Rss Feed
    Showing posts with label Penerbit Qanita. Show all posts
    Showing posts with label Penerbit Qanita. Show all posts
  1. The Haunting of Hill HouseThe Haunting of Hill House by Shirley Jackson
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: The Haunting of Hill House
    Penulis: Shirley Jackson
    Penerbit: Penerbit Qanita
    Halaman: 376 halaman
    Terbitan: Januari 2017

    Hill House terpencil, ganjil dan angker. Ukiran dan lukisan di dalamnya seolah-olah mengamatimu ke mana pun kau pergi, pintu-pintu selalu tertutup sendiri, dan kau selalu merasakan dingin menggigit meski duduk di dekat perapian. Setiap malam, terdengar suara langkah kaki di koridor, dan ketukan-ketukan kasar di pintu, padahal ketika diperiksa, tidak ada siapa-siapa. Tidak ada orang waras yang sudi tinggal di sana .…

    Namun, rumor-rumor seram Hill House malah menarik perhatian
    Dr. Montague, akademisi yang ingin melakukan penelitian tentang aktivitas supernatural. Dengan tiga orang asisten, Eleanor, Theodora, dan Luke, dia tinggal di Hill House selama musim panas. Awalnya gangguan-gangguan makhluk halus yang mereka alami masih bisa ditoleransi, tapi ketika Eleanor mulai mendengar suara-suara tanpa wujud yang membisikkan namanya, dan coretan cat merah di dinding yang memintanya pulang, keadaan mulai di luar kendali.
    Dr. Montague harus bertindak cepat jika tidak ingin korban nyawa berjatuhan.

    Review
     
    Seorang peneliti, seorang pria pembohong, seorang gadis flamboyan, dan seorang gadis pemalu berencana menghabiskan beberapa minggu di Hill House. Tujuan mereka adalah menyelidiki Hill House, rumah yang terkenal angker dan dijauhi oleh warga sekitar. Dr. Montague, si peneliti, percaya bahwa ada sesuatu di rumah itu yang dapat membuktikan penelitian ilmiahnya tentang hal-hal supernatural.

    Hill House tak waras; berdiri dalam kesendirian, bersandar pada perbukitan, memendam kelam; ia telah berdiri selama delapan puluh tahun dan mungkin akan terus berdiri selama delapan puluh tahun lagi. Di dalamnya, dinding-dinding terus menegak, bata-batanya tersusun dengan tertib, lantai-lantainya kokoh, dan pintu-pintunya tertutup rapat; keheningan yang pekat menyelubungi kayu-kayu dan bebatuan di Hill House, dan apa pun yang bergentayangan di sana, bergentayangan sendirian.


  2. The Brief Wondrous Life of Oscar WaoThe Brief Wondrous Life of Oscar Wao by Junot Díaz
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: The Brief Wondrous Life of Oscar Wao
    Penulis: Junot Diaz
    Penerbit: Qanita
    Halaman: 380 halaman
    Terbitan: Oktober 2011

    Sungguh berat hidup Oscar, seberat tubuhnya sendiri. Seorang kutu buku dari keluarga imigran Dominika yang tinggal di New Jersey. OScar adalah pria yang lembut, tetapi sayangnya luar biasa kelebihan berat badan. Ia bermimpi menjadi the next J.R.R Tolkien dan terus menerus mendambakan cinta (dan terus menerus ditolak). Oscar mungkin tidak akan pernah menemukan cinta akibat Fuku - kutukan kuno yang menghantui keluarganya dari generasi ke generasi, yang menyebabkan mereka tertimpa berbagai kemalangan: penjara, penyiksaan, kecelakaan mengerikan, dan kisah-kisah cinta tragis.

    Ditulis secara cerdas, novel ini membuat pengarangnya dipuji sebagai salah satu novelis paling segar dan inovatif dari generasi kontemporer. Memadukan gaya penulisan postmodern, realisme magis ala sastrawan Amerika Latin dan penjelajahan lanskap pop culture, novel ini menyuguhkan sebuah bacaan yang unik, ringan sekaligus mendalam. Nakal sekaligus serius, jenaka sekaligus tragis. Novel ini akan menghibur sekaligus memaksa kita merenungi (dan menertawai) dunia kontemporer dan perjalanan sejarah yang terkadang begitu absurd.

    Review

    "The Brief Wondrous Life of Oscar Wao" bercerita tentang Oscar de León, yang kemudian memperoleh nama panggilan Oscar Wao, seorang laki-laki yang sangat kelebihan berat badan, gila pada RPG dan segala hal yang berbau fantasi, dan sulit mendapatkan wanita. Oscar menjadi antitesis dari pria Dominika. Hal ini mungkin disebabkan oleh fukú, sebuah kutukan yang mengikuti keluarga Oscar secara turun-temurun.

    Kovernya... kena sih dengan inti ceritanya. Gaya komik pada kovernya juga tepat sasaran dengan ceritanya. Tapi... kovernya kurang menarik. Saya beberapa kali melihat novel ini di obralan dan tidak pernah tertarik untuk lihat judulnya gara-gara kovernya. Baru-baru ini saya kembali menemukan novel ini di obralan, melihat judulnya, lalu baru ngeh kalau buku ini salah satu pemenang Pulitzer Prize.

