Rss Feed
  1. Ini... sudah akhir bulan, ya? Berarti sudah waktunya menyusun rencana membabat daftar to-read bulanan, ya? *tarik napas *embuskan.

    Sedikit rekap dari RTTR sepanjang Juni ini. Rencana awalnynya adalah: membaca empat buku. Realisasi: hanya satu yang dibaca.

    1. Bitter Winner - Mita Miranti (review)
    Ya, begitulah. Rasanya ini rekor terendah selama saya menjalankan RTTR ini.

    Nah, untuk bulan Juli, saya akan mencoba membabat 10 buku. Daftarnya:
    1. The Sound of the Mountain  Yasunari Kawabata
    2. 1984 - George Orwell
    3. Love, Curse & Hocus Pocus - Karla M. Nashar
    4. The Old Capital - Yasunari Kawabata
    5. Across the Ocean - Ria Destriana
    6. Sweet Karma - Ayudewi
    7. Above the Stars - D. Wijaya
    8. Ocean Breeze - Cepi R. Dini
    9. Amaranth, Love, Lies, Bleeding - Maria Ch Michaela
    10. The Ocean at the End of the Lane - Neil Gaiman -> lanjutan dari RTTR yang lalu
    Yup, total 10 buku. Sebenarnya sudah mulai curi start untuk novelnya Neil Gaiman, sih, dan sejauh ini suka dengan ceritanya.










  2. Violetta, Yang Melupakan KenanganVioletta, Yang Melupakan Kenangan by Rosgadini
    My rating: 2 of 5 stars

    Judul: Violetta, Yang Melupakan Kenangan
    Penulis: Rosgadini
    Penerbit: PING!!!
    Halaman: 224 halaman
    Terbitan: 2014

    "Bia! Bia juga jangan lupa, ya, kalo Bia besar nanti, harus punya toko es krim sendiri. Jadi, Vio bisa makan semua es krimnya. Janji?"

    Bia. Laki-laki yang tak suka makan es krim ini mendirikan First Scoop, demi memenuhi janji masa kecilnya pada sang cinta pertama, Vio.

    Bia yang tak bisa lepas dari sosok cinta pertamanya seakan menemukan sosok Vio dalam diri Etta.

    Namun Etta tak mau hidup dalam bayang-bayang Vio.

    Pilihan. Di dalam hidup setiap manusia pasti akan dihadapkan pada pilihan, termasuk untuk terus mencintai atau justru melupakannya...

    Review

    I don't know, girl. Guess I just didn't feel it.

    Ini novel kedua penulisnya yang kubaca, tapi yang pertama sih dengan nama pena Rosgadini ini. Kenapa Mbak Ria pakai nama pena lain ya?

    Ceritanya tentang Bia, seorang pria yang membuka toko es krim untuk menepati janjinya pada Vio, cinta petamanya yang telah meninggal. Untuk mewujudkan impiannya itu, Bia minta bantuan pada sepupunya, Addin, orang yang pernah merebut pacar Bia. Addin, yang merasa bersalah karena kelakuannya dulu, setuju untuk membantu Bia.

    Addin kemudian mengajak Etta, sahabatnya, untuk bekerja di toko es krim Bia. Melihat Etta, Bia teringat pada Vio dan mulai mendekati gadis itu. Pada saat itulah Maira, mantan pacar Bia, muncul dan melamar kerja di toko Bia.

    Jatuh cinta itu seperti es krim ajaib yang akan memberi kamu rasa berbeda di setiap jilatannya. Kadang kamu akan mendapatkan rasa yang manis. Itu akan terjadi jika orang yang kamu cintai itu menerima cintamu. Bisa juga kamu akan merasakan rasa yang pahit. Itu akan terjadi kalau cintamu ditolak, atau orang yang kamu cintai sudah mencintai orang lain. (hal. 116)

    Iya, kisah cintanya rumit banget, deh. Satu orang suka seseorang, tapi orang itu justru suka sama orang lainnya. Mumet, deh.

