Rss Feed
    Showing posts with label 2015 New Authors Reading Challenge. Show all posts
    Showing posts with label 2015 New Authors Reading Challenge. Show all posts
  1. Aruna & LidahnyaAruna & Lidahnya by Laksmi Pamuntjak
    My rating: 2 of 5 stars

    Judul: Aruna & Lidahnya
    Penulis: Laksmi Pamuntjak
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 432 halaman
    Terbitan: November 2014

    Aruna Rai, 35 tahun, belum menikah. Pekerjaan: Epidemiologist (Ahli Wabah), Spesialisasi: Flu Unggas. Obsesi: Makanan.

    Bono, 30 tahun, terlalu sibuk untuk menikah. Pekerjaan: Chef. Spesialisasi: Nouvelle Cuisine. Obsesi: Makanan.

    Nadezhda Azhari: 33 tahun, emoh menikah. Pekerjaan: Penulis. Spesialisasi: Perjalanan dan Makanan. Obsesi: Makanan.

    Ketika Aruna ditugasi menyelidiki kasus flu unggas yang terjadi secara serentak di delapan kota seputar Indonesia, ia memakai kesempatan itu untuk mencicipi kekayaan kuliner lokal bersama kedua karibnya. Dalam perjalanan mereka, makanan, politik, agama, sejarah lokal, dan realita sosial tak hanya bertautan dengan korupsi, kolusi, konspirasi, dan misinformasi seputar politik kesehatan masyarakat, namun juga dengan cinta, pertemanan, dan kisah-kisah mengharukan yang mempersatukan sekaligus merayakan perbedaan antarmanusia.

    Review

    Kalau disuruh menyimpulkan novel ini dalam satu kalimat, saya akan tulis: "Cerita tentang Aruna, seorang wanita yang melakukan wisata kuliner sambil menjalankan tugas kantornya untuk menyelidiki masalah flu burung".


  2. Isinga: Roman PapuaIsinga: Roman Papua by Dorothea Rosa Herliany
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: Isinga: Roman Papua
    Penulis: Dorothea Rosa Herliany
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 218 halaman
    Terbitan: Januari 2015

    Selang beberapa hari, Malom datang. Ia minta Irewa pulang. Mama Kame dan Bapa Labobar tak bisa mencegah. Malom adalah suami yang sah. Orangtua Malom sudah membeli Irewa dengan sejumlah babi-babi sebagai mas kawin. Selain itu, Irewa juga seorang yonime, juru damai dua pihak yang bermusuhan. Irewa harus mau untuk kembali ke Hobone. Kembali ke kehidupan sehari-harinya yang berat. Mau atau tidak, ia harus menjalaninya. Tak ada pilihan.

    Kehamilan demi kehamilan, keguguran demi keguguran tidak mengurangi niat Malom untuk terus punya anak. Malom berpikir itu sudah menjadi tugasnya sebagai laki-laki. Tugas yang diminta masyarakat. Suami harus mengawini istri agar menghasilkan anak. Perempuan adalah makhluk yang mendatangkan kesuburan. Anak laki-laki berguna untuk menuntut pengakuan akan tanah dan simbol penerus keturunan. Makin banyak anak laki-laki, makin berharga dan bermartabat. Tanah luas dan keturunan banyak. Anak laki-laki juga berguna agar prajurit mati ada yang menggantikan. Anak perempuan bernilai ekonomi. Perempuan berguna untuk mendapatkan mas kawin dan harta adat (babi).

    Review

    "Isinga: Roman Papua" bercerita tentang Meage, seorang anak dari Aitubu, salah satu suku di Papua, serta Irewa, seorang gadis Aitubu yang merupakan calon istri Meage. Karena suatu peristiwa, Irewa akhirnya harus berpisah dengan Meage dan menikahi pria dari suku lain sebagai lambang perdamaian antar suku.

    Sesuai judulnya, "Isinga" ini memang merupakan sebuah kisah roman. Bukan dalam artian bahwa ini adalah sebuah novel percintaan, tapi lebih ke arah "karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing" (menurut KBBI).


  3. Jika Aku MilikmuJika Aku Milikmu by Bernard Batubara
    My rating: 1 of 5 stars

    Judul: Jika Aku Milikmu
    Penulis: Bernard Batubara
    Penerbit: Gagas Media
    Halaman: 265 halaman
    Terbitan: September 2015

    Bisakah cinta tumbuh tanpa keragu-raguan?

    *

    [Sarif]
    Bila suatu ketika cinta datang dan menghampirimu,
    mampukah kau menerima ketidaksempurnaan yang dibawa oleh cinta?

    [Nur]
    Berapa lama yang dibutuhkan untuk mengubah keragu-raguan menjadi cinta?
    Mungkin tidak selama waktu yang diperlukan untuk memupuk luka.

    [Mei]
    Di dalam setiap alunan melodi rindu, ada satu nada yang berbeda.
    Seperti perasaan ganjil tentang cinta yang tidak semestinya—yang saat ini kurasa.

    **
    Jika suatu hari nanti, tiba waktunya kau untuk mencintai,
    bisakah kau memberikan cinta kepada seseorang yang tidak sempurna?

    Review

    Nggak bisa suka sama buku ini. Saya sudah mencoba, oke.


  4. Penjelajah Antariksa: Bencana di Planet PoaPenjelajah Antariksa: Bencana di Planet Poa by Djokolelono
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Penjelajah Antariksa: Bencana di Planet Poa
    Penulis: Djokolelono
    Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
    Halaman: 232 halaman
    Terbitan: Oktober 2015

    Malam panjang telah tiba di planet Poa. Malam gelap gulita dengan hawa dingin yang membuat darah pun jadi beku. Kaum Terra di planet Poa mulai berkumpul di Kota mereka yang terlindungi oleh langit buatan. Agaknya malam panjang itu pun akan berlalu tenang.

    Ternyata tidak. Penduduk asli planet Poa ternyata banyak yang tidak percaya akan tekad kaum Terra untuk suatu waktu meninggalkan planet itu guna mencari tempat tinggal yang lebih baik. Beberapa orang pemimpin mereka memutuskan untuk menghancurkan masyarakat Terra -- karena merasa didukung oleh kaum Terra asing dari Armada Antariksa Perserikatan Planet-planet.

    Empat orang anak -- Vied, Veta, Stri, dan Raz -- terlibat langsung dalam bentrokan yang kemudian terjadi. Pertempuran berkobar dimana-mana ... di Flavo, di antariksa, di angkasa, di permukaan planet, dan bahkan di bawah permukaan planet itu sendiri.

    Review

    "Penjelajah Antariksa: Bencana di Planet Poa" bercerita tentang kehidupan para manusia Terra di Planet Poa. Setelah planet mereka hancur, para manusia Terra menjelajahi ruang angkasa, berusaha menemukan tempat tinggal yang baru. Salah satu kelompok penjelajah tiba di Planet Poa dan tinggal di tempat itu, mengira Poa adalah sebuah planet tak berpenghuni. Tapi, saat Malam Panjang tiba, para penduduk planet itu muncul ke permukaan.

    Kini, bertahun-tahun setelahnya, saat bangsa Terra telah berhasil mengembalikan teknologi mereka yang hilang karena Malam Panjang, para manusia Terra akan meninggalkan planet itu.

    Pada hari sebelum Malam Panjang tiba, Raz, seorang gadis kecil, dan kakeknya terjebak di luar kota karena berusaha menolong seorang manusia Poa. Vied, Veta, dan Stri, ketiga kakak Raz, berusaha menemukan Raz dan kakek mereka. Di saat yang sama, muncullah kelompok manusia Terra lainnya yang memiliki teknologi yang lebih canggih. Kali ini mereka datang untuk menguasai planet itu.

    Setelah menantikan sekian lama, akhirnya terbit ulang juga serial Petualangan Antariksa dari Djokolelono, salah satu pionir fiksi-ilmiah di Indonesia. Awalnya saya mengira kalau tema yang diangkat itu berat, tapi ternyata tidak terlalu juga.

  5. Cinder (The Lunar Chronicles, #1)Cinder by Marissa Meyer
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Cinder
    Penulis: Marissa Meyer
    Penerbit: Penerbit Spring
    Halaman: 373 halaman
    Terbitan: Januari 2016

    "Cinder" bercerita tentang Cinder Linh, seorang gadis cyborg yang bekerja sebagai mekanik. Dia tinggal bersama Adri, walinya yang memperlakukannya selayaknya cyborg yang dianggap warga kelas dua, serta kedua anak Adri: Peony dan Pearl.

    Setelah adiknya terkena letumosis, penyakit mematikan yang sedang menyerang seluruh bumi, dia dikirim oleh walinya sebagai kelinci percobaan dalam usaha menemukan obat letumosis. Di pusat penelitian itulah, Cinder mempelajari sebuah kenyataan yang dapat mengubah hidupnya, serta hidup para penduduk bumi.

    Review

    Kalau ada yang belum sadar, "Cinder" ini adalah sebuah penceritaan ulang dari kisah klasik Cinderella. Hanya saja kali ini ada unsur futuristik dengan tambahan penyakit mematikan dan politik intragalaksinya.

    Saya mengakui bahwa penceritaan ulangnya sangat imajinatif. Cinder sendiri bukanlah tokoh utama yang butuh ditolong oleh seorang peri ajaib (atau burung pemberi gaun di versi Grimm Bersaudara). Dia harus berjuang sendiri untuk mengatasi berbagai masalah yang menerpa dirinya. Kisah Cinderella-nya sendiri tidak diterjemahkan terlalu literal, walau tetap ada unsur terkenal yang dipertahankan seperti acara dansa dan adegan tangga.

    Ceritanya juga seru. Saya suka dengan ancaman yang ditimbulkan Ratu Levana, ratu para manusia bulan, yang mampu membuat cerita menjadi tegang, serta memaksa Pangeran Kaito mengambil keputusan-keputusan yang berat.

