Rss Feed
  1. Tanggal 18 Agustus 2016 menjadi hari pertama dari rangkaian empat hari acara Makassar International Writers Festival, festival literatur pertama dan satu-satunya di Indonesia Timur. MIWF ini termasuk salah satu acara literasi besar yang bikin ngiler. Bayangkan, baru hari pertama saja sudah ada bincang-bincang dengan Dee tentang seri 'Supernova'-nya, dua peluncuran buku, diskusi tentang perpustakaan bergerak, kelas menulis dan fotografi bersama Agustinus Wibowo, serta acara ngopi cantik sambil diiringi pembacaan puisi.

    Sayangnya karena semuanya dilaksanakan pada jam kerja, saya baru bisa mengikuti acara terakhir pada hari pertama MIWF ini, yakni malam pembukaannya.

    Sebenarnya sempat ada rasa malas untuk pergi ke sana. Soalnya sudah capek dan pas ketemu kasur, bawaannya mager (malas gerak) aja. Tapi, setelah lama menimbang dan membaca berbagai tweet yang ada, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti malam pembukaannya.

    Saya sampai di Fort Rotterdam pada pukul 20.00. Saat tiba, acara sudah dimulai dengan sebuah tarian yang diberi judul 'Taman Cahaya La Galigo the Beginning'.

    Acara 'Taman Cahaya La Galigo the Beginning'

    Setelah selesai, Lily Yulianti Farid, sang penggagas festival literasi ini, memberikan sambutannya. Dalam pembukaannya, Lily menceritakan bagaimana dia memiliki ide untuk mengadakan MIWF. Dia ingin melakukannya di Makassar karena ingin memberikan sesuatu untuk kota yang pernah dia tinggali ini. Lily juga membahas tentang tema MIWF 2016 yang diberi judul 'Baca!'. Baginya, kondisi literasi di Indonesia saat ini masih memprihatinkan. Rendahnya minat membaca dan berbagai pemberedelan buku dan diskusi buku oleh pemerintah adalah dua hal yang menjadi kekhawatirannya.

    Yang sempat saya catat dari pidato pembukanya adalah bagian ini: "Reading becomes the last priority. We are overworked and underread. If your parents don't read, you can read. Read is not a slogan. It's a lifestyle.". Kurang lebih seperti itulah isinya.

    Mbak Lily. Maaf mukanya tidak kelihatan :))

    Setelah Lily, ada Nirwan Arsuka, penggagas perpustakaan bergerak, yang membawakan pidato kebudayaannya. Nirwan bercerita mengenai keinginannya untuk membawa perpustakaan ke daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau oleh buku. Dia juga 'bersyukur' atas pemecatan yang dia alami, karena dari sanalah dia memperoleh pesangon yang dia jadikan modal awal untuk kegiatannya ini.

    Saat Nirwan selesai, berhubung perut saya lepar, akhirnya saya memutuskan untuk membeli makanan di stan yang terletak tidak jauh dari lapangan acara. Sebelum membeli makanan, mata saya langsung tertuju ke salah satu tempat yang menjual berbagai buku. Yang saya ingat ada buku-buku dari Bentang Pustaka, Gagas Media, mungkin GPU, Javanica, serta beberapa buku yang mengisi acara di MIWF ini. 

    Berbagai stan jualan.

    Saya tertarik dengan novel yang berjudul 'Natisha', salah satu buku yang diluncurkan pada hari pertama MIWF. Alasannya, karena tema parakang, salah satu jadi-jadian beken di Sulawesi Selatan, yang buku ini angkat. Blurb-nya juga bikin penasaran. Sayangnya karena uang di dompet tidak cukup, akhirnya saya meletakkan 'Natisha' kembali. Bisa beli, tapi nanti tidak ada ongkos pulangnya.

    Buku-buku yang bikin penasaran.

    Setelah puas lihat-lihat, saya akhirnya membeli kerak telor dan teh manis. Saya selesai makan tepat ketika pembicara setelah Nirwan Arsuka rampung. Saat kembali ke lapangan, ada pemutaran film dokumenter Andi Burhamzah. Judulnya 'A Tribute to Colliq Pujie; The Saviour of The World's Memory'. Film ini membahas tentang 'La Galigo', tulisan dari tanah Bugis yang sering disebut sebagai epos terpanjang di dunia, serta Colliq Pujie yang merunut epos tersebut.

    Baru sekali ini loh, saya makan kerak telor.

