Rss Feed
  1. Wishful Wednesday #35

    Wednesday, September 11, 2013

    Hola, amigos! *ini kenapa tiba-tiba jadi bahasa Spanyol? Jupa lagi di hari Rabu yang berarti saatnya Wishful Wednesday. Kali ini Mbak Astrid berkolaborasi dengan Bacaan Bzee mengadakan giveaway yang berhubungan dengan acara WW dan acara Children's Literature yang diadakan Bzee. Untuk info lengkapnya, bisa cek blog Mbak Astrid.

    Untuk minggu ini, buku yang saya inginkan adalah:

    The Curious Incident of the Dog in the Night-Time
    by: Mark Haddon

    Christopher John Francis Boone knows all the countries of the world and their capitals and every prime number up to 7,057. He relates well to animals but has no understanding of human emotions. He cannot stand to be touched. And he detests the color yellow. 
    This improbable story of Christopher's quest to investigate the suspicious death of a neighborhood dog makes for one of the most captivating, unusual, and widely heralded novels in recent years.
    Ngeliat review buku ini di blognya Mbak Desti. Saya penasaran sama ceritanya yang berhubungan dengan misteri dan juga seorang anak yang menderita Sindrom Asperger. Kelihatannya seru.

    Untuk giveaway-nya sendiri, saya kepengin buku terjemahannya yang bisa didapatkan di sini.

    Itu buku pilihan saya minggu ini. Apa buku pilihanmu?



  2. Rumah CokelatRumah Cokelat by Sitta Karina
    My rating: 2 of 5 stars

    Judul: Rumah Cokelat
    Penulis: Sitta Karina
    Penerbit: Buah Hati
    Halaman: 226 halaman
    Terbitan: Januari 2012

    Hannah Andhito adalah tipikal perempuan masa kini di kota besar; bekerja di perusahaan multinasional, mengikuti tren fashion dan gaya hidup terkini sambil berusaha menabung untuk keluarga kecilnya, sangat menyukai melukis dengan cat air (yang ternyata baru ia sadari ini adalah passion-nya!), memiliki suami yang tampan dan family-oriented, sahabat SMA yang masih in touch, serta si kecil Razsya yang usianya jalan 2 tahun.

    Sempurna? Awalnya Hannah merasa begitu sampai Razsya bergumam bahwa ia menyayangi pengasuh yang sehari-hari selalu bersamanya. Perjalanan Hannah menemukan makna menjadi seorang ibu yang sesungguhnya dimulai sejak momen itu.

    Review

    Salah satu dari 2 buku yang saya rencanakan untuk baca sebelum lanjut lagi dengan permainan membaca saya. Sekalian buat mengisi salah satu tantangan baca saya :D

    Sebenarnya label "mom lit" di buku ini agak bikin keder juga. Soalnya saya kan bukan seorang ibu dan juga tidak ada rencana untuk menjadi seorang ibu. Jadi membaca buku yang ada embel-embel "mom lit" itu rasanya gimana gitu. Cuma saya pikir-pikir lagi, sudahlah. Toh, tidak ada salahnya saya "mengintip" ke dalam dunia yang asing bagi saya itu.

    "Rumah Cokelat" pada dasarnya bercerita tentang Hannah, seorang wanita, ibu, istri, anak, dan pekerja yang menghadapi lika-liku kehidupan di ibu kota. Saat anaknya mengigau bahwa dia sayang sama pengasuhnya, Hannah berhenti sejenak dan mulai memikirkan lagi posisinya sebagai seorang ibu.

    Topik yang diangkat di sini cukup menarik. Saya suka pada tantangan-tantangan yang Hannah hadapi sehari-hari. Baik dari kerjaan, mengasuh anak, ibunya sendiri yang terlalu memanjakan cucunya, anaknya yang lebih memilih pengasuhnya, sampai ke teman yang rada gak beres karena membawa seorang laki-laki yang pengin menggoda Hannah walau tahu kalau dia sudah berkeluarga. Untungnya ada Wigra, suaminya yang kalem dan siap meringankan perasaan Hannah. Eh tapi, kok belakangan Wigra kembali rutin berolahraga? Lalu siapa cewek yang mengirim pesan ke ponselnya? Nah, loh.