    Yang membuat saya kurang sreg dengan novel ini adalah dunia yang penulisnya bangun. Jadi, di sini diceritakan bahwa manusia telah melewati empat perang dunia. Empat, karena tiga saja tidak cukup puas. Di dunia itu, hanya terdapat 6 negara: Kerajaan Inggris, Federasi Eropa, Uni Afrika, Republik Amerika, Australia, dan Persemakmuran Timur.

    Pertama: kenapa Asia satu-satunya yang berubah nama? Kedua: Inggris, apa yang kamu lakukan seorang diri begitu? Kenapa tidak bergabung dengan Uni Federasi Eropa?

    Lalu saya tidak yakin dengan ide benua berubah jadi negara. Bagaimana cara kerja dan pendelegasiannya? Belum lagi bentrok kepentingan antarnegaranya. Apalagi ini suatu negara. Bukan bentuk kerja sama seperti ASEAN. Yah, mungkin saya susah membayangkan karena dua perang dunia selama ini justru membentuk negara-negara baru, seperti Indonesia misalnya. Kalau ada negara yang hilang pun, biasanya kemudian menjadi bagian dari negara-negara lain, contohnya Prusia.

    Hal lain yang agak mengganggu adalah nama. Cinder Linh tinggal di sebuah tempat yang bernama New Beijing yang sepertinya juga menjadi pusat pemerintahan Persemakmuran Timur (PT). PT ini dipimpin oleh seorang Kaisar yang bernama Rikan. Kaisar Rikan sendiri memiliki anak yang dikenal sebagai Pangeran Kaito. Lin dan Rikan mungkin diambil dari nama Tionghoa (Lin dan Li Kang?). Nama Rikan bisa juga berasal dari bahasa Persia, sementara Kaito adalah nama Jepang. Ini sebenarnya balik lagi pada kebingungan saya di atas. Maunya negara mana yang mencolok dalam penggabungan benua ini?

    Tapi yah, "Cinder" ini kan memang bukan novel fiksi ilmiah. Mudah aja ngeles untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Bisa juga di buku-buku selanjutnya akan ada penjelasan yang lebih memuaskan tentang dunia yang Cinder tinggali. Mungkin juga cuma saya saja yang merasa terganggu karena hal-hal ini.

    Secara keseluruhan, ceritanya seru dan bikin penasaran untuk baca buku selanjutnya. Hanya saja saya belum begitu suka dengan dunia yang penulisnya bangun.

    Oh, iya. Seri The Lunar Chronicles ini akan diterbitkan oleh Penerbit Spring mulai Januari 2016. Kabarnya satu buku akan diterbitkan setiap bulannya. Mulai dari "Cinder", lalu lanjut ke "Scarlet", "Cress", dan "Winter".



    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Young Adult Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge


    View all my reviews

  6. So, I Married The Anti-fanSo, I Married The Anti-fan by Kim Eun Jeong
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: So, I Married the Anti-fan
    Penulis: Kim Eun Jeong
    Penerbit: Penerbit Haru
    Halaman: 525 halaman
    Terbitan: Oktober 2015

    Aku tinggal dengan idola paling terkenal se-Korea.Tapi Aku adalah antifan-nya.

    H, salah satu bintang pemicu hallyu wave akan tinggal dengan antifan-nya dalam sebuah variety show.

    Mr. H: Tentu saja aku bisa menangani antifan-ku. Aku ini pria yang penuh dengan kejutan

    Ms. L: Sebagai antifan-nya, aku akan membuka semua rahasia busuknya. Lihat saja nanti

    Begitu berita itu keluar, para fans Mr. H segera membentuk pertahanan untuk melindungi idolanya.

    Dan jika Ms. L melukai Mr. H barang sedikit pun maka mereka tidak segan2 untuk bertindak.

    Review


    Geun Yong tidak terima ketika dia dipecat dari majalah tempatnya bekerja. Dia yakin Hu Joon, si artis Korea nomor satu saat itu, yang membuatnya dikeluarkan. Semuanya itu karena Geun Yong mengetahui rahasia Hu Joon yang ternyata bersifat kasar pada wanita.

    Aksi protesnya di depan kantor manajemen Hu Joon membuatnya menerima cap 'anti-fan' dan diserang oleh penggemar Hu Joon. Tapi, aksi protes itu juga yang membuatnya terkenal dan akhirnya diajak untuk membintangi sebuah variety show. Di acara itu, Geun Yong akan menjadi manajer Hu Joon dan mereka akan hidup bersama-sama. Geun Yong menerima tawaran itu. Selain karena dia memang butuh uang, dia juga memtuskan untuk membongkar kebusukan Hu Joon di hadapan semua orang. Tapi, apa Geun Yong bisa mewujudkan hal itu? Lalu apakah Hu Joon memang pria jahat yang dia kira?

    Suka banget dengan ceritanya. "So, I Married the Anti-fan" ini punya cerita khas K-drama. Cowok-cewek yang tidak cocok, tapi tetap saja harus berinteraksi karena suatu hal. Poin yang saya suka, Geun Yong dan Hu Joon adu mulutnya tidak terlalu sering. Kadang ada cerita yang suka memaksakan pertengkaran antara kedua tokoh utamanya. Tujuannya, sih, supaya cerita seru dan lucu, tapi jatuhnya malah bikin jengah. Hal itu tidak terjadi di sini.

    Saya juga suka dengan pergerakan ceritanya. Geun Yong dan Hu Joon memiliki kesulitan masing-masing. Mereka punya kehidupan pribadi yang sama sulitnya, tapi berusaha mereka lalui dengan dukungan satu sama lain.

    "Coba kau berada di posisi kami. Mau jalan-jalan susah. Meskipun kau benar-benar marah, kau bahkan tidak bisa mengerutkan kening di hadapan orang banyak. Bahkan aku sampai memperhatikan apa aku memegang sumpit dengan benar kalau aku sedang makan di tempat umum." -Hu Joon (hal. 106)


    "Jangan salah paham. Anti-fan bukan orang yang selalu melawan atau memaki-maki selebriti tanpa tahu apakah itu fakta atau bukan. Keberadaan anti-fan menandakan bahwa ada kekurangan pada diri selebriti tersebut. Bukankah anti-fan sejati adalah anti-fan yang bisa memberinya tepuk tangan, menepuk pundaknya, dan menyalaminya ketika selebriti itu mengakui kekurangannya, bersedia mendengar kritik pedas, dan berusaha memperbaikinya? Sebenarnya, saya lebih senang jika anti-fan itu sebaiknya dianggap sebagai orang yang menunjukkan motif dan alasannya tidak menyukai selebriti itu dengan berani, bukan sebagai orang yang bisanya hanya memaki dan mengkritik selebriti itu." -Geun Yong (hal. 391)


    Saya kurang sreg dengan bagian akhir novel ini. Penceritaannya terasa menumpuk dan tidak seluwes bagian depan hingga tengahnya. Saya, sih, tidak keberatan kalau ceritanya dipanjangkan sedikit lagi untuk menutup ceritanya dengan lebih baik.

    Secara keseluruhan, saya suka dengan novel ini. Ceritanya bagus, lucu, dan bikin penasaran. Lima ratus halaman lebih tidak terasa saat membaca novel ini.

    Oh, iya. Novel ini juga akan diadaptasi menjadi film, loh. Kabarnya Park Chanyeol dari grup EXO yang akan memerankan Hu Joon, sementara pemeran Geun Yong belum diketahui.

    Oke, jujur saya merasa Chanyeol (22 tahun) ini kemudaan untuk memainkan Hu Joon yang diceritakan berusia 30 tahun. Mungkin miriplah dengan perasaan beberapa orang saat Nabilah diumumkan sebagai pemeran Mia Clark :)).

    Park Chanyeol. Sumber foto: Wikipedia

    Ikuti giveaway berhadiah 2 novel "So, I Married the Anti-fan" di sini.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Read Big Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge


    View all my reviews

  7. Operation: Break the Cassanova's HeartOperation: Break the Cassanova's Heart by Aly Almario
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Operation: Break the Cassanova's Heart
    Penulis: Aly Almario
    Penerbit: Penerbit Haru
    Halaman: 224 halaman
    Terbitan: 30 Oktober 2015

    Misi: Menghancurkan Hati Sang Casanova
    10 Tugas yang Harus Diselesaikan:
    1. Buat dia menyadari kehadiranmu.
    2. Buat dirimu menonjol dari cewek-cewek lain.
    3. Dapatkan ajakan untuk berkencan.
    4. Jadikan kencan tersebut sangat berkesan.
    5. Buat dia menganggapmu serius.
    6. Pastikan dia hanya berkencan denganmu.
    7. Buat dia mengajakmu menemui orangtuanya.
    8. Buat dia menciummu, —ciuman yang tulus.
    9. Jadilah pacar terbaik yang pernah dia miliki.
    10. Langkah terakhir: HANCURKAN HATINYA.

    Satu-satunya peraturan yang harus kau patuhi dalam misi ini adalah: jangan jatuh cinta kepadanya. Kalau kau melanggar peraturan ini, maka misi akan dianggap gagal. Sebagai gantinya, kau akan menerima hukuman yang berat.

    Naomi Perez terpaksa menjalankan misi tersebut karena Stephen Cruz--—Sang Casanova--—adalah cowok yang telah menghancurkan hati sahabatnya, —Kryzel. Apakah Naomi berhasil membuat Stephen jatuh cinta kepadanya? Ataukah keadaan justru berbalik, dan Naomi jatuh cinta kepada Stephen?

    Review

    Setelah melihat sahabatnya patah hati, Naomi setuju untuk membalaskan dendam pada Stephen Cruz, si Casanova kampus yang terkenal suka gonta-ganti pacar. Dengan bantuan Yannie dan France, dua orang dari Koalisi Pembenci Stephen Cruz (KPSC), Naomi mulai bertransformasi menjadi cewek yang dapat menarik perhatian Stephen. Tujuan akhir Naomi hanya satu: membuat sang Casanova jatuh hati padanya, lalu hancurkan hati Stephen hingga berkeping-keping.

