Rss Feed
  1. Waktu pertama kali ikutan tantangan baca, sekitar 2013, saya ingat sempat ikutan satu RC yang bertema binatang. Waktu itu peserta diminta untuk membaca buku dengan binatang di judul/kover/tokoh utama di ceritanya. Nah, pas lihat-lihat daftar to-read, saya jadi keingat lagi sama RC itu karena melihat 3 buku ini:

    1. I Am a Cat - Natsume Sōseki


    'I am a cat. As yet I have no name.'.

    Novel Jepang satu ini bercerita dari sudut pandang seekor kucing yang mengobservasi keseharian manusia. Pengin baca ini karena memang suka dengan tulisannya Soseki, dan karena penasaran dengan tema yang diangkat.

    2. A Bear Called Paddington - Michael Bond


    Buku anak-anak yang ada live action-nya pada 2014 yang lalu. Sempat nonton dan suka sama filmnya yang lucu dan family friendly. Jadi pengin tahu sedekat apa cerita di film dengan di novelnya (walau latar tempat dan waktunya pasti beda banget, sih).

    Poster film 'Paddington'
    3. A Game of Thrones - Perebutan Takhta - George R. R. Martin


    Buku yang membuat saya penasaran karena hype serial TV-nya. Sudah beli bukunya pas dapat diskon dari teman waktu pertama kali keluar, tapi tebal dan ukuran hurufnya yang ternyata 'normal' membuat saya memasukan buku in di timbunan dulu.

    Btw, apakah saya satu-satunya orang yang belum pernah nonton serial TV-nya?

    Itu dia 3 novel dengan binatang di kover/ceritanya yang pengin saya baca. Apakah ada buku sejenis juga di daftar to-read-mu?

  2. Across The OceanAcross The Ocean by Ria Destriana
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Across the Ocean
    Penulis: Ria Destriana
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 168 halaman
    Terbitan: Mei 2015

    “Kamu tahu bagaimana caranya mengobati hati yang luka?”

    “Bagaimana?”

    “Dengan tidak melaluinya sendirian.”

    Di seberang laut di Pulau Karimunjawa, dua hati yang terluka
    bertemu. Saat melihat Anindita, Bayu seperti melihat dirinya
    sendiri. Perlahan mereka menjadi dekat dan kedekatan itu
    membuat luka di hati masing-masing mengering dan digantikan
    sebuah perasaan yang tak asing.

    “Karena setiap orang berhak bahagia, termasuk kamu.”

    Anindita belum siap. Bayu bersedia menunggu.

    Tetapi, bagaimana kalau saat Anindita kembali ternyata Bayu
    tidak ada di sana?

    Review

    Jadi pengin ke Karimunjawa gara-gara buku ini. Deskripsi latarnya itu, loh. Bagus banget. Mungkin nanti saya bisa coba mengusulkan liburan keluarga ke tempat ini.

    "Across the Ocean" bercerita tentang Bayu, seorang pemuda yang pindah ke rumah keluarganya di Karimunjawa dan membuka usaha penginapan di sana. Tujuan utama kepindahan Bayu ini bukan karena ingin memulai usaha, tapi untuk menyembuhkan hati yang terluka karena baru saja putus dari wanita yang begitu dia cintai.

    Pada salah satu malam, saat dia tinggal di sana, Bayu menolong Anindita, seorang gadis yang hendak bunuh diri. Setelah peristiwa itu, Anin malah menjadi salah seorang tamu yang menginap di tempat Bayu. Pada hari-hari kebersamaan mereka, Bayu merasa semakin tertarik pada gadis itu, tapi waktu terus berdetak dan Bayu tahu kalau Anin tidak akan terus berada di sisinya.

    "Setiap orang berhak bahagia, termasuk kamu."

    Iya, ceritanya memang tentang dua orang yang terluka dan saling menyembuhkan satu sama lain. Tipe cerita kesukaan saya (dan juga tipe cerita di novel debut sendiri. #shamelessselfpromotion). Ceritanya manis dan saya suka banget sama interaksi kedua tokoh utamanya.

    Untuk ceritanya, saya merasa ini kurang panjang. Pengin banget ceritanya lebih diperdalam dan ada lebih banyak cerita tentang Bayu dan Anin.

    Secara keseluruhan, saya suka dengan novel ini. Latar tempatnya digambarkan dengan baik sekali. Kisah cintanya juga manis. Sayangnya novel ini terlalu pendek. Rasanya kurang puas melihat eksplorasi kehidupan kedua tokoh utamanya.

