Rss Feed
    Showing posts with label Sapardi Djoko Damono. Show all posts
    Showing posts with label Sapardi Djoko Damono. Show all posts
  1. Hujan Bulan Juni: NovelHujan Bulan Juni: Novel by Sapardi Djoko Damono
    My rating: 2 of 5 stars

    Judul: Hujan Bulan Juni: Novel
    Penulis: Sapardi Djoko Damono
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 144 halaman
    Terbitan: Juni 2015

    Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar sapu tangan yang telah ditenunnya sendiri.

    Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang.

    Bagaimana mungkin.

    Review

    "Hujan Bulan Juni" bercerita tentang Sarwono, seorang dosen muda UI, serta Pingkan, seorang gadis yang akan melanjutkan S2-nya di Jepang. Walau saling mencintai, masih ada masalah perbedaan suku dan agama di antara mereka.

    "Hujan Bulan Juni" ini adalah salah satu novel yang ingin saya baca sejak pertama kali rilis. Sebelumnya saya sudah pernah baca kumpulan puisi berjudul sama (review di sini) dan saya juga memilih kumpulan puisi itu sebagai buku terfavorit 2013. Sayangnya, saya kurang suka dengan buku ini.


  2. Bilang Begini, Maksudnya BegituBilang Begini, Maksudnya Begitu by Sapardi Djoko Damono
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: Bilangnya Begini, Maksudnya Begitu
    Penulis: Sapardi Djoko Damono
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 142 halaman
    Terbitan: Desember 2014

    Konon puisi adalah mahkota bahasa. Puisi adalah hasil yang dicapai jika seseorang mampu bermain-main dengan bahasanya. Apa yang ditulis penyair tidak serta-merta bisa diartikan secara harfiah. Gerimis bukan berarti hujan, dan bunga belum tentu berarti kembang. Kerap penyair bilang begini, tapi maksudnya begitu. Lalu bagaimana caranya bisa menikmati puisi dan menangkap pesan atau makna yang ingin disampaikan oleh penyair?

    Buku ini bukan buku teori sastra tetapi semacam ajakan dari Sapardi Djoko Damono untuk mengapresiasi puisi dengan pengenalan akan sejumlah alat kebahasaan yang dimanfaatkan penyair untuk menyampaikan sesuatu yang bisa saja berupa cerita, gagasan, sikap, suasana, dan sebagainya. Sejumlah alat atau muslihat atau gaya yang biasa digunakan penyair dalam puisinya dijelaskan dengan menampilkan sejumlah contoh. Pemahaman atas alat-alat itu diharapkan bisa membantu tumbuhnya apresiasi puisi yang lebih baik.

    Review

    Baca buku ini dari 30 Desember 2014 dan baru selesai pada 3 Mei 2015. Sesuatu banget. Padahal bukunya hanya 142 halaman :v. Yah, bukan karena bukunya jelek atau membosankan, kok. Lebih karena malas baca e-book aja kali, yah.

    Isinya sesuai yang tertulis di blurb-nya. Sebuah apresiasi puisi yang isinya ringan dan mudah dibaca bahkan oleh orang yang tidak begitu bisa puisi. Penulisnya memberikan berbagai jenis puisi dan apresiasinya, baik dari bentuk visual, isi, hingga penggunaan bahasa.

    Konon puisi adalah mahkota bahasa. Maksudnya, cara pemanfaatan bahasa yang setinggi-tingginya dicapai dalam puisi. Rasanya saya lebih suka mengatakan dengan lebih lugas bahwa puisi adalah hasil yang dicapai jika seseorang mampu bermain-main dengan bahasanya. Seni adalah permainan, dan penyair bermain-main dengan bahasa [...]. (hal. 133)


    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 100 Days of Asian Reads


    View all my reviews