    Saya sejak dulu penasaran dengan novel-novel kontemporer dari berbagai negara. Pengin tahu topik/cerita seperti apa yang populer di negara-negara yang bahasanya asing buat saya, misalnya: Polandia, Ukraina, negara-negara di Afrika, atau yang dekat-dekat seperti Thailand dan Filipina. Nah, kebetulan sekali Penerbit Haru datang dengan lini barunya, "Phil-Fict", yang menerjemahkan novel dari Filipina ini.

    "Operation: Break the Casanova's Heart" ini punya karakter-karakter yang cukup menarik. Mulai dari Naomi sang tokoh utama, para kaya-nya (kakak laki-laki) Naomi yang heboh, France yang ganjen, sampai Stephen yang romantis dan kelewat PD.

    "Aku akan menjadi pacarmu setelah kau belajar menganggap serius hubunganmu dengan seorang cewek. Aku tidak mau main-main. Aku mau hubungan yang nyata." -Naomi kepada Stephen (hal. 26)


    Untuk ceritanya, saya lumayan suka. Petualangan Naomi dipenuhi kejadian lucu, manis, serta romantis. Sayangnya, ada berbagai momen tiba-tiba di dalam cerita. Ada beberapa kejadian yang dilemparkan ke pembaca tanpa persiapan/foreshadowing apa-apa.

    Untuk latar tempatnya, saya belum begitu puas, sih. Soalnya di sini pembaca tidak terlalu diajak untuk melihat setting tempatnya. Ada banyak bagian yang membuat saya merasa tempatnya ini kalau dibilang terjadi di Indonesia, saya akan percaya.

    Secara keseluruhan, novel ini adalah pengalaman yang menarik dalam membaca novel Filipina. Ceritanya juga bagus, walau sedikit terasa klise.

    "Saat kau mencintai seseorang, kau mencintainya begitu saja. Hanya itu yang penting, kan? Kau jatuh cinta begitu saja. [...]" -Naomi kepada Stephen (hal. 116)


    Heartbroken 
    Can you fix a broken heart?
    Photo by me

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Young Adult Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge


    View all my reviews

  8. Brink of SensesBrink of Senses by Mertha Sanjaya
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Brink of Senses
    Penulis: Mertha Sanjaya
    Penerbit: Ice Cube Publisher
    Halaman: 254 halaman
    Terbitan: Agustus 2015

    “Mengapa kau menari di sini?” tanya Kevin lantang. “Bukankah kau bisa menari di panggung dan dapat uang lebih banyak?”

    “Aku tidak butuh uang. Aku hanya suka menari. Menari, menari, dan menunggu.”

    Keputusan sang ayah untuk pindah ke New York membawa angin segar dalam kehidupan Kevin Huston. Di kota yang sibuk itu, dia bisa melupakan kenangan buruk akan ibunya dan bisa memulai hidup baru tanpa ada yang tahu riwayatnya sebagai mantan pasien di Pusat Rehabilitasi Mental Golden Sunshine (“Senyum, senyum, senyum karena kau ada di Golden Sunshine!”). Kevin berhasil menarik perhatian Carla Friday, gadis paling populer di sekolah dan dia bisa berteman dengan siapa pun yang dia mau. Siapa pun kecuali Scarlett Mendelsohn, gadis penari yang ia temui di Battery Park. Berulang kali Kevin mencoba mendekati Scarlett, tapi gadis itu tidak menggubrisnya, seolah pikirannya berada di tempat lain. Tapi Kevin tidak mau menyerah. Karena ada sesuatu dari gadis itu yang mengingatkannya pada kondisinya dahulu.

    Review

    "Brink of Senses" menceritakan tentang Kevin Huston, seorang murid SMA mantan pasien di Pusat Rehabilitasi Mental Golden Sunshine. Keputusan sang ayah untuk pindah dari Wales ke New York membawanya bertemu dengan Scarlett Mendelsohn, seorang gadis aneh yang menari secara cuma-cuma di Battery Park.

    Perkenalan pertamanya dengan Scarlett membuat Kevin merasakan satu hal. Ada sesuatu pada gadis itu yang mengingatkannya akan dirinya sendiri di masa lalu.

    Tidak terasa, akhirnya saya sampai juga di pengujung seri YARN. Total ada 15 buku. Rasanya seperti baru kemarin Remedy diterbitkan. Tahu-tahu sudah buku ke-15 aja :')

    Kovernya cakep banget. Saya suka nuansa hitam-putih dengan aksen pebalet merahnya. Saya juga suka dengan lingkaran putus-putusnya yang menyerupai gambar pergerakan bintang.

    Saya suka dengan karakter-karakter di BoS ini. Mulai dari Kevin yang kalau marah seram, sampai Scarlett yang aneh dan penuh misteri. Beberapa tokoh sampingan seperti Marcus dan Krupin juga memberi warna tersendiri bagi cerita.

    Untuk plotnya, saya suka dengan ide dasarnya. Eksekusinya juga sudah baik. Mungkin yang kurang hanya suatu ledakan dalam cerita kali, yah. Bagian akhir tentang rahasia Scarlett tidak cukup untuk memberikan kejutan buat pembaca soalnya.

    Secara keseluruhan, Brink of Senses ini punya karakter dan cerita yang enak untuk dibaca. Narasinya juga sudah mengalir dengan baik. Hanya saja, dia mungkin butuh letupan lebih dalam ceritanya. Tiga bintang buat novel ini.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Young Adult Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge


    View all my reviews

  9. Sang Bintang (Starring Tracy Beaker)Sang Bintang by Jacqueline Wilson
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Sang Bintang (Starring Tracy Beaker)
    Penulis: Jacqueline Wilson
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 192 halaman
    Terbitan: Februari 2009

    Tracy Beaker ingin sekali ikut bermain dalam drama di sekolahnya, A Christmas Carol, yang akan dipentaskan pada Hari Natal. Anak yang susah diatur ini mengira ia tidak bakalan kebagian mendapat peran, bahkan untuk menjadi anak gelandangan yang nakal sekalipun. Tapi lalu ia dipilih untuk menjadi pemeran utama. Bisakah ia memerankan Ebeneezer Scrooge yang penggerutu dan pemarah? Yah, ia mendapat sedikit bantuan dari Justine si Sangat-Menyebalkan Littlewood...

    Sementara Tracy mempersiapkan diri, Cam menolongnya menghafal dialognya. Tapi ia benar-benar ingin tahu apakah ibunya yang bintang film akan bisa datang dari Hollywood tepat pada waktunya untuk menontonnya bermain drama?

    Review

    Aku Tracy Beaker. Ingat baik-baik namaku. Aku akan terkenal suatu hari nanti. (hal 7)


    "Starring Tracy Beaker" bercerita tentang Tracy Beaker, seorang anak penghuni panti asuhan. Walau tinggal di panti, Tracy sebenarnya masih memiliki seorang ibu yang, katanya, berprofesi sebagai seorang aktris Hollywood, dan kesibukan ibunya itulah yang membuatnya tinggal di tempat yang Tracy sebut sebagai 'Tempat Pembuangan'.

    Suatu hari, sekolah Tracy akan mengadakan pertunjukan drama 'A Christmas Carol'. Tracy ditunjuk untuk memainkan Ebenezer Scrooge, si peran utama. Bersama Cam, ibu asuhnya, Tracy mempersiapkan diri untuk peran itu, sambil berharap-harap cemas akan kedatangan ibunya ke pementasan itu.

    Novel ini semacam pendinginan setelah saya kena "I Am a Cat" yang lumayan bikin mumet (review di sini). Buku anak-anak dengan tokoh yang kadang bikin kesal, kadang bikin ketawa.

    Tracy Baker memang bukan contoh anak yang manis. Dia gampang merah, suka memukul orang, dan mungkin agak delusional (atau setidaknya sangat imajinatiflah). Duh, tidak kebayang, deh, kalau punya anak kayak Tracy ini :)). Tapi, semua kemarahan dan sifatnya itu bisa dipahami sebagai ketakutan dan mungkin juga kekecewaan Tracy.

    Ceritanya punya warna yang sedikit mengingatkan pada Matilda-nya Roald Dahl (review di sini). Saya suka dengan perkembangan hubungan antara Tracy dan Cam. Kisahnya mereka manis dan hangat.

    Sayang saya baru tahu kalau ini buku ke-3 dari serial Tracy Beaker. Pantas saja ada beberapa bagian yang bikin saya bingung. Mungkin bagian-bagian itu bisa lebih dipahami kalau baca buku prekuel/sekuel dari novel ini.

    Secara keseluruhan, saya suka dengan kisah Tracy yang bandel, tapi juga manis ini. Jadi pengin baca buku-buku lain dari seri ini.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 New Authors Reading Challenge


    View all my reviews

  10. Mesopotamia: mimpi panjang yang teramat melelahkanMesopotamia: mimpi panjang yang teramat melelahkan by Senja Nilasari
    My rating: 2 of 5 stars

    Judul: Mesopotamia
    Penulis: Senja Nilasari
    Penerbit: PING!!!
    Halaman: 220 halaman
    Terbitan: September 2014

    Saat sedang membereskan rumah warisan di Nasiriyah, Oman menemukan sebuah buku berjudul Meet the Sumerians. Tergoda untuk membukanya, tiba-tiba saat tersadar ia berada di Sumeria, dua puluh satu abad sebelum Masehi.

    Di Sumeria, Oman yang seorang arsitek, mesti menjadi budak. Dia harus berganti-ganti majikan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Raja Shulgi, dan terlibat dalam pembangunan ziggurat Ur, salah satu ziggurat bangsa Mesopotamia yang terbesar.

