Rss Feed
  1. Setelah pada September yang lalu daftar 10 besar Khatulistiwa Literary Award dirilis, pada Oktober ini daftar itu dikerucutkan menjadi 5 judul saja per kategorinya. Ini dia 5 buku pada daftar akhir Khatulistiwa Literary Award:

    Kategori Prosa:

    1. Kepada Apakah - Afrizal Malna
    2. Hanya Kamu Yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu - Norman Pasaribu
    3. Surga Sungsang - Triyanto Tiwikromo
    4. Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas - Eka Kurniawan
    5. Semua Untuk Hindia - Iksaka Banu
    Kategori puisi:

    1. Saiban - Oka Rusmini
    2. Tanda-Tanda Yang Bimbang  Ook Nugroho
    3. Rusa Berbulu Merah - Ahda Imran
    4. Piknik Yang Menyenangkan - Hasta Indriyana
    5. Tetralogi Kerucut - A. Muttaqin
    Itu dia kelima buku untuk kategori prosa serta kategori puisi. Jujur saya belum baca satu pun buku di atas, tapi untuk kategori prosa, kayaknya kali ini antara "Hanya Kamu Yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu" dan "Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas". 

    Malam Anugerah Khatulistiwa Literary Award (Kusala Sastra Khatulistiwa) 2014 akan diselenggarakan pada tanggal 20 November 2014 di atrium Plasa Senayan jam 7 malam.

    Sumber info: situs KLA

  2. The Miraculous Journey of Edward TulaneThe Miraculous Journey of Edward Tulane by Kate DiCamillo
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: The Miraculous Journey of Edward Tulane
    Penulis: Kate DiCamillo
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 208 halaman
    Terbitan: April 2014

    Dahulu kala, di rumah di Egypt Street, tinggallah kelinci porselen bernama Edward Tulane. Kelinci itu sangat bangga pada dirinya sendiri, dan memang beralasan: ia dimiliki anak perempuan bernama Abilene, yang memperlakukannya dengan penuh kasih dan amat sangat menyayanginya.

    Lalu, suatu hari, ia hilang.

    Maka dimulailah perjalanan luar biasa Edward Tulane: dari dasar laut ke jala nelayan, dari puncak gunung sampah ke dekat api unggun gelandangan, dari tempat tidur anak yang sakit keras ke jalan-jalan kota Memphis. Dan selama perjalanannya itu, ia jadi tahu---bahwa hati yang paling rapuh sekalipun dapat belajar menyayangi, kehilangan, dan menyayangi lagi.

    Review

    Butuh 8 tahun bagi saya dan buku ini untuk kembali menemukan satu sama lain. Waktu buku ini pertama terbit di tahun 2006, saya sudah tertarik untuk membacanya. Waktu itu saya tidak tahu buku ini bercerita tentang apa, tapi gambar kover serta cerita di halaman belakangnya membuat saya tertarik. Hanya saja buku ini tidak pernah berhasil terbeli waktu itu, karena faktor tidak ada uang tentunya. Untungnya buku ini dicetak ulang pada tahun 2014 ini.

    Ada banyak sekali tema yang saya rasa buku ini coba jelajahi. Mulai tentang tinggi hati, pemanjaan yang berlebihan (lewat perlakuan yang Edward terima dari Abilene. Saya rasa ini faktor yang membuat Edward sombong), kehilangan, harapan, serta mencintai orang lain. Tema yang bukan saja cocok untuk anak-anak, tapi juga orang dewasa.

    Saya suka bagaimana Kate DiCamillo mengambil sudut pandang sebuah benda mati yang tidak bisa berinteraksi langsung dengan manusia yang memilikinya. Perubahan yang Edward alami justru jauh lebih menarik karena posisi pasifnya itu.

    Selain itu, cerita orang-orang yang memiliki Edward juga menarik. Dari berbagai golongan, usia, dan jenis kelamin. Walau begitu, saya merasa ada tema yang cukup mirip di antara beberapa pemilik Edward, yakni kehilangan dan menemukan sebuah harapan baru.

    Menutup review ini, saya akan memberikan kutipan dari Pellegrina, nenek Abilene:
    "Tapi coba jawab ini: bagaimana cerita bisa berakhir bahagia kalau tidak ada cinta?" (hal. 35)
    Tidak harus cinta yang bersifat eros tentunya. Bisa juga cinta yang lebih universal. Jadi, sudahkah kamu mengusahakan akhir yang bahagia hari ini?