    Jujur saya kurang dapat sama emosinya. Rasanya ceritanya banyak berputar-putar dan tidak ada tensi dalam alurnya. Saya juga kurang dapat perasaan di akhir ceritanya. Paham, sih, mau ke mana, tapi penjelasannya itu yang saya kurang bisa terima seluruhnya.

    Untuk ceritanya sendiri, saya cukup suka. Manisnya dapat, tapi dramanya kurang. Saya jujur lebih suka kalau (peringatan spoiler ending) Vio memang sudah meninggal dan masalahnya ada pada Etta yang dibayang-bayangi Vio.

    Secara keseluruhan, Violetta adalah kisah masa lalu, cinta yang rumit, dan kesempatan kedua yang diolah dengan manis. Sayangnya saya kurang dapat emosi dan tensi dalam ceritanya. Dua bintang saja. Maaf, ya, belum bisa bilang "I like it" untuk novel ini soalnya.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  3. My First Video Interview

    Friday, June 26, 2015

    Yup, sesuai judulnya. Ini pertama kalinya saya melakukan video interview. Thanks to Maggie, booktuber yang sudah mau memasukkan saya dalam seri "Meet the Author"-nya. Penulis pertama yang dia wawancara loh *jemawa.

    Kesan-kesan setelah melakukan interview ini? Tegang, tapi juga seru. Di interview kali ini, kami bicara soal "Remedy", YARN, serta berbagai hal yang berhubungan dengan buku dan dunia kepenulisan.

    Videonya bisa lihat di sini. Silakan tonton dan berikan jempol ke atas jika suka :)). Enjoy.


  4. Maya; and the darkness surroundingMaya; and the darkness surrounding by Arikho Ginshu
    My rating: 2 of 5 stars

    Judul: Maya; and the darkness surrounding
    Penulis: Arikho Ginshu
    Penerbit: PING!!!
    Halaman: 295 halaman
    Terbitan: Agustus 2014

    Aku Tondi. Tondi Hamonangan Situmorang. Seorang atlet paralayang.
    Pertemuan dengan seorang gadis bernama Binar Saga membawaku pada persahabatan dengan Damar dan Rimba. Kami berempat sering berpetualang menjelajah alam bersama. Termasuk ke Gunung Kerinci.
    Namun, di sana sesuatu terjadi pada Binar Saga, gadis kesayangan kami. Memaksa kami menjelajah lebih dalam Hutan Seblat di Sumatra. Membuatku melakukan perjalanan melintasi waktu hingga bertemu dengan kembar Amorza dan Arzoda ke tempat yang tak pernah kuduga sebelumnya, Kuil Kukulkan di Chichen Itza.
    Kejadian itu juga mengubah banyak hal di antara kami. Mempertaruhkan bukan hanya nyawa, namun juga persahabatan dan cinta.

    “Cinta mungkin tidak akan pernah mati, namun cinta bisa saja berubah.”

    Review

    Hmm... untungnya saya tidak punya ekspektasi yang terlalu tinggi waktu mulai membaca buku ini. Jadi gini, saya sebenarnya semangat banget waktu Diva Press mengumumkan proyek Astral Projection mereka. Astral Projection mengisahkan orang-orang yang mengalami pelepasan jiwa dan berkelana ke masa berbagai bangsa kuno, seperti bangsa Maya di buku ini. Saya pengin banget baca novel hasil lombanya. Hanya saja, setelah membaca beberapa ulasan buku-buku Astral Projection yang sudah terbit, saya langsung merasa kalau cerita-ceritanya bukan tipe yang saya suka.

    "Maya" bercerita tentang Tondi, seorang pemuda yang harus berkelana menembus ruang waktu untuk menemukan Binar Saga, salah seorang temannya yang mendadak kehilangan kesadaran saat pendakian. Saat jiwanya berkelana itulah, Tondi bertemu dengan Amorza dan Arzoda, sepasang gadis yang disucikan oleh bangsa Maya, yang membantunya untuk menyelamatkan Binar Saga.

