Saturday, December 1, 2012 | By: Biondy

Review Novel: Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi - Mira W.

Di Sini Cinta Pertama Kali BersemiDi Sini Cinta Pertama Kali Bersemi by Mira W.
My rating: 4 of 5 stars

"Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi" bercerita mengenai Leo, seorang anak yang terkenal berandalan, dengan Melia, si murid pindahan yang pintar dan alim. Kisah cinta yang dimulai ketika mereka baru 12 tahun, ternyata berbuntut panjang hingga puluhan tahun sesudahnya. Cinta Melia menghancurkan hidup Leo dan cinta Leo juga menghancurkan hidup Melia. Akankah cinta mereka berdua mengobati luka dalam hati masing-masing?

Ah, akhirnya baca juga buku yang didapuk sebagai karya Mira W. yang paling laris. Setelah meleng dan salah ngambil, lalu diselingi beberapa buku lain, kesampaian juga buat baca buku ini.

Ceritanya sendiri mengingatkan saya sama karyanya Mira W. yang lain, yang Dari Jendela SMP. Karakter si cowok bengal + si cewek baik-baik kembali dipakai di sini. Settingnya juga sama-sama SMP. Bedanya alur di buku ini memakan waktu 19 tahunan, sedangkan di "Dari Jendela SMP" waktunya lebih cepat.

Saya suka dengan jalan panjang yang harus dihadapi masing-masing karakter. Saya juga suka dengan perjuangan yang harus Leo hadapi. Jatuh-bangunnya membuat saya simpatik. Secara keseluruhan alurnya juga apik.

Cuma buat saya justifikasi si Melia terasa kurang kuat. Apa yah... Bisa saya terima sih, cuma kurang memuaskan. Rasanya ada yang kurang gitu, tapi saya juga gak bisa nunjukin apanya yang kurang. Cuma saya agak kurang puas membaca penjelasannya.

Selain itu bab-bab terakhir buku ini terkena sindrom dialog telenovela. Maksudku gini...

"Syukur kalau kau sudah insaf, Leo. [...]"
"Satu hal lagi, Leo. [...]"
"Saya tidak tahu siapa Madame Louisa ini, Leo."
"Kalau demikian keyakinanmu, Leo, saya percaya Tuhan akan memberkatimu."
"Asal kau sungguh-sungguh menerima Tuhan dalam hatimu, Leo."


See? Itu dari halaman 214. Dialog di atas semuanya diucapkan oleh Suster Bernadette. Entah kenapa semua dialog yang ditujukan kepada Leo harus menyebutkan namanya minimal sekali. Bukan cuma Suster Bernadete. Sampai si Melia juga ikut-ikutan. Dari awal sih nama si Leo memang banyak disebut dalam dialog, tapi masih dalam taraf cukup. Masuk bab-bab terakhir, intensitas penyebutan namanya langsung melejit.

Walau begitu, saya tetap suka buku ini dan ceritanya. Empat bintang untuk jalan panjang yang dihadapi Leo dan Melia demi meraih kebahagiaan mereka.


View all my reviews


Review ini disertakan pada 2012 End of Year Book Contest

Photobucket

0 comments :

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...