    Secara keseluruhan: sebuah buku dengan tema yang cocok untuk segala usia, cerita yang mengharukan, serta gambar-gambar penuh warna yang indah.


    View all my reviews

  3. Rencana BesarRencana Besar by Tsugaeda
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: Rencana Besar
    Penulis: Tsugaeda
    Penerbit: Bentang Pustaka
    Halaman: 384 halaman
    Terbitan: Agustus 2013

    Rifad Akbar. Pemimpin Serikat Pekerja yang sangat militan dalam memperjuangkan kesejahteraan rekan-rekannya.

    Amanda Suseno. Pegawai berprestasi yang mendapat kepercayaan berlebih dari pihak manajemen.

    Reza Ramaditya. Pegawai cerdas yang tiba-tiba mengalami demotivasi kerja tanpa alasan jelas.

    Lenyapnya uang 17 miliar rupiah dari pembukuan Universal Bank of Indonesia menyeret tiga nama itu ke dalam daftar tersangka. Seorang penghancur, seorang pembangun, dan seorang pemikir dengan motifnya masing-masing. Penyelidikan serius dilakukan dari balik selubung demi melindungi reputasi UBI.

    Akan tetapi, bagaimana jika kasus tersebut hanyalah awal dari sebuah skenario besar? Keping domino pertama yang sengaja dijatuhkan seseorang untuk menciptakan serangkaian kejadian. Tak terelakkan, keping demi keping berjatuhan, mengusik sebuah sistem yang mapan, tetapi usang dan penuh kebobrokan....

    Review

    Suka pakai banget sama novel ini. Duh, bingung gimana cara review tanpa membocorkan cerita ke orang lain....

    Akhir tahun lalu saya sempat baca satu novel thriller/detektif karya penulis Indonesia, tapi saya tidak suka dengan novel itu. Selain cara penulisannya yang kurang pas, misterinya juga kurang menggigit. Setelah browsing sana-sini, akhirnya saya menemukan buku bergenre sama yang terlihat meyakinykan. Ya, buku ini maksudnya.

    Yang paling saya suka adalah hubungan antar kejadiannya. Kejadian A bisa terhubung dengan kejadian B, lalu berakibat pada kejadian C dengan runtut dan logis. Selain itu, karakter-karakternya juga menarik. Setiap karakter punya ciri khas yang kuat sehingga saya tidak sulit membedakannya ^^.

    Untuk ceritanya sendiri, sebenarnya lumayan ketebak. Soal siapa yang melenyapkan uang 17 miliar, serta ada apa di balik UBI berhasil saya tebak. Tapi saya tidak berhasil menebak seluruh plot tentunya :D.

    Saya suka dengan cara penulis menggabungkan seluruh plot di buku, juga cara mengakhiri ceritanya. Suka dengan adegan puncak yang melibatkan Amanda, Rifad, dan Makarim.

    Lima bintang untuk novel ini. Novel yang sukses bikin penasaran sampai saya begadang bacanya ^^. Semoga penulis akan menghasilkan karya lainnya yang tidak kalah seru dari ini. Mungkin dengan Makarim lagi sebagai tokoh utamanya?

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2014 New Authors Reading Challenge

    View all my reviews

  4. Postingan ini adalah ucapan terima kasih saya untuk para blog host "September to Remember", bloghop yang diadakan pada 15-23 September yang lalu.

    Saya sebenarnya hampir tidak jadi ikut. Soalnya pas mau kumpulin jawaban, ternyata Google Form-nya sudah tutup. Padahal belum lewat deadline waktu itu. Untungnya ada kebijakan untuk mengumpulkan jawaban lewat surel oleh penyelenggara ^^.

    Thanks to:
    Oky @ Kumpulan Sinopsis Buku (www.okydanbuku.com)
    Evyta @ Lensa Buku (www.lensabuku.com)
    Dhila @ Buku Di Bacain (www.buku.dibaca.in)
    Atria @ My Little Library (http://atriadanbuku.blogspot.com/)
    Fauzyyah @ Faraziyya’s Bookshelf (http://blogbukufaraziyya.wordpress.com/)
    Lila @ My Book Corner (http://justaveragereader.blogspot.com/)
    Putri @ Read. Review. Romance (http://Read-book-and-review.blogspot.com/)
    Erta @ Fiction and Me (http://ertalin.blogspot.com/)
    Kezia @ Ex- (http://itdoesexists.wordpress.com)

    Oh, iya. Bukunya sudah sampai dengan selamat.