    Buku ini saya rekomendasikan untuk yang suka kisah cinta ringan dan latar tempat yang menawan.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews


  3. The Old CapitalThe Old Capital by Yasunari Kawabata
    My rating: 2 of 5 stars

    Judul: The Old Capital
    Penulis: Yasunari Kawabata
    Penerbit: Tuttle
    Halaman: 164 halaman
    Terbitan: 1998

    Whether this subtle and brooding novel deserves to rank alongside Snow Country and Thousand Cranes as one of Kawabata's major works is debatable, but it contains all the Nobel laureate's most striking characteristics - acute esthetic sensibility, preoccupation with the clash between old and new, pervasive melancholy and a story line suggestive of a Zen brush-and-ink painting where what is omitted is as important as what is included. Set in Kyoto, the Japanese city most symbolic of tradition, the story centers on a young woman, Chieko, who having been brought up to think her parents stole her as a baby in a fit of passionate desire is profoundly disturbed to learn (after a chance encounter with a girl who turns out to be her sister) that her real parents had abandoned her. Her identity crisis is exacerbated by her need to choose between carrying on her adoptive father's kimono-designing business, now in decay, and leaving home to marry. It's an intensely poetic story in which much is evoked, little stated or concluded.

    Review

    Saya menyalahkan 2 bintang kali ini pada terjemahannya dan ketidakmampuan pribadi untuk membaca dalam bahasa Jepang. Membaca terjemahan bahasa Inggris "The Old Capital" ini membuat saya merasa ada sesuatu yang hilang. Mungkin ada sesuatu yang lain yang hanya bisa ditangkap kalau mengerti tentang budaya Jepang dan bahasanya.

    "The Old Capital" bercerita tentang Chieko, seorang gadis yang diadopsi oleh suami-istri pedagang kimono. Suatu hari, pada sebuah festival, Chieko bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengannya, seorang gadis bernama Naeko yang ternyata adalah saudari kembarnya. Dunia Chieko pun mulai berubah sejak pertemuan itu.

    Ada banyak simbol di dalam novel ini. Mulai dari kehidupan Chieko dan saudari kembarnya, Naeko, hingga ke jangkrik di dalam guci. Semuanya bicara tentang perubahan, khususnya tentang Jepang yang bergeser dari tradisional ke modern, serta ilusi dalam hidup.

    "The time never comes when a beautiful illusion turns ugly." (hal. 155)

    Untuk ceritanya sendiri, saya cukup menikmati. Saya suka melihat kontras antara hidup Chieko dan Naeko, serta permainan nasib yang menimpa mereka. Saya juga suka dengan interaksi Chieko dan Shin'ichi. Sayangnya, novel ini kurang panjang. Akhir ceritanya gantung banget. Coba lebih dipanjangin lagi :'). Tapi, yah, mungkin novel ini memang tidak bertujuan untuk memperlihatkan seluruh kehidupan Chieko.

    Novel ini saya rekomendasikan untuk yang suka membaca novel dengan simbolisme yang kuat, atau yang suka pada literatur Jepang klasik.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  4. Ocean BreezeOcean Breeze by Cepi R. Dini
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Ocean Breeze
    Penulis: Cepi R. Dini
    Penerbit: Ice Cube Publisher
    Halaman: 254 halaman
    Terbitan: Juni 2015

    “Jadi nama panjangmu….”

    “Ocean Alamanda.”

    “Walker.”

    Ocean menggeleng. “Hanya Ocean Alamanda.”

    “Akan menjadi Walker. Segera.” Brian berjanji.

    Seumur hidup, Ocean hanya tinggal berdua dengan ibunya di Anchorage, Alaska, tanpa satu orang pun kerabat. Dan ketika ibunya meninggal dunia, Ocean sudah pasrah kalau harus tinggal di panti asuhan. Namun pengacaranya justru membawa kabar mengejutkan bahwa Ocean akan pindah ke Miami untuk tinggal dengan ayah kandungnya, Brian Walker. Meskipun Brian orang yang baik hati dan penyayang, sulit bagi Ocean untuk menerima dan mengakui pria asing itu sebagai ayahnya. Apalagi Brian ternyata sudah berkeluarga dan istrinya tidak menunjukkan tanda-tanda kesediaan menerima Ocean. Mau tidak mau, Ocean harus beradaptasi dengan keluarga, teman-teman, dan lingkungan barunya. Jauh dari kampung halamannya yang nyaman. Jauh dari pusara sang ibu.

    Review

    "Ocean Breeze" bercerita tentang Ocean Alamanda, seorang gadis blasteran Amerika-Indonesia. Saat ibunya meninggal, Ocean terkejut saat mendapati bahwa dia masih memiliki seorang ayah. Padahal selama ini dia hidup tanpa kehadiran seorang ayah dalam hidupnya.