    Saya kurang puas dengan eksplorasi bangsa Mayanya. Seiprit banget dan hanya membahas tentang pengorbanan manusia dalam kepercayaan bangsa Maya. Malah lebih banyak latar belakangnya si Tondi yang dibahas. Terus itu bagian nenek buyutnya si Tondi maksudnya apaan, ya? Kenapa ada bagian seperti film laga begitu? Harapanku sih, latar Mayanya yang lebih banyak dibahas.

    Untuk penulisannya, penulis suka sekali memakai pola kata kerja + subjek. Jadinya ada banyak kalimat seperti: duduk aku bla bla bla, atau berdiri aku bla bla bla. Seluruh narasinya jadi terkesan puitis. Untuk dialog, saya sering merasa gaya percakapan mereka sangat... tua. Mungkin dibuat senada dengan narasinya.

    Akhir ceritanya juga kurang memuaskan untukku. Masih ada banyak bagian yang menggantung.

    Secara keseluruhan, 2 bintang untuk novel ini. Gaya berceritanya cukup enak, tapi sesekali masih terjadi pengulangan informasi yang tidak perlu menurutku. Penjelajahan seting Maya dan akhir ceritanya kurang memuaskan untukku.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  5. Wishful Wednesday #59

    Wednesday, June 24, 2015

    Selamat hari Rabu semuanya. Bagaimana puasanya untuk sema yang melaksanakan? Masih lancar kah?

    Sudah cukup lama juga sejak terakhir saya ikut meme Wishful Wednesday ini. Terakhir ikutan di bulan April yang lalu. Sudah 2 bulan lebih.

    Untuk WW kali ini, buku pilihan saya adalah:

    Ocean Breeze
    oleh: Cepi R. Dini

    “Jadi nama panjangmu….”

    “Ocean Alamanda.”

    “Walker.”

    Ocean menggeleng. “Hanya Ocean Alamanda.”

    “Akan menjadi Walker. Segera.” Brian berjanji.

    Seumur hidup, Ocean hanya tinggal berdua dengan ibunya di Anchorage, Alaska, tanpa satu orang pun kerabat. Dan ketika ibunya meninggal dunia, Ocean sudah pasrah kalau harus tinggal di panti asuhan. Namun pengacaranya justru membawa kabar mengejutkan bahwa Ocean akan pindah ke Miami untuk tinggal dengan ayah kandungnya, Brian Walker. Meskipun Brian orang yang baik hati dan penyayang, sulit bagi Ocean untuk menerima dan mengakui pria asing itu sebagai ayahnya. Apalagi Brian ternyata sudah berkeluarga dan istrinya tidak menunjukkan tanda-tanda kesediaan menerima Ocean. Mau tidak mau, Ocean harus beradaptasi dengan keluarga, teman-teman, dan lingkungan barunya. Jauh dari kampung halamannya yang nyaman. Jauh dari pusara sang ibu.

    Above the Stars
    oleh: D. Wijaya

    “Kau tidak takut jatuh?” tanya Mia.

    Danny menggeleng.

    “Aku takut jatuh,” aku Mia dengan polos. “Kalau kau takut apa?”

    Danny tidak langsung menjawab. Ia juga tidak menolakkan kaki ke tanah lagi untuk menambah kecepatan ayunan. Senyuman di wajahnya perlahan-lahan memudar. “Aku takut tidak bisa melihat selamanya.”

    Menurut Danny Jameson, hidupnya tidak pernah mudah. Ia punya orangtua yang protektif, mesin tik Braille yang tidak dimiliki teman-temannya, dan semacam magnet yang menarik John Schueller untuk terus mengganggunya. Namun, yang paling buruk adalah ia punya sepasang mata biru yang tidak bisa melihat. Ketika Danny berpikir Mia Berry akan menjadi satu-satunya teman yang ia punya, Will Anderson datang dan mengubah hidupnya. Will memperlihatkan kepadanya dunia yang ingin ia lihat. Will juga membuat Danny mempertanyakan sesuatu tentang dirinya. Tapi, sebelum Danny sempat menemukan jawabannya, Will menghilang. 



