Rss Feed
  1. Cindy Cenora (Flash Fiction)

    Saturday, October 20, 2012


    Kata orang bijak (orang bijak yang mana gak tahu deh), kita harus bersyukur akan hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan. Hal-hal yang tuhan berikan pada kita, seperti: orang tua, suku, ras, dan wajah kita. Oke, yang terakhir saat ini mungkin sudah tidak begitu relevan, karena itu faktor yang “sudah dapat dikontrol” oleh manusia (operasi plastik anyone?).
                
    Tapi, sungguh. Kadang aku tidak dapat bersyukur pada wajah yang Tuhan berikan padaku. Bukan karena wajahku jelek atau bagaimana. Wajahku sebenarnya lumayan kok. Minimal enak dilihatlah. Hanya saja wajahku ini memang sering menimbulkan kesalahpahaman.
               
    “Ya ampun, Cindy Cenora? Mbak Cindy Cenora kan?”
                
    Aku menoleh ke sumber suara itu. Oh, mulai lagi.
               
    “Bukan, Mbak. Saya bukan Cindy Cenora.”
               
    “Ah, masa sih. Bo’ong ah. Wajahnya mirip banget sama Cindy Cenora waktu kecil. Pipinya gembul-gembul gitu. Ngegemesin deh.”
                
    Gak sekalian bilang kalau aku ini Tina Toon?
                
    “Bukan Mbak. Suer. Saya bukan Cindy Cenora. Nih, KTP saya. Namanya Ratih Wijaya kan.”
               
    “Ah, masa sih? Jangan-jangan Cindy Cenora itu nama panggung yah? Nama aslinya Ratih Wijaya?”
               
    Dieng.
                
    “Duh, bukan Mbak. Ah, permisi dulu ya, Mbak. Lagi sibuk nih.”
               
    Cepat-cepat kuambil kembali KTP-ku dan segera ngacir dari tempat itu. Masih sempat kudengar perempuan tadi berseru padaku, “Sibuk syuting ya, Mbak? Sukses ya! Aku tunggu lagu barunya.”
               
    Emang Cindy Cenora masih eksis ya sekarang?
                
    Nah, kamu sudah tahu kan, kenapa aku suka kesal dengan wajahku sendiri. Kejadian seperti itu bukan hanya terjadi sekali-dua kali. Heran, kenapa juga orang-orang itu bisa menganggapku Cindy Cenora? Terakhir dia terkenal kan sewaktu dia masih jadi penyanyi cilik, bagaimana mereka bisa tahu wajahnya seperti apa kalau besar?
                
    Aku pernah menceritakan hal ini pada ayahku dan ayah hanya terbahak-bahak.
               
    “Tapi kalau dilihat-lihat kamu memang mirip dia versi dewasa loh,” kata ayah waktu itu.
                
    “Ayah, jangan ikut-ikutan deh.”
                
    “Tapi bener loh. Mungkin kalian di surga sebenarnya saudara kembar.”
               
    Hah, teori macam apa itu? Memang hanya ayahku yang bisa kepikiran teori-teori aneh macam begitu.
               
    Siang itu aku pergi ke salah satu toko buku favoritku untuk mencari sebuah novel keluaran terbaru. Saat aku sedang asyik menyusuri deretan rak sambil melihat-lihat buku-buku lain, aku menyadari bahwa ada seorang laki-laki yang terus menatapku.
                
    Aku pindah ke deretan lain. Diam-diam kulirikkan mataku ke arahnya dan kudapati dia juga sedang mencuri pandang kepadaku. Laki-laki itu mungkin sedikit lebih tua dariku. Badannya tinggi dan tegap dengan garis wajah yang kuat dan mata yang besar. Alis matanya tebal, hidungnya mancung. Oke, secara fisik, dia cocok menjadi ayah anak-anakku.
               
    Kulihat laki-laki itu berjalan mendekatiku. Dapat kurasakan jantungku berdetak tidak karuan. Dia tersenyum padaku dan berkata, “Mbak Cindy Cenora ya?”
               
    Arghhh!!
               
    “Bukan! Aku bukan Cindy Cenora!”
               
    Cepat-cepat aku lari dari toko itu. Kuputuskan untuk membeli novel yang kuidamkan itu lain hari saja. Kesaaaaaaalllll!!
                 

  2. 0 comments :

    Post a Comment