    Salah satu buku dengan gaya penceritaan yang menarik, sekaligus sulit untuk dicerna. Pertama, sama sekali tidak ada tanda kutip ("), tanda yang dipakai untuk menyatakan dialog, di buku ini. Ada dialog di buku ini, tapi kesannya sama seperti narasi lainnya. Hal ini membuat novel ini terkesan seperti buku non-fiksi yang menceritakan biografi Oscar. Kedua, ada banyak sekali referensi yang membutuhkan catatan kaki dan glosarium. Selamat membolak-balik buku ini untuk bisa paham apa yang naratornya maksudkan. Ketiga, ada banyak bahasa Spanyol-slang di sini, tapi jangan khawatir, karena penerjemahnya langsung meletakkan artinya di samping kalimat-kalimat tersebut.

    Ceritanya sendiri berat dan tragis. Selain bercerita tentang kutukan yang menimpa keluarga Oscar, novel ini juga bercerita tentang era kekuasaan Rafael Trujillo, penguasa Republik Dominika selama 31 tahun.

    Oscar bukan tipe protagonis yang sepenuhnya likeable. Ada momen-momen yang membuat saya cukup kesal padanya karena gampang menyerah dan terlalu mengasihani diri sendiri. Tapi, kalau jalan hidupnya seperti Oscar, rasanya saya bisa paham kenapa dia bertingkah seperti itu. Walau tetap kesal, sih.

    Secara keseluruhan, "The Brief Wondrous Life of Oscar Wao" adalah novel yang menarik. Kisah sejarah, surealisme, dan seorang "Ghetto Nerd at the End of the World" yang terbalut dengan apik, tapi membutuhkan konsentrasi penuh dalam membacanya.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  3. To Kill a MockingbirdTo Kill a Mockingbird by Harper Lee
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: To Kill a Mockingbird
    Penulis: Harper Lee
    Penerbit: Penerbit Qanita
    Halaman: 568 halaman
    Terbitan: Maret 2006

    Kehidupan Scout dan Jem Finch berubah total saat ayah mereka menjadi pembela seorang pemuda kulit hitam. Saat Atticus Finch membela seseorang yang diangap sampah masyarakat, kecaman pun datang dari seluruh penjuru kota. Di tengah terpaan masalah yang menimpa keluarganya, si kecil Scout belajar bahwa kehidupan tidak melulu hitam dan putih. Bahwa prasangka seringkali membutakan manusia. Dan bahwa keadilan tidak selalu bisa ditegakkan.

    Review

    "Kau boleh menembak burung bluejay sebanyak yang kau mau, kalau bisa kena, tetapi ingat, membunuh mockingbird itu dosa." -Atticus kepada Jem, menurut Scout.


    Ada dua alasan kenapa saya baca buku ini. Satu, karena status legendarisnya. Dua, karena buku sekuelnya akan terbit Juli 2015 nanti. Lima puluh lima tahun sesudah buku pertamanya terbit.

    Gila. Padahal kukira Topeng Kaca sudah yang paling bikin bangkotan nungguin kelanjutannya.

    Bayangkan gitu ya, seorang anak yang baca buku ini saat pertama kali terbit, sekarang sudah beranak cucu. Dan para orangtuanya? Oh, beruntung kalau masih bisa membaca.

    Anyway, saya suka banget sama ceritanya dan bisa paham kenapa begitu banyak orang suka dengan novel ini. Ceritanya mengangkat tema yang berat sebenarnya: masalah rasial, ketidakadilan sosial, dan kekerasan. Tapi, ceritanya menjadi ringan dan mudah diikuti karena semuanya dilihat dari sudut pandang Scout, si gadis kecil dalam keluarga Finch.

    Scout yang tomboi, cerdas, dan peka membuat saya, sebagai pembaca, bisa melihat kasus yang ditangani Atticus dalam sudut pandang yang begitu berbeda. Andaikan novel ini dibuat dengan sudut pandang Atticus, kurasa ceritanya tidak akan semenarik ini (dan juga akan jauh lebih berat). Dan kisah keseharian dan petualangan-petualangan kecil yang dialami Scout dengan Jem dan Dill juga sangat menarik dan lucu.

    Secara keseluruhan, "To Kill a Mockingbird" adalah sebuah novel yang saya sarankan untuk dibaca setidaknya sekali. Ada begitu banyak emosi di dalam buku ini, serta perasaan melankoli bahwa hal-hal buruk terjadi pada orang baik.

    "Pertama-tama, kalau kau bisa mempelajari satu keterampilan sederhana, Scout, kau bisa bergaul lebih baik dengan berbagai jenis orang. Kau baru bisa memahami seseorang kalau kau sudah memandang suatu situasi dari sudut pandangnya, kalau kau sudah memasuki kulitnya dan berjalan-jalan di dalamnya." -Atticus kepada Scout


    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Read Big Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews