Rss Feed
    Showing posts with label 2015 Read Big Reading Challenge. Show all posts
    Showing posts with label 2015 Read Big Reading Challenge. Show all posts
  1. Jangan Ucapkan Cinta & Bukan Cinta SesaatJangan Ucapkan Cinta & Bukan Cinta Sesaat by Mira W.
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: Jangan Ucapkan Cinta & Bukan Cinta Sesaat
    Penulis: Mira W.
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 560 halaman
    Terbitan: September 2015

    Jangan Ucapkan Cinta mengungkapkan dua naluri dasar manusia, cinta dan benci, yang hidup berdampingan seperti dua sisi mata uang. Ketika cinta kilat yang lahir hanya dari daya tarik fisik menjelma menjadi pengkhianatan, cinta pun bermetamorfosis menjadi kebencian.

    Depresi menyeretnya ke ruang kerja seorang psikiater. Tetapi psikoterapi tidak menyembuhkan depresinya. Justru mengubahnya menjadi pribadi yang sama sekali berbeda. Sosok kejam yang siap membalas dendam.

    Namun tiga belas tahun kemudian, tatkala dia berhasil menghancurkan karier suaminya dan menyeret perempuan yang menggodanya ke rumah sakit jiwa, muncul orang keempat yang tidak disangka-sangka.

    Ternyata kelainan jiwa bukan hanya milik pasien....

    Bukan Cinta Sesaat mengisahkan dua anak manusia yang berasal dari dua kultur yang berbeda. Tetapi dilahirkan di bumi yang sama. Dibesarkan di tanah air yang satu.

    Dua puluh tujuh tahun mereka menjalin cinta, menantang berbagai kendala yang merintangi.

    Guru, orangtua, bahkan lingkungan menentang cinta mereka. Akhirnya maut pun ikut membayang-bayangi dalam dua kali percobaan pembunuhan yang misterius.

    Masihkah cinta mereka abadi? Bukan hanya cinta sesaat?

    Review

    Satu buku yang terdiri atas dua novel karya Mira W.. Yang pertama adalah 'Jangan Ucapkan Cinta' (1998). Yang kedua adalah 'Bukan Cinta Sesaat' (1995).

    'Jangan Ucapkan Cinta' bercerita tentang Niken, seorang suster yang bekerja pada Dokter Eko. Di tempat kerjanya itulah dia bertemu dengan Aldi, kakak Eko yang adalah seorang playboy dan penakluk hati wanita. Pertemuan itu membuat Niken membatalkan pertunangannya dan memilih menikahi pria itu, padahal Eko sudah memperingatkan sifat buruk kakaknya.

    Pernikahan yang awalnya berjalan manis tiba-tiba berubah jadi bencana saat Aldi kawin lari dengan wanita lain. Niken terpaksa berjuang sendiri untuk menghidupi dirinya serta bayi dalam kandungannya.

    'Bukan Cinta Sesaat' bercerita tentang Nina, seorang gadis keturunan Tionghoa; serta Rio, seorang anak laki-laki keturunan Batak. Pertemanan mereka sejak SD melalui perjalanan bertahun-tahun hingga mereka tumbuh menjadi remaja. Namun, saat mereka mulai sadar akan arti cinta, hubungan mereka justru ditentang oleh kedua pihak orang tua.

    Puluhan tahun kemudian, kisah mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam dan kelam. Sebuah cinta yang dibayangi oleh pembunuhan dan rasa bersalah.

    Saat bicara tentang novel percintaan, hal-hal apa yang akan muncul di kepala orang? Mungkin segala sesuatu yang manis, yang mampu membuat jantung berdebar-debar. Hal-hal yang mampu memesona dengan tokoh-tokoh yang memenuhi seluruh daftar keinginan si pembaca secara fisik dan mental.

    Tapi, ada sisi lain cinta yang tidak seindah itu. Ada sisi yang dipenuhi kebencian, pengkhianatan, sakit hati, cemburu, dan rasa kecewa. Sisi cinta inilah yang diperlihatkan oleh Mira W. dalam kedua novelnya.

    Mira W. memperlihatkan bagaimana sesuatu yang dimulai atas nama cinta, justru bisa menjadi bumerang yang menyakiti diri sendiri.

    "Saya mencintainya, Dok." Niken menunduk dengan paras memerah.

    "Cinta!" cetus eko dengan suara melengking. "Kamu baru sebulan mengenalnya."

    "Saya jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya, Dok," desah Niken terus terang. "Setelah hari itu, saya terus-terusan memikirkannya."

    [...]

    "Kamu akan menyesal!" desisnya (Eko) seorang diri ketika Niken telah meninggalkan kamar praktiknya. "Air matamu akan runtuh sebanyak tetes-tetes cintamu! Suatu hari, akan kamu kutuki hari pertemuanmu dengan dia!" (hal. 48-49)


    Atau bagaimana waktu dapat mengubah cinta yang sederhana dan polos menjadi rumit dengan berbagai motif latar belakang.

    Jika masalah ini muncul sepuluh tahun yang lalu, pemecahannya pasti berbeda. Rio tidak akan sulit menentukan pilihannya.

    Tetapi kini, dia tengah menuju proses kematangan. Dan seorang laki-laki dewasa yang matang, membutuhkan pertimbangan lain selain cinta yang membuta tuli. Dia membutuhkan pengakuan lingkungan untuk bereksistensi. (hal. 472)


    Melihat penderitaan dan perjuangan panjang para tokoh di kedua novel ini, kadang saya berpikir, untuk apa mereka berjuang sejauh itu? Tidak bisakah mereka matikan saja rasa cinta itu? Mungkin memang tidak bisa.

    "Cinta bukan TV yang bisa kamu matikan kalau kamu sedang tidak ingin menikmatinya, Rio!" (hal. 338)


    Atau mungkin seperti yang sering Ti Pat Kay (Zhu Baije) katakan di film Kera Sakti, "Cinta, penderitaannya sungguh tiada akhir."

    Secara keseluruhan, saya suka dengan buku ini. Kedua cerita yang Mira W. tampilkan mungkin terasa lebih gelap dan nyata dibandingkan novel roman pada umumnya, tapi tetap enak diikuti.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Read Big Reading Challenge


    View all my reviews

  2. So, I Married The Anti-fanSo, I Married The Anti-fan by Kim Eun Jeong
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: So, I Married the Anti-fan
    Penulis: Kim Eun Jeong
    Penerbit: Penerbit Haru
    Halaman: 525 halaman
    Terbitan: Oktober 2015

    Aku tinggal dengan idola paling terkenal se-Korea.Tapi Aku adalah antifan-nya.

    H, salah satu bintang pemicu hallyu wave akan tinggal dengan antifan-nya dalam sebuah variety show.

    Mr. H: Tentu saja aku bisa menangani antifan-ku. Aku ini pria yang penuh dengan kejutan

    Ms. L: Sebagai antifan-nya, aku akan membuka semua rahasia busuknya. Lihat saja nanti

    Begitu berita itu keluar, para fans Mr. H segera membentuk pertahanan untuk melindungi idolanya.

    Dan jika Ms. L melukai Mr. H barang sedikit pun maka mereka tidak segan2 untuk bertindak.

    Review


    Geun Yong tidak terima ketika dia dipecat dari majalah tempatnya bekerja. Dia yakin Hu Joon, si artis Korea nomor satu saat itu, yang membuatnya dikeluarkan. Semuanya itu karena Geun Yong mengetahui rahasia Hu Joon yang ternyata bersifat kasar pada wanita.

    Aksi protesnya di depan kantor manajemen Hu Joon membuatnya menerima cap 'anti-fan' dan diserang oleh penggemar Hu Joon. Tapi, aksi protes itu juga yang membuatnya terkenal dan akhirnya diajak untuk membintangi sebuah variety show. Di acara itu, Geun Yong akan menjadi manajer Hu Joon dan mereka akan hidup bersama-sama. Geun Yong menerima tawaran itu. Selain karena dia memang butuh uang, dia juga memtuskan untuk membongkar kebusukan Hu Joon di hadapan semua orang. Tapi, apa Geun Yong bisa mewujudkan hal itu? Lalu apakah Hu Joon memang pria jahat yang dia kira?

    Suka banget dengan ceritanya. "So, I Married the Anti-fan" ini punya cerita khas K-drama. Cowok-cewek yang tidak cocok, tapi tetap saja harus berinteraksi karena suatu hal. Poin yang saya suka, Geun Yong dan Hu Joon adu mulutnya tidak terlalu sering. Kadang ada cerita yang suka memaksakan pertengkaran antara kedua tokoh utamanya. Tujuannya, sih, supaya cerita seru dan lucu, tapi jatuhnya malah bikin jengah. Hal itu tidak terjadi di sini.

    Saya juga suka dengan pergerakan ceritanya. Geun Yong dan Hu Joon memiliki kesulitan masing-masing. Mereka punya kehidupan pribadi yang sama sulitnya, tapi berusaha mereka lalui dengan dukungan satu sama lain.

    "Coba kau berada di posisi kami. Mau jalan-jalan susah. Meskipun kau benar-benar marah, kau bahkan tidak bisa mengerutkan kening di hadapan orang banyak. Bahkan aku sampai memperhatikan apa aku memegang sumpit dengan benar kalau aku sedang makan di tempat umum." -Hu Joon (hal. 106)


    "Jangan salah paham. Anti-fan bukan orang yang selalu melawan atau memaki-maki selebriti tanpa tahu apakah itu fakta atau bukan. Keberadaan anti-fan menandakan bahwa ada kekurangan pada diri selebriti tersebut. Bukankah anti-fan sejati adalah anti-fan yang bisa memberinya tepuk tangan, menepuk pundaknya, dan menyalaminya ketika selebriti itu mengakui kekurangannya, bersedia mendengar kritik pedas, dan berusaha memperbaikinya? Sebenarnya, saya lebih senang jika anti-fan itu sebaiknya dianggap sebagai orang yang menunjukkan motif dan alasannya tidak menyukai selebriti itu dengan berani, bukan sebagai orang yang bisanya hanya memaki dan mengkritik selebriti itu." -Geun Yong (hal. 391)


    Saya kurang sreg dengan bagian akhir novel ini. Penceritaannya terasa menumpuk dan tidak seluwes bagian depan hingga tengahnya. Saya, sih, tidak keberatan kalau ceritanya dipanjangkan sedikit lagi untuk menutup ceritanya dengan lebih baik.

    Secara keseluruhan, saya suka dengan novel ini. Ceritanya bagus, lucu, dan bikin penasaran. Lima ratus halaman lebih tidak terasa saat membaca novel ini.

    Oh, iya. Novel ini juga akan diadaptasi menjadi film, loh. Kabarnya Park Chanyeol dari grup EXO yang akan memerankan Hu Joon, sementara pemeran Geun Yong belum diketahui.

    Oke, jujur saya merasa Chanyeol (22 tahun) ini kemudaan untuk memainkan Hu Joon yang diceritakan berusia 30 tahun. Mungkin miriplah dengan perasaan beberapa orang saat Nabilah diumumkan sebagai pemeran Mia Clark :)).

    Park Chanyeol. Sumber foto: Wikipedia

    Ikuti giveaway berhadiah 2 novel "So, I Married the Anti-fan" di sini.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Read Big Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge


    View all my reviews

  3. Chasing the ProphecyChasing the Prophecy by Brandon Mull
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: Chasing the Prophecy (Beyonders, #3)
    Penulis: Brandon Mull
    Penerbit: Mizan Fantasy
    Halaman: 704 halaman
    Terbitan: Juni 2014

    Sebatang anak panah melesat dari kegelapan malam dan menghunjam ke dekat bara api di perkemahan. Teriakan tercekik memecah keheningan. Kegelapan menyamarkan pergerakan musuh. Para pengawal berjatuhan, musuh merangsek ke depan dan berhasil mendorong Sang Pangeran jatuh ke tanah.

    Nedwin, mata-mata kepercayaannya, menyaksikan dari jauh, di tempat tersembunyi. Dia ragu untuk keluar dan menyelamatkan majikannya. Bagaimana jika dia gagal dan tertangkap? Tiga Suku Kata berharga yang dipercayakan kepadanya akan hilang. Padahal, itu adalah misi utama Sang Pangeran. Satu-satunya jalan untuk menggulingkan Kaisar.

    Namun, Nedwin juga tahu, jika hanya diam,dia tidak akan sanggup menanggung penyesalan seumur hidup. Dia harus berhasil.

    Review

    Setelah mendengarkan hasil penerawangan dari Esmira sang peramal, Jason dan Rachel harus berpisah. Keduanya berada pada kelompok berbeda yang telah ditunjuk oleh Esmira. Keduanya harus menjalankan dan menuntaskan misi yang dibebankan kepada mereka. Tidak boleh ada kata gagal dalam perjalanan mereka, atau Lyrian sepenuhnya akan jatuh ke dalam kuasa Maldor.

    Buku terakhir dari serial "Beyonders" karya Brandon Mull. Ada banyak hal yang terjadi di sini. Ada berbagai perjalanan, konflik, serta perjalanan yang berat dan semuanya seru untuk diikuti. Buku penutup yang tidak kalah bikin penasarannya dengan dua buku pendahulunya.

    Perjalanan kedua kelompok yang ada di buku ini seru dengan caranya masing-masing. Perjalanan Jason penuh dengan tantangan fisik, sementara perjalanan Rachel lebih berbau politik dan sihir. Rachel sendiri menunjukkan momen-momen yang agak menyebalkan di beberapa bagian buku, tapi dia juga yang menimbulkan keraguan yang menarik bagi pembaca: sejauh apa ramalan yang Esmira sampaikan dapat mereka percayai? Apakah tidak mungkin kalau Esmira sudah melakukan perjanjian dengan Maldor? Bagaimana kalau penerawangan peramal itu telah diganggu dengan kekuatan para torivor?

    Karakter yang jadi favorit saya di buku ini adalah Nedwin. Pengorbanan dan kesetiannya pada Galloran betul-betul luar biasa. Karakter-karakter pendukung lain seperti Tark, Ferrin, dan Drake juga meninggalkan kesan yang dalam.

    Akhir ceritanya meninggalkan kesan kemungkinan sekuel. Yah, kalau ada sekuelnya, semoga tidak kalah seru dari seri Beyonders ini :D.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Read Big Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Chalenge


    View all my reviews

  4. Seeds of RebellionSeeds of Rebellion by Brandon Mull
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: Seeds of Rebellion (Beyonders. #2)
    Penulis: Brandon Mull
    Penerbit: Noura Books
    Halaman: 676 halaman
    Terbitan: Januari 2014

    Para murid bertudung mengangkat balok beton dari kolam yang harum. Tampak wajah seorang Peramal Wanita, satu-satunya bagian yang terkuak di sepanjang permukaan balok yang basah dan halus itu. Matanya tertutup. Kuil yang penuh ukiran kuno itu menjadi sunyi, sementara balok tersebut lambat laun berhenti meneteskan air. Sang Pangeran menanti.
    Mata sang Peramal tiba-tiba terbuka. Selaput keruh tampak menutupi matanya, memburamkan irisnya yang cokelat dan menjadikan kornea putihnya bernuansa pelangi.

    Perempuan itu mengumumkan.
    “Misi mencari Kata akan menjadi bagian penting dari pengembaraanmu. Jalannya lebih panjang daripada yang kau sangka …. Banyak jalan berujung pada kehancuran. Sekalipun selamat dari cobaan, kau akan menjadi suami tanpa istri, ayah tanpa putra, pahlawan tanpa misi, dan raja tanpa negeri. Tapi, kuatkan hatimu. Sebagian orang harus tersesat sebelum menemukan jalan. Sebagian harus dikosongkan sebelum bisa diisi, lemah sebelum kuat, dan buta sebelum melihat.”

    Review

    Melanjutkan petualangan dari "A World Without Heroes" (review di sini), Jason sekali lagi kembali ke Lyrian. Misinya kali ini adalah untuk membawa pesan tentang rahasia Maldor kepada sang Raja Buta, rahasia yang dapat mengubah seluruh alur pertentangan dengan Maldor.

    Suka banget. Ceritanya masih tetap seru dan bikin betah untuk dibaca. Dalam 2 hari saja saya bisa menyelesaikan buku setebal 676 halaman ini.

    Di buku ke-2 ini ada banyak perkembangan yang terjadi. Misi yang Jason dan Rachel jalani berkembang menjadi lebih besar. Semakin banyak dan beragam teman perjalanan yang muncul dengan satu tujuan yang sama: menumbangkan Maldor dan mengembalikan kedamaian Lyrian.

    Saya suka dengan karakter-karakter baru yang muncul di sini. Favorit saya adalah Aram, si setengah raksasa yang bertubuh besar dan berotot di malam hari, tapi ceking dan kecil di saat matahari tampak di langit.

    Ceritanya mungkin tidak se-wah buku pertama, tapi tetap menghibur dan seru karena penuh dengan petualangan yang keren.

    "Apa gunanya melawan musuh setangguh Maldor?" (Aram)

    Moira menghadap putranya. "Karena kau mungkin akan menemukan bahwa dia tidak seperkasa yang kau bayangkan." (hal. 150)


    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Read Big Reading Challenge
    -2015 Young Adult Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  5. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan BudayaSastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya by Ignas Kleden
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya
    Penulis: Ignas Kleden
    Penerbit: Penerbit Graffiti & Freedom Institute
    Halaman: 500 halaman
    Terbitan: 2004


    "Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan" adalah kumpulan esai sastra dan budaya yang ditulis oleh Ignas Kleden. Buku ini terbagi atas empat bagian. Bagian I yang berjudul "Mengalami Kesusastraan" adalah pembuka yang menceritakan latar belakang penulisnya, serta bagaimana dia tertarik dengan dunia sastra.

    Dalam retrospeksi dapatlah dikatakan bahwa tulisan-tulisan yang hadir dalam buku ini adalah ikhtiar menjawab beberapa pertanyaan penelitian (research question) mengenai kedudukan sastra dan berbagai dimensi kaitannya. (hal. 7)


    Beberapa pertanyaan yang dimaksudkan antara lain:
    1. Sastra dan Bukan Sastra (sastra lebih bersifat tekstual/maknanya lahir dari hubungan-hubungan di dalam teks sendiri, sedangkan tulisan yang sifatnya non-sastra lebih bersifat referensial/makna lahir dari hubungan teks-luar teks)

    2. Sastra, Masyarakat, dan Kebudayaan (bagaimana sastra menghubungkan diri dengan/melepaskan diri dari alam pikiran kebudayaan atau pengaruh struktur sosial dari mana sastra itu berasal?)

    3. Sastra dan Pengarang (bagaimana memahami sebuah karya sastra dalam hubungan dengan penulisnya?)

    4. Sastra dan Konteks (apakah sebuah karya sastra harus selalu dipahami dengan konteks penulisannya?

    5. Sastra dan Kritik Sastra (metodologi apa yang tepat untuk kritik sastra?)

    6. Sastra, Ilmu, dan Imajinasi  (apakah sastra hanya memberi kita fiksi, sedangkan ilmu pengetahuan, sosial, dan sejarah hanya memberikan fakta dan data?)

    Pada bagian II, Strategi Literer Menghadapi Perubahan Sosial, berisi kumpulan esainya akan tulisan-tulisan (dan terkadang tentang hidup) Umar Kayam, Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Pramoedya Ananta Toer, Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 1997, Goenawan Mohammad, Y. B. Mangunwijaya, dan H. B. Jassin.

    Bagian III, "Puisi, Penyair dan Intelektual Publik, berisi kumpulan esai tentang puisi, sajak, dan para penyair seperti: Goenawan Mohammad, Rendra, Joko Pinurbo, T. Mulya Lubis, Mochtar Pabbottingi, Dorothea Rosa Herliany, dan tradisi lisan "Bujang Tan Domang".

    Bagian IV, "Dari Apologetik ke Dialog", berisi kumpulan esai tentang refleksi kebudayaan, pergeseran nilai moral, perkembangan kesenian, dan perubahan sosial, fakta dan fiksi tentang fakta dan fiksi, serta esai tentang esai.

    Secara keseluruhan, saya suka banget dengan buku ini. Ada berbagai macam hal baru yang saya pelajari di sini. Bukan hanya tentang sastra dan budaya, tapi juga tentang ilmu sosial dan filsafat, serta hubungan antara sastra dengan budaya, ilmu sosial, dan hal-hal lainnya.

    Jujur membaca buku ini sangat membutuhkan konsentrasi, khususnya karena saya tidak terbiasa dengan berbagai istilah yang digunakan. Untungnya ada glosarium yang membantu untuk mencari istilah-istilah yang ada kalau saya lupa/kurang paham dengan istilah tersebut.

    Buku ini saya rekomendasikan untuk orang-orang yang tertarik dengan sastra dan hubungannya dengan ilmu budaya dan sosial.

    Kesenian bukanlah ruang kudus tempat orang memasang lilin di kaki Dewi Keindahan dan kemudian bersukaria melupakan kehidupan yang keras di luarnya. Kesenian adalah bidang kegiatan yang memakai estetik sebagai sarana pembaharuan kebudayaan, seperti urakan yang menggunakan humor dan kekasaran untuk mencapai tujuan yang sama. (hal. 231)


    Dari mana pun asal-usul kebudayaan itu, hal itu tidak begitu penting artinya untuk kreativitas, selama penerima pengaruh-pengaruh itu dalam suatu proses internalisasi dan integrasi kebudayaan, dan kemudian menjadikan semua pengaruh itu sebagai bahan untuk penciptaan kebudayaan yang bersifat kreatif.

    Ini berarti, rasa prihatin tentang besarnya pengaruh Barat, sebetulnya mencerminkan rasa prihatin tentang lemahnya daya cerna kebudayaan kita sendiri. (hal 361-362)


    Fictio berarti sesuatu yang dikonstruksikan, ditemukan, dibuat atau dibuat-buat. Jadi kalaupun ada unsur khayalan maka khayalan di sana tidak menekankan segi non-realnya, tetapi segi konstruktif, segi inventif, dan segi kreatifnya. (hal. 421)


    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Read Big Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  6. A Girl Who Loves A GhostA Girl Who Loves A Ghost by Alexia Chen
    My rating: 2 of 5 stars

    Judul: A Girl Who Loves a Ghost
    Penulis: Alexia Chen
    Penerbit: Javanica
    Halaman: 552 halaman
    Terbitan: November 2014

    “Kenyataan bahwa aku bukan lagi menjadi bagian dari dunia ini nyaris menghancurkanku. Jiwaku perlahan rusak oleh dendam dan amarah, hingga gadis itu muncul dan menemukanku.”

    “Apa yang akan kau lakukan jika kau ternyata melihat sesuatu yang sebenarnya tidak nyata? Seperti misalnya, sesosok hantu berparas tampan? Bagaimana reaksimu seandainya kau terlambat menyadari bahwa kau telah jatuh terlalu dalam untuk bisa menemukan jalan kembali? Manakah yang lebih bijaksana, mengarungi neraka demi sebuah akhir bahagia ataukah menyerah dengan melepaskan? Apa yang akan kau lakukan jika kau jadi aku?"

    Review

    SPOILER ALERT!


    "A Girl Who Loves a Ghost" bercerita tentang Aleeta Jones, seorang gadis berdarah Indonesia-Amerika-Tionghoa yang tinggal di Jakarta. Suatu hari dia mendoakan agar roh salah satu korban pembunuhan di koran dapat meninggal dengan tenang. Yang tidak dia ketahui, hal ini membuat roh orang itu datang padanya.

    Nakano Yuto, nama roh itu, meninggal karena dibunuh. Dia meminta bantuan Aleeta untuk menyelesaikan urusannya semasa masih hidup, serta mencari adiknya, Hiro, yang kabur dari rumah.

    Dari judul novelnya saja, rasanya sudah jelas apa yang kemudian akan terjadi. Spoiler alert... or not, Aleeta jatuh cinta pada Yuto yang cakep, dingin, dan bossy walau sudah meninggal. Apakah ini tipe cowok idaman masa kini?

    Ceritanya sendiri mengandung unsur thriller. Ada plot tentang Aleeta yang mencari Hiro, saudara kembar Yuto, sambil membantu Yuto mencegah penipuan yang akan dialami ayahnya. Saya suka dengan bagian ini karena memang seru.

    Unsur ceritanya yang saya kurang suka adalah: roman instan. Rasanya gimana gitu, kalau baru bertemu beberapa hari, terus mereka sudah saling suka sampai pada level 'aku rela mati agar dapat bersamamu'. Mereka bahkan sudah menyerempet ke pembicaraan tentang pernikahan seminggu setelah bertemu.

    Adegan favorit? Waktu adegan yang menjurus panas antara Yuto dan Aleeta. Saya... penasaran bagaimana mereka akan melakukannya. Serius. Saya pengin tahu bagaimana mereka akan melakukannya, apakah Aleeta bisa merasakan sesuatu, apakah Yuto (yang adalah hantu) bisa mengalami ereksi? Ada begitu banyak pertanyaan hanya dalam satu adegan.

    Dua bintang untuk novel ini, tapi ini murni masalah selera. Romannya tipe yang saya nggak suka soalnya. Penulisan dan gaya narasinya sudah enak untuk saya.

    Secara keseluruhan, saya menyarankan novel ini untuk orang yang suka dengan kisah paranormal romance, atau kisah asmara berbumbu aksi.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Read Big Reading Challenge
    - 2015 Young Adult Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
    - 2015 100 Days of Reading Asian


    View all my reviews


  7. To Kill a MockingbirdTo Kill a Mockingbird by Harper Lee
    My rating: 5 of 5 stars

    Judul: To Kill a Mockingbird
    Penulis: Harper Lee
    Penerbit: Penerbit Qanita
    Halaman: 568 halaman
    Terbitan: Maret 2006

    Kehidupan Scout dan Jem Finch berubah total saat ayah mereka menjadi pembela seorang pemuda kulit hitam. Saat Atticus Finch membela seseorang yang diangap sampah masyarakat, kecaman pun datang dari seluruh penjuru kota. Di tengah terpaan masalah yang menimpa keluarganya, si kecil Scout belajar bahwa kehidupan tidak melulu hitam dan putih. Bahwa prasangka seringkali membutakan manusia. Dan bahwa keadilan tidak selalu bisa ditegakkan.

    Review

    "Kau boleh menembak burung bluejay sebanyak yang kau mau, kalau bisa kena, tetapi ingat, membunuh mockingbird itu dosa." -Atticus kepada Jem, menurut Scout.


    Ada dua alasan kenapa saya baca buku ini. Satu, karena status legendarisnya. Dua, karena buku sekuelnya akan terbit Juli 2015 nanti. Lima puluh lima tahun sesudah buku pertamanya terbit.

    Gila. Padahal kukira Topeng Kaca sudah yang paling bikin bangkotan nungguin kelanjutannya.

    Bayangkan gitu ya, seorang anak yang baca buku ini saat pertama kali terbit, sekarang sudah beranak cucu. Dan para orangtuanya? Oh, beruntung kalau masih bisa membaca.

    Anyway, saya suka banget sama ceritanya dan bisa paham kenapa begitu banyak orang suka dengan novel ini. Ceritanya mengangkat tema yang berat sebenarnya: masalah rasial, ketidakadilan sosial, dan kekerasan. Tapi, ceritanya menjadi ringan dan mudah diikuti karena semuanya dilihat dari sudut pandang Scout, si gadis kecil dalam keluarga Finch.

    Scout yang tomboi, cerdas, dan peka membuat saya, sebagai pembaca, bisa melihat kasus yang ditangani Atticus dalam sudut pandang yang begitu berbeda. Andaikan novel ini dibuat dengan sudut pandang Atticus, kurasa ceritanya tidak akan semenarik ini (dan juga akan jauh lebih berat). Dan kisah keseharian dan petualangan-petualangan kecil yang dialami Scout dengan Jem dan Dill juga sangat menarik dan lucu.

    Secara keseluruhan, "To Kill a Mockingbird" adalah sebuah novel yang saya sarankan untuk dibaca setidaknya sekali. Ada begitu banyak emosi di dalam buku ini, serta perasaan melankoli bahwa hal-hal buruk terjadi pada orang baik.

    "Pertama-tama, kalau kau bisa mempelajari satu keterampilan sederhana, Scout, kau bisa bergaul lebih baik dengan berbagai jenis orang. Kau baru bisa memahami seseorang kalau kau sudah memandang suatu situasi dari sudut pandangnya, kalau kau sudah memasuki kulitnya dan berjalan-jalan di dalamnya." -Atticus kepada Scout


    Buku ini untuk tantangan baca:
    2015 Read Big Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  8. InsurgentInsurgent by Veronica Roth
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Insurgent
    Penulis: Veronica Roth
    Penerbit: Mizan Fantasi
    Halaman: 551 halaman
    Terbitan: Desember 2012

    "Satu pilihan bisa mengubahmu, atau justru menghancurkanmu."

    Konsekuensi pilihan yang diambilnya membuat Tris terjebak dalam faksi pengkhianat yang membunuh keluarganya. Kini, Tris harus mencoba menyelamatkan orang-orang yang disayanginya, juga dirinya sendiri, sementara benaknya dikacaukan oleh berbagai pertanyaan tentang kesetiaan, identitas, dan pengampunan.

    Ketika ancaman perang dan perpecahan faksi semakin mengancam, Tris harus memutuskan, tetap pada identitasnya sebagai Dauntless atau memunculkan dirinya yang sejati. Sebagai Divergent. Sebuah identitas yang dianggap berbahaya dan dihindari semua faksi.

    Lanjutan seri Divergent yang menjadi Best Fantasy Book di Goodreads Choice Award ini tak mengecewakan pembaca. Seru, menegangkan, namun juga dibumbui dengan kisah cinta, patah hati, dan filosofi menggugah tentang manusia dan kehidupan.

    Review

    Mengandung spoiler!!!


    Sudah dibilangin pakai spoiler loh ya. Sampai ada tiga tanda seru pula.

    Fiuh, luar biasa. Dalam waktu singkat bisa baca novel setebal 551 halaman ini hingga selesai.

    Saya harus mengakui bahwa Veronica Roth piawai dalam membangun cerita dan membuat penasaran. Saya begadang sampai jam setengah tiga pagi untuk menyelesaikan buku ini, saking pengin tahu akhir ceritanya gimana :)).

    Perasaan saya sedikit tercampur soal buku ini. Di satu sisi seru, tapi di sisi lain ada banyak hal yang membuat bertanya-tanya. Seperti tindakan karakter-karakternya: Tris yang di awal buku tampak tidak sedih padahal kedua orang tuanya baru saja meninggal; salah satu orang terdekat Tris yang ternyata, kejutan, pengkhianat (tanpa foreshadowing pula); Tobias yang tanpa rencana pergi ke markas Erudite untuk menyelamatkan Tris; Tris yang mau membantu Marcus tanpa bukti yang jelas; serta Marcus yang kayaknya rempong banget. Rahasianya segitu doang, tapi pakai rahasia-rahasiaan, tidak mau kerja sama dengan kelompok Dauntless & Factionless yang menyerang markas Erudite.

    Untuk rahasianya sendiri... man, The Maze Runner all over again. Saya gagal paham dengan twist-nya TMR, juga gagal paham dengan rahasia tentang kelima faksi di buku ini. Tidak cukup believable untukku.

    Untuk setting dunia yang ada, belum banyak perkembangan yang kuperoleh. Ada beberapa ide yang menarik, seperti soal serum kejujuran Candor (walau terlalu mengingatkan sama veritaserum-nya HarPot), serta sejenis obat yang punya efek seperti narkotika yang menjaga perasaan para Amity tetap tenang, sehingga kedamaian bisa timbul. Rasanya ada suatu kritik yang gelap yang ingin pengarangnya sampaikan di situ.


    Jadi, secara keseluruhan: setting's believability: masih nol besar. Keseruan cerita: tiga bintang.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Read Big Reading Challenge
    - 2015 Young Adult Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  9. Divergent (Divergent, #1)Divergent by Veronica Roth
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: Divergent
    Penulis: Veronica Roth
    Penerbit: Mizan Fantasi
    Halaman: 540 halaman
    Terbitan: Maret 2014

    Satu pilihan, menentukan apa yang harus kau percaya

    Satu pilihan, memastikan siapa yang kau turuti, selamanya

    Chicago, usai perang nuklir yang menghancurkan dunia. Pada usia 16, setiap orang harus mengambil pilihan yang akan menentukan seluruh jalan hidupnya.

    Beatrice memilih meninggalkan Faksi Abnegation yang tanpa pamrih untuk bergabung dengan para pemberani di Faksi Dauntless. Meninggalkan orangtuanya, membuang namanya untuk hidup bersama faksi yang baru. Beatrice menjadi Tris, berharap menemukan jati dirinya bersama para Dauntless. Namun, Tris harus lulus inisiasi terlebih dulu agar bisa diterima. Tak ada jalan kembali. Tak lulus inisiasi berarti Tris akan bergabung dengan orang-orang yang terbuang. Hidup menggelandang.

    Berhasilkah ia bertahan di komunitas yang kadang kebrutalan dianggap sama dengan keberanian?

