Rss Feed
  1. Reva's TaleReva's Tale by Ruby Astari
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: Reva's Tale
    Penulis: Ruby Astari
    Penerbit: Ice Cube Publisher
    Halaman: 202 halaman
    Terbitan: Mei 2015

    Alkisah, di sebuah kastil di daerah pinggiran kota, hiduplah Sang Raja beserta Sri Ratu dan kedua putri mereka, yang masing-masing bergelar Tuan Putri dan Penjaga Kastil.

    Selain mereka, di dalam kastil itu tinggal pula Pangeran Kecil, bocah tampan, baik hati, dan polos, putra semata wayang Tuan Putri.

    Siapa ayahnya?

    Sang Monster.


    Setelah tiga tahun tidak bertemu. Jenar tidak menemukan ada perubahan dalam diri Reva, sahabatnya. Reva masih suka menulis cerita, bicaranya selalu ceplas-ceplos, dan hubungan cewek itu dengan kakaknya tetap buruk. Namun sejak kecelakaan yang menimpa keponakan kesayangannya dan disusul oleh kematian sang ayah, Reva menutup diri, kabur dari rumah, dan menolak berkomunikasi dengan siapa pun. Jenar berusaha menghubungi sahabatnya itu dengan berbagai cara, termasuk lewat Facebook, media sosial yang paling sering digunakan Reva. Dari situ Jenar menemukan kumpulan dongeng yang ditulis Reva, tentang Kastil Sunyi dan para penghuninya. Tapi… kenapa intrik dalam dongeng itu sangat mirip dengan apa yang terjadi dengan keluarga Reva? Apa ada hubungannya dengan alasan Reva kabur dari rumah?

    Review

    "Reva's Tale" bercerita tentang Reva, seorang gadis yang tinggal di sebuah rumah yang dia sebut 'Kastil Sunyi'. Dia menuangkan seluruh perasaannya tentang rumah itu dalam cerita-cerita pendeknya. Tidak tahan lagi dengan kondisi di rumahnya, Reva akhirnya pergi dari rumah dengan menyisakan banyak teka-teki bagi Jenar, sahabatnya.

    Suka banget sama ceritanya. "Reva's Tale" terasa berbeda dengan novel YARN lainnya karena tema misteri/kriminal yang diangkat. Ya, kesannya Jenar di sini seperti seorang detektif amatir yang menyelidiki masalah keluarga Reva.

    Gaya berceritanya yang memadukan narasi dunia nyata dengan narasi cerpen Reva, yang menggambarkan kondisi keluarganya, enak untuk diikuti. Keduanya saling melengkapi dan membuat pembaca bertanya-tanya, apakah yang Reva tulis memang benar? Ataukah ada misteri yang lain lagi?

    Untuk teknik penulisan, kulihat kata 'di mana/dimana' sebagai kata penghubung kembali muncul di sini. Seperti yang sudah saya tulis di review-review sebelumnya, kata penghubung ini kurang tepat. Lalu, kalau cek di kamus, yang benar itu 'kastel', bukan 'kastil'.

    Secara keseluruhan, saya suka dengan novel ini. Saya suka dengan ceritanya, suka dengan misterinya, suka dengan tokoh Reva dan Jenar. Mungkin ceritanya bisa lebih diperpanjang sih, supaya tokoh-tokohnya bisa lebih digali dan menimbulkan lebih banyak tanda tanya dalam misterinya.