    Kali ini pilihannya didominasi novel terbitan Gagas Media. Kenapa? Soalnya saya tidak bisa menemukan terbitan Gagas Media di toko buku tempat saya biasa belanja. Kalau mau beli bukunya Gagas, harus ke toko buku yang letaknya agak jauh.

    Dua buku lainnya ada di daftar to-read Oktober saya. Trivia: The Miraculous Journey of Edward Tulane adalah buku pertama yang saya masukkan di rak to-read saya di Goodreads. Sudah 3 tahun lebih dia bertengger di sana. Sudah waktunya kamu pindah rak :').

  5. ElipsisElipsis by Devania Annesya
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: Elipsis
    Penulis: Devania Annesya
    Penerbit: Penerbit POP, KPG
    Halaman: 227 halaman
    Terbitan: September 2014

    Eeuwige liefde is liefde die niet meer terugkomt.
    Cinta yang abadi adalah yang tak kembali.

    Atran sudah berhenti menghubunginya. Kalea memutuskan untuk terus
    menjalani hidup dengan menerima lamaran laki-laki lain. Kendati demikian, kenangan bersama Atran tak akan pernah memudar barang sedetik. Atran bukan laki-laki biasa. Ia bisa berbicara dengan angin dan pohon. Ia selalu tahu kapan hujan akan turun, kapan kematian mengepakkan sayap. Ia mampu berbicara dengan roh dan semesta. Namun, dengan segala kemampuan supernatural yang dimilikinya, mengapa Atran mengabaikannya? Tak bisakah Atran mendengar panggilannya? Dua tahun berlalu dan ia dibiarkan meragu.

    Berpisah darimu bagaikan sebuah elipsis—jeda yang tak terisi oleh katakata. Ketika kau jauh, aku menemukan bahwa di antara kita ada ikatan tak kasat mata, kata-kata yang tak terucap, rasa yang tak terungkap, memori yang menguat seiring besarnya jurang pemisah antara kita. Kau bilang kau mencintaiku. Kau bilang kau akan kembali. Namun selalu ada ruang untuk meragu. Selalu ada elipsis yang kemudian diisi oleh rasa kehilangan. Selalu ada jeda bagi hati yang kosong.

    Review

    Tertarik untuk baca novel ini sejak melihat tweet penerbit tentang buku ini. Pengin baca paranormal romance karya penulis dalam negeri.

    Awalnya saya mengira tokoh di novel ini berada dalam usia dewasa, tapi ternyata tidak begitu tepat. Alur waktunya di sini cukup lebar. Mulai dari saat Atran dan Kalea remaja (murid SMA), hingga saat mereka dewasa. Hanya saja porsi remaja mereka lebih banyak.

    Lumayan suka dengan hubungan antara Atran, si murid aneh yang dijauhi satu sekolah karena dianggap sebagai "pelempar kutukan", dengan Kalea, murid pindahan yang hidupnya berantakan karena perceraian orang tuanya.

    Perpindahan alur waktunya agak membuat bingung di awal-awal, tapi setelah terbiasa, cukup mudah untuk membedakannya.

    Akhir ceritanya (SPOILER ALERT) ah, kenapa dibua begitu :'). Jujur saya lebih pengin mekihat Atran dan Kalea bahagia, ketimbang akhir yang penulisnya pilihkan.

    Secara keseluruhan: 3,5 bintang. Suka dengan cerita dan tokohya. Cuma terkadang saya merasa karakternya agak komikal dan terasa sedikit keluar dari karakter di beberapa tempat.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2014 Young Adult Reading Challenge
    - 2014 New Authors Reading Challenge

    View all my reviews

  6. Toraja:  Saat Cinta Menemukan Jalan PulangToraja: Saat Cinta Menemukan Jalan Pulang by Endang Ssn
    My rating: 1 of 5 stars

    Judul: Toraja: Saat Cinta Menemukan Jalan Pulang
    Penulis: Endang Ssn
    Penerbit: de Teens
    Halaman: 244 halaman
    Terbitan: Agustus 2014

    “Bira! Pada cinta yang tulus, jarak hanya cara Tuhan untuk membuatmu mengerti bagaimana rindu itu akan menemukan jalan pulang,” kata Tangke.