    Review

    "Mesopotamia: mimpi panjang yang teramat melelahkan" bercerita tentang Oman, seorang pemuda asal Irak yang bekerja sebagai arsitek di Indonesia. Bertahun-tahun tidak pulang ke kampung halamannya, Oman akhirnya harus kembali karena ibunya sakit.

    Setelah meninggal, Ibunya mewariskan sebuah rumah di Nasiriyah pada Oman. Di sana, setelah membersihkan rumah itu, Oman menemukan sebuah buku dengan huruf kuno, sebuah buku yang membawanya mundur ribuan tahun ke Sumeria.

    Awalnya saya sempat berpikir kalau novel ini mengambil kisah Yusuf sebagai dasarnya. Soalnya secara garis besar, ceritanya lumayan mirip. Mulai dari Oman yang dijadikan budak, digoda oleh istri majikannya, sampai akhirnya dia mendapat kepercayaan raja. Tapi, kalau dibandingkan dengan kisah Yusuf, novel ini masih terlalu tanggung.

    Novel ini sudah cukup baik dalam menggambarkan kondisi hidup masyarakat Sumeria. Kerasnya kehidupan budak yang harus Oman jalani juga cukup terasa. Sayangnya, saya merasa semua itu diceritakan secara kering, tanpa emosi.

    Saya sama sekali tidak bisa merasakan emosi Oman. Padahal dia mengalami perubahan nasib yang cukup drastis, loh. Bayangkan, seorang pria modern yang hidup sehari-harinya bebas, tiba-tiba terlempar ke masa lalu dan dijadikan budak. Ada beragam emosi yang bisa timbul. Stress, marah, tertekan, atau malah merasa bersemangat karena bisa melihat suatu masa yang berbeda. Saya tidak menangkap satu pun perasaan itu. Memang Oman sendiri sempat satu-dua kali mengeluh, tapi sebagian besar cerita terjadi dengan Oman yang terlalu anteng, tanpa emosi.

    Ceritanya sendiri banyak yang tanggung, misalkan soal pembuatan ziggurat, masalah dengan istri majikannya, kemudian masalah dengan majikan-majikannya banyak yang hanya diceritakan begitu saja. Atau beberapa hal sederhana yang dibiarkan gantung seperti ini:

    "Ceritakanlah sebuah cerita dari negerimu." (salah seorang budak)

    [...]

    "Baiklah, tentang banjir besar dan kapal Nabi Nuh."

    "Banjir besar? Seperti cerita Ziusudra?"

    Oman terdiam dan bertanya-tanya. Siapa Ziusudra? Apa itu nama Nabi Nuh bagi bangsa Sumeria?

    Budak itu lalu meninggalkan Alan (nama Oman di masa itu) karena tak memberinya cerita yang baru. [...] (hal. 135-136).


    Jadi, Ziusudra itu siapa? Kenapa tidak langsung diceritakan saja? Kan, bisa lebih memberikan gambaran lagi tentang bangsa Sumeria.

    Secara keseluruhan, Mesopotamia ini punya cerita yang lumayan bagus. Penulisnya juga mampu memberikan gambaran kehidupan masa itu dengan baik. Sayang ceritanya terlalu kering secara emosi, sehingga saya tidak bisa larut ke dalamnya. Setiap kali Oman menghadapi masalah, dianya tenang banget seperti tidak merasakan apa-apa. Ya, sayanya juga jadi santai-santai saja. Kalau saja hubungan emosi (dan mungkin juga akhir cerita) lebih diperdalam, saya pasti bakal lebih suka dengan novel ini.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  11. Kita & Rindu yang Tak TerjawabKita & Rindu yang Tak Terjawab by Dian Purnomo
    My rating: 2 of 5 stars

    Judul: Kita & Rindu yang Tak Terjawab
    Penulis: Dian Purnomo
    Penerbit: Gagas Media
    Halaman: 279 halaman
    Terbitan: Juni 2015

    "Kita & Rindu yang Tak Terjawab" bercerita tentang Naiza, seorang gadis 20-an yang berdarah Batak dan sedang menghadapi suatu "masalah" yang cukup banyak diangkat menjadi tema novel belakangan ini: dipaksa untuk segera menikah.

    Masalahnya bukan hanya di soal menikahnya. Orang tua Naiza juga ingin dia menikahi seorang pria Batak, sesuai adat yang berlaku. Padahal Naiza sudah punya seseorang yang dia suka, tetangga sekaligus sahabatnya sejak kecil. Hanya saja karena pria itu bukan seorang pria Batak, Naiza yakin dia tidak akan mendapat restu.

    Naiza kemudian dipertemukan dengan Sidney, calon suami pilihan orang tuanya. Naiza pun semakin terjepit di antara dua pilihan: memenuhi keinginan orang tuanya, atau memilih pilihannya sendiri.

    Review

    Saya jujur mengakui kalau saya susah untuk simpatik dengan si Naiza. Ya, saya tahu kalau dia mewek-mewek karena tidak mau menikahi Sidney. Tahu juga kalau dia cinta mati sama Tantra, sampai sama sekali tidak mau membuka hati untuk orang lain.

    Lalu kemudian dia nggak ngapa-ngapain, nggak berusaha sama sekali untuk dirinya sendiri. Ini yang bikin saya susah simpatik ke dia. Naizanya pasif aja, tidak mencoba untuk mengomunikasikan hal ini ke orang tuanya. Bahkan saat ada papan besar yang menunjuk ke Sidney yang bertuliskan, "Aku punya rahasia besar, loh. Rahasia yang mungkin membuatmu tidak perlu menikahiku, atau minimal mengulur waktu.", si Naiza nggak ngapa-ngapain. Nggak berusaha untuk mencari tahu lebih lanjut. Ya ampun.

    Sebenarnya buku ini punya materi yang bagus. Bukan cuma bicara soal adat pernikahan Batak, tapi ada kemungkinan untuk mempertanyakan tentang suatu adat itu sendiri. Apakah memang masih relevan dengan saat ini? Apa manfaatnya?

    Menikah itu bukan tentang ingin atau tidak ingin, niat atau nggak niat. Di dalam keluarga Batak, kita ini rata-rata menikah karena kewajiban meneruskan keturunan, meneruskan marga, menjaga adat. Padahal, sama sekali tidak kulihat ada urgensinya di mataku untuk meneruskan sebuah marga. Kenapa harus diteruskan? Apa untungnya buat umat manusia kalau Sinaga bertahan sampai seribu lapis anak pinak berikutnya? -Sidney (hal. 88-89)


    Setahuku, adat dan budaya adalah kebiasaan yang indah yang tidak diciptakan untuk menyengsarakan pelakunya. Kalau adat membuat hatiku jadi patah, rasanya aku memilih untuk tidak menjunjungnya sama sekali. Call me tak tahu adat, tapi aku bisa menjunjung adatku dengan cara yang berbeda. -Naiza (hal. 197)


    Sayangnya, baik Sidney maupun Naiza berhenti di pertanyaan-pertanyaan itu. Mereka tidak berusaha untuk lebih aktif. Mereka tetap saja membiarkan diri terkungkung oleh adat itu.

    "Trust me, ini juga nggak gampang buat aku, Naiza. Tapi, kita bukan orang-orang yang dibesarkan sendiri. Kita berdua dibesarkan oleh adat. Kita diharapkan untuk mengikutinya. Jadi, mari mempermudah diri kita dengan mengikutinya." (hal. 192)


    Dan Naiza, kalau bukan tantenya yang tidak sengaja tahu tentang rahasia Sidney, mungkin dia sudah akan menikah dengan cowok itu.

    Secara keseluruhan, "Kita & Rindu yang Tak Terjawab" ini punya materi yang menarik tentang kebudayaan. Sayangnya, tokoh-tokohnya terlalu pasif untukku. Naiza, Sidney, dan Tantra masih menjadi kapal yang membiarkan dirinya terombang-ambing oleh adat dan budaya, tanpa berusaha menurunkan jangkarnya dan memberi perlawanan.

    Buku ini saya rekomendasikan untuk orang-orang yang ingin tahu lebih banyak soal budaya pernikahan Batak, serta yang mungkin pernah mengalami kondisi yang sama dengan Naiza.

    p. s: kalau seri Indonesiana ini ada lagi, jangan tema "nggak bisa nikah karena adat" lagi, dong. Atau minimal dengan pembahasan sudut pandang yang beda. Sudah ada 2 dari 3 buku, nih. Dengan eksplorasi dan penyelesaian yang mirip pula.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    -2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  12. Sahara: Ketika Aladdin, Ali Baba, dan Sinbad Bertarung dengan Jin SaktiSahara: Ketika Aladdin, Ali Baba, dan Sinbad Bertarung dengan Jin Sakti by Nugraha Wasistha
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Sahara: Ketika Aladdin, Ali Baba, dan Sinbad Bertarung dengan Jin Sakti
    Penulis: Nugraha Wasistha
    Penerbit: PT. Serambi Ilmu Semesta
    Halaman: 335 halaman
    Terbitan: Agustus 2009

    Sinbad, petualang yang menjadi mubalig. Dia berkelana ke seluruh dunia untuk berdakwah kepada para penjahat besar dengan pilihan: tobat atau mati!

    Ali Baba, masa kecil yang tragis membawanya jadi pencuri cilik dan paling licin di seluruh Arab. Julukannya adalah tikus gurun yang selalu menemukan jalan masuk maupun keluar dalam semua aksinya.

    Seorang sultan muda yang misterius bernama Aladdin meminta bantuan mereka untuk mendapatkan kembali lampu wasiatnya di Sahara.

    Ketiganya menjadi kawan sekaligus lawan. Di tengah perjalanan menuju jantung gurun terganas di dunia itu, mereka harus mengatasi para bajak laut. Bahkan mereka terjebak dalam permainan Jin Sakti penghuni lampu ajaib.

