Rss Feed
  1. Our Happy Time (Cinta Tak Pernah Salah Memilih Waktu)Our Happy Time by Gong Ji-young
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: Our Hapy Time
    Penulis: Gong Ji-young
    Penerbit: Bentang Pustaka
    Halaman: 376 halaman
    Terbitan: May 2012

    Bagi Yu Jeong, hidupnya sungguh memuakkan. Namun, entah kenapa malaikat maut masih saja enggan merenggut nyawanya. Tiga kali percobaan bunuh dirinya selalu gagal.

    Bagi Jeong Yun-Su, hidup tak pernah menyayanginya. Ayahnya bunuh diri dan ibunya pergi begitu saja meninggalkan dirinya dan adiknya yang masih kecil. Cemoohan dan kejamnya hidup, membuatnya mendekam di penjara dan menghadapi ancaman hukuman mati.

    Kini, mereka berdua dipertemukan, tepat di pengujung hidup. Dua orang terluka, mampukah mereka saling menyembuhkan?

    Review

    Ok, jujur saja saya tertarik baca buku ini setelah selesai baca scanlation manga-nya. Judul manga-nya itu "Watashitachi no Shiawase na Jikan", yang kalau diterjemahkan jadi judul novel ini.

    Novelnya beda jauh banget bo' dengan manga-nya. Di manga saya merasa tokoh Yun-su ini lebih menarik simpati. Kisah hidupnya terasa lebih melankolis di sana. Walau, yah, sama-sama sedih sih, baik di novel maupun di manga.

    Selain itu, kalau di manga saya merasa ceritanya lebih romantis. Um, bukan berarti ada kisah romantis antara Yun-su dan Yu Jeong di sana, tapi kisahnya terasa lebih manis. Kalau di novelnya, kisahnya terasa lebih realistis dan "keras".

    Bagian yang paling menggelisahkan buat saya adalah bagian ini:

    Setelah wajahnya ditutupi kain putih, leher mereka dikalungi tali tambang. Setelah terdengar aba-aba lompat! Lima orang petugas menarik pengungkit. Di antara lima buah pengungkit tersebut, sebenarnya hanya satu yang pasti dijadikan alat eksekusi. Aku pernah membacanya dalam sebuah artikel. Terpidana mati yang akan dieksekusi diminta berlutut di lantai, lalu digantung dengan tali tambang. Setelah digantung selama lima belas hingga dua puluh menit, terkadang masih ada orang yang kakinya bergerak-gerak. Mereka diturunkan, lalu dokter akan memeriksa denyut jantungnya dengan stetoskop, jika masih ada denyut jantungnya mereka akan kembali digantung selama dua puluh menit. [...]. Dengan demikian, hukuman akan diulangi dari awal lagi. Itulah yang mereka sebut dengan eksekusi.

    Duh, bikin bergidik.

    Baca novel ini jadi menimbulkan banyak pemikiran, khususnya soal hukuman mati. Setelah sedikit googling, saya menemukan halaman di wikipedia Indonesia soal hukuman mati. Termasuk di dalamnya adalah daftar orang-orang yang telah dieksekusi.

    Memang saya merasa kasihan kalau memikirkan orang-orang yang menjalani hukuman mati, lalu saya melihat halaman itu dan melihat nama-nama seperti Amrozi, Imam Samudera, atau orang-orang yang dihukum karena kasus narkotika, lalu saya berpikir lagi, "Apakah orang-orang seperti ini memang masih pantas memperoleh kesempatan kedua? Dengan tidak dihukum mati?"

    Jujur sampai saat ini saya masih kesulitan menentukan pihak dalam masalah hukuman mati ini.

    Tambahan: sedikit kritik untuk alih bahasanya. Kayaknya soal nama harus lebih diperhatikan deh. Soalnya ada terjemahan nama Victor Wigo dan Lembrant. Ini siapa? Apakah maksudnya Victor Hugo dan Rembrandt? Terus ada juga kitab Zabur. Berhubung latar belakang agama yang dipakai adalah Katolik, kenapa tidak diterjemahkan jadi kitab Mazmur? Terus ada juga kitab Ezekiel yang dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata Yehezkiel.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2014 New Authors Reading Chalenge

    View all my reviews

  2. 2 comments :

    1. Wah covernya menipu ya! Kukira ini sejenis novel cinta ala drama Korea gitu. Komiknya dari Jepang ya bukannya Korea? Aku baru tau tentang novel ini.

    2. Biondy said...

      iya, kovernya manis banget. kalau cerita di novel mirip yang di manga, saya rasa bakal lebih cocok. tapi tetepsih, kovernya bagus dan saya suka :D

      iya, komiknya adaptasi di Jepang. Bukan komik Korea.

    Post a Comment