    Seharusnya dua novel ini menjadi penutup serial Young Adult Realistic Novel dari Ice Cube Publisher. Seharusnya. Tapi, ternyata keluarga YARN akan kedatangan 2 novel tambahan yang merupakan hasil babak wildcard dari pihak penerbit, alias naskah-naskah pilihan yang awalnya tersisih, mendapatkan kesempatan untuk diperbaiki dan dinilai sekali lagi. Ini kenapa sudah macam reality show saja?

    Anyway, sebagai salah satu penulis dalam serial YARN, saya tentunya menantikan karya dari para penulis YARN lainnya. Termasuk Above the Stars dan Ocean Breeze ini tentunya.

    Itu dia buku pilihan saya kali ini. Bagaimana denganmu?

    Ingin tahu lebih banyak soal WW? Cek blog hostnya.

  6. I Need You; I Just Can't Show YouI Need You; I Just Can't Show You by Yoana Dianika
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: I Need You; I Just Can't Show You
    Penulis: Yoana Dianika
    Penerbit: Gagas Media
    Halaman: 328 halaman
    Terbitan: Mei 2015

    Ini kisah tentang harapan, yang seumpama layang-layang.
    Jika kau tarik terlalu kuat, ia akan putus.
    Jika kau biarkan terlalu longgar, ia akan lepas.


    [Amalia]
    Aku menyukaimu, apakah isyaratnya tak pernah terbaca?
    Kau tak perlu menjadi pembaca pikiran untuk itu.
    Terlalu nyata segala rasa yang ada untukmu.

    Kau memintaku tak beranjak pergi, tetapi mengapa kau tak ikut duduk di sini?
    Aku telah tahu segala hal tentangmu—kecuali tentang perasaanmu.

    [Ivan]
    Bersamamu, tak pernah kurasakan sepi.
    Tanpamu, ada sesuatu yang hilang.
    Namun, saat kau isyaratkan cinta, mengapa tak kutemukan sesuatu yang menyala?

    [Sev]
    Benarkah harapan juga bisa kedaluwarsa?
    Habis masanya ketika waktu memberimu jarak; kepada cinta yang tak pernah kau ungkap.


    Harapan,
    sesuatu yang membuatmu mampu bertahan dalam keadaan tersulit sekalipun.
    Beri ia isyarat—agar ia tak lagi tersesat.

    Review

    Buku ke-2 dari seri "Love Cycle" Gagas Media. Setelah tema cinta pertama diangkat di I Love You; I Just Can't Tell You (review di sini), kali ini tema PDKT-lah yang diangkat.

    Ceritanya tentang Amalia, seorang gadis SMA yang tinggal di Ponorogo. Suatu hari, sekolahnya kedatangan murid pindahan. Murid itu bernama Ivan, seorang cowok keturunan Ukraina yang juga teman masa kecil Amalia. Sekaligus cowok yang Amalia suka selama ini.

    Pertemuan kembali itu membangkitkan rasa lama dalam diri Amalia, tapi Ivan justru tertarik pada Izz, sahabat Amalia. Lalu kenapa Ivan justru memberikan perhatian lebih pada Amalia? Apakah gadis itu mempunyai kesempatan dengan Ivan?

    Aduh, si Ivan ini. Bener-bener raja PHP. Mungkin sebenarnya ini kondisi klasik orang yang lagi PDKT kali, ya. Ketika dekat dengan seorang cowok/cewek, terus si dia memberikan perhatian lebih, tapi dia kok justru dekat dengan orang lain? Si dia itu sebenarnya suka nggak sih? Nah, kurang lebih itulah kondisi si Amal.

    Ceritanya bagus kalau untukku. Saya suka dengan latar kota Ponorogo yang diambil. Suka juga dengan selipan budaya reognya. Tapi, saya juga merasa kalau ceritanya terbagi dua. Bagian pertama bercerita tentang kehidupan sekolah Amal, Ivan, dan teman-teman mereka. Bagian kedua bercerita tentang Amal yang mengikuti audisi sebagai gitaris dan backing vocal untuk band favoritnya, The Dusk.