    Review

    "Sahara: Ketika Aladdin, Ali Baba, dan Sinbad Bertarung dengan Jin Sakti" bercerita tentang... yah, ketika Aladdin, Ali Baba, dan Sinbad bertarung dengan jin sakti. Iya, ini semacam cerita hybrid.

    Ceritanya tentang Sinbad, seorang mantan pelaut yang kini menjadi seorang mubalig (orang yang menyebarkan ajaran agama Islam). Dalam perjalanannya, dia bertemu dengan Ali Baba, seorang pencuri ulung, yang ingin Sinbad sadarkan dan buat bertobat. Suatu kejadian membuat mereka bertemu dengan Aladdin yang kehilangan lampu ajaibnya dan meminta bantuan mereka. Bersama-sama, mereka bertiga memulai perjalanan untuk memperoleh kembali lampu ajaib Aladdin.

    Saya butuh waktu yang sangat lama untuk suka dengan buku ini. Sejak awal, pembaca sudah dipertemukan dengan tokoh yang, setidaknya bagi saya, kurang menyenangkan. Misalnya Sinbad yang agak "gelap mata" dalam menyebarkan ajaran agamanya. Dia memegang prinsip kalau orang yang ingin dia sadarkan tidak kunjung bertobat, maka tidak ada masalah untuk membunuh orang-orang itu. Tokoh lain yang juga tidak menyenangkan adalah Aladdin yang "alim", tapi seksis (menganggap wanita tidak cocok memegang kekuasaan/pemerintahan), serta rasis. Ali Babanya agak lumayanlah. Walau pencuri, tapi sikapnya lebih mendingan ketimbang dua tokoh lainnya.

    Kebayang, kan, kalau harus melalui petualangan sejauh 335 halaman dengan teman seperjalanan seperti itu Untungnya, hal ini memang menjadi tema si penulis. Perlahan-lahan berbagai kejadian membuat para karakternya mempertanyakan hal-hal yang mereka percayai selama ini.

    Ceritanya sangat action packed. Dari awal hingga akhir, pembaca disajikan narasi-narasi yang sangat kuat secara visual, tapi lemah dalam berbagai indra yang lain. Rasanya seperti nonton filmlah. Ceritanya seru dengan twist yang tidak kalah serunya.

    Secara keseluruhan, tiga bintang. Saya merekomendasikan novel ini untuk yang mencari bacaan fantasi yang beda dari biasanya.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  13. Perempuan-Perempuan TersayangPerempuan-Perempuan Tersayang by Okke Sepatumerah
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Perempuan-Perempuan Tersayang
    Penulis: Okke Sepatumerah
    Penerbit: Gagas Media
    Halaman: 276 halaman
    Terbitan: Mei 2015

    Pernahkah kau mendengar kisah dari Kota SoE, kota kelahiranku?

    Ya, tadinya aku pun berpikir sama denganmu, tak ada yang menarik dari kota yang berjarak lebih dari seratus kilometer dari Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur itu.
    Maka, aku meninggalkannya.
    Dan, di ruas Ibu Kota, aku menemukan cinta.
    Menegakkan mimpiku hampir sempurna.

    Namun, hidup tak selalu memihak pada mimpi yang sempurna, bukan?
    Mau tak mau, aku harus kembali ke SoE.
    Aku pulang, meninggalkan cinta dan harapan akan masa depan.

    Pernahkah kau mendengar kisah dari Kota SoE, kota kelahiranku?
    Tadinya, aku pun berpikir sama denganmu, tak ada yang istimewa darinya.
    Namun, ternyata aku lupa akan indahnya barisan bugenvil yang mekar serentak di tepi-tepi jalannya.
    Aku lupa sempat kutitipkan cinta malu-malu di sana.

    Lalu, maukah kau menelusuri bersamaku kelok jalannya yang berbatu-batu?
    Menikmati siur dingin udaranya sambil kita perbincangkan lagi cinta yang sering kau lupa.

    Mungkin kau sama denganku, cinta yang sebenarnya justru kau temukan saat kau pikir kau sedang kehilangan.

    Jadi, dengarlah kisah dari Tana Timor ini.

    Review

    "Perempuan-Perempuan Tersayang" bercerita tentang Fransina, gadis Timor yang terpaksa pulang ke SoE, Timor Tengah Selatan, NTT, karena sebuah masalah keluarga. Terpaksa meninggalkan pacarnya serta berbagai kesempatan kerja di Jakarta, Fransina pulang dengan hati uring-uringan, serta menyalahkan adiknya yang dia anggap sebagai penyebab masalah.

    Di SoE inilah, di kampung halamannya, Fransina mengevaluasi kembali dirinya, serta mempertanyakan apa yang selama ini dia anggap penting. Di SoE jugalah dia bertemu seorang pria yang mampu membuat hatinya berdebar-debar, yang mampu membuatnya meragukan perasaannya pada pacarnya di Jakarta yang kini mulai berubah.

    Ini buku kedua dari seri Indonesiana yang kubaca. Sebelumnya sudah baca Di Bawah Langit yang Sama (review di sini).

    Kalau boleh jujur, antara "Di Bawah Langit yang Sama" dengan "Perempuan-Perempuan Tersayang" ini butuh untuk saling transfer kelebihan masing-masing. Dari segi cerita/plot, saya lebih suka novel ini. Tapi, dari segi cara bercerita, saya lebih suka "Di Bawah Langit yang Sama".

    Cara narasinya terlalu mengandalkan 'tell', khususnya di bagian awal. Ada banyak bagian yang saya rasa akan lebih baik kalau ditunjukkan pada pembaca. Hal-hal seperti keadaan mental Fransina, kehidupan sehari-hari yang membosankan, hingga keadaan kota SoE yang katanya tidak ada harapan bekerja untuk Fransina (yang sesuai keahliannya di bidang entah periklanan, bahasa, atau ilmu komunikasi. Tidak disebutkan dengan spesifik), pasti bisa lebih menarik kalau ditunjukkan dengan lebih detail.

    Untuk ceritanya, saya cukup suka. Penyelesaiannya juga bagus, walau saya masih bingung dengan Fransina dengan Fritz yang tiba-tiba jadi gantung gitu. Kalau bisa, sih, ada lebih banyak adegan yang menunjukkan perkembangan dalam keluarganya Fransina.

    Btw, melihat Fransina di novel ini, saya jadi kepikiran salah satu puisinya Rendra. Saya kutipkan di sini:

    Sajak Seonggok Jagung

    Seonggok jagung di kamar
    dan seorang pemuda
    yang kurang sekolahan.

    Memandang jagung itu,
    sang pemuda melihat ladang;
    ia melihat petani;
    ia melihat panen;
    dan suatu hari subuh,
    para wanita dengan gendongan
    pergi ke pasar ………..
    Dan ia juga melihat
    suatu pagi hari
    di dekat sumur
    gadis-gadis bercanda
    sambil menumbuk jagung
    menjadi maisena.
    Sedang di dalam dapur
    tungku-tungku menyala.
    Di dalam udara murni
    tercium kuwe jagung

    Seonggok jagung di kamar
    dan seorang pemuda.
    Ia siap menggarap jagung
    Ia melihat kemungkinan
    otak dan tangan
    siap bekerja

    Tetapi ini :

    Seonggok jagung di kamar
    dan seorang pemuda tamat SLA
    Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
    Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

    Ia memandang jagung itu
    dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .
    Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
    Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
    Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
    Ia melihat nomor-nomor lotre.
    Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
    Seonggok jagung di kamar
    tidak menyangkut pada akal,
    tidak akan menolongnya.

    Seonggok jagung di kamar
    tak akan menolong seorang pemuda
    yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
    dan tidak dari kehidupan.
    Yang tidak terlatih dalam metode,
    dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
    yang hanya terlatih sebagai pemakai,
    tetapi kurang latihan bebas berkarya.
    Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

    Aku bertanya :
    Apakah gunanya pendidikan
    bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
    di tengah kenyataan persoalannya ?
    Apakah gunanya pendidikan
    bila hanya mendorong seseorang
    menjadi layang-layang di ibukota
    kikuk pulang ke daerahnya ?
    Apakah gunanya seseorang
    belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
    atau apa saja,
    bila pada akhirnya,
    ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
    “ Di sini aku merasa asing dan sepi !”

    Saya merasa Fransina seperti layang-layang ibukota yang pulang ke daerahnya dengan kikuk, lalu berkata, “Di sini aku merasa asing dan sepi!”.

    Secara keseluruhan, tiga bintang. Buku ini saya rekomendasikan untuk penyuka konflik keluarga, serta yang penasaran dengan kehidupan di SoE.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  14. Marry Now, Sorry LaterMarry Now, Sorry Later by Christian Simamora
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: Marry Now, Sorry Later
    Penulis: Christian Simamora
    Penerbit: Penerbit Twigora
    Halaman: 438 halaman
    Terbitan: Mei 2015

    "BERSEDIAKAH SAUDARA MENGASIHI 
    DAN MENGHORMATI ISTRI SAUDARA SEPANJANG HIDUP?"
    Sejak awal Jao Lee sudah tahu, Reina tak mencintainya. Namun, menikah dengan putri satu-satunya direktur Hardiansyah Electronics itu memberi ilusi cukup bahwa Jao memilikinya. Salah besar. Reina justru melakukan sesuatu yang tak pernah Jao duga selama ini: kabur sebelum acara resepsi dimulai.

    "ADAKAH SAUDARI MERESMIKAN PERKAWINAN INI 
    SUNGGUH DENGAN IKHLAS HATI?"
    Setelah enam bulan bersembunyi, akhirnya Jao berhasil menemukan Reina. Seperti dugaannya, suaminya itu memaksanya pulang bersama ke Jakarta. Memangnya apa yang dia harapkan? Semacam membuka lembaran baru dan hidup bersama sebagai suami-istri sungguhan?

    "SAYA BERJANJI SETIA KEPADANYA DALAM UNTUNG DAN MALANG, 
    DAN SAYA MAU MENCINTAI DAN MENGHORMATINYA 
    SEUMUR HIDUP."
    Ini cerita cinta tentang dua orang yang tak saling cinta, tapi bertahan untuk tetap bersama. Sampai kapan mereka akan terus berusaha? Perlukah mereka jatuh cinta dulu supaya bisa bahagia?


    Selamat jatuh cinta,

    CHRISTIAN SIMAMORA

    Review

    "Marry Now, Sorry Later" bercerita tentang Reina, seorang gadis dari keluarga kaya, yang tiba-tiba saja dilimpahi tanggung jawab akan perusahaan ayahnya yang meninggal. Reina yang mendapati bahwa kondisi keuangan perusahaan ayahnya ternyata tidak sehat, terpaksa meminta perpanjangan tenggat pembayaran utang pada Jao Lee, si pengusaha muda yang sukses, serta merupakan salah satu peminjam modal pada Hardiansyah Electronics.

    Jao, yang mempunyai rencana berbeda, mengajukan persyaratan pada Reina. Dia akan menghapus seluruh utang Hardiansyah Electronics jika Reina setuju untuk menikah dengannya. Reina yang merasa sudah tidak memiliki jalan lain, akhirnya menyetujui hal itu.

    Ini novel pertamanya Christian Simamora yang saya baca. Iya, tahu, telat banget. Ybs sudah menelurkan 14 buku, saya baru baca satu doang.

    Anyway, saya suka dengan novel ini. Ide ceritanya mungkin sudah biasa, sih. Tentang nikah kontrak yang berkembang menjadi sesuatu yang lebih jauh lagi, tapi eksekusinya bagus. Saya cukup suka dengan cerita yang langsung dibuka dari tengah, baru kemudian mundur untuk menjelaskan duduk perkaranya. Ini membuat cerita bisa langsung lompat ke bagian yang seru dan hanya meringkas bagian awalnya yang memang sangat potensial untuk seret.

    Interaksi antara Jao dan Reina juga sangat es teh manis panas. Manis, segar, dan panas. Saya suka dengan usaha Jao untuk menunjukkan kalau dia serius dengan Reina. Saya juga suka dengan Reina yang ragu-ragu dengan usahanya Jao, karena curiga kalau ada udang di balik batu. Saya suka dengan kedua tokohnya yang masih terasa manusiawi dan tidak over the top seperti di novel romans kontemporer yang terakhir kubaca.

    Saya juga suka dengan tokoh-tokoh sampingannya, seperti kedua temannya Reina, Sari dan Char, mantan temannya si Reina yang bitchy, sampai Michael, sahabatnya Jao. Semuanya terasa punya kepribadian masing-masing. Untuk Char, saya suka karena penulisnya memperlakukan tokoh transeksualnya dengan baik dan terasa manusiawi.

    Yang kurang kusuka adalah Reina yang tampaknya kurang berusaha (atau kurang ditunjukkan usahanya) waktu pertama kali berusaha mengurus perusahaan ayahnya, serta beberapa pertengkaran di bagian akhir. Pertengkarannya terasa kebanyakan aja.

    "Terlepas dari risiko sakit yang luar biasa, cinta adalah pengalaman yang nggak tergantikan oleh apa pun. Bahkan uang sekalipun. Cinta bisa bikin lo merasa jadi orang paling beruntung di muka bumi." Michael kepada Jao (hal. 380)


    Secara keseluruhan, saya merekomendasikan novel ini untuk penyuka novel romans kontemporer.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    -2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  15. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan BudayaSastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya by Ignas Kleden
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya
    Penulis: Ignas Kleden
    Penerbit: Penerbit Graffiti & Freedom Institute
    Halaman: 500 halaman
    Terbitan: 2004


    "Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan" adalah kumpulan esai sastra dan budaya yang ditulis oleh Ignas Kleden. Buku ini terbagi atas empat bagian. Bagian I yang berjudul "Mengalami Kesusastraan" adalah pembuka yang menceritakan latar belakang penulisnya, serta bagaimana dia tertarik dengan dunia sastra.

    Dalam retrospeksi dapatlah dikatakan bahwa tulisan-tulisan yang hadir dalam buku ini adalah ikhtiar menjawab beberapa pertanyaan penelitian (research question) mengenai kedudukan sastra dan berbagai dimensi kaitannya. (hal. 7)


    Beberapa pertanyaan yang dimaksudkan antara lain:
    1. Sastra dan Bukan Sastra (sastra lebih bersifat tekstual/maknanya lahir dari hubungan-hubungan di dalam teks sendiri, sedangkan tulisan yang sifatnya non-sastra lebih bersifat referensial/makna lahir dari hubungan teks-luar teks)

    2. Sastra, Masyarakat, dan Kebudayaan (bagaimana sastra menghubungkan diri dengan/melepaskan diri dari alam pikiran kebudayaan atau pengaruh struktur sosial dari mana sastra itu berasal?)

    3. Sastra dan Pengarang (bagaimana memahami sebuah karya sastra dalam hubungan dengan penulisnya?)

    4. Sastra dan Konteks (apakah sebuah karya sastra harus selalu dipahami dengan konteks penulisannya?

    5. Sastra dan Kritik Sastra (metodologi apa yang tepat untuk kritik sastra?)

    6. Sastra, Ilmu, dan Imajinasi  (apakah sastra hanya memberi kita fiksi, sedangkan ilmu pengetahuan, sosial, dan sejarah hanya memberikan fakta dan data?)

    Pada bagian II, Strategi Literer Menghadapi Perubahan Sosial, berisi kumpulan esainya akan tulisan-tulisan (dan terkadang tentang hidup) Umar Kayam, Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Pramoedya Ananta Toer, Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 1997, Goenawan Mohammad, Y. B. Mangunwijaya, dan H. B. Jassin.

    Bagian III, "Puisi, Penyair dan Intelektual Publik, berisi kumpulan esai tentang puisi, sajak, dan para penyair seperti: Goenawan Mohammad, Rendra, Joko Pinurbo, T. Mulya Lubis, Mochtar Pabbottingi, Dorothea Rosa Herliany, dan tradisi lisan "Bujang Tan Domang".

    Bagian IV, "Dari Apologetik ke Dialog", berisi kumpulan esai tentang refleksi kebudayaan, pergeseran nilai moral, perkembangan kesenian, dan perubahan sosial, fakta dan fiksi tentang fakta dan fiksi, serta esai tentang esai.

    Secara keseluruhan, saya suka banget dengan buku ini. Ada berbagai macam hal baru yang saya pelajari di sini. Bukan hanya tentang sastra dan budaya, tapi juga tentang ilmu sosial dan filsafat, serta hubungan antara sastra dengan budaya, ilmu sosial, dan hal-hal lainnya.

    Jujur membaca buku ini sangat membutuhkan konsentrasi, khususnya karena saya tidak terbiasa dengan berbagai istilah yang digunakan. Untungnya ada glosarium yang membantu untuk mencari istilah-istilah yang ada kalau saya lupa/kurang paham dengan istilah tersebut.

    Buku ini saya rekomendasikan untuk orang-orang yang tertarik dengan sastra dan hubungannya dengan ilmu budaya dan sosial.

    Kesenian bukanlah ruang kudus tempat orang memasang lilin di kaki Dewi Keindahan dan kemudian bersukaria melupakan kehidupan yang keras di luarnya. Kesenian adalah bidang kegiatan yang memakai estetik sebagai sarana pembaharuan kebudayaan, seperti urakan yang menggunakan humor dan kekasaran untuk mencapai tujuan yang sama. (hal. 231)


    Dari mana pun asal-usul kebudayaan itu, hal itu tidak begitu penting artinya untuk kreativitas, selama penerima pengaruh-pengaruh itu dalam suatu proses internalisasi dan integrasi kebudayaan, dan kemudian menjadikan semua pengaruh itu sebagai bahan untuk penciptaan kebudayaan yang bersifat kreatif.

    Ini berarti, rasa prihatin tentang besarnya pengaruh Barat, sebetulnya mencerminkan rasa prihatin tentang lemahnya daya cerna kebudayaan kita sendiri. (hal 361-362)


    Fictio berarti sesuatu yang dikonstruksikan, ditemukan, dibuat atau dibuat-buat. Jadi kalaupun ada unsur khayalan maka khayalan di sana tidak menekankan segi non-realnya, tetapi segi konstruktif, segi inventif, dan segi kreatifnya. (hal. 421)


    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Read Big Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  16. Above the StarsAbove the Stars by D. Wijaya
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Above the Stars
    Penulis: D. Wijaya
    Penerbit: Ice Cube Publisher
    Halaman: 248 halaman
    Terbitan: Juni 2015

    “Kau tidak takut jatuh?” tanya Mia.

    Danny menggeleng.

    “Aku takut jatuh,” aku Mia dengan polos. “Kalau kau takut apa?”

    Danny tidak langsung menjawab. Ia juga tidak menolakkan kaki ke tanah lagi untuk menambah kecepatan ayunan. Senyuman di wajahnya perlahan-lahan memudar. “Aku takut tidak bisa melihat selamanya.”

    Menurut Danny Jameson, hidupnya tidak pernah mudah. Ia punya orangtua yang protektif, mesin tik Braille yang tidak dimiliki teman-temannya, dan semacam magnet yang menarik John Schueller untuk terus mengganggunya. Namun, yang paling buruk adalah ia punya sepasang mata biru yang tidak bisa melihat. Ketika Danny berpikir Mia Berry akan menjadi satu-satunya teman yang ia punya, Will Anderson datang dan mengubah hidupnya. Will memperlihatkan kepadanya dunia yang ingin ia lihat. Will juga membuat Danny mempertanyakan sesuatu tentang dirinya. Tapi, sebelum Danny sempat menemukan jawabannya, Will menghilang.