    Orang luar memang banyak yang bisanya hanya menghakimi tanpa mau mengerti. Tapi, nggak masalah, kan, kalau kitanya percaya diri? Mereka bukan Tuhan, kok. Mereka juga nggak sempurna, hanya munafik aja. - Reva (hal. 147)


    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Young Adult Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
    - 2015 100 Days of Asian Reads Reading Challenge


    View all my reviews

  2. Swiss: Little Snow in ZürichSwiss: Little Snow in Zürich by Alvi Syahrin
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Swiss: Little Snow in Zürich
    Penulis: Alvi Syahrin
    Penerbit: Bukuné
    Halaman: 308 halaman
    Terbitan: Juli 2013

    "Swiss: Little Snow in Zürich" bercerita tentang Yasmine, seorang gadis keturunan Indonesia-Swiss. Yasmine dibawa ke Swiss oleh ayahnya setelah ibunya meninggal. Di Swiss inilah dia bertemu dengan Rakel, seorang pria yang membuatnya jatuh cinta, serta Elena dan Dylan yang menjadi sahabatnya.

    Awalnya hubungan Yasmine dengan Rakel dan kedua sahabatnya berjalan mulus. Namun, tampaknya ada sesuatu di antara ketiga orang itu yang tidak Yasmine ketahui. Sesuatu yang dapat memengaruhi hubungan mereka berempat.

    Review

    "Swiss: Little Snow in Zürich" ini membawa sebuah tema yang sebenarnya "biasa" dan mungkin sudah cukup sering dijelajahi oleh penulis lainnya. Tentang seorang gadis yang jatuh cinta pada seorang pria, lalu terseret ke dalam masa lalu kelam pria itu. You get the man, you get the dark side. Satu paket. Lalu ada juga tentang persahabatan dan teman-yang-ternyata-suka.

    Alvi membawakan sentuhan kota Zürich, serta gaya tulisan yang liris-melankolis sebagai bumbu dalam cerita ini. Saya suka dengan gaya menulisnya ini. Saya juga suka dengan prolog dan epilognya yang mengambil sudut pandang sebutir salju yang jatuh. Efek melankolis di novel ini kerasa banget, ya. Apalagi penulisnya memilih musim gugur dan dingin, palet yang membuat perasaan tambah sendu.

    Yang saya kurang suka dari novel ini adalah gaya POV-nya. Butuh sedikit usaha untuk mengikuti POV-nya karena penulisnya memakai gaya Omniscient (POV tahu segala). Selain karena bergerak dengan terlalu lincah dari satu karakter ke karakter lainnya, saya juga merasa suara para tokohnya terlalu mirip. Yasmine, Rakel, Elena, dan Dylan tidak punya kepribadian yang bisa membuat saya langsung paham ini narasinya siapa.

    Secara keseluruhan, saya suka dengan novel ini. Ceritanya sederhana, tapi gaya narasinya lumayan enak. Saya suka banget sama ilustrasi di dalamnya. Jadi pengin ke sana setelah lihat ilustrasi tempat-tempat yang seperti keluar dari buku dongeng.

    ... salju yang membekukan,
    angin yang menusuk-nusuk tulang,
    jika cinta adalah dongeng yang indah,
    mengapa harus ada rasa sakit di dalamnya? (hal. 116)


    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Young Adult Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
    - 2015 100 Days of Asian Reads Reading Challenge


    View all my reviews

  3. Bea Tunangan, Euy!Bea Tunangan, Euy! by Anjar Anastasia
    My rating: 2 of 5 stars

    Judul: Bea Tunangan, Euy!
    Penulis: Anjar Anastasia
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 176 halaman
    Terbitan: September 2011

    Awalnya Bea dan Ramol memang dijodohkan oleh orangtua mereka. Walaupun sempat sebal—hari gini kok masih ada perjodohan—akhirnya mereka menerimanya. Keduanya cocok dan saling mencintai. Maka ketika diminta bertunangan, Bea dan Ramol menyetujui.

    Namun, satu bulan menjelang Hari H, justru godaan dan cobaan hadir di antara mereka. Cilla, teman kuliah Ramol, bikin Bea cemburu. Sementara Igen, teman Bea sesama pengurus mading, kesengsem sama Bea.

    Lalu, bagaimana usaha keras Ramol agar tidak terbawa perasaan sekaligus tidak menyinggung perasaan Cilla? Dan bagaimana juga usaha Bea menguatkan hati agar selalu setia pada Ramol sementara ada Igen yang tulus memperhatikannya?