    Review

    Mengandung spoiler dan banyak jargon.

    Akhirnya baca novel ini juga. Sudah nonton filmnya dari kapan hari, tapi entah kenapa belum begitu tergoda untuk baca novelnya. Padahal filmnya lumayan bagus menurutku. Aktingnya Shailene Woodley sebagai Tris sangat cocok. Pas kapan hari nyebut soal novel ini di Twitter, eh Dhia muncul dan menawarkan buku ini dan Insurgent dengan harga murah meriah. Akhirnya beli dan langsung baca :)).

    Dan... saya tidak kecewa dengan novel ini. Untungnya.

    Keraguan terbesar saya untuk mulai baca novel ini adalah latarnya. Sebuah kota/negara distopia yang dibagi menjadi 5 faksi, dengan masing-masing faksi mewakili suatu jenis kepribadian tertentu? Terasa tidak masuk akal buatku. Bagaimanapun, rasanya sulit untuk memasukkan seseorang ke suatu jenis kepribadian, lalu berharap orang itu akan terus bertindak berdasarkan kepribadian itu. Misalkan: seseorang dikategorikan sanguin, lalu dia diharapkan selalu bersikap ceria, berenergi tinggi, dan tertawa setiap saat. Itu mah gila namanya.

    Btw, saya merasa Dauntless itu ya tipe sanguin dominan.

    Tapi, di dalam novel Divergent ini, ada semacam perasaan mengambang yang kudapat dari sistem faksi ini. Faksi dikondisikan sebagai sesuatu yang bahkan lebih penting dari hubungan darah. "Tanpa faksi, kita takkan memiliki tujuan dan alasan hidup" (hal. 30).

    Nah, saya merasa kalau sistem faksi ini dibuat untuk melakukan cuci otak bagi masyarakat. Entah untuk tujuan apa. Apakah kedamaian? Entahlah. Hal ini kemudian diperkuat oleh perkataan Four kepada Tris.

    Mereka tak ingin kau melakukan suatu hal tertentu. Mereka ingin kau berpikir dengan cara tertentu. Jadi, kau akan mudah dikendalikan, dan kau takkan menjadi ancaman bagi mereka. (hal. 351)


    Pertanyaannya adalah: siapa itu mereka? Para petinggi Dauntless? Kalau iya, apa tidak lebih mudah kalau menerapkan sistem latihan ala militer? Pemerintah? Kaum Abnegation? Kalau melihat kondisi Abnegation di sepanjang cerita, saya kok ragu ya. Soalnya mereka ini bukan tipe pemerintah seperti Kapitol di The Hunger Games. Ataukah sebenarnya mereka ini semacam negara bagian, lalu ada seorang pejabat lagi yang memimpin semuanya? Tidak jelas juga.

    Iya, sampai akhir saya masih merasa ragu dan tidak yakin sama setting novel ini. Banyak hal yang tidak jelas.

    Lalu Dauntless... saya masih merasa kalau faksi ini ada hanya untuk keren-kerenan. Lompat dari lantai sekian dan ditangkap jala, berkelahi... eh, maksudnya latihan fisik, lompat dari kereta, tato, hingga mabuk-mabukan. Lah, gunanya mereka di masyarakat apa sih sebenarnya?

    Walaupun di dalam cerita sudah dibilang bahwa Dauntless yang kini sudah tak seperti yang dahulu lagi *halah, tapi tidak dijelasin gitu loh, kenapa para pemimpinnya mengubah Dauntless menjadi sekumpulan remaja liar macam begini. Iya, remaja. Bahkan Tris saja mempertanyakan ke mana para orang dewasa di Dauntless.

    Untungnya, di tengah semua ketidakjelasan latar yang ada, plotnya enak diikuti. Cara berceritanya mengalir, sehingga saya bisa membaca dengan lancar. Cuma butuh 2 hari untuk menyelesaikan novel yang lumayan tebal ini.

    Jadi, secara keseluruhan: Divergent adalah novel dengan latar yang sangat membingungkan. Untunglah ceritanya enak diikuti kalau mau dibaca dengan mengesampingkan latarnya. Saya berharap bahwa semua tanda tanya yang ada akan terjawab di 2 buku selanjutnya.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Read Big Reading Challenge
    - 2015 Young Adult Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  10. The 5th Wave - Gelombang 5The 5th Wave - Gelombang 5 by Rick Yancey
    My rating: 3 of 5 stars

    Judul: The Fifth Wave
    Penulis: Rick Yancey
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 576 halaman
    Terbitan: Desember 2013

    Setelah Gelombang 1, hanya kegelapan yang tersisa.
    Setelah Gelombang 2, hanya orang-orang beruntung yang lolos.
    Dan setelah Gelombang 3, hanya yang tidak beruntung yang bertahan.
    Setelah Gelombang 4, hanya ada satu peraturan: JANGAN PERCAYA PADA SIAPA PUN.

    Alien menyerbu Bumi dan menyapu habis manusia dalam beberapa gelombang. Cassie berhasil bertahan sejauh ini. Menurutnya, untuk tetap hidup, ia harus sendirian. Sampai ia bertemu Evan Walker. Cowok misterius itu mungkin satu-satunya harapan Cassie untuk menyelamatkan adiknya—atau bahkan menyelamatkan dirinya sendiri. Namun, Cassie harus memilih antara percaya atau putus asa, melawan atau menyerah, hidup atau mati.

    Review

    Alien invation! Yah, lewat buku sih :)).

    Saya pertama kali berkenalan dengan "The Fifth Wave" ini lewat Goodreads Choice Award. Waktu itu saya vote buku ini di kategorinya. Bukan karena sudah baca, tapi karena belum baca semua buku nominasi dan buku inilah yang paling menarik perhatianku. Eh, tidak disangka GPU menerjemahkan buku ini pada tahun yang sama dan lewat GA bloghop, akhirnya saya bisa mendapakan buku ini... dan akhirnya butuh setahun lebih sebelum saya buka plastik pembungkusnya dan mulai baca :v.

    "The Fifth Wave" ini bercerita tentang invasi alien ke bumi. Saat cerita dimulai, manusia telah melewati 4 "gelombang" penghancuran. Hal ini mengakibatkan jumlah manusia yang tersisa sangat sedikit. Bukan itu saja, para alien itu menggunakan wujud manusia, sehingga para manusia yang tersisa tidak dapat saling percaya satu sama lain. Pilihannya bagi para manusia adalah: membunuh atau terbunuh. Hal ini membuat kondisi manusia semakin terpojok.

    Saya betul-betul suka dengan teror yang dimasukkan penulisnya di buku ini. Perang manusia vs aliennya tidak berupa manusia melawan makhluk dengan wujud yang jelas-jelas alien, tapi antara manusia dengan "manusia" lainnya. Hal ini membuat teror dan kebingungan Cassie, si tokoh utama, terasa sangat nyata dan relatable buatku.

