Rss Feed
  1. Perfect PainPerfect Pain by Anggun Prameswari
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Perfect Pain
    Penulis: Anggun Prameswari
    Penerbit: Gagas Media
    Halaman: 316 halaman
    Terbitan: November 2015

    Sayang, menurutmu apa itu cinta? Mungkin beragam jawab akan kau dapati. Bisa jadi itu tentang laki-laki yang melindungi. Atau malah tentang bekas luka dalam hati-hati yang berani mencintai.

    Maukah kau menyimak, Sayang? Kuceritakan kepadamu perihal luka-luka yang mudah tersembuhkan. Namun, kau akan jumpai pula luka yang selamanya terpatri. Menjadi pengingat bahwa dalam mencintai, juga ada melukai.

    Jika bahagia yang kau cari, kau perlu tahu. Sudahkah kau mencintai dirimu sendiri, sebelum melabuhkan hati? Memaafkan tak pernah mudah, Sayang. Karena sejatinya cinta tidak menyakiti.


    Review

    'Perfect Pain' bercerita tentang Bidari, seorang ibu rumah tangga yang terjebak dalam lingkaran kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Bram, sang suami, sering memukul dirinya kalau dia melakukan kesalahan. Tidak punya tempat untuk berpaling, serta keberadaan Karel, sang anak, yang ingin dia lindungi, membuat Bidari berusaha hidup dengan ketakutannya. Hingga suatu hari Bram juga menyakiti Karel dan membuat Bidari mengambil keputusan.

    Ini novel kedua dari Anggun Prameswari yang saya baca. Sebelumnya sudah baca 'After Rain' (review) dan saya rasa keduanya punya unsur yang sama: menempatkan seorang wanita dalam posisi rumit karena masalah cinta. Bedanya, kalau tema yang 'After Rain' angkat adalah masalah orang ketiga, 'Perfect Pain' ini bercerita tentang KDRT.

    "Karena menikah itu untuk bahagia. Dua orang yang saling cinta, pasti akhirnya akan menikah Dengan begitu, mereka akan bahagia." (hal. 43)


    Buat saya, ada suatu kesan text book dari novel ini. Dalam artian bahwa, seluruh sebab-akibat cerita dipaparkan secara linear, tanpa ada kejutan di dalamnya. Hal ini menimbulkan kesan realistis bagi plotnya, tapi di saat yang sama juga tidak membawa kejutan apa-apa. Mungkin satu-satunya kejutan yang ada adalah ketika Karel mencari seorang pengacara untuk ibunya, plot yang serupanya kebetulan pernah saya baca di 'My Sister's Keeper'-nya Jodi Picoult.

    Saya tidak tahu apakah penulisnya memang sengaja hanya mengincar peningkatan kesadaran pembaca akan KDRT lewat novel ini atau bagaimana. Yang jelas, pesannya sampai dan kena, tapi secara plot juga nyaris hambar. Malah kisahnya Lola Bonita, penyanyi dangdut korban KDRT di novel ini, terasa lebih menarik sebagai bahan fiksi.

    Ceritanya sudah mengalir dengan baik. Saya suka dengan usaha yang Karel lakukan untuk menolong ibunya. Saya juga suka dengan Bi yang pelan-pelan bangkit dari keterpurukannya. Yang agak kurang buat saya adalah pengolahan masalah antara Sindhu, pengacara Bi, dengan Elena, pacar Sindhu sekaligus guru Karel yang memberi Karel inspirasi untuk meminta bantuan seorang pengacara. Ada sesuatu yang terasa hilang dalam novel ini untuk kisah mereka.

    Secara keseluruhan, 'Perfect Pain' adalah sebuah novel yang berhasil mengangkat tema KDRT, suatu masalah yang penangannya sangat rumit dan membutuhkan perhatian lebih dari berbagai pihak.


    View all my reviews


  2. 2 comments :

    1. Ketertarikan Bidari sama si pengacara bisa dipahami sih. Cuman... rasanya untuk di novel ini terasa mainstream banget. Kurang gregetnya.

    Post a Comment