    Kedua bagian itu sayangnya kurang menyatu dengan baik. Rasanya seperti membaca dua novel berbeda yang ada dalam satu buku. Cerita audisinya Amal sebenarnya cukup menarik, tapi saya lebih kepengin melihat eksplorasi hubungan antara Amal dengan Ivan, serta Izz, sahabat Amal yang terlihat baik, tapi... what a bitch. Dia lebih bitchy dari Erika, teman sekolah mereka, malah menurutku.

    Secara keseluruhan, cerita I Need You; I Just Can't Show You ini bagus. Saya yakin banyak yang bisa terhubung dengan ceritanya. Baca novel ini, saya jadi ingat kondisi yang pernah dialami beberapa teman saya dulu. Pasti yang pernah di-PHP-in bisa paham perasaannya Amal deh. Sayangnya, masih ada bagian-bagian yang rasanya menggantung. Saya kok merasa kalau penulisnya ada rencana untuk menulis sekuel tentang para anggota The Dusk, ya?

    Tiga setengah bintang, pembulatan ke atas.

    Terkadang, cinta memang tidak mudah untuk diraih. Tapi, untuk cinta yang tidak mudah diraih itulah manusia rela berkorban. (hal. 147)


    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Young Adult Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  7. The Killing Moon (Dreamblood, #1)The Killing Moon by N.K. Jemisin
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: The Killing Moon
    Penulis: N. K. Jemisin
    Penerbit: Hachette Book Group
    Halaman: 418 halaman
    Terbitan: Mei 2012

    In the ancient city-state of Gujaareh, peace is the only law. Upon its rooftops and amongst the shadows of its cobbled streets wait the Gatherers - the keepers of this peace. Priests of the dream-goddess, their duty is to harvest the magic of the sleeping mind and use it to heal, soothe - and kill those judged corrupt.

    Review

    "The Killing Moon" bercerita tentang Ehiru, seorang "gatherer" yang bertugas untuk mengumpulkan jiwa orang-orang yang sakit parah (dan memang akan meninggal), serta orang-orang yang terbukti melakukan tindak kejahatan yang hukumannya setara dengan kematian. Pada salah satu misinya, Ehiru mengalami kegagalan dan tidak dapat menyelesaikan "gathering"-nya secara sempurna. Dari sinilah Ehiru mulai mempertanyakan posisi dan fungsi para "gatherer".

    Pertemuan Ehiru dengan Sunandi, seorang perwakilan dari negara tetangga, membawa Ehiru dalam sebuah perjalanan baru. Bersama dengan Nijiri, muridnya, mereka memulai pencarian makna sebenarnya dari "gathering" yang selama ini mereka lakukan.

    Saya suka dengan angin segar yang buku ini berikan. Kebanyakan novel fantasi kan suka mengambil Eropa abad pertengahan sebagai dasar latar tempat, tapi "The Killing Moon" ini justru mengambil Mesir kuno sebagai basisnya.

    Selain latar, saya juga suka dengan sistem sihir di buku ini. Kekuatan sihir yang ada di sini berasal dari mimpi, dan digunakan untuk memulihkan orang atau meredakan rasa sakit. Rahasia tentang sihir ini juga memberi kejutan tersendiri.

    Novel ini sendiri cukup lambat buatku. Latar tempat dan budaya yang digali cukup memakan waktu, sehingga untuk orang yang lebih suka novel fantasi dengan banyak aksi, bagian ini mungkin akan terasa membosankan. Selain itu, di novel ini juga memang tidak ada terlalu banyak adegan yang memacu adrenalinnya.

    Secara keseluruhan, "The Killing Moon" ini 3,5 bintang buatku. Sistem sihir dan latarnya mengingatkan bahwa fantasi itu bukan cuma Eropa abad pertengahan. Ada banyak ruang yang bisa digali lagi dan lebih diperluas. Ceritanya kurang banyak aksi, sehingga ceritanya kadang terasa lambat.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 New Authors Reading Challenge


    View all my reviews