    Novel ini menggunakan beberapa POV. POV yang paling besar porsinya adalah porsi Cassie dan Ben, dan bagian Cassie jauh lebih menarik ketimbang Ben untukku.

    Petualangan Cassie dari seorang gadis yang selamat seorang diri, hingga dia bertemu Evan Walker, seorang pria yang menyelamatkannya, terasa seru. Bagian setelah itu, saat mereka memutuskan untuk menyelamatkan Sammy, adik Cassie, juga tidak kalah serunya. Ada aksi, ada bagian yang mengharukan, ada bagian yang lucu, serta bagian yang menegangkan.

    Sementara bagian Ben terasa datar buatku. Ben dikisahkan sebagai salah seorang yang selamat dan masuk ke sebuah kamp pelatihan. Di sana dia dilatih bersama berbagai anak lainnya. Anak-anak yang didominasi usia di bawah 14 tahun. Membaca bagian ini, saya jadi kebayang pelatihan a la Ender's Game (review di sini), tapi minus semua keseruan Battle School-nya Ender.

    Akhir ceritanya sukses membuat saya penasaran dan kesal. Masih ada banyaaaaaak banget pertanyaan yang belum terjawab. Jadi penasaran pengin baca lanjutannya. GPU, kapan nih lanjutannya diterjemahkan? :')

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Read Big Reading Challenge
    - 2015 Young Adult Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge


    View all my reviews

  11. Cloud AtlasCloud Atlas by David Mitchell
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: Cloud Atlas
    Penulis: David Mitchell
    Penerbit: Random House Trad Paperbacks
    Halaman: 515 halaman
    Terbitan: Oktober 2012

    Everything is connected

    A postmodern visionary who is also a master of styles and genres, David Mitchell combines flat-out adventure, a Nabokovian love of puzzles, a keen eye for character, and a taste for mind-bending philosophical and scientific speculation in the tradition of Haruki Murakami, Umberto Eco, and Philip K. Dick. The result is brilliantly original fiction that reveals how disparate people connect, how their fates intertwine, and how their souls drift across time like clouds across the sky.

    Review

    Wow, akhirnya saya baca buku ini juga. Sudah beli buku ini sekitar Desember 2012 atau Januari 2013 yang lalu, setelah filmnya rilis. Sudah lama bangetlah. Keluar juga dia dari dalam tumpukan :)).

    "Cloud Atlas" bercerita tentang 6 kisah:
    1. Adam Ewing, seorang Amerika yang ikut serta dalam sebuah perjalanan ke Kepulauan Chatham.
    2. Robert Frobisher, seorang pemusik di tahun 1930-an, yang baru saja jatuh miskin dan akhirnya bekerja pada seorang pemusik tua yang sakit-sakitan.
    3. Luisa Rey, seorang jurnalis yang mencari kebenaran tentang sebuah proyek besar yang berbahaya. Keterlibatannya dimulai dengan pertemuannya dengan seorang ilmuwan tua saat terjebak di dalam lift.
    4. Timothy Cavendish, seorang pria tua yang bekerja di bidang penerbitan. Oleh kakaknya yang jengkel karena terus-terusan dimintai uang, dia "dijebak" hingga masuk ke dalam sebuah panti jompo.
    5. Sonmi-451, hasil kloning yang hidup pada sebuah era distopia di masa depan.
    6. Zachry, seorang pria tua yang hidup di sebuah masa post-apocalyptic.

    Pertanyaannya: apakah hubungan keenam orang ini?

    Saya jujur terpukau dengan kepiawaian David Mitchell dalam menceritakan setiap sudut pandang. David Mitchell bukan hanya menyajikan cerita dan tokoh yang berbeda, tapi juga gaya narasi yang lain satu sama lain. Ada gaya bercerita yang terkesan 'tua', ada yang modern, ada yang dalam bentuk tanya-jawab seperti di World War Z: An Oral History of the Zombie War, ada yang sifatnya romansa, ada yang thriller, dan ada juga yang fiksi ilmiah.

    Struktur ceritanya yang sengaja dipatah-patah mungkin akan sedikit menyulitkan untuk dibaca. Pada awalnya saya juga agak bosan dan tidak paham ceritanya mau dibawa ke mana, tapi perlahan-lahan rangkaian cerita yang ada mulai menampakkan dirinya.

    Dari 6 kisah di buku ini, yang paling berkesan buatku itu yang tentang Robert Frobisher, Luisa Rey, dan Sonmi-451. Yang kurang berkesan, mungkin yang tentang Zachry. Gaya narasinya sulit kupahami dan akhirnya banyak yang kubaca sepintas lalu saja.

    Secara keseluruhan, "CLoud Atlas" adalah sebuah bacaan yang menyegarkan, dengan gaya bercerita yang unik dari penulisnya.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge
    - 2015 Read Big Reading Challenge


    View all my reviews


  12. A World Without HeroesA World Without Heroes by Brandon Mull
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: A World Without Heroes
    Penulis: Brandon Mull
    Penerbit: Noura Books
    Halaman: 600 halaman
    Terbitan: November 2013

    Denting musik muncul dari air … dari arah kuda nil yang terbenam. Melodinya asing, dengan berbagai harmoni dan melodi tandingan yang saling menjalin …. Tiba-tiba makhluk pemalas itu menyerbu dengan mulut menganga, dan denting musik terdengar lebih keras daripada sebelumnya.

    Sebelum Jason sempat bereaksi, tangannya sudah mencengkeram lidah yang lengket itu dan wajahnya meluncur di permukaan yang berminyak … melaju di sepanjang terowongan yang gelap dan licin.

    Dalam penderitaannya, musik itu terdengar keras sementara Jason meluncur di sepanjang koridor yang lembap. Dia berusaha berpegangan pada kedua sisi terowongan untuk memperlambat lajunya, tetapi gagal, hingga sekonyong-konyong lengan dan kepalanya muncul dari celah sebatang pohon sekarat, dekat sebuah sungai yang diapit tumbuhan pakis.

    Dan dia pun tiba di sebuah negeri tanpa pahlawan. Negeri yang telah ditutupi kegelapan seorang penyihir jahat yang menghantui seluruh kota. Sebuah negeri bernama Lyrian yang akan membawanya dalam petualangan epik penuh tantangan.

    Review

    "A World Without Heroes" berkisah tentang Jason, seorang anak 13 tahun (dengan tinggi hampir 180 senti), yang masuk ke mulut kuda nil dan tiba di Lyrian. Ya, kuda nil. Di sana dia bertemu dengan sang Ahli Hikayat di Gudang Keilmuan. Di sana dia mengetahui tentang Maldor, sang penyihir penguasa Lyrian, dan Kata, sebuah kekuatan yang dapat menghancurkan Maldor apabila disebutkan atau dituliskan di hadapannya. Dalam perjalanannya Jason bertemu Rachel, seorang anak gadis yang juga berasal dari Dunia Luar. Bersama-sama mereka berdua mencari pencarian keenam silabel Kata.