    Deborah Emmanuel, seorang penulis asal Singapura, menjadi pengisi acara berikutnya. Deborah membawakan tiga puisi karyanya. Dia membawakan puisi pertamanya, 'She', yang bercerita tentang anggapannya dulu tentang bumi yang merupakan perwujudan wanita (mother earth). Deborah membawakan puisinya dan disambut tepuk tangan meriah saat dia menggabungkan pembacaan puisinya itu dengan nyanyian. Wanita itu kemudian membawakan dua puisi lainnya yang berjudul 'Seashell' dan 'Who Are We?'.

    Deborah Emmanuel

    Begitu Deborah selesai, Lily Yulianti Farid kembali naik ke panggung untuk memberi apresiasi serta mengajak para penulis pengisi acara MIWF untuk naik ke panggung dan foto bersama. Acara kemudian dilanjutkan dengan sedikit kata-kata penutupan dan sambutan untuk pengisi acara terakhir malam itu. Saya sudah menunggu-nunggu kedua musisi ini sepanjang malam. Saya ngefans berat setelah mendengarkan album terbarunya. Saat keduanya naik ke panggung, sorak-sorai dan tepuk tangan langsung riuh. Ada duo AriReda sebagai penutup hari pertama MIWF.

    Mas Ari dan Mbak Reda

    AriReda membawakan 5-6 lagu. Semuanya merupakan musikalisasi puisi karya Sapardi Djoko Damono. Di antaranya ada 'Akulah Si Telaga', 'Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Fransisco', 'Hujan Bulan Juni', 'Sajak Kecil Tentang Cinta', dan 'Aku Ingin'. 'Sajak Kecil Tentang Cinta' menjadi favorit saya. Pembawaannya keren dan liriknya, ah...

    Mencintai angin harus menjadi siut...
    Mencintai air harus menjadi ricik...
    Mencintai gunung harus menjadi terjal...
    Mencintai api harus menjadi jilat...
    Mencintai cakrawala harus menebas jarak...
    MencintaiMu harus menjadi aku

    AriReda juga sempat cerita tentang tur yang sedang mereka lakukan. Reda bilang kalau Makassar adalah pemberhentian terakhir mereka, tapi acara inilah yang justru menjadi pemantik mereka untuk memulai tur enam kotanya. Aw, so sweet.

    Begitu acara selesai, saya langsung menuju stan merchandise untuk membeli CD AriReda. Di sana sudah ramai dengan para penggemar yang pastinya bertujuan sama dengan saya: ingin membeli musik bagus. Saya lihat ada album 'Becoming Dew' mereka yang kapan hari saya cari. Namun akhirnya, saya memutuskan untuk membeli album yang berkover merah dan berjudul 'Gadis Kecil', yang ternyata dibawakan oleh 'Dua Ibu', yakni Reda dan Tatyana.

    'Gadis Kecil' dari Dua Ibu.

    Dan selesailah acara pembukaan Makassar International Writers Festival. Seru banget. Untung bisa mengalahkan rasa malas untuk ke acara ini :'). Saya berencana untuk pergi lagi ke sana di hari kedua. Kali ini saya tentunya akan bawa uang untuk membeli 'Becoming Dew', 'Natisha', dan beberapa buku lainnya.

    Jadi, sudah ngiler atau belum dengan MIWF ini? Buat yang di Makassar dan sekitarnya, rugi banget kalau kamu tidak ke acara ini.

  2. 9 comments :

    1. desty said...

      Hwa..penasaran juga sama Natisha

    2. Baru tau ada event ini, hikz ketinggalan info. . .mksi mas sdh berbagi ilmu dan pengalaman ikut MIWF

    3. Baru tau ada event ini, hikz ketinggalan info. . .mksi mas sdh berbagi ilmu dan pengalaman ikut MIWF

    4. Wah, baca postingan ini jadi nostalgia lagi. Saya ke MIWF di 2014 silam. Itu memang semacam surganya pegiat literasi. Saya tidak akan pernah lupa panggungnya, dan betapa antusiasnya anak muda-anak muda Makassar sama literasi 😊

    5. Wah serunyaaa >,< saya baru bisa pergi di hari terakhir, huhu

    6. bersyukur Makassar punya MIWF ini. ayooo...yang suka baca, yang suka novel. puisi, acara ini bukan hanya untuk penggiat literasi saja lo.

    7. Biondy said...

      @Mbak Desty: memang bikin penasaran blurbnya :D

      @Eka: ayo datang. Acaranya sampai 21 Mei, kok.

      @Amaya: kalau saya, ini malah tahun pertama ke MIWF dan memang seru banget.

      @Fikriah: ayo datang :D

      @novie: benar. Ada berbagai hiburan yang bisa dinikmati juga :)

    8. wow keren kak nih infonya. ooo iya kak kalau ingin tahu tentang cara membuat toko online yukk disini saja.. terimakasih

    9. Wina said...

      di Medan belum ada yang seperti ini :')

    Post a Comment