    Nuansa metro pop sangat kental di buku ini. Terbukti dari penggunaan Inglish, Indonesia-English, yang bertebaran di buku ini. Mulai dari dialog sampai ke narasi. Merek-merek papan atas? Tidak usah ditanyakan lagi. Sudah pasti ada.

    Soal Inglish ini ada 3 tempat yang sempat bikin saya berhenti pas baca. Pertama waktu Hannah dan Eyang Yanni, ibunya Hannah yang berusia sekitar 60-an, tiba-tiba bicara dalam bahasa Indonesia-Inggris. Saya sempat mikir, gaul amat nih eyang. Cuma selanjutnya dijelaskan kalau Eyang Yanni ernah kerja di IBM, jadi wajar kalau bisa bahasa Inggris. Tapi tetep kerasa aneh.

    Kedua, waktu di halaman 173 ada narasi, "Belakangan ia jadi terbiasa mingle tanpa banyak bicara dengan para asisten rumah tangga [...]."

    Saya sampai buka Google Translate dulu biar paham apa maksud kalimat itu. Ooh, mingle itu maksudnya bergaul.

    Terakhir di halaman 176 pas ada narasi, "Tentu saja Hannah amused melihat hal ini."

    Hal lain yang terasa aneh buat saya adalah si-anak-yang-namanya-susah- dieja itu. Si Razsya. Saya harus selalu lihat ulang catatan saya di GR ini biar ingat cara menulis namanya.

    Entahlah, saya merasa dia terlalu dewasa untuk ukuran anak 2 tahun. Entah mengapa saya merasa usia anak ini lebih tua 5-6 tahun dari usianya di novel. Tapi, ya, itu cuma perasaan aja sih. Berhubung saya sendiri bukan ahli tumbuh kembang anak, jadi tidak tahu anak seumur Razsya biasanya bisa apa saja. Kan, saya harus lihat cara tulis namanya lagi.

    Secara keseluruhan, bukunya cukup menarik dan menghibur. Ini pertama kalinya saya membaca karya Sitta Karina dan rasanya saya akan membaca karyanya lagi di masa depan.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 New Authors Reading Challenge
    - 2013 Indonesian Reading Challenge
    - 2013 Color Coded Reading Challenge


    View all my reviews

  3. Titik Nol: Makna Sebuah PerjalananTitik Nol: Makna Sebuah Perjalanan by Agustinus Wibowo
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan
    Penulis: Agustinus Wibowo
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 568 halaman
    Terbitan: Februari 2013

    Jauh. Mengapa setiap orang terobsesi oleh kata itu? Marco Polo melintasi perjalanan panjang dari Venesia hingga negeri Mongol. Para pengelana lautan mengarungi samudra luas. Para pendaki menyabung nyawa menaklukkan puncak.

    Juga terpukau pesona kata "jauh", si musafir menceburkan diri dalam sebuah perjalanan akbar keliling dunia. Menyelundup ke tanah terlarang di Himalaya, mendiami Kashmir yang misterius, hingga menjadi saksi kemelut perang dan pembantaian. Dimulai dari sebuah mimpi, ini adalah perjuangan untuk mencari sebuah makna.

    Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang, bersujud di samping ranjang ibunya. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini terabaikan.

    Review

    Pertama-tama, saya berterima kasih kepada Mbak Nabila, mantan koordinator Goodreads Surabaya salah ding, bukan mantan koordinator ternyata, tapi yang pasti merupakan orang yang sudah mau bersusah payah saya titipi beli buku ini buat saya. Maafkeun daku yang tidak bisa datang pas acara talkshow Agustinus Wibowo di Surabaya pada April yang lalu.

    Membaca buku ini membuat saya terinspirasi untuk tidak menjadi backpacker. Serius. Membaca perjalanan Ming, nama Mandarin penulis, mengarungi Tibet, Nepal, India, Pakistan, dan Afghanistan, membuat saya bersyukur bahwa hari ini saya masih berada di atas kasur yang lumayan empuk, dalam terpaan angin dari kipas, serta bisa memperoleh makan dan minum dengan mudah.

    Sounds like I am dwelling too deep in my comfort zone? Yes, I am.

    Buku ini bukan panduan bagaimana mengelilingi Asia Barat dengan budget sekian juta saja. Juga bukan buku yang memandu tempat-tempat mana saja yang harus kita datangi kalau berkunjung ke Nepal atau India. Buku ini adalah catatan perjalanan si penulis dan refleksinya akan arti perjalanan itu dalam kehidupannya sendiri. Semuanya diceritakan secara jujur dan gamblang.

    Awal buku ini sudah langsung berhasil menangkap perhatian saya. Bahasa yang dipakai Agustinus Wibowo di sini bagus, sampai saya merasa sedang membaca novel alih-alih sebuah buku non-fiksi.

    Salah satu poin menarik buku ini adalah kilas balik kehidupan Hwie, alias Widyawati, ibu sang pengarang, yang ceritanya berjalan berbarengan dengan penuturan perjalanan "si musafir". Agustinus Wibowo memang menjadikan perjalanannya di Titik Nol ini sebagai refleksi akan kehidupan sang ibu. Bahkan saking menariknya, pada beberapa titik saya merasa lebih tertarik pada kisah kilas balik tersebut ketimbang Safarnama penulis. Apakah hal ini juga yang membuat saya sedikit bosan pada sepertiga bagian akhir buku ini? Karena lebih penasaran pada cerita hidup Hwie ketimbang soal Pakistan dan Afghanistan? Entahlah.

    Secara keseluruhan, ini buku yang sangat menarik. Ada banyak hal yang dapat menjadi perenungan dari buku ini. Baik tentang hidup, perjalanan, sampai hal yang bersifat "teknis", seperti budaya, turisme, dan agama.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Membaca Sastra Indonesia Reading Challenge
    - 2013 Nerdy Non-Fiction Reading Challenge

    View all my reviews

  4. Pelangi ImpianPelangi Impian by Joan Elliott Pickart
    My rating: 2 of 5 stars

    Judul: Pelangi Impian (Royally Wed, #5)
    Penulis: Joan Elliott Pickart
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 264 halaman
    Terbitan: 2002

    John Colton pulang ke kota asalnya begitu mengetahui ternyata ia punya anak dari almarhum kekasihnya. Si bayi Jeremiah tidak punya siapa-siapa lagi selain John, jadi pria itu terpaksa harus mengasuhnya.

    Saat sedang menenangkan diri, John bertemu Laura Bishop di sebuah bar. Mereka saling mencurahkan isi hati dan malam itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi keduanya.

    Paginya, john mendapat kejutan kedua. Ia ternyata Pangeran Wynborough yang diculik ketika bayi. Belum lagi beradaptasi dengan perannya sebagai ayah, John sudah mendapat masalah baru berkaitan dengan kedudukannya sebagai pangeran. Selain itu, ternyata ia tidak bisa melupakan Laura.

    Review

    Harlequin yang saya pinjam untuk memenuhi salah satu tantangan baca saya. Sejauh ini dari 3 Harlequin yang saya baca, belum ada yang dapat nilai di atas 2 dan buku ini melanjutkan tren tersebut.

    Dari segi pemilihan kata, buku ini repetitif. Baru halaman pertama saja sudah ada pengulangan kata 'murahan' sebanyak 4 kali. Belum lagi kata-kata, seperti: 'sialan', 'brengsek', atau 'bersedekap' yang muncul berkali-kali di cerita.

    Ceritanya sendiri, yah, khas Harlequin lah. Cowok kaya, cewek biasa, amazing sex, dan berakhir dengan pernikahan.

    Buku ini ternyata bagian dari serial. Untungnya tanpa membaca buku-buku sebelumnya pun saya masih bisa mengerti ceritanya. Soalnya plot di sini tidak terlalu berhubungan dengan apa yang terjadi di buku-buku sebelumnya.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 New Authors Reading Challenge
    - 2013 Color Coded Reading Challenge


    View all my reviews


  5. Selamat hari Rabu semuanya. Berjumpa lagi di acara Wishful Wednesday. Untuk minggu ini Mbak Astrid, penyelenggara WW ini, memberi pengumuman giveaway yang akan diadakan minggu depan. Cek blognya untuk info soal giveaway tersebut.

    Untuk minggu ini, buku yang saya idamkan adalah:

    The Zombie Survival Guide: Complete Protection From the Living Dead
    by: Max Brooks

    Dari Goodreads:

    The Zombie Survival Guide is your key to survival against the hordes of undead who may be stalking you right now. Fully illustrated and exhaustively comprehensive, this book covers everything you need to know, including how to understand zombie physiology and behavior, the most effective defense tactics and weaponry, ways to outfit your home for a long siege, and how to survive and adapt in any territory or terrain. 
    Don’t be carefree and foolish with your most precious asset—life. This book is your key to survival against the hordes of undead who may be stalking you right now without your even knowing it. The Zombie Survival Guide offers complete protection through trusted, proven tips for safeguarding yourself and your loved ones against the living dead. It is a book that can save your life.
    Masih melanjutkan semangat minggu lalu. Kali ini saya memilih buku tentang zombie lagi. Judulnya kayaknya sudah cukup menjelaskan isi bukunya. Penulis buku ini adalah Max Brooks, orang yang juga menulis World War Z. Walau saya gak gitu suka WWZ, tapi harus kuakui Max Brooks melakukan penelitian yang baik dalam menulis buku itu. Makanya saya penasaran mau baca buku yang dia tulis ini. Selain itu banyak juga yang bilang kalau buku ini lucu. Jadi tambah penasaran deh.

    Nah, itu buku pilihan saya minggu ini. Apa buku pilihanmu?



  6. Hening (Silence)Hening by Shūsaku Endō
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Hening
    Penulis: Shusaku Endo
    Terbitan: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 308 halaman
    Terbitan: Desember 2008

    Berlatar belakang Jepang abad ke-17, periode Edo, Silence mengisahkan perjalanan nasib Sebastian Rodrigues, Yesuit Portugis yang dikirim ke Jepang untuk membantu Gereja setempat dan untuk mencari tahu keadaan mantan gurunya, Ferreira, yang dikabarkan telah murtad karena tidak tahan menanggung siksaan. Pada zaman ketika Kristianitas dilarang keras di Jepang, dan para penganutnya dikejar-kejar, dipaksa menjadi murtad, dan dibunuh, bukan hal mudah bagi Rodrigues untuk bertahan hidup, apalagi Tuhan yang selama ini dianggapnya sumber kasih seolah bungkam dan hening, tidak berbuat apa-apa.

    Pada akhirnya, pertanyaan yang utama adalah: sanggupkah manusia mempertahankan keyakinannya di tengah masa-masa penuh penganiayaan? Dan benarkah Tuhan hanya diam berpangku tangan melihat penderitaan?

    Review

    Buku pertama hasil reading game saya. Novel yang sangat menarik. Saya suka dengan pergulatan batin yang dialami Rodriguez selama perjalanannya di Jepang. Berkali-kali dia bertanya-tanya di mana Tuhan saat melihat penderitaan orang-orang Kristen di Jepang, tapi berkali-kali juga dia menguatkan dirinya sendiri untuk terus melanjutkan misinya.

    Tokoh lain yang juga menarik adalah Kinjiro, si pengecut yang memandu Rodriguez dan teman seperjalannya, Garpe, saat mereka pertama kali masuk di Jepang. Si Kinjiro ini sebenarnya seorang Kristen, tapi berkali-kali dia menangkal imannya agar terbebas dari penderitaan. Akhirnya dia bahkan menjual Rodriguez seharga 300 keping perak.

    Walau begitu, sesudah menjual Rodriguez, berkali-kali si Kinjiro ini kembali ke penjara dan meminta Rodriguez untuk memaafkannya. Berkali-kali juga dia mengakui bahwa dia adalah manusia yang lemah. Entah kenapa membaca Kinjiro mengingatkan saya pada Smeagol/Gollum di LOTR :p

    Ada satu kutipan dari Ferreira yang dia gunakan agar Rodriguez mau melepaskan keyakinannya.

    "Karena kasihnya, Kristus akan menyangkal keyakinannya. Meski itu berarti melepaskan segala sesuatu yang dimilikinya." (hal. 267. Hal ini merujuk pada orang-orang yang sedang disiksa dan akan dibebaskan kalau Rodriguez mau melepaskan keyakinannya).

    Um, sejujurnya saya tidak terlalu mengerti logika di situ. Kalau menurut saya pribadi, Kristus adalah Allah Anak, bagian dari Trinitas Allah. Kenapa Allah harus menyangkal diri-Nya sendiri? Saya rasa di sini Ferreira tidak memandang Kristus sebagai Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, tapi manusia biasa.

    Yesus sendiri sudah menegaskan bahwa "Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah." (Yohanes 16:2)

    Dan yeah, pada akhirnya Rodriguez melepaskan keyakinannya dan hidup seperti "budak". Tidak pernah benar-benar memperoleh kebebasannya sendiri dan pada akhirnya siklus penyiksaan terhadap orang Kristen di Jepang terus saja berlangsung.

    Saya tidak akan menyalahkan Rodriguez di sini. Itu pilihannya. Terserah pada dia.

    Hening merupakan buku yang menarik dan termasuk page-turning buat saya. Ada banyak pertanyaan menarik yang timbul dari buku ini.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 New Authors Reading Challenge


    View all my reviews


  7. Rock 'n Roll Onthel (Kos-kosan Soda, #3)Rock 'n Roll Onthel by Dyan Nuranindya
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Rock 'n Roll Onthel (Kos-Kosan Soda, #3)
    Penulis: Dyan Nuranindya
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 248 halaman
    Terbitan: Maret 2012

    Saka, anak seorang dalang yang punya cita-cita jadi anak band. Di tengah keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional, Saka malah tergila-gila dengan musik rock and roll. So pasti cita-citanya itu ditentang habis-habisan oleh orangtuanya. Apalagi pas tahu kalau Putri, adik kesayangannya yang menjadikan Saka sebagai panutan, tiba-tiba ngotot ingin ikut bersamanya ke kota.

    Kenangan kehilangan orang yang dicintai membuat Saka memutuskan untuk berhenti menjadi jawara di Gudang Sembilan, tempat para musisi andal bertempur. Tapi sebuah peristiwa memaksanya kembali ke sana dan naik panggung dengan segala trauma dalam dirinya.

    Review

    Buku kedua dalam seri "Kos-Kosan Soda" yang saya baca. Buku sebelumnya, Canting Cantiq termasuk bagus. Makanya saya jadi pengin baca buku lainnya dari seri ini. Sayang buku keduanya belum nemu. Jadi langsung ke buku ketiga dulu.

    Buku ketiga ini mengambil cerita tentang Saka, salah satu tokoh yang dekat dengan Melanie, tokoh utama di buku satu. Kalau di buku pertama dia biasanya yang mengantar Mel ke mana-mana dengan sepeda ontelnya.

    Perbedaan terbesar antara buku ini dengan buku pertama terletak di kebersamaan anak-anak kos Soda. Di sini kebersamaan itu kurang terlihat. Memang tetap ada dan masih tetap dekat, tapi di sini lebih banyak diperlihatkan tentang Saka dan mantan teman-teman bandnya. Sayang sih, saya berharap anak-anak Soda juga bisa lebih diperlihatkan lagi.

    Secara keseluruhan saya suka buku ini. Karakternya likeable, konfliknya cukup bagus, penyelesaian konfliknya juga baik. Saya juga merasa akhir yang didapat Saka lebih masuk akal, ketimbang di buku pertama. Selain itu kovernya juga bagus. Dua jempol buat yang desain kover :D

    Saya jadi penasaran siapa kira-kira yang akan jadi tokoh utama di buku selanjutnya. Apakah Bang Jhony?

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2013 Indonesian Romance Reading Challenge

    View all my reviews