    Selesai baca buku setebal 600 halaman ini dalam 2 hari. Rasanya hal itu saja sudah jadi testimoni bagaimana serunya novel ini. Suka dengan tokoh-tokohnya. Suka dengan dialog-dialog yang lucu. Suka dengan petualangannya. Suka dengan berbagai tempat dan hal ajaib di buku ini. Suka dengan terjemahannya yang mengalir dan enak dibaca. Suka juga dengan kover terjemahan oleh Noura Books.

    Dari segi gaya cerita dan bahasa, terasa banget kalau ini bacaan untuk middle grader. Jadi kalau cari novel fantasi cecintaan ala YA, jelas salah alamat kalau memilih buku ini.
    Bagi setiap orang, takdir adalah campuran potensi, keadaan, dan pilihan. Kau bisa saja lari dan bersembunyi. Kau bisa saja tawar-menawar dengan Maldor. Tapi, kau memilih jalur heroik. Jalanilah tanpa penyesalan. (halaman 418)

    Cerita diakhiri dengan twist yang bikin terperangah, jengkel, tapi masuk akal dan bisa diterima. Duh, jadi pengin segera baca lanjutannya :D.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
    - 2015 Read Big Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge


    View all my reviews

  13. The Cuckoo's Calling - Dekut Burung KukukThe Cuckoo's Calling - Dekut Burung Kukuk by Robert Galbraith
    My rating: 4 of 5 stars

    Judul: The Cuckoo's Calling - Dekut Burung Kukuk
    Penulis: Robert Galbraith
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Halaman: 520 halaman
    Terbitan: Desember 2013

    Ketika seorang supermodel jatuh dari ketinggian balkon di Mayfair yang bersalju, polisi menetapkan bahwa ini kasus bunuh diri. Namun, kakak korban meragukan keputusan itu, dan menghubungi sang detektif partikelir, Cormoran Strike, untuk menyelidikinya.

    Strike seorang veteran perang yang memiliki luka fisik dan luka batin. Hidupnya sedang kisruh. Kasus ini memberinya kelonggaran dalam hal keuangan, tapi menuntut imbalan pribadi yang mahal: semakin jauh dia terbenam dalam kasus ini, semakin kelam kenyataan yang ditemuinya---dan semakin besar bahaya yang mengancam nyawanya.

    Review

    Akhirnya baca buku ini juga. Saya dapat buku ini sebagai salah satu hadiah pas menang November Blogoversary Bloghop 2013 yang lalu. Yup, 2013. Dan dari GA itu, masih ada 2 buku lagi yang belum kubaca :)).

    Hanya ada 2 kata untuk buku ini: suka banget. Sama seperti di The Casual Vacancy (review di sini), novel ini mampu menghadirkan tokoh-tokoh yang unik dan memorable. Kadang setelah membaca buku detektif, saya tidak bisa ingat lagi nama para pelakonnya, tapi hal itu tidak terjadi di novel ini.

    Cormoran dan Robin menghadirkan chemistry yang kuat. Bukan chemistry yang sifatnya cinta menurutku, lebih ke arah kagum akan satu sama lain. Mereka sukses membuat saya pengin baca petualangan mereka selanjutnya. Oh, saya juga selalu membayangkan Emma Watson sebagai Robin selama membaca :p.

    Untuk misterinya sendiri, bergerak dengan kecepatan yang pas. Semua misteri perlahan terkuak dan menunjukkan kepentingan-kepentingan tiap individu yang membentuk kematian Lula Landry.

    Buku ini untuk tantangan baca:
    - 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
    - 2015 Read Big Reading Challenge
    - 2015 New Authors Reading Challenge


    View all my reviews

  14. 2015 Read Big Reading Challenge

    Thursday, January 1, 2015

    "Read Big" adalah salah satu tantangan baca yang saya tunggu kehadirannya di 2014, sayangnya sang empunya tantangan aslinya tidak mengadakannya lagi di 2014. Nah, di 2015 kali ini, Mbak Alvina dari Mari Ngomongin Buku mengadopsi tantangan satu ini :D.

    Syarat tantangan:

    1. Jumlah halaman di atas 500. Supaya kesan seksi dan sensasi tebalnya terasa (>_<), tidak boleh berupa ebook atau audio book, kecuali jika ada alasan khusus (hubungi saya kalau kamu merasa sangat perlu pengecualian).
    2. Manga, graphic novel, buku dengan banyak ilustrasi (contoh: Hugo Cabret), tidak diperbolehkan.

    Kelas yang dipertandingkan:
    Featherweight / Kelas Bulu: membaca 1 - 4 buku
    Middleweight / Kelas Menengah: membaca 5 - 8 buku
    Heavyweight / Kelas Berat: membaca > 8 buku

    Selain kelas-kelas utama tersebut, ada pula Kelas Khusus:
    Incredible Bulk: membaca minimal 1 (satu) buku dengan jumlah halaman >1000

    Perhitungan poin:
    - Untuk setiap 1 buku yang dibaca & direview mendapat 1 poin
    - Untuk setiap 1 buku yang masuk Kelas Khusus mendapat 2 poin
    Di akhir periode, jumlah buku yang dibaca diakumulasikan dan jika berada pada:
    Kelas 1: mendapat tambahan 1 poin
    Kelas 2: mendapat tambahan 2 poin
    Kelas 3: mendapat tambahan 3 poin
    Kelas Khusus: mendapat tambahan 1 poin

    Untuk tahun ini, saya mendaftar untuk kelas Heavyweight. Buat yang mau ikutan GA ini, bisa cek langsung di blog hostnya.


    Januari
    1. The Cuckoo's Calling - Dekut Burung Kukuk - Robert Galbraith (520 halaman)
    2. A World Without Heroes - Brandon Mull (600 halaman)
    3. Cloud Atlas - David Mitchell (515 halaman)

    Maret
    4. The Fifth Wave - Rick Yancey (576 halaman)
    5. Divergent - Veronica Roth (540 halaman)
    6. Insurgent - Veronica Roth (551 halaman)

    April 
    7. To Kill a Mockingbird - Harper Lee (568 halaman)

    Mei
    8. A Girl Who Loves a Ghost - Alexia Chen (552 halaman)

    Agustus
    9. Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan - Ignas Kleden (500 halaman)

    Oktober 
    10. Seeds of Rebelion - Brandon Mull (676 halaman)
    11. Chasing the Prophecy - Brandon Mull (704 halaman)
    12. Jangan Ucapkan Cinta & Bukan Cinta Sesaat - Mira W. (560 halaman)