    Review

    "Bea Tunangan, Euy!", sesuai judulnya, bercerita tentang Bea, seorang murid SMA, yang akan segera bertunangan dengan Ramol, seorang anak kuliahan yang akan berangkat ke Amerika untuk melanjutkan kuliahya.

    Dari segi cerita, temanya mengingatkan sama Tunangan? Hmm...-nya Agnes Jessica. Hanya saja pendekatannya berbeda. Kalau di "Tunangan? Hmm..." kedua tokoh utamanya kan saling tidak suka, sementara di sini, Bea dan Ramol sudah saling suka.

    Ceritanya bagus, walau kurasa orang akan terbagi dua waktu membacanya. Merasa "Oh, so sweet.", atau "Dih, apaan sih? Masih SMA sudah tunangan. *putar bola mata".

    Saya sih suka dengan kedua tokohnya, khususnya Bea yang terasa realistis dalam menghadapi pertunangannya. Rasa bingung dan tidak yakinnya terasa pas dengan usianya yang masih muda.

    Yang bikin saya kurang sreg dengan novel ini adalah gaya bahasanya. Penggunaan kata tidak baku di narasi, walau kurasa ini khas teenlit, membuat saya kurang nyaman membacanya. Dialognya juga banyak yang rasanya bisa dipangkas karena terasa kurang penting.

    Secara keseluruhan, buku ini cukup oke buat saya. Ceritanya diolah dengan cukup baik. Sayangnya, gaya bahasanya bukan selera saya.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Young Adult Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
    - 2015 100 Days of Asian Reads Reading Challenge


    View all my reviews

  4. Cinta Pertama - Bagian Empat

    Monday, May 25, 2015



    Lanjutan cerita dari Octaviani Nurhasanah di blog http://octavianinurhasanah.net/




    Arsenius Kuntowijoyo. Itu aku. Arsenius berarti ‘jantan’. Ayah yang memberikan nama itu, dengan doa agar aku akan tumbuh menjadi laki-laki penerus nama dan usaha beras cap Kuntowijoyo. Tapi, kurasa, hanya satu dari dua harapan itu yang akan terpenuhi.

    Bicara soal nama sebagai doa, ada satu orang lagi yang tampaknya jauh dari harapan orangtuanya. Namanya Putri, temanku sejak kecil. Aku ingat pernah bicara dengan ibunya. Tante waktu itu bilang, dia memberi nama Putri dengan harapan agar anaknya tumbuh menjadi seorang gadis yang elegan.

    “Put, itu baju kamu ada robeknya di bagian belakang. Besar pula. Ganti sana. Masa keluar pakai baju kayak gitu.”

    Berperilaku baik.

    “Putri! Jangan lari kamu! Kamu lompat pagar lagi hari ini karena telat, kan? Putri! Tunggu!”

    Serta anggun.

    “Put, kalau makan itu, nggak perlu disuapin ke baju. Itu kemeja sampai penuh noda kecap.”

    Belakangan ini ada perubahan yang terjadi pada dirinya. Dia berusaha tampil lebih rapi. Dia juga lebih kalem. Awalnya kukira dia kesambet, ternyata alasannya lebih klasik. Cowok.

    “Sen, ini bajunya sudah oke, kan?” tanya Putri.

    Aku mengamatinya sekali lagi. Sebuah atasan tanpa lengan warna biru tua, serta rok garis-garis putih-biru tua yang panjangnya sedikit melewati lutut.

    “Bagus. Percaya, deh,” jawabku.

    Ini hari besar baginya. Setelah cukup lama berusaha mendekati Banu, Putri akhirnya memutuskan untuk maju duluan dan menyatakan perasaannya. Dia meminta bantuanku untuk menyiapkan penampilan terbaik untuknya.

    Saat sudah selesai, Putri meninggalkan rumahku dan pergi ke tempatnya janjian dengan Banu. Aku melirik ponselku. Sore ini juga hari besarku.

    Jam 15.00, kukeluarkan sepedaku dan kukayuh ke ‘Kafe Rakyat’, tempat nongkrong yang baru dibuka dan langsung jadi favorit di desa yang semakin terasa seperti kota kecil ini. Di sana Karin menunggu jawabanku.

    Dia memintaku menjadi pacarnya seminggu yang lalu.

    Karin sudah ada ketika aku sampai. Dia tersenyum saat melihatku duduk. Aku bisa merasakan kegugupannya. Perutku sendiri mulai terasa bergejolak.

    “Mau pesan apa?”

    Aku menggeleng. Lebih baik aku melakukan ini secepat mungkin. “Karin, aku tidak bisa jadi pacarmu.”

    Karin tertegun. Senyum di wajahnya lenyap. “Kenapa?”

    “Kamu tahu alasannya,” kataku. “Aku berniat pergi dari sini setelah lulus.”

    Aku sudah memikirkan ini matang-matang. Aku bercita-cita menjadi seorang desainer pakaian. Mungkin orang-orang akan berpikir kalau aku gay atau semacamnya karena impianku ini, tapi tidak begitu. Toh, tidak semua desainer cowok itu gay. Ralph Lauren atau Roberto Cavalli misalnya. Mereka menikahi wanita. Aku suka pada wanita. Aku suka membuat pakaian yang dapat membuat mereka tampak lebih indah.

    Pakaian Putri hari ini adalah kreasiku. Mungkin hanya Putri, Karin, dan Ibu yang tahu tentang keahlianku ini. Aku yakin Ayah tidak akan setuju dengan pilihanku. Gaya berpikirnya... masih sedikit kuno. Baginya membuat pakaian adalah ‘pekerjaan perempuan’, atau orang yang kepepet biaya hidup.

    “Jahat. Padahal kamu bilang akan berjuang untuk mendapatkanku.”

    “Karin—”

    Karin berdiri, lalu berlari meninggalkanku seorang diri. Karin, aku menyukaimu, tapi aku tidak yakin tentang ‘kita’ untuk saat ini. Jalan yang kuambil akan sulit untuk dilalui. Aku tidak mau kamu menunggu tanpa harapan yang pasti.

    Ponselku bergetar. Aku tersentak dan menariknya keluar dari saku. Pesan dari Putri. Aku membukanya dan tertegun saat membaca SMS-nya.




    Cerita dari perwakilan #TimCintaPertama di online festival #LoveCycle Gagas media.

    Simak kelanjutan ceritanya di http://rajabalmukarrom.blogspot.com/ oleh Rajab Almukarrom

  5. Second Chance Boyfriend: One Week Girlfriend Book 2Second Chance Boyfriend: One Week Girlfriend Book 2 by Monica  Murphy
    My rating: 1 of 5 stars

    Judul: Second Chance Boyfriend
    Penulis: Monica Murphy
    Penerbit: Headline Eternal
    Halaman: 320 halaman
    Terbitan: November 2013

    Lost. That one single word best describes my life at this very moment. I lost the last games of the season and both my team and my coach blame me. I lost the last two months because I drowned in my own despair like a complete loser. And I lost the only girl who ever mattered because I was afraid being with me would destroy her.

    But now I realize how truly lost I am without her. She has become my story…and even though she acts like she’s moved on, I know she still thinks about me just as much as I think about her. She’s beautiful, sweet—and so damn vulnerable, all I want to do is help her. Be there for her.

    Love her…

    If only I could convince Fable to give me a second chance. Then I wouldn’t feel so lost anymore, and neither would she. We could be found together.

    Forever.

    Review

    Spoiler Alert!



    Second Chance Boyfriend adalah buku kedua dari seri Drew + Fable. Yeah, buku kedua dan saya belum baca buku pertamanya. Novel ini hasil menang GA dan saya baru sadar kalau ternyata ini buku kedua setelah menang. Tapi, saya pikir, kalau memang cara berceritanya bagus, pasti tidak akan terlalu menimbulkan masalah. Toh, Harry Potter aja saya bacanya mulai buku ke-3.

    Gaya berceritanya memang cukup baik. Dalam artian, tidak perlu baca buku pertamanya untuk paham dengan alur buku keduanya. Ada informasi-informasi yang diberikan yang membuat saya bisa paham apa yang terjadi di buku pertama, serta apa implikasinya di buku kedua.

    Ceritanya sendiri tipe yang saya suka sebenarnya. Berkisah tentang Drew, cowok kaya dan bintang football (rugby kayaknya), yang memiliki masalah dengan ibu tirinya, serta beban mental karena merasa dirinya penyebab kematian adiknya. Lalu ada juga Fable, seorang gadis dengan ibu yang tidak bertanggung jawab. Ibunya hanya bermain-main dengan pria dan tidak bekerja, menjadikan Fable tulang punggung keluarga. Dia harus bekerja keras untuk membayar tagihan dan menghidupi dirinya dan adiknya yang masih 14 tahun, Owen.

    Di buku pertama, Drew tampaknya meminta Fable untuk menjadi pacar pura-puranya karena suatu alasan. Di buku ini, hubungan keduanya berkembang. Dimulai dengan jarak di antara mereka karena Drew meninggalkan Fable selama dua bulan, lalu perlahan kembali mendekat.

    Walau ceritanya tipe yang "gue banget", sayangnya buku ini membosankan. Ceritanya sukses bikin saya pasang wajah ini:


    Seperti di gambar pertama, cerita di buku ini terlalu fokus ke seksnya Drew dan Fable. Rasanya 2/3 buku ini dihabiskan oleh adegan ranjangnya mereka, atau mereka flirting. Kesannya penulis tidak tahu mau ngapain lagi selain manjang-manjangin cerita dengan memasukkan adegan panas.

    Saya juga masih kurang paham dengan plotnya Colin, bos barunya Fable. Kenapa dia tiba-tiba muncul dan menawarkan pekerjaan yang jauh lebih baik pada Fable? Kenapa dia bersikap protektif berlebih pada gadis itu di awal cerita, tapi terasa menghilang di akhir? Buatku bagian ini seperti kurang terencana.

    Lalu akhir ceritanya... hah, bagian ini yang paling terasa kurang. Kesannya antiklimaks sekali. Rahasia yang Drew simpan dari ayahnya ternyata tidak menghasilkan ledakan yang hebat seperti yang saya antisipasi. Kesannya ayah Drew hanya merasa, "Oh, ya sudah. Ini toh salahku", tanpa ada konsekuensi pada Drew sama sekali. Lalu bagian penyelesaian masalah dengan ibu tirinya Drew, sekali lagi, terasa tidak terencana. Tidak ada build up untuk bagian ini dan kesannya memberi jalan keluar yang mudah bagi Drew dan Fable.

    Ini buku new adult asing pertama buat saya. Sebelumnya sudah baca Interlude karya Windry Ramadhina yang digadang sebagai new adult juga, tapi levelnya jauh, bo. Jadi penasaran pengin baca new adult yang lain untuk lihat apakah "genre" satu ini memang punya jalan cerita yang seperti ini, ataukah Second Chance Boyfiend ini kebetulan saja contoh yang kurang bagus untuk new adult?