    Review

    "Above the Stars" bercerita tentang Danny, seorang remaja tunanetra yang belajar di sekolah biasa. Di sekolahnya dia berteman dengan Mia, mencatat pelajaran dengan mesin ketik khusus braille, dan sering diganggu karena kekurangannya.

    Suatu hari, ada seorang murid pindahan di sekolahnya. Nama murid itu Will dan dialah yang membawa perubahan hebat dalam hidup Danny. Bukan hanya membuat Danny lebih menikmati hidup dan keluar dari zona nyamannya, Will juga membawa suatu perasaan yang baru dalam hidup Danny.

    Iya. Ceritanya memang tentang LGBT. Sudah kelihatan dari blurb-nya kok.

    Saya lumayan suka dengan ceritanya. Ceritanya manis dan romansnya tidak berlebihan.

    Yang kurang kusuka mungkin kurangnya tensi dalam cerita. Maksudnya, tidak ada satu titik dalam novel yang kurasa memberi perasaan "meledak" pada ceritanya.

    Terus, mengenai bisik-bisik tetangga, buku ini katanya mirip dengan salah satu film bertema LGBTQ dari Brazil. Saya belum nonton filmnya, jadi tidak bisa bilang apa-apa. Cuma kalau baca sinopsis filmnya, rasanya perkembangan plotnya beda jauh, walau memang ada beberapa elemen cerita yang sama di awal, seperti karakter utama 2 cowok + 1 cewek , mesin ketik, dan soal murid pindahan.

    Secara keseluruhan, "Above the Stars" ini bacaan yang manis untuk tema LGBTQ remaja.  

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Young Adult Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  17. Rising Tide: Dark InnocenceRising Tide: Dark Innocence by Claudette Melanson
    My rating: 2 of 5 stars

    Title: Rising Tide: Dark Innocence
    Author: Claudette Melanson
    Publisher: Smashwords Edition
    Pages: 394 pages (paperback edition)
    Published date: May 2014

    Could Maura's life get any worse? ...turns out it most certainly can.

    Isolated and sheltered by her lonely mother, Maura's never been able to make friends. She seems to drive her classmates away—except for the odd times they pay enough attention to torture her—but she doesn’t understand why. Maura considers herself to be a freak of nature, with her unusually pale skin and an aversion to the sun that renders her violently nauseous. Her belief is only worsened by the fact that almost everyone around her keeps their distance.

    Even her own father deserted her before she was born, leaving Maura alone with her emotionally distant mother, Caelyn. Even though Maura is desperate for answers about her unknown parent, Caelyn remains heartbroken and her daughter can’t bring herself to reopen her mother’s wounds. Or is there a more sinister reason Caelyn refuses to utter a word about her long-lost love?

    When a cruel prank nearly claims Maura’s life, one of her classmates, Ron, rushes to her rescue. Darkly handsome & mysteriously accepting, Ron doesn’t seem to want to stay away, but Maura is reluctant to get too close, since her mother has announced she’s moving the two of them to Vancouver…nearly 3,000 miles away from their hometown of Indiana, Pennsylvania.

    If life wasn’t already challenging enough, Maura begins to experience bizarre, physical changes her mother seems hell bent on ignoring, compelling Maura to fear for her own life. Vicious nightmares, blood cravings, failing health and the heart-shattering loss of Ron—as well as the discovery of a tangled web of her own mother's lies—become obstacles in Maura's desperate quest for the unfathomable truth she was never prepared to uncover.

    Sure to become of the Books to Read of the year, Rising Tide: Dark Innocence isn't the usual tale of vampire erotica. This novel is a YA Vampire Romance that is certain to become one of the classic books of its time. Maura doesn't live in Castle Dracula in Transylvania, but she must still discover the bloodlines constructing the creature she is destined to become.

    Review

    First of all, thank you to "eBook Miner" on Goodreads and the author, Claudette Melanson, who provided the ebook version of this novel. I've been curious about the book for some time.

    "Rising Tide: Dark Innocence" follows the story of Maura, a shy and quite girl who is about to move with her Mom. During the few last weeks before her move, Maura meets Ron, a boy her senior who is very sweet and is Maura's saviour when she is being bullied. But with her constantly changing body and her move to Canada, Maura worries that she is falling in love at the wrong time.

    I feel like this novel is the equal part to Harry Potter and the Sorcerer's Stone, but only to the part where Hagrid broke into the house and told Harry that he is a wizard. Yeah, while a lot of things are going on in Maura's life (her change, moving to Canada, falling in love, etc etc), very little happen to the story.

    The love story was ok. It wasn't all over the top, but nothing special for me either. The long-distance relationship posed some challenges to Maura and Ron, but it was easily overcame. I think I didn't dig their romance because I couldn't feel their longing. Was it because the jumpy and (overly) simple + linear naration? Or simply Maura's lack of emotion?

    Also, I expected a vampire story with, well, vampire in it, but nope. Didn't get that.

    I am still intrigued by the second book. I wonder what will happen to Maura and why did her father leave her? I also wonder if there is some kind of twist with Ron.

    Overall, I recommend this book to YA and vampire lover, and for you who are looking for an easy read.

    This book is for the following reading challenges:
    - 2015 Young Adult Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  18. Sastra, Perempuan, Seks Sastra, Perempuan, Seks by Katrin Bandel
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Sastra, Perempuan, Seks
    Penulis: Katrin Bandel
    Penerbit: Jalasutra
    Halaman: 166 halaman
    Terbitan: 2006

    Dalam dunia sastra Indonesia saat ini "perempuan" dan "seks" merupakan dua isu yang sangat penting "perempuan" terutama dalam arti "pengarang perempuan" dan "seks" sebagai tema karya sastra yang sedang ngetren. Begitu banyak pengarang perempuan baru bermunculan dalam beberapa tahun terakhir ini dan tidak sedikit dari mereka mendapat sambutan yang luar biasa, baik dari segi respons media, penghargaan sastra, maupun jumlah buku yang terjual. Benarkah karya mereka demikian hebat sehingga pantas dihebohkan serupa itu? Berbagai klaim muncul seputar para "pengarang perempuan baru" itu : tulisan mereka hebat, menciptakan gaya penulisan baru, mereka mendobrak tabu, terutama seputar seks dan hal itu sering dipahami sebagai semacam pembebasan perempuan bahkan sebagai feminisme.

    Katrin Bandel dalam buku ini berusaha mempertanyakan klaim-klaim tersebut. Menurutnya kehebohan seputar beberapa penulis perempuan (bukan "perempuan" penulis), yang secara popular disebut sebagai "sastrawangi" itu, sangat berlebihan.

    Review

    Buku ini adalah kumpulan esai tentang sastra yang ditulis oleh Katrin Bandel, seorang pemerhati sastra Indonesia yang berasal dari Jerman. Katrin Bandel menyelesaikan doktor dalam sastra Indonesia di Universitas Hamburg, Jerman, dengan topik "Pengobatan dan Ilmu Gaib dalam Prosa Modern Indonesia".

    Walau judul buku ini "Sastra, Perempuan, Seks", tapi buku ini tidak melulu membahas tentang hubungan ketiganya. Di dalam kumpulan esai ini, terdapat beberapa pembahasan lain, seperti "Dukun dan Dokter dalam Sastra Indonesia", pembahasan tentang sastra pascakolonial, hingga "Religiusitas dalam Novel Tiga Pengarang Perempuan Indonesia". Hal ini sendiri diakui oleh penulis. Menurutnya, pemilihan judul buku ini bukanlah rangkuman isi buku, tapi dia merasa "Sastra, Perempuan, Seks" cukup mewakili apa yang ingin dia bahas, yaitu 'politik sastra Indonesia yang penuh sensasi dan ketidakadilan' (hal. xx).

    Ada tiga nama penulis yang sangat menonjol pembahasannya di buku ini. Ayu Utami, Eka Kurniawan, dan Djenar Maesa Ayu. Ketiganya menonjol dalam hal pembelaan/kritik atas karya sang penulis oleh Katrin Bandel.

    Dalam buku ini, Katrin Bandel mempertahankan karya Eka Kurniawan, 'Cantik Itu Luka', yang menurutnya telah diperlakukan secara tidak adil oleh Maman S. Mahayana dalam esai Maman di 'Media Indonesia'. Dalam esainya, selain memberikan pemikirannya akan novel 'Cantik Itu Luka, Katrin juga mempertanyakan tentang apa itu 'fakta historis', serta apakah seharusnya sejarah itu hanya 'versi resminya' saja yang boleh diikuti, bahkan dalam karya fiksi sekalipun?

    Btw, saya kena spoiler novelnya. Padahal belum baca 'Cantik Itu Luka' :v.

    Dalam pandangannya akan novel 'Saman' dan 'Larung' karya Ayu Utami, serta 'Nayla' dari Djenar Maesa Ayu, Katrin justru mempertanyakan pujian-pujian yang diberikan kepada novel-novel itu dan kedua penulisnya. Katrin mempertanyakan status buku-buku itu sebagai karya feminis, serta beberapa logika cerita yang ada di dalamnya. Pembahasannya cukup menarik dan disertai dengan argumen-argumen yang juga menarik. Menurutnya, kritik terhadap falosentrisme (pemikiran bahwa maskulinitas adalah sumber kekuatan dan otoritas) yang dihadirkan Ayu Utami hanya terjadi di permukaan. 'Di level yang lain, novel Ayu justru sangat falosentris' (hal. 117).

    Pada novel 'Nayla', Katrin mengkritik beberapa logika serta absennya kedalaman emosi dalam cerita Djenar Maesa Ayu. Katrin merasa bahwa kekurangan dalam 'Nayla' disebabkan oleh dua hal. Pertama, 'kecenderungan untuk merayakan "sukses"-nya sendiri sebagai pengarang'. Kedua, 'kecenderungan untuk menulis dengan gaya yang potensial dinilai "baru", "canggih", dan "inovatif" oleh pengamat.' (hal. 163). Katrin merasa bahwa pujian yang berlebihan justru akan menghancurkan sebuah potensi yang menjanjikan.

