sehingga para pendukung cahaya harus menggantungkan hidup mereka pada seorang wanita gila dan buku-buku kuno yang dilindungi oleh ilmu sihir mematikan. Titik terang pun muncul, tetapi tak berlangsung lama. Karena tak seorangpun mengira rencana kegelapan yang sebenarnya.

    Review

    Buku kedua dari serial Xar & Vichattan. Jauh lebih baik dari buku pertama, menurut saya.

    Dari segi pertarungan, tetap berhasil digambarkan dengan baik oleh penulisnya. Sesuai dengan judul bukunya, "Prahara", di sini memang ada banyak sekali perkelahian yang terjadi. Apalagi karena plot di sini terbagi 4 alur. Soalnya Dalrin, Antessa, Gerome, dan Kara terpisah karena melakukan tugasnya masing-masing.

    Dari segi karakter, terasa adanya perkembangan yang signifikan. Keempat protagonis tampak mengalami remajanisasi di sini. Kalau di review buku pertama saya bilang mereka terlihat seperti anak 10 tahunan, di sini mereka terasa lebih remaja. Soalnya sudah mulai ada urusan cinta, dendam, hingga keragu-raguan.

    Hanya saja soal "masalah remaja" yang saya sebutkan di atas itu kurang tergali di sini. Misalnya soal Dalrin yang punya rasa ke Kara. Di bagian depan hal ini banyak disinggung, tapi ke belakang sudah tidak ada tuh.

    Selain itu, para tokoh antagonisnya juga mengalami perkembangan. Khalash yang merupakan tokoh jahat utama mulai menampakkan sisi yang lebih manusiawi. Motifnya yang semula hanya untuk "menguasai dunia" juga mulai sedikit tampak kedalamannya. Shiba dan Corbus juga mengalami pertumbuhan yang berarti di sini.

    Minus untuk buku kedua ini datang dari penulisannya. Ada beberapa kali saya mendapati kalimat, baik dalam narasi maupun dialog, yang terasa tidak pas. Rasanya seperti ada satu-dua kata yang kurang, atau susunan katanya yang terbalik-balik. Sayangnya saya gak nyatet contoh kalimatnya OTZ

    Ada juga beberapa typo di buku ini, seperti huruf kecil di awal dialog, dialog yang harusnya tertulis miring tapi tidak diberi italic, serta pemenggalan dengan tanda '-' yang tidak pada tempatnya.

    Beberapa salah ketik lain yang saya catat:
    - kata 'diingatannya' (hal. 171), yang harusnya dipisah, karena IMHO 'ingatannya' di sini menunjuk kata tempat.
    - nama Pietas yang jadi Amor di halaman 378. Saya sampai bolak-balik nyari kapan Amor dan Gerome tiba di Kuil Cahaya

    Nilai plus untuk tulisannya ada di dialognya yang sudah tidak terlalu telenovela. Bener kan, saya bakal lebih menikmati kalau dialog telenovela di buku 1 berkurang.

    Secara keseluruhan, buku kedua ini lebih baik dari buku pertama. Pertarungannya tetap apik, tokoh-tokohnya mengalami perkembangan, dialognya lebih enak dibaca, serta ceritanya lebih seru dan membuat penasaran.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Indonesian Romance Reading Challenge

    View all my reviews

  6. Xar & Vichattan: Takhta CahayaXar & Vichattan: Takhta Cahaya by Bonmedo Tambunan
    My rating: 2 of 5 stars

    Judul: Xar & Vichattan: Takhta Cahaya (Xar & Vichatan, Seri Ahli Waris Cahaya #1)
    Penulis: Bonmedo Tambunan
    Penerbit: Adhika Pustaka
    Halaman: 312 halaman
    Terbitan: Juni 2009

    Peperangan antar Kuil Xar dan Vichattan berhadapan dengan Kuil Kegelapan tidak terhindarkan. Tapi perang kali ini tampaknya berlangsung tidak seimbang. Xar dan Vichattan tidak lagi didukung kekuatan Cahaya yang telah hilang seiring hancurnya Kuil Cahaya tujuh tahun yang lalu. Satu-satunya cara untuk mengimbangi Kuil Kegelapan adalah dengan membangun kembali Kuil Cahaya.