    Toraja menjadi pilihan dua sahabat, Tomi dan Sandy, untuk traveling sekaligus sebagai pelarian Sandy dari patah hati dan status pengangguran. Di tempat yang eksotis itu Sandy berhasil move on dan menemukan seorang gadis Toraja. Tapi, masalah tak selesai di situ. Cinta mereka tak direstui orang tua si gadis karena tidak boleh menikah dengan orang dari luar Toraja.
    Ah, cinta…, selalu butuh perjuangan, meski hati keduanya telah bertaut sekalipun.

    Review

    Buku ke-2 dari serial Travelove yang kubaca. Sebelumnya sudah baca "Nias: Penyelamat Berkalung Matahari" (review di sini) dan saya suka dengan novel ini. Sayangnya rasa suka itu tidak muncul di "Toraja: Saat Cinta Menemukan Jalan Pulang".

    Pertama, saya bingung dengan referensi orang-orang dalam novel ini tentang Toraja. Kenapa kayaknya semua orang menganggap Toraja adalah sebuah tempat yang menakutkan?
    Dia hanya perlu waktu untuk berkompromi dengan segala ketakutannya akan cerita-cerita yang pernah ia dengar tentang Toraja. Secara, ia juga tidak mau bunuh diri dengan tenggelam dalam aura mistis di sana. Upacara kematian yang membuat bulu kuduk bergidik adalah hal paling mematikan yang menyerang keberaniannya saat ini. (hal. 42)

    O... ke.... Anggap saja Sandy memang penakut. Saya yakin itu pasti karena ayahnya.
    Rasa kaget jelas terpancar dari raut muka Pak Broto. Ia terhenyak. Toraja dalam bayangannya adalah mistis (hal. 176)

    I'm just like:



    Di kepala mereka Toraja itu "mistis" kayak apa sih? Heran.

    Hal kedua yang kurang buat saya adalah: tempat-tempat yang didatangi. Muternya hanya di daerah Rantepao dan Kete Kesu. Itu pun minim deskripsi. Beda dengan di Nias yang deskripsinya lebih kaya.

    Tiga: cara mendeskripsian foto. Sebelum baca novel ini, kebetulan saya baru baca "Nada Tanpa Kata" karya Mira W. (review di sini). Nah, kebetulan tokoh di NTK dan di sini sama-sama menggeluti fotografi. Di NTK foto-foto yang diambil dijabarkan dengan cukup detail. Apa objeknya, apa warnanya, bagaimana posenya, apa yang menarik dari foto itu. Di sini?
    "Wow! Liat, deh!" kata Sandy sembari memperlihatkan beberapa bidikan yang menurutnya kena banget. (hal. 79).

    Tangan Sandy tak berhenti memutar satu per satu slide hasil jepretan Tomi sepanjang hari tadi. Pasar-pasar tradisional, beberapa tradisi harian masyarakat Toraja yang nyaris lewat dari perhatian, dan tentu saja alam yang menjadi poin paling menyenangkan buat Tomi. (hal. 111)

    Yang "kena banget" itu yang bagaimana? Pasar tradisionalnya seperti apa? Tradisi harian apa yang sering terlewatkan? Alam apa? Gunung? Sungai? Kali? Padang rumput? Tidak dijabarkan.

    Tapi yang paling mengesalkan dari novel ini adalah cara penulisnya mengolah Bira, tokoh wanita yang Sandy suka. Saya merasa Bira ini hanya sebuah objek. Benda. Bukan manusia. Dia kayak tidak punya keinginan lain dalam hidup selain bersama seorang pria yang baru dia temui dalam 1-2 minggu. Mereka bahkan belum sampai sebulan berkenalan. Apalagi sebagai pembaca, saya tidak mendapat banyak kesempatan untuk mengenal Bira lebih jauh.

    Terus Pak Broto juga. Dia tidak setuju sama Bira karena merasa asal-usul gadis itu tidak jelas. Eh... bagaimana kalau khawatir pada fakta bahwa anaknya masih pengangguran dan sekarang sudah (terlihat seperti) mau melamar anak gadis orang? Kalau penolakan keluarga Bira karena faktor tradisi sih masih bisa saya pahami.

    Secara keseluruhan, kalau membaca "Nias" membuat saya ingin pergi ke sana, membaca "Toraja" tidak membuat saya tertarik untuk pergi ke tempat itu.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2014 New Authors Reading Challenge

    View all my reviews

  7. Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran SarungCelana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung by Joko Pinurbo
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung
    Penulis: Joko Pinurbo
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 219 halaman
    Terbitan: Mei 2007

    Buku ini berisi sajak-sajak Joko Pinurbo yang pernah dimuat dalam "Celana", "Di Bawah Kibaran Sarung", dan "Pacarkecilku", trio kumpulan puisi yang telah memperkenalkan penyairnya sebagai salah satu ikon penting dunia perpuisian Indonesia modern. Niscaya buku ini merupakan dokumentasi karya yang sangat berharga dari penyair yang telah menerima berbagai penghargaan sastra ini.

