Rss Feed
  1. Sengsara Membawa NikmatSengsara Membawa Nikmat by Tulis Sutan Sati
    My rating: 2 of 5 stars

    Judul: Sengsara Membawa Nikmat
    Penulis: Tulis Sutan Sati
    Penerbit: Balai Pustaka
    Halaman: 206 halaman
    Tahun: 2010 (terbitan pertama: 1929)

    Midun tidak habis pikir. Bagaimana mungkin Kacak-penghulu yang kaya raya, bangsawan tinggi kemenakan raja di kampungnya menaruh iri dan dendam kepadanya, yang hanya seorang rakyat biasa? Midun merasa tidak melakukan perbuatan yang salah, menyinggung atau menyakiti orang lain. Ia tidak menyadari, justru kehalusan budi pekerti dan kerendahan hatinya menyebabkan ia begitu disayangi dan dibela oleh orang-orang sekampung, sehingga menerbitkan rasa cemburu dan benci Kacak.

    Tak habis-habisnya Kacak mencari akal untuk menjebak, menyiksa, bahkan menghabisi nyawa orang yang tak disenanginya. Niatnya tak pernah sampai karena penjagaan ayah dan guru silat Midun. Tetapi akhirnya upaya Kacak berhasil juga, Midun dihukum penjara karena kesalahan yang sengaja ditimpakan kepadanya.

    Menjadi orang hukuman benar-benar suatu hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Midun. Walaupun demikan, ia mencoba menjalani dengan tabah dan berani. Hari-hari di dalam penjara terasa berat, bahkan masa depan pun tidak jelas. Apa yang dapat ia lakukan untuk memperbaiki nasib? Midun memilih untuk tidak menyerah.

    Bagaimana selanjutnya perjuangan Midun untuk bertahan hidup? Dapatkah ia mengubah nasibnya yang kurang beruntung? Dan bagaimana akhir permusuhannya dengan Kacak?


    Review
     
    "Sengsara Membawa Nikmat" bercerita tentang Midun, seorang pemuda asal Sumatera Barat (dari sebuah lembah yang tidak jauh dari Bukittinggi). Midun adalah seseorang yang disegani dan disenangi di kampungnya. Kemahirannya dalam ilmu bela diri serta kebaikan hatinya membuatnya menjadi kesayangan banyak orang.

    Memang Midun seorang muda yang sangat digemari orang di kampungnya. Budi pekertinya amat baik dan tertib sopan santun kepada siapa pun.


    Popularitas Midun ini ternyata menciptakan kedengkian di hati Kacak, salah seorang pemuka kampung. Kacak, yang tidak senang melihat Midun lebih disukai daripada dirinya, kemudian mulai menyusun rencana untuk menyingkirkan Midun.

    Hmm... bagaimana, ya? Saya awalnya suka dengan ceritanya, tapi lama-lama saya makin kurang tertarik. Di awal cerita, saya suka bagaimana penulis menggiring pembaca untuk melihat kehidupan Midun di kampungnya, keakrabannya dengan sahabatnya-Maun-, hingga bagaimana Kacak berusaha menyingkirkan Midun. Ceritanya masih asyik sampai si Midun akhirnya masuk penjara.


    Nah, saya mulai kurang suka ceritanya dari titik itu. Di penjara, yang awalnya digambarkan menyeramkan, hidup Midun justru biasa saja. Awalnya saya kira akan digambarkan kesengsaraan hidup terpenjara, tapi ternyata... Aduhai (*ketularan diksi novel ini), lebih banyak tell daripada show-nya.

    Di penjara Midun hanya berkelahi satu kali, lalu dia mendapat perlindungan dari narapidana yang paling disegani. Setelah itu kesusahan Midun hanya diberitahukan saja.

    Hampir-hampir tidak terderita oleh Midun pekerjaan yang dikerjakannya itu. Apalagi melihat Midun mengerjakan pekerjaan yang amat hina, timbul kasihan Turigi. Tampak nyata oleh Turigi, Midun hampir tidak kuat lagi menahan siksaan pegawai penjara.


    Kering, bo. Sama sekali tidak terasa penderitannya Midun. Kalau misalkan dibandingkan dengan Ben-Hur (review), yang ceritanya sama-sama tentang seorang pria yang menjadi tawanan karena fitnah, saya jauh lebih bisa merasakan penderitaannya Ben-Hur. Dalam kasus ini, show akan jauh lebih menarik simpati daripada tell.

    Lalu cerita kemudian berkembang ke pertemuan Midun dengan Halimah (yang cukup oke buat saya), Midun yang tertipu (yang membuat saya pusing, sebenarnya Midun bisa baca-tulis tidak, sih? Di cerita disebutkan kalau dia bertukar surat dengan Halimah, tapi setelah dia masuk penjara lagi, diceritakan kalau dia belajar baca-tulis. Si penipunya itu tulis surat kontrak pakai bahasa apa memangnya?), lalu ada pertemuan kembali dengan adik-adiknya (yang tidak pernah disebutkan sebelumnya), lalu mencapai akhir yang... ah, baca sendiri sajalah.

    Intinya, saya suka awal ceritanya, tapi dari tengah ke belakang, rasanya ada banyak teknis penulisannya yang saya kurang suka. Ceritanya kurang detail dan saya tidak dapat emosinya.

    Btw, ada yang unggah drama adaptasi novel ini di Youtube. Kayaknya bagus, nanti coba nonton, deh.


    View all my reviews


  2. 0 comments :

    Post a Comment