    Ocean terpaksa pindah dari Alaska ke Miami untuk hidup bersama ayahnya. Sayang hidupnya yang baru tidak mudah bagi Ocean. Dia harus berjuang mengatasi rasa kehilangan ibunya, menyesuaikan diri dengan kehidupan baru bersama ayahnya, serta seorang ibu tiri yang tidak menerimanya. Semuanya dalam waktu bersamaan.

    Saya... nggak tahu kenapa, tapi begitu baca nama Ocean Alamanda, saya langsung kepikiran kalau nama ini bisa disejajarkan dengan America Singer.

    Hmm... sejujurnya saya kurang dapat feel ceritanya. Awalnya kupikir ceritanya akan sendu karena berhubungan dengan kehilangan seorang ibu, tapi... entah, ya. Saya tidak merasakan kehilangannya Ocean. Dia juga tidak terlalu merasa kehilangan, sih. Hidup barunya Ocean juga tidak terlalu memiliki tantangan. Soalnya begitu Ocean kena masalah, selalu ada pemecahan yang muncul dengan mudahnya. Andaikan penulisnya mau lebih memfokuskan masalahnya Ocean dan lebih memperuncing masalah-masalahnya, saya yakin ceritanya bisa lebih menarik.

    Secara keseluruhan 2,5 bintang. Saya suka dengan interaksinya Ocean dan Julian, tapi masalah-masalah yang dihadapai Ocean terlalu mudah jalan keluarnya.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Young Adult Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Chalenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  5. Tantangan baca kali ini datang dari Mbak Yuska dan blognya, Lust and Coffee. Kalau mau ikutan, bisa langsung cek blog yang bersangkutan.


    Peraturan:

    1. Membaca setidaknya satu buku sastra karya penulis Indonesia
    2. Karya sastra boleh novel, kumpulan cerita, puisi, prosa, dll. Yang jelas fiksi ya, bukan non fiksi.
    3. Membuat resensi dan menampilkannya di blog, FB note, atau Goodreads.
    4. Membuat tautan resensi di linky paling bawah.
    5. Periode event ini mulai 3 Juli 2015 sampai 10 Oktober 2015.
    6. Linky dibuka sampai tanggal 15 Oktober 2015. Lewat tanggal tersebut, resensi yang didaftarkan akan dihapus.
    7. Boleh membuat postingan event ini di blog masing-masing dan membuat daftar bacaan selama periode berlangsung, tapi tidak wajib.
    8. Pemenang akan diundi dan diumumkan tanggal 25 Oktober. Akan ada 2 orang pemenang. Masing-masing mendapatkan hadiah buku yang bisa dipilih sendiri senilai @ 100rb rupiah.

  6. The Ocean at the End of the LaneThe Ocean at the End of the Lane by Neil Gaiman
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: The Ocean at the End of the Lane
    Penulis: Neil Gaiman
    Penerbit: Harper
    Halaman: 181 halaman
    Terbitan: April 2014

    A middle-aged man returns to his childhood home to attend a funeral. Although the house he lived in is long gone, he is drawn to the farm at the end of the road, where, when he was seven, he encountered a most remarkable girl, Lettie Hempstock, and her mother and grandmother. He hasn't thought of Lettie in decades, and yet as he sits by the pond (a pond that she'd claimed was an ocean) behind the ramshackle old farmhouse where she once lived, the unremembered past comes flooding back. And it is a past too strange, too frightening, too dangerous to have happened to anyone, let alone a small boy.

    A groundbreaking work as delicate as a butterfly's wing and as menacing as a knife in the dark, The Ocean at the End of the Lane is told with a rare understanding of all that makes us human, and shows the power of stories to reveal and shelter us from the darkness inside and out.

    Review

    Man, akhirnya saya baca novel ini. Sudah pengin baca sejak dia pertama rilis di 2013. Kovernya itu loh. Cakep banget. Ini salah satu novel "langka" yang pengin saya baca hanya gara-gara kovernya. Tapi yah, harganya yang mencapai 250 ribuan untuk paperback dan hardcover, waktu itu ingat banget cuma beda seribu antara keduanya, membuat saya urung untuk beli.

    "The Ocean at the End of the Lane" bercerita tentang seorang pria, yang tak bernama, yang pulang ke kota kelahirannya untuk menghadiri sebuah pemakaman. Di sana dia tanpa sengaja sampai di sebuah peternakan tua dan bertemu kembali dengan sebuah kolam kecil. Kolam yang membangkitkan kembali ingatan masa kanak-kanaknya.

    Pria itu kemudian teringat akan pertemuannya dengan seorang gadis, Lettie Hempstock, yang membawanya ke sebuah dunia lain dalam usaha untuk menghentikan bencana yang sedang terjadi di kota itu. Sayangnya perjalanan itu justru menjadi awal malapetaka baginya.

    I was a seven-year-old boy, and my feet were scratched and bleeding. I had just wet myself. And the thing that floated above me was huge and greedy, and it wanted to take me to the attic, and, when it tired of me, it would make my daddy kill me. (hal. 86)


    Saya suka dengan ceritanya yang terkesan sederhana dan bersifat "fantasi anak-anak". Dalam artian, tidak ada unsur politik, darah, atau yang semacam itu. Hanya ada seorang anak laki-laki, sebuah dunia ajaib, dan petualangan. Tapi, di balik semua itu, saya juga bisa merasakan sebuah kisah tentang hidup, tumbuh dewasa, dan kehilangan hal-hal yang pernah kita miliki dan telah terlupakan selama proses pertumbuhan itu.

    "Monsters come in all shapes and sizes. Some of them are things people are scared of. Some of them are things that look like things people used to be scared of a long time ago. Sometimes monsters are things people should be scared of, but they aren't." (hal. 112)


    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  7. Wishful Wednesday 60

    Wednesday, July 1, 2015

    Hei, guys. Selamat hari Rabu. Selamat awal bulan. Apakah sudah pada gajian? Sudah atau belum, saya yakin pasti tetap pada nggak bisa berhenti jajan mata buku-buku bagus.

    Iya, awal bulan ini saja sudah ada tiga komik yang keluar bersamaan yang pengin saya beli. Belum lagi ada novel-novel yang baru keluar yang pengin saya baca. Duh, jebol dah dompet bulan ini.

    Anyway, salah satu buku yang pengin (dan rencananya akan) saya baca bulan ini adalah:

    Amaranth, Love, Lies, Bleeding
    oleh: Maria Ch Michaela

    Blurb:

    "Aku jatuh cinta padanya. Tapi dia tidak cinta padaku."

    Saat berpisah dengan Armand Dio lebih dari empat tahun yang lalu, Noni tidak pernah berpikir bahwa ia akan bertemu lagi dengan Dio. Dio sendiri telah mengatakan kepada Noni bahwa dia tidak akan kembali ke Indonesia. Saat mereka berpisah, satu-satunya yang diinginkan Noni hanyalah melupakan semua rasa perih yang diakibatkan Dio.

    Namun empat tahun kemudian, takdir (atau kebetulan?) mempertemukan mereka kembali. Noni, yang masih berstatus sebagai mahasiswi yang tak kunjung jadi sarjana harus menghadapi kenyataan Dio telah menjelma menjadi seorang pelukis yang mulai dikenal di dunia seni rupa. Noni harus memilih, apakah tetap memutuskan hubungan dengan Dio atau apakah mereka bisa mencoba kembali berteman. Apakah ini juga pertanda kesempatan kedua bagi Noni untuk merebut cinta Dio sekali lagi?

    Mungkin cinta tidak pernah mati, mungkin cinta hanya akan tertidur dan suatu saat ia akan bangun kembali.

    Tidak semua kesalahan dapat dimaafkan begitu saja. Tidak semua rasa sakit dapat lenyap dengan mudah. Noni lalu menyadari bahwa ia masih mencintai Dio.

    ***

    Mengejar cinta seseorang itu ibarat minum bir. Kamu harus tahu, kapan kamu masih dapat melanjutkan minum dan kapan kamu harus berhenti sebelum kamu jatuh mabuk. 




    Ini karya terbaru Kak Maria Ch Michaela, salah seorang penulis yang saya kenal lewat grup Peri Penulis. Sebelumnya saya pernah beberapa kali sebuku dengan dia, seperti di antologi Lapangan Tanah Merah dan Noel d' Amour 2: Post Card Edition.

    Sekitar tahun 2013 atau 2014, saya pernah baca kalau dia akan segera menerbitkan novelnya yang memenangi lomba di salah satu penerbit. Lama ditunggu-tunggu, novel itu tidak kunjung terbit. Barulah pada 2015 ini saya melihat kabar bahwa novelnya akan terbit lewat Penerbit Andi.

    Dan... setelah membaca postingan blognya yang ini, baru deh saya tahu kalau ternyata memang ada drama dan penantian yang panjang di belakang layar. Selamat untuk Kak Maria dan kelahiran novelnya ini.