    Review

    Nama Joko Pinurbo sebenarnya sudah pernah saya dengar beberapa kali dari pembicaraan tentang sastra Indonesia. Kebetulan karena nemu salah satu bukunya di perpustakaan, jadi saya pinjam.

    Puisinya banyak yang lucu :)). Ada kesan humoris yang kuat dari puisi-puisinya Joko Pinurbo. Buat saya yang awam soal puisi, ini adalah sesuatu yang baru dan menyegarkan.

    Jujur membaca bagian awal buku ini, saya merasa agak bosan. Entah kenapa, tema dan pemilihan katanya terkesan... repetitif. *lari ngumpet. Cuma semakin ke belakang, semakin bagus. Khususnya puisi-puisi tahun 2000-an. Saya suka banget.

    Beberapa puisi yang saya suka:

    Uban

    Pasukan uban telah datang memasuki wilayah hitam.
    Hitam merasa terancam dan segera merapatkan barisan.
    "Putih lambang kematangan, hitam harus kita lumpuhkan."
    "Hitam lambang kesuburan, putih harus kita enyahkan."

    Tiap malam pasukan putih dan pasukan hitam bertempur
    memperebutkan daerah kekuasaan sampai akhirnya
    seluruh dataran kepala berhasil dikuasai masyarakat uban.
    "Hore, kita menang. Kita penguasa masa depan."

    Tapi uban jelek di lubang hidungmu memperingatkan:
    "Jangan salah paham. Putih adalah hitam yang telah luluh
    dalam derita dan lebur dalam pertobatan."

    "Demikian sabda uban," sindir uban-uban pengecut
    yang tiap hari minta didandani dengan semir hitam.

    (1999)

    Pengamen

    Sepuluh orang pengamen menyerbu bus yang sedang lapar
    karena hanya diisi seorang penumpang.
    Ia orang bingung, duduk gelisah di pojok belakang
    membaca peta yang sudah kumal dan penuh coretan.

    Para pengamen yang tampak necis dan gagah bergiliran
    memetik gitar dan menyanyi lantang kemudian
    memungut uang dari penumpang lalu duduk berurutan.
    Setelah semua mendapat bagian, gantian si penupang berdiri
    di depan lantas bernyanyi dan bergoyang.

    Bahkan para pengamen berwajah seram terheran-heran
    lantas bertepuk tangan karena penumpang itu
    ternyata dapat menyanyi lebih merdu dan menghanyutkan.
    Selesai melantunkan beberapa tembang, ia memungut uang
    dari para pengamen lalu berteriak stop kepada sopir kemudian
    melompat turun sambil melepaskan pekik kemenagan:
    "Hidup rakyat! Hidup penumpang!"

    (2001)

    Aku Tidur Berselimutkan Uang

    Aku tidur berselimutkan uang.
    Ketika bangun, tahu-tahu tubuhku sudah telanjang.

    2002

    Mampir

    Tadi aku mampir ke tubuhmu
    tapi tubuhmu sedang sepi
    dan aku tidak berani mengetuk pintunya.
    Jendela di luka lambungmu masih terbuka
    dan aku tidak berani melongoknya.

    (2002)

    Tanpa Celana Aku Datang Menjemputmu

    untuk Wibi

    Empat puluh tahun yang lampau kutinggalkan kau
    di kamar mandi, dan aku pun pergi merantau
    di saat kau masih hijau.
    Kau menangis: “Pergilah kau, kembalilah kau!”

    Kini, tanpa celana, aku datang menjemputmu
    di kamar mandi yang bertahun-tahun mengasuhmu.
    Seperti pernah kaukatakan dalam suratmu:
    “Jemputlah aku malam Minggu,
    bawakan aku celana baru.”

    Di kamar mandi yang remang-remang itu
    kau masih suntuk membaca buku.
    Kaulepas kacamatamu dan kau terpana
    melihatku tanpa celana. Sebab celanaku tinggal satu
    dan seluruhnya kurelakan untukmu.
    “Hore, aku punya celana baru!” kau berseru.
    Kupeluk tubuhmu yang penuh goresan waktu.

    (2002)


    View all my reviews