    Kalau ada yang punya saran novel NA yang bagus, tolong beri tahu saya. :D

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Young Adult Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  6. The Brief Wondrous Life of Oscar WaoThe Brief Wondrous Life of Oscar Wao by Junot Díaz
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: The Brief Wondrous Life of Oscar Wao
    Penulis: Junot Diaz
    Penerbit: Qanita
    Halaman: 380 halaman
    Terbitan: Oktober 2011

    Sungguh berat hidup Oscar, seberat tubuhnya sendiri. Seorang kutu buku dari keluarga imigran Dominika yang tinggal di New Jersey. OScar adalah pria yang lembut, tetapi sayangnya luar biasa kelebihan berat badan. Ia bermimpi menjadi the next J.R.R Tolkien dan terus menerus mendambakan cinta (dan terus menerus ditolak). Oscar mungkin tidak akan pernah menemukan cinta akibat Fuku - kutukan kuno yang menghantui keluarganya dari generasi ke generasi, yang menyebabkan mereka tertimpa berbagai kemalangan: penjara, penyiksaan, kecelakaan mengerikan, dan kisah-kisah cinta tragis.

    Ditulis secara cerdas, novel ini membuat pengarangnya dipuji sebagai salah satu novelis paling segar dan inovatif dari generasi kontemporer. Memadukan gaya penulisan postmodern, realisme magis ala sastrawan Amerika Latin dan penjelajahan lanskap pop culture, novel ini menyuguhkan sebuah bacaan yang unik, ringan sekaligus mendalam. Nakal sekaligus serius, jenaka sekaligus tragis. Novel ini akan menghibur sekaligus memaksa kita merenungi (dan menertawai) dunia kontemporer dan perjalanan sejarah yang terkadang begitu absurd.

    Review

    "The Brief Wondrous Life of Oscar Wao" bercerita tentang Oscar de León, yang kemudian memperoleh nama panggilan Oscar Wao, seorang laki-laki yang sangat kelebihan berat badan, gila pada RPG dan segala hal yang berbau fantasi, dan sulit mendapatkan wanita. Oscar menjadi antitesis dari pria Dominika. Hal ini mungkin disebabkan oleh fukú, sebuah kutukan yang mengikuti keluarga Oscar secara turun-temurun.

    Kovernya... kena sih dengan inti ceritanya. Gaya komik pada kovernya juga tepat sasaran dengan ceritanya. Tapi... kovernya kurang menarik. Saya beberapa kali melihat novel ini di obralan dan tidak pernah tertarik untuk lihat judulnya gara-gara kovernya. Baru-baru ini saya kembali menemukan novel ini di obralan, melihat judulnya, lalu baru ngeh kalau buku ini salah satu pemenang Pulitzer Prize.

    Salah satu buku dengan gaya penceritaan yang menarik, sekaligus sulit untuk dicerna. Pertama, sama sekali tidak ada tanda kutip ("), tanda yang dipakai untuk menyatakan dialog, di buku ini. Ada dialog di buku ini, tapi kesannya sama seperti narasi lainnya. Hal ini membuat novel ini terkesan seperti buku non-fiksi yang menceritakan biografi Oscar. Kedua, ada banyak sekali referensi yang membutuhkan catatan kaki dan glosarium. Selamat membolak-balik buku ini untuk bisa paham apa yang naratornya maksudkan. Ketiga, ada banyak bahasa Spanyol-slang di sini, tapi jangan khawatir, karena penerjemahnya langsung meletakkan artinya di samping kalimat-kalimat tersebut.

    Ceritanya sendiri berat dan tragis. Selain bercerita tentang kutukan yang menimpa keluarga Oscar, novel ini juga bercerita tentang era kekuasaan Rafael Trujillo, penguasa Republik Dominika selama 31 tahun.

    Oscar bukan tipe protagonis yang sepenuhnya likeable. Ada momen-momen yang membuat saya cukup kesal padanya karena gampang menyerah dan terlalu mengasihani diri sendiri. Tapi, kalau jalan hidupnya seperti Oscar, rasanya saya bisa paham kenapa dia bertingkah seperti itu. Walau tetap kesal, sih.