    Sayangnya, dengan semua kritik akan karya penulis perempuan yang diajukan, Katrin justru tidak memberikan beberapa buku karya penulis perempuan, baik dari Indonesia maupun dari luar, yang dirasa bisa mewakili 'perempuan menulis tentang perempuan'. Ada beberapa buku yang memang dituliskan secara positif, seperti 'Tujuh Musim Setahun'-nya Clara Ng, atau bahkan novel teenlit 'Nothing But Love' karya Laire Siwi Mentari, tapi pembahasannya tidak begitu mendalam dan tidak mendapat ruang sebesar novel-novel Eka, Ayu, dan Djenar. Hal ini membuat saya bertanya-tanya, apakah memang belum ada penulis wanita Indonesia yang mampu menulis tema 'menulis tentang perempuan' dengan baik? Saya rasa pasti ada.

    Tapi, walau memperoleh kritik berat dari Katrin, mungkin ada benarnya apa yang ditulis oleh St. Sunardi, Ketua Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dalam prakata. 'Ketika penulis mengkritik suatu karya dengan sangat kreatif dan kadang berapi-api, menurut hemat saya, hal itu justru menunjukkan keberhasilan apa yang dikritik. Apa yang dikritik benar-benar writerly, mendorong penulis untuk menulis.' (hal. xiii).

    Well, mengingat esai-esai di buku ini ditulis pada tahun 2001-2005, saya jadi penasaran bagaimana Katrin Bandel melihat politik sastra Indonesia saat ini. Lalu bagaimana pula tanggapannya akan karya-karya baru dari Ayu Utami, Djenar, Eka Kurniawan, hingga nama-nama lain yang disebutkan di buku ini?

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 New Authors Reading Challenge


    View all my reviews

  19. Sweet KarmaSweet Karma by Ayudewi
    My rating: 2 of 5 stars

    Judul: Sweet Karma
    Penulis: Ayudewi
    Penerbit: Gagas Media
    Halaman: 300 halaman
    Terbitan: Mei 2015

    Dikhianati membuatmu tak lagi memercayai.
    Dilukai membuatmu tak lagi berani menyayangi.
    Dilupakan membuatmu hanya berani menyembunyikan rindu di hati.
    Dicintai, akankah membuatmu kembali berani mencintai?

    Apakah hidup selalu seperti itu?
    Kau tak akan pernah lepas dari masa lalu.
    Langkahmu selalu dibayang-bayangi, sesuatu yang terkadang tak kau pahami:
    K-A-R-M-A

    Ketika hidup mempertemukanku denganmu, benarkah ini merupakan garis nasib?
    Aku mulai menyemai harap.

    Namun, mengapa semakin kukejar, bahagia terasa semakin menjauh?
    Mungkinkah karena maaf belum juga terucap dengan utuh

    Review

    Hmm... gimana, ya? "Sweet Karma" ini contoh novel yang punya materi bagus, tapi terburu-buru dalam mengembangkan ceritanya.

    "Sweet Karma" bercerita tentang Audrey, seorang wanita yang bekerja sebagai chef. Untuk menghindari keluarganya yang terus-terusan mendesaknya segera menikah, Audrey menerima pekerjaan sebagai sous-chef di sebuah gastropub di London. Di sana dia bertemu dengan Hugo Pierre, sang executive chef yang pemarah, "hobi" memecat sous-chef di tempat itu, serta terkesan seksis karena tidak menginginkan seorang wanita bekerja di dapurnya.

    Audrey, yang merasa jengah dengan sikap Hugo, mengonfrontasi pria itu. Hal ini membuat Hugo semakin tidak suka pada Audrey. Tapi, pada sebuah musim panas di London, rasa benci itu perlahan-lahan berubah.

    Kalau dibandingkan empat novel "Seven Sins" yang kubaca sebelum ini, "Sweet Karma" ini yang paling kerasa romansnya. Rasanya kayak lagi baca novel dari lini penerbit tetangga.

    "Sweet Karma" mengambil "wrath"/amarah sebagai temanya. Saya merasa kalau warna hijau kovernya kurang pas untuk tema amarah. Warna hijau lebih terkesan tenang/damai soalnya.

    Untuk ceritanya, saya suka dengan dunia dapur profesional yang sangat terasa. Saya juga lebih kenal dengan jabatan-jabatan di dapur restoran, serta suasananya seperti apa. Ternyata memang sepanas yang pernah kulihat di acara "Hell's Kitchen". Latar tempatnya juga digambarkan dengan sangat baik. London dan sedikit Raja Ampat-nya sangat terasa. Rasa marahnya juga sudah cukup terasa, walau masih terkesan suam-suam kuku.

    Yang kurang saya suka adalah kesan insta-romance antara Audrey dan Hugo. Ya, sih, dalam cerita memang sudah berlalu 1-2 bulan sejak mereka pertama bertemu, tapi tidak ada peristiwa yang membuat saya percaya dengan rasa sukanya mereka. Kesannya tiba-tiba aja sudah ada romance yang dipaksakan ke pembaca. Perkembangan hubungannya mereka cukup manis, walau agak membuat ngantuk untuk saya pribadi.

    Secara keseluruhan, "Sweet Karma" ini novel romans yang manis dengan tema klasik benci jadi cinta. Latar tempatnya digambarkan dengan baik. Suasana dapur dan dunia memasaknya juga sangat terasa. Sayangnya, tema "sin" yang dibawakan tidak sedominan buku-buku sebelumnya.

    Buku ini saya rekomendasikan untuk pecinta novel romance, serta yang ingin lebih tahu tentang dunia dapur profesional.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  20. Nineteen Eighty-FourNineteen Eighty-Four by George Orwell
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: Nineteen Eighty-Four
    Penulis: George Orwell
    Penerbit: Penguin Books Ltd.
    Halaman: 355 halaman
    Terbitan: Januari 2004

    Hidden away in the Record Department of the sprawling Ministry of Truth, Winston Smith skilfully rewrites the past to suit the needs of the Party. Yet he inwardly rebels against the totalitarian world he lives in, which demands absolute obedience and controls him through the all-seeing telescreens and the watchful eye of Big Brother, symbolic head of the Party. In his longing for truth and liberty, Smith begins a secret love affair with a fellow-worker Julia, but soon discovers the true price of freedom is betrayal.

    Review

    I hate the introduction. Gara-gara baca bagian introduction-nya, malah kena bocoran cerita -_-. Kenapa harus taruh bocoran ceritanya di awal? Kalau memang mau taruh analisa bukunya, mending di belakang, deh.

    Nineteen Eighty-Four bercerita tentang Winston, seorang pria 39 tahun yang tinggal di Oceania, sebuah negara (semacam) totalitarian. Winston bekerja di Record Departement, sebuah departemen pemerintahan yang bertugas untuk menyesuaikan sejarah. Tugasnya adalah mengubah catatan-catatan sejarah yang ada (misalnya artikel di koran/majalah) agar sesuai dengan masa depan. Misal, pemerintah meramalkan bahwa jumlah produksi barang A adalah sejumlah X, tapi ternyata jumlah itu tidak sampai, maka tugas Winston adalah mengubah berita yang ada.

    All one knew was that every quarter astronomical numbers of boots were produced on paper, while perhaps half the population of Oceania went barefoot. And so it was with every class of reorded fact, great or small. Everything faded away into a shadow-world in which, finally, even the date of the year had become uncertain. (hal. 44)


    Winston, yang merasa tidak puas dengan kondisinya, merindukan sebuah kebebasan sejati. Dalam kondisi itu, dia mulai menjalin hubungan dengan Julia, gadis di Fiction Departement. Walau tahu bahwa hubungan mereka terlarang, Winston dan Julia tetap menjalankannya sebagai bentuk pembangkangan terhadap pemerintah. Tapi, berapa lama hubungan mereka akan bertahan tanpa diketahui, mengingat setiap langkah warga selalu diawasi oleh pemerintah?

    But you could not have pure love or pure lust nowadays. No emotion was pure, because everything was mixed up with fear and hatred. Their embrace had been a battle, the climax a victory. It was a blow struck against the party. It was a political act. (hal. 133)


    Yeah, ada banyak topik yang dibicarakan di buku ini. Tidak mungkin semuanya bisa dibicarakan di ulasan pendek ini. George Orwell membawa kita menelusuri sebuah dunia yang tidak memberikan tempat pada individualitas. Tidak ada ruang pribadi. Semuanya dilakukan untuk pemerintah. Semua gerakan diawasi oleh pemerintah atas nama Big Brother, sang tokoh pemimpin pemerintahan.

    Buku ini sendiri mungkin memiliki kelemahan-kelemahan seperti yang dipaparkan di introduction jilid yang kubaca. Misalkan tokohnya yang dibilang dua dimensi dan ada hanya untuk menunjukkan karakteristik pemerintahan yang ada. Kupikir mungkin ada benarnya, tapi mungkin memang akan seperti itu karakter yang ada mengingat bagaimana pemerintah mengondisikan masyarakatnya di buku ini. Kekurangan yang ada tidak membuat buku ini kemudian menjadi jelek, karena ada banyak poin kuat yang membuat buku ini "klasik".

    Saya juga akan memperingatkan bahwa "1984" bukanlah "The Hunger Games". "1984" adalah sebuah novel distopia "tradisional" dalam hal nuansanya yang menimbulkan depresi. Jadi, kalau mencari buku distopia yang optimis seperti THG, saya sarankan untuk membaca buku ini dengan pola pikir yang berbeda.

    Secara keseluruhan, seperti yang Ben Pimlott tulis di introduction, "erroneus thought is the stuff of freedom."

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews