Rss Feed
  1. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan BudayaSastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya by Ignas Kleden
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya
    Penulis: Ignas Kleden
    Penerbit: Penerbit Graffiti & Freedom Institute
    Halaman: 500 halaman
    Terbitan: 2004


    "Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan" adalah kumpulan esai sastra dan budaya yang ditulis oleh Ignas Kleden. Buku ini terbagi atas empat bagian. Bagian I yang berjudul "Mengalami Kesusastraan" adalah pembuka yang menceritakan latar belakang penulisnya, serta bagaimana dia tertarik dengan dunia sastra.

    Dalam retrospeksi dapatlah dikatakan bahwa tulisan-tulisan yang hadir dalam buku ini adalah ikhtiar menjawab beberapa pertanyaan penelitian (research question) mengenai kedudukan sastra dan berbagai dimensi kaitannya. (hal. 7)


    Beberapa pertanyaan yang dimaksudkan antara lain:
    1. Sastra dan Bukan Sastra (sastra lebih bersifat tekstual/maknanya lahir dari hubungan-hubungan di dalam teks sendiri, sedangkan tulisan yang sifatnya non-sastra lebih bersifat referensial/makna lahir dari hubungan teks-luar teks)

    2. Sastra, Masyarakat, dan Kebudayaan (bagaimana sastra menghubungkan diri dengan/melepaskan diri dari alam pikiran kebudayaan atau pengaruh struktur sosial dari mana sastra itu berasal?)

    3. Sastra dan Pengarang (bagaimana memahami sebuah karya sastra dalam hubungan dengan penulisnya?)

    4. Sastra dan Konteks (apakah sebuah karya sastra harus selalu dipahami dengan konteks penulisannya?

    5. Sastra dan Kritik Sastra (metodologi apa yang tepat untuk kritik sastra?)

    6. Sastra, Ilmu, dan Imajinasi  (apakah sastra hanya memberi kita fiksi, sedangkan ilmu pengetahuan, sosial, dan sejarah hanya memberikan fakta dan data?)

    Pada bagian II, Strategi Literer Menghadapi Perubahan Sosial, berisi kumpulan esainya akan tulisan-tulisan (dan terkadang tentang hidup) Umar Kayam, Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Pramoedya Ananta Toer, Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 1997, Goenawan Mohammad, Y. B. Mangunwijaya, dan H. B. Jassin.

    Bagian III, "Puisi, Penyair dan Intelektual Publik, berisi kumpulan esai tentang puisi, sajak, dan para penyair seperti: Goenawan Mohammad, Rendra, Joko Pinurbo, T. Mulya Lubis, Mochtar Pabbottingi, Dorothea Rosa Herliany, dan tradisi lisan "Bujang Tan Domang".

    Bagian IV, "Dari Apologetik ke Dialog", berisi kumpulan esai tentang refleksi kebudayaan, pergeseran nilai moral, perkembangan kesenian, dan perubahan sosial, fakta dan fiksi tentang fakta dan fiksi, serta esai tentang esai.

    Secara keseluruhan, saya suka banget dengan buku ini. Ada berbagai macam hal baru yang saya pelajari di sini. Bukan hanya tentang sastra dan budaya, tapi juga tentang ilmu sosial dan filsafat, serta hubungan antara sastra dengan budaya, ilmu sosial, dan hal-hal lainnya.

    Jujur membaca buku ini sangat membutuhkan konsentrasi, khususnya karena saya tidak terbiasa dengan berbagai istilah yang digunakan. Untungnya ada glosarium yang membantu untuk mencari istilah-istilah yang ada kalau saya lupa/kurang paham dengan istilah tersebut.

    Buku ini saya rekomendasikan untuk orang-orang yang tertarik dengan sastra dan hubungannya dengan ilmu budaya dan sosial.

    Kesenian bukanlah ruang kudus tempat orang memasang lilin di kaki Dewi Keindahan dan kemudian bersukaria melupakan kehidupan yang keras di luarnya. Kesenian adalah bidang kegiatan yang memakai estetik sebagai sarana pembaharuan kebudayaan, seperti urakan yang menggunakan humor dan kekasaran untuk mencapai tujuan yang sama. (hal. 231)


    Dari mana pun asal-usul kebudayaan itu, hal itu tidak begitu penting artinya untuk kreativitas, selama penerima pengaruh-pengaruh itu dalam suatu proses internalisasi dan integrasi kebudayaan, dan kemudian menjadikan semua pengaruh itu sebagai bahan untuk penciptaan kebudayaan yang bersifat kreatif.

    Ini berarti, rasa prihatin tentang besarnya pengaruh Barat, sebetulnya mencerminkan rasa prihatin tentang lemahnya daya cerna kebudayaan kita sendiri. (hal 361-362)


    Fictio berarti sesuatu yang dikonstruksikan, ditemukan, dibuat atau dibuat-buat. Jadi kalaupun ada unsur khayalan maka khayalan di sana tidak menekankan segi non-realnya, tetapi segi konstruktif, segi inventif, dan segi kreatifnya. (hal. 421)


    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Read Big Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  2. 1 comments :

    Post a Comment