    Secara keseluruhan, "The Brief Wondrous Life of Oscar Wao" adalah novel yang menarik. Kisah sejarah, surealisme, dan seorang "Ghetto Nerd at the End of the World" yang terbalut dengan apik, tapi membutuhkan konsentrasi penuh dalam membacanya.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  7. Follow Your Passion: Be a WriterFollow Your Passion: Be a Writer by Dr. Saifur Rohman
    My rating: 2 of 5 stars

    Judul: Follow Your Passion: Be a Writer
    Penulis: Dr. Saifur Rohman
    Penerbit: Penerbit Grasindo
    Halaman: 152 halaman
    Terbitan: April 2014

    Ikutilah kata hati Anda, sebab hasrat atau passion itu akan memberikan energi yang besar untuk setiap tindakan yang Anda pilih. Jika passion mengatakan bahwa Anda harus jadi penulis:
    LAKUKANLAH TANPA RAGU!

    Siapa bilang profesi penulis itu tidak menjanjikan?
    SIapa bilang jadi penulis itu berarti siap miskin?
    Sebaliknya, jika Anda digerakkan oleh passion, menulis pun akan jadi lumbung uang Anda.

    Tidak perlu ragu. Temukan tuntunan dan panduan yang praktis, mencakup seluruh bidang penulisan di buku ini. Selain memaparkan berbagai tips di berbagai jenis tulisan, buku ini juga menuntun Anda untuk menjajagi berbagai profesi yang berkaitan dengan kepenulisan. Tunggu apa lagi: FOLLOW YOUR PASSION : BE A WRITER

    Review

    Buku ini bisa dibilang jenis buku yang beda dari buku-buku tentang menulis yang pernah kubaca. Biasanya buku tentang menulis yang kubaca lebih membahas teknik dalam menulis, seperti: latar, penokohan, dialog, dsb. Yah, kebetulan yang saya baca memang kebanyakan untuk menulis fiksi.

    Buku ini lebih banyak membahas tentang soft skill dalam menulis, seperti: pentingnya tenggat waktu, kenapa tidak baik menulis bergantung pada mood, sampai ke peluang kerja yang ada dalam dunia kepenulisan. Apakah ada bagian yang membahas tentang teknik menulis? Ada, tapi tidak detail, karena hal itu tampaknya tidak menjadi tujuan buku ini.

    Btw, untuk teknik menulis, bagian "jangan gunakan metafora lapuk" paling membekas buat saya, karena... lucu. Saran si penulis di sini adalah: gunakan metafora yang lebih baru, yang bisa didapatkan dari kehidupan sehari-hari. Contohnya: wajahnya menyegarkan seperti rujak di siang hari atau seperti minum Coca Cola, wajahnya mengingatkan aku pada rasa soto yang tidak membuatku bosan, sorot matanya yang bening itu seperti kristal, kulitnya sehalus boneka manekin. (hal. 107).

    Seriously? Mungkin untuk komedi, kali ya.

    Typo di buku ini minta ampun banyaknya. Ada huruf yang hilang, tertukar, atau tergabung dengan kalimat berikutnya. Lalu di salah satu bab ada tulisan: Foto-foto di bawah ini merupakan contoh ruang untuk artikel populer (hal. 55), tapi kemudian sama sekali tidak ada foto yang dimuat. Awalnya kukira ini masalah karena versi yang kubaca adalah e-book, tapi melihat ulasan lain, sepertinya masalah ini juga ada di buku cetaknya.

    Secara keseluruhan, buku ini 2 bintang untuk saya. Pembahasannya ringan dan memberikan sudut pandang baru untuk buku tentang menulis. Isinya juga dibagi menjadi poin-poin yang memudahkan orang untuk membaca buku ini. Saya juga suka dengan info proses penerbitan buku di Grasindo yang ada di akhir buku. Sayangnya buku ini terkesan berantakan untuk saya karena typo-nya yang terlalu banyak.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
    - 2015 100 Days of Asian Reads Reading Challenge


    View all my reviews