    Namun untuk menegakkan kembali Kuil Cahaya tak semudah membalikkan telapak tangan. Hanya orang terpilih saja yang dapat membangkitkan kembali Kuil Cahaya. Akhirnya Dalrin, Gerome, Kara dan Antessa ditunjuk oleh roh Cahaya masa lalu sebagai ahli waris Kuil Cahaya. Penduduk Xar dan Vichattan tidak ada yang percaya mendengar berita itu. Mereka hanya empat orang anak kecil, tapi diberi tugas yang sangat berat. Sekarang mereka mau tidak mau harus menjalankan tugas itu demi membangun kembali kekuatan Cahaya dan mengalahkan Kegelapan.

    Review

    Buku yang saya peroleh dari hasil tukar poin di grup Kastil Fantasi di Goodreads. Sudah lama kepengin baca buku ini karena seri X&V ini adalah salah satu trilogi fantasi lokal yang berhasil memenuhi janjinya sebagai sebuah trilogi, alias tiga bukunya berhasil terbit semua.

    Dari segi tema, X&V ini mengangkat tema klasik cahaya vs. kegelapan lengkap dengan segala atribut khasnya. Cahaya dilambangkan dengan kebaikan serta cinta dan segala sesuatu yang berwarna putih, sedangkan kegelapan berarti kejahatan, berasal dari sesuatu yang sifatnya buruk, serta berwarna hitam. Yeah, bahkan pakaian para pendeta Kuil Kegelapan hitam-hitam. Dari jubah hingga cawatnya. Serius. Cawatnya.

    Awalnya saya mengira X&V ini ada cerita pendahulunya dan seri ini merupakan sekuel dari seri sebelumnya. Soalnya di bagian awal banyak disinggung soal perang 7 tahun lalu dan runtuhnya Kuil Cahaya dan hal ini membuat saya berpikir, "Nih cerita ada prekuelnya apa gimana sih? Gak ada penjelasan apa-apa udah banyak pembicaraan soal perang masa lalu." Untungnya pertanyaan-pertanyaan saya, seperti kenapa Kuil Cahaya bisa runtuh, kenapa tidak satu pun pendeta Kuil Cahaya tersisa, atau kenapa Khalash, si tokoh utama jahat, bisa bangkit kembali, terjawab di belakang-belakang.

    Masuk ke tokoh, saya jujur tidak bisa membedakan keempat anak penerus Kuil Cahaya. Saya bingung mana yang mana. Selain itu saya merasa mereka seperti empat anak berusia 10 tahun. Bukannya anak-anak usia 14 tahunan.

    Terus tokoh jahatnya, si Khalash, man, dia stereotip tokoh jahat banget. Pakaian hitam-hitam, serta punya ambisi menguasai dunia. Cuma dia tidak banyak muncul di sini, jadi rasanya belum terlalu digali.

    Satu hal yang saya paling gak demen dari novel ini adalah dialog telenovelanya. Kenapa sih sering banget nama karakternya dimunculkan dalam dialog? Kadang pemanggilan nama dalam dialognya tepat guna, tapi kebanyakan saya rasa tidak perlu. Sudah jelas kok siapa bicara ke siapa, siapa menjawab ke siapanya. Kalau dialog telenovelanya ini dikurangi, saya rasanya akan lebih menikmati novel ini.

    Yang saya suka dari X&V ini adalah konsep ilmu Xar dan Vichattannya itu sendiri. Xar yang lebih memanfaatkan kekuatan dalam diri, serta para praktisi Vichattan yang menarik kekuatan dari alam. Konsep yang bagus.

    Selain itu adegan pertarungannya juga berjalan dengan sangat baik. Ilmu sihir dan ritual-ritualnya juga digambarkan dengan bagus.

    Secara keseluruhan, saya beri 2 bintang. Saya suka pertarungannya, tapi saya gak gitu suka dialog dan penokohan keempat anak sejauh ini.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 New Authors Reading Challenge


    View all my reviews

  7. Sekedar info buat yang belum tahu. Mbak Melody Violine sedang mengadakan giveaway di blognya yang berhadiah 1 buah novel "Old Shatterhand" - Karl May.


    Yang mau ikutan, langsung cek post ini. Buruan. Sisa 1